November 14, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 9: Die Wu (Part 3)

 

Di bagian belakang rumah yang begitu besar dan megah, terdapat sebuah taman yang luas dan indah, yang mana pada bagian itu terdapat sudut terpencil. Di sudut itu terdapat pintu yang sangat sempit, dan dari belakang pintu tersebut biasanya dapat terdengar suatu melodi samar-samar dari sebuah alat musik gesek. Tak ada yang tahu apa yang ada di balik pintu itu, atau siapakah yang memainkan instrument tersebut.

Karena daerah yang berada dibalik pintu itu merupakan area terlarang yang dirancang oleh Zhuo Donglai. Jika ada satupun orang yang berani menginjakkan kakinya kedalam dengan kaki kanannya, maka kaki kanannya akan dipotong. Jika mereka menginjakkan kaki kirinya, maka kaki kirinya akan dipotong.

Itu adalah aturan yang sangat mudah. Sederhana dan efektif.

**

Entah itu berangkat dari kediaman Sima ataupun Zhuo Donglai, butuh waktu yang lama agar bisa sampai ke tempat tersebut.

Zhuo Donglai membawa payung kain minyak, menginjak taman yang dipenuhi oleh salju dengan hati-hati. Salju menutupi jalanan sempit di mana ia berjalan, dan meskipun demikian ia tak menggunakan kungfu meringankan tubuhnya, yang ditinggalkannya hanyalah sebuah jejak kaki yang terlihat samar-samar.

Pintu sempit yang berada di sudut itu telah tertutup sepanjang tahun.

Zhuo Donglai mengetuk pintu dengan pelan-pelan. Pertama tiga kali, kemudian satu kali. Lalu ia menunggu dalam waktu yang lama sebelum pintu itu akhirnya terbuka.

Seorang wanita cantik membukanya. Ia mengenakan jubah berbulu rubah berwarna putih salju, dan wajahnya terlihat putih seperti warna jubahnya.

Dengan suara yang sangat pelan dan hormat, Zhuo Donglai bertanya, “Apakah guru besar sudah bangun?”

“Dia sudah bangun beberapa waktu yang lalu,” kata wanita itu, suaranya terdengar samar. “Guru besar selalu bangun pagi-pagi. Mungkin ia mengetahui bahwa hari-hari yang akan datang begitu sedikit, sehingga ia ingin membuat hari-harinya bagaikan sebuah harta yang tak ternilai setiap harinya.”

Di balik pintu itu terdapat sebuah halaman kecil yang tenang dan terpencil. Aroma menyegarkan dari pohon plum mengisi hawa dingin. Di bawah pohon pinus yang bengkok dan kuno ini terdapat sebuah paviliun dengan enam sisi yang kecil. Seorang pria tua duduk di atas paviliun itu, menonton kepingan salju melayang turun, dan tampak terpesona.

Tak ada yang tahu usia atau namanya, bahkan ia pun sendiri sudah lupa.

Dari kejauhan orang itu terlihat pendek dan kurus, dan tampak seperti seorang anak berusia delapan atau sembilan tahun. Kepalanya tampak seperti sebuah kacang yang lembut, kering oleh angin, dan keriput di wajahnya tampak terukir oleh salju dan hujan, dan menunjukkan bukti pengalaman dan penderitaan yang tak terhitung jumlahnya.

Meskipun dengan berjalannya waktu yang tak mengenal rasa ampun telah membuat tubuhnya begitu lemah dan berkerut, matanya tak hanya dipenuhi dengan rasa kebijaksanaan pada usianya, namun juga kenakalan layaknya seorang anak kecil.

Sekarang, matanya tampak seperti lautan yang berkilauan di siang hari.

Zhuo Donglai berdiri secara hormat di sebuah halaman kecil, dan ia memberikan rasa hormat. “Penampilan guru besar hari ini terlihat jauh lebih baik daripada sebelumnya. Guru besar terlihat lebih muda dua puluh tahun di usianya yang sekarang.”

Pada awalnya orang tua itu tampak tak berniat untuk menatap Zhuo Donglai, dan hanya akan mengabaikannya. Namun tiba-tiba ia menoleh dan mengedipkan matanya.

“Kau benar-benar berpikir aku terlihat dua puluh tahun lebih muda?”

“Tentu saja guru seperti demikian.”

“Kalau begitu kau seharusnya adalah seorang yang buta. Seorang yang bodoh, buta dan bodoh.” Meskipun orang tua itu memakinya, namun nada suaranya terdengar ceria. “Tak bisakah kau mengatakan bahwa diriku terlihat empat puluh tahun lebih muda?”

Zhuo Donglai tersenyum.

Seorang wanita berkulit putih berdiri disampingnya. Orang tua itu menggenggam kedua tangannya.

“Ini semua berkat layanan wanita ini.” Mata orang tua itu menyipit saat dia tertawa. “Hanya seorang gadis muda yang cantik seperti ini yang bisa membuat orang tua menjadi muda kembali.”

“Ini juga berkat aku,” kata Zhuo Donglai. “Aku yang membawakan wanita itu ketempat ini untukmu.”

“Namun aku tak berterima kasih sedikitpun kepadamu.” Orang tua itu mengedipkan matanya lagi, matanya berkedip-kedip dengan nakal dan licik. “Aku tahu kau hanya ingin menghisap diriku, mengambil segala informasi yang ada di dalam otakku.” Ketika Zhuo Donglai tak menyangkal hal itu, orang tua itu berkata, “Informasi apa yang ingin kau ketahui kali ini?”

“Seseorang.”

“Siapa?”

“Xiao Leixue.”

**

Senyum pria tua itu menghilang, dan matanya yang terlihat cerah mendadak tampak mati bagaikan abu.

“Xiao Leixue, Xiao Leixue.” Dia menyebut nama itu berulang-ulang. “Dia masih hidup? Dia belum mati? “

“Belum.”

Orang tua itu menghela napas. “Sekarang aku tahu kau ini orang macam apa.” Dia mengulurkan jarinya yang lemah dan menunjuk ke arah Zhuo Donglai. “Kau benar-benar bajingan tengik. kejam, idiot dan bodoh, jadi kau ingin memancing dirinya.”

Zhuo Donglai tidak marah.

Tampaknya tak peduli bagaimana orang tua itu memperlakukan dirinya, Zhuo Donglai tak akan marah. Hal itu dikarenakan hanya orang tua ini yang dapat menceritakan hal-hal yang ingin diketahuinya, namun ia sendiri tak dapat memecahkannya.

“Aku tak ingin memancingnya,” kata Zhuo Donglai. “Aku hanya ingin tahu dua hal tentang dirinya.”

“Dua hal apa?”

“Seni bela diri dan senjatanya.”

Orang tua itu tiba-tiba terlihat sangat gugup. Seorang pria pada seusianya seharusnya tak gugup seperti ini.

“Apakah kau pernah melihat senjatanya?” Tanya orang tua itu.

“Aku belum pernah melihatnya.”

“Tentu saja kau belum melihatnya,” kata orang tua, terdengar santai. “Hanya roh-roh orang mati dineraka yang telah melihatnya.”

“Tak ada yang pernah melihat senjatanya?”

“Benar-benar tak ada,” kata orang tua. “Sama seperti Tearstains dimana tak ada satupun orang yang pernah melihatnya.”

“Tearstains?” Tanya Zhuo Donglai. “Tearstains milik siapa?”

“Grandmaster Xiao Tearstains.”

“Siapa Grandmaster Xiao itu?”

“Grandmaster Xiao adalah ayah dari Xiao Leixue.”

**

Zhuo Donglai selalu menganggap dirinya sebagai orang yang sangat cerdas, namun sekarang dia sangat bingung.

Dia tak dapat memahami apa yang dikatakan oleh orang tua itu. “Mengapa tak ada satupun orang yang melihat Tearstain dari ayah Xiao Leixue?”

“Karena ketika kau melihat Tearstains tersebut, maka kau akan mati dibawahnya.”

Zhuo Donglai terlihat lebih bingung daripada sebelumyna. “Tearstains dapat membunuh orang?”

Orang tua itu menatap dari arah kejauhan, matanya penuh dengan kesedihan dan ketakutan, seolah-olah ia tiba-tiba melihat sesuatu yang mustahil untuk dipahami dan dikontrol.

Setelah beberapa lama, orang tua itu perlahan-lahan mengulurkan tangannya yang kurus dan lembut serta mengambil kecapi yang terletak di sampingnya.

Senar dari kecapi itu membuat sebuah nada suara yang berbunyi “zeng”.

Orang tua itu tiba-tiba berkata, “Die Wu, tolong menarilah untuk diriku.”

**

Jubah berbulu rubah terlepas dari bahunya. Kulit wanita yang mengenakan pakaian berwarna putih ini nampak terlihat seperti warna pakaiannya.

Pakaian dan rok panjang berwarna putih keperakan.

Rok panjangnya melayang-layang bagaikan air yang mengalir disaat wanita itu sedang menari. Berputar-putar layaknya salju yang ribut, serta menunjukkan sepasang kakinya yang begitu indah, panjang, dan fleksibel.

Begitu mustahil untuk menggambarkan tariannya dan sepasang kakinya.

Bahkan seorang pria yang memahami kecantikan wanita lebih dari apapun yang ada di muka bumi, Marquis Di Qinglin hanya dapat berkata, “Aku tak dapat mempercayai bahwa ada seseorang yang mempunyai sepasang kaki seperti ini.”

**

Naik dan jatuhnya musik yang berasal kecapi itu tiba-tiba menjadi sebuah musik yang terdengar mewah dan menyedihkan, tarian penari itu juga berubah seketika pada saat yang sama. Pada saat ini suasana nampak seperti daun-daun terakhir musim gugur yang berterbangan secara sendiri didalam angin. Begitu indah, sunyi, dan memilukan.

Mata pria tua itu berkilauan dengan air mata.

Terdapat suara yang terdengar “Zheng” karena senar yang putus, dan disaat yang sama juga musik dari kecapi itu berhenti. Rok dari penari itu melayang-layang disekitar bagaikan awan.

Wanita itu meringkuk diatas tanah, dan ia nampak seperti seekor angsa sekarat yang melayang secara perlahan turun dari langit biru hingga ke laut hijau zamrud.

Dan pada akhirnya terdapat nuansa harmonis yang tenang dan tenteram. Begitu indah dan tenangnya.

Sebuah tetesan air mata berjatuhan dari mata orang tua itu, Wajah pria yang terlihat berkerut, meninggalkan sebuah tearstain.

Satu tetes, dua tetes…

“Tearstains terlihat seperti ini,” kata orang tua dengan tenangnya. “Tearstains itu terlihat seperti ini!”

“Seperti apa?”

“Tiada tanding dan cacat. Tak ada pedang yang lebih kuat lagi di dunia ini! “

“Pedang? Sebuah Tearstains didalam sebuah pedang?”

“Sebuah pedang,” kata orang tua itu. “Sebuah pedang yang sempurna, sempurna bagaikan tarian Die Wu.”

“Mengapa pedang tersebut disebut sebagai Tearstains?”

“Karena kau dapat melihat tearstains di atasnya. Ketika pedang itu keluar dari bengkel besi, setetes air mata jatuh ke pedang tersebut, dan meninggalkan sebuah tearstains yang tak terhapuskan.”

“Tearstains milik siapa?”

“Grandmaster Xiao. Grandmaster Xiao yang tak tertandingi.”

“Ketika sebuah pedang berharga muncul, baik dewa-dewa maupun hantu-hantu akan gemetar ketakutan. Aku mengerti hal tersebut,” kata Zhuo Donglai. “Apa yang tidak aku mengerti adalah mengapa Grandmaster Xiao telah meneteskan air mata untuk pedang itu.”

“Karena selain merupakan kelebihan menjadi seorang ahli penempa pedang, ia juga merupakan seorang peramal pedang yang tak tertandingi.” Suara orang tua itu terdengar sedih. “Ketika pedang itu keluar dari bengkel besi, ia dapat melihat bahwa suatu kejahatan yang tak dapat dihilangkan telah menyentuh pedang tersebut.”

“Kejahatan apa?”

“Orang tua itu mendesah.” Seperti yang barusan kau katakan, ketika sebuah pedang berharga muncul, dewa-dewa dan hantu-hantu akan gemetar ketakutan. Ketika pedang ini keluar dari bengkel besi, pedang itu telah menerima kutukan dari para dewa dan hantu, dan juga seluruh kekejaman yang ada di muka bumi. Ketika pedang ini dicabut, pedang ini harus merasakan darah. Dan tak hanya itu saja, pedang itu juga memerlukan Grandmaster Xiao untuk mengorbankan kerabatnya yang paling dekat.”

“Dan kerabat terdekat dari Grandmaster Xiao itu adalah Xiao Leixue?”

“Benar,” kata orang tua itu dengan sedih. “Ketika pedang itu keluar dari bengkel besi, Grandmaster Xiao dapat melihat bahwa putra satu-satunya akan mati oleh pedang ini.”

“Kenapa ia tak menghancurkan pedang itu?”

“Dia tak dapat menahan, dan juga tak berani untuk melakukannya.”

“Pedang itu dibuat dengan segala upayanya yang sungguh-sungguh, tentu saja ia tak tahan jika ia menghancurkannya.” Pada poin ini, Zhuo Donglai dapat memahaminya. “Namun aku masih tidak mengerti mengapa dia tak berani untuk menghancurkannya.”

“Kehendak langit berubah-ubah, kekuatan dari surga sulit untuk dibayangkan. Neraka memiliki banyak aturan-aturan yang mana kebanyakan orang tak berdaya untuk melawannya.” Mata pria tua itu dipenuhi oleh rasa takut yang tak tergambarkan. “Jika Grandmaster Xiao menghancurkannya, ada kemungkinan bencana yang lebih besar akan menimpa terhadap putra satu-satunya.”

Mata Zhuo Donglai berkedip. “Jadi bagaimana kisah akhir dari Grandmaster Xiao membuang pedang itu?”

“Grandmaster Xiao memiliki tiga murid. Muridnya yang terhebat mewarisi keterampilan meramal pedangnya. Dia melakukan perjalanan ke seluruh pelosok bumi, melatih seni bela dirinya dari senjata yang paling kuat.”

“Aku pernah mendengar tentang orang ini. Di Jianghu, terdapat orang tua, seorang pengasah pedang, yang mana dapat menentukan apakah senjata itu menguntungkan atau tidak menguntungkan. Kemampuannya bagaikan dewa. Dia seharusnya adalah murid terbesar dari Grandmaster Xiao.”

Orang tua itu mengangguk. “Murid kedua Grandmaster Xiao adalah Shao Kongzi yang mewarisi keterampilan dalam membuat sebuah pedang, dan ia menjadi seorang pembuat pedang yang hebat.”

“Shao Kongzi?” Zhuo Donglai itu tergerak. “Ia adalah Guru Shao yang menempa ‘Farewell Hook?'”

“Ya, itulah dia,” kata orang tua itu. “Keduanya seperti memiliki kejeniusan yang berasal dari dunia lain. Namun Grandmaster Xiao menurunkan keterampilannya yang sangat hebat untuk murid ketiga. Ia juga memberinya Tearstains.”

“Mengapa ia memberikan itu kepadanya?”

“Karena dia tak hanya memiliki hati yang baik dan penyayang, ia juga tidak memiliki keinginan untuk kaya dan tenar. Dia tak memiliki ambisi seperti itu, dan tak akan mengambil nyawa orang lain.”

“Ia mewarisi keterampilan pedang milik Grandmaster Xiao, tentu saja tak akan ada yang dapat mengambil Tearstains dari dirinya,” kata Zhuo Donglai. “Dan orang tua yang baik hati seperti dirinya sudah pasti tak akan menyakiti satu-satunya putra yang dimiliki oleh gurunya.”

“Selain itu, pada usia tiga puluh, ia pergi mengasingkan dirinya di suatu pegunungan terpencil. Dan dia bersumpah untuk tak akan pernah lagi melangkahkan kakinya di dalam dunia manusia, serta mengubur Tearstains bersama dengan dirinya ketika ia meninggal.”

“Gunung yang manakah itu?”

“Aku tak tahu,” kata orang tua. “Tak ada seorangpun yang tahu.”

Zhuo Donglai mendesah. “Dan karena hal ini, pendekar hebat yang menguasai pedang di Jianghu berkurang satu, berkurang satu orang yang menguasai senjata. Apakah ini merupakan nasib baik dari Jianghu, ataukah sebuah kemalangan?”

“Xiao Leixue masih hidup.”

“Ya,” kata Zhuo Donglai dengan perlahan. “Dalam kasus apapun, ia masih belum mati di bawah Tearstains. Setidaknya, dia masih hidup.”

Meskipun suaranya tampak penuh dengan kesedihan, namun matanya terlihat bersinar dengan kegembiraan, layaknya seorang bandot yang menangkap pemandangan seorang wanita telanjang yang berdiri diatas kaki dari tempat tidurnya.

Ketika ia mengangkat kepalanya dan menatap pria tua yang duduk di atas paviliun, tampak seolah-olah pria itu sudah tertidur.

**

Salju turun, tipis tetapi berat. Pintu kecil itu setengah terbuka. Zhuo Donglai telah melangkah keluar, dan Die Wu bersiap-siap untuk menutup pintu.

Ia menutupnya, dan terasa seolah-olah tempat ini benar-benar terputus dari dunia luar.

Wanita itu hanya berharap bahwa tak ada orang yang akan pernah datang mengetuk pintu itu lagi, sehingga dia dan orang tua itu dapat menjalani kehidupan mereka di sini. Tak ada harapan bagi wanita itu di dunia luar, dan tak ada satupun harapan yang dapat diingat disana.

Hati wanita itu serasa telah mati; satu-satunya hal yang tersisa pada dirinya adalah tubuh yang mati rasa dan sepasang kakinya.

Kakinya terlihat bagaikan gading gajah, aroma wewangian dari rusa, tanduk dari seekor kijang; itu semua adalah bagian paling berharga dari dirinya, dan juga sumber dari segala kemalangannya.

-jika ia tak memiliki kaki seperti itu, akan menjadi orang seperti apakah dia? Akankah hidupnya jadi sedikit lebih bahagia?

**

Die Wu menundukkan kepalanya dan berdiri didepan pintu, berharap Zhuo Donglai untuk pergi meninggalkan.

Zhuo Donglai berbalik dan menatapnya dengan ekspresi yang sangat aneh di matanya. Dia menatapnya dalam waktu yang lama.

“Apakah hidupmu terasa jauh lebih baik selama ini?”

“Sangat baik.”

Suara wanita tak menunjukkan emosi sedikitpun, bahkan mungkin terlihat lebih kesepian daripada Zhuo Donglai.

“Kau dapat tinggal di sini sampai kapanpun yang kau inginkan. Aku dapat menjamin bahwa tak ada seorangpun yang akan mengganggu dirimu.”

“Terima kasih.”

“Namun, aku juga dapat mengirimkanmu ke tempat lainnya” katanya dengan nada dingin. “Selama aku bersedia, aku dapat saja mengirimkanmu kemana saja. Aku tahu ada beberapa orang yang sangat berharap aku melakukan hal tersebut.”

Tiba-tiba Die Wu mundur selangkah, nampak terlihat seperti seekor kijang yang ketakutan. Dia meringkuk di sudut belakang pintu.

Zhuo Donglai tertawa.

“Tentu saja aku tak akan melakukannya.” Kekejaman mengisi tawanya. “Aku hanya ingin kau menyadari bahwa kau seharusnya memperlakukan diriku sedikit lebih baik, karena kau masih berhutang terhadapku.”

Die Wu melihat keatas dan menatapnya.

“Kau ingin aku memperlakukan dirimu seperti apa?” Tanyanya. “Kau ingin aku tidur denganmu?” Sikapnya tiba-tiba nampak elegan bagaikan seorang wanita bangsawan, meskipun kata-katanya terdengar bagaikan seorang pelacur. “Kau seharusnya telah mendengar bahwa kemampuanku tak tertandingi. Jika seorang pria tidur dengan diriku sekali, ia tak akan pernah bisa melupakan diriku hingga akhir hidupnya. Kau tak akan bisa membayangkan bagaimana rasanya setelah kakiku ini bergerak. Aku kuatir bahkan didalam mimpimu kau tak akan dapat membayangkannya.” Wanita itu mulai tertawa gila. “Namun aku tahu kau tak akan membawaku pergi, karena orang yang kau cintai bukanlah aku. Kau hanya mencintai satu orang, dan hidupmu seluruhnya untuk dirinya… “

Wanita itu belum menyelesaikan perkataannya.

Tiba-tiba Zhuo Donglai menggenggam pergelangan tangannya dan menampar wajah wanita itu dengan tangan belakangnya.

Lima tanda jari berwarna merah darah muncul pada wajah wanita yang cantik dan pucat itu. Namun rasa takut yang ada dimatanya telah menghilang, terganti oleh rasa cemoohan dan ejekan.

Zhuo Donglai memutar pergelangan tangannya, memutarnya hingga belakang punggungnya, sampai air mata derita mengalir keluar dari matanya. Kemudian secara perlahan ia berkata, “Kau keliru.” Matanya tampak penuh dengan kegembiraan saat melihat rasa sakit yang diderita oleh wanita itu. “Aku ingin kau mengerti bahwa kau benar-benar sangat keliru.”

**

Di malam yang suntuk.

Tak ada lampu yang berada didalam ruangan, hanya api yang berkedip-kedip didalam oven. Die Wu berbaring berputar-putar di sofa yang tertutup oleh bulu musang, Wanita itu telanjang sepenuhnya. Dalam cahaya api yang menari, kakinya terlihat indah, begitu indahnya sehingga dapat membuat orang-orang bersedia untuk melakukan perjalanan ke neraka untuk dirinya. Air matanya telah berhenti mengalir.

Dibandingkan dengan penghinaan dan rasa sakit yang baru saja ia alami, penderitaan yang ia alami di masa lalunya bagaikan sebuah permainan anak kecil.

Dia hanya tak pernah membayangkan bahwa didalam kemanusian bisa terdapat semacam binatang mesum yang liar seperti itu.

Pintu menuju ruangan luar telah terbuka, dan Zhuo Donglai telah berjalan keluar. Die Wu hanya dapat mendengar suara seorang pemuda dari luar.

Suaranya terdengar pelan, namun Die Wu dapat mendengar orang itu mengatakan kepada Zhuo Donglai bahwa Sima Chaoqun tiba-tiba jatuh sakit. Penyakitnya sangat serius, dan beberapa dokter telah dipanggil untuk memeriksanya. Mereka mengatakan bahwa dia terlalu banyak bekerja, dan harus beristirahat selama beberapa lama untuk dapat segera pulih. Oleh karena itu ia tak dapat menerima pengunjung.

Zhuo Donglai berpikir dengan tenang dalam waktu yang lama sebelum ia menanyai pemuda tersebut, “Dia tak ingin menerima pengunjung? Atau tak ingin melihat siapa pun? “

“Sepertinya ia tak akan melihat siapa pun.”

“Termasuk juga diriku?”

“Sepertinya begitu.”

“Jadi istrinya secara khusus meminta kau datang memberitahuku untuk tidak mengganggunya?”

“Istrinya hanya mengatakan, beritahu Mr. Zhuo untuk menahan dan mengumpulkan semuanya untuk sementara, serta menunggu ketua hingga pulih.”

“Apakah kau melihat dokter yang telah dipanggilnya?”

“Saya melihat terdapat tiga orang.” Pemuda itu mengatakan nama-nama mereka kepada Zhuo Donglai. Mereka semua adalah dokter terkenal dari Chang’an.

“Apa yang mereka katakan?” Tanya Zhuo Donglai. “Penyakit ketua begitu serius? Dan jika penyakit itu berlanjut bisa menjadi sangat berbahaya?” Dia berpikir dalam waktu yang lama dan kemudian menghela napas. “Sekarang bukanlah waktu baginya untuk jatuh sakit. Ini benar-benar sangat disayangkan. “

“Kenapa?”

Pemuda ini jelas merupakan salah satu pengikut kepercayaan Zhuo Donglai, Sehingga ia berani bertanya seperti demikian.

Di dalam ruangan, otot-otot pada tubuh Die Wu tiba-tiba menjadi tegang. Karena sekali lagi ia mendengar suara kejam dari Zhuo Donglai. Dengan sangat lambat ia berkata, “Karena pada hari atau dua hari berikutnya, Zhu Meng akan kembali.”

**

 

Translator / Creator: fatality