November 14, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 9: Die Wu (Part 2)

 

Di bawah langit yang mendung, suara kepingan salju perlahan-lahan jatuh melayang melalui jendela. Suara ini hanya dapat didengar ketika orang-orang merasa sangat kesepian.

Tawa Sima telah lama berhenti, dan tak ada tanda-tanda suka cita yang bisa dilihat di matanya. Sebaliknya, matanya bersinar dengan kesedihan yang tak tergambarkan.

Dia mendengar suara kepingan salju yang jatuh, namun ia tak mendengar suara langkah kaki istrinya.

Pada saat Wu Wan berjalan masuk ke dalam ruangannya, Sima sudah mulai minum-minum.

Wu Wan berjalan masuk dengan sangat tenang, dan duduk di sisinya.

Dia tak pernah mencegah Sima untuk minum-minum, karena ia adalah seorang wanita yang cerdas, baik hati dan istri yang memahami, ia mengerti bahwa ada beberapa hal yang tak mungkin bisa dicegah.

Namun keadaan hari ini sangat berbeda dengan biasanya. Pada hari ini, Wu Wan juga ikut minum-minum, dan ia minum dengan sangat cepat pada saat itu.

Tak sampai meminum pada mangkuk yang ketiga dan Sima berbalik serta menatapnya.

“Ini masih pagi, bukan?”

“Sepertinya begitu.”

“Dan kau habis minum-minum.”

“Sepertinya begitu,” jawab Wu Wan dengan enteng.

Seorang istri yang begitu lembut, sangat ramah, dia selalu melakukan segalanya untuk suaminya dan mendengarkannya dalam setiap masalah, selalu berbicara dengan lembut dan sopan meskipun ketika ia kecewa atau marah. Dia tak pernah kehilangan kesabarannya.

Namun apa yang dikatakan Sima Chaoqun pada saat itu adalah: “Kau minum-minum lebih awal biasanya ketika kau sedang kecewa. Kenapa kau seperti demikian?”

Wu Wan tak menanggapinya, bahkan tak membuka mulutnya.

Wanita itu menuangkan anggur, ekspresi wajahnya terlihat kosong, dan ia mengisi kedua mangkuk anggur untuk suaminya dan dirinya sendiri.

“Aku tahu mengapa kau kecewa,” kata Sima. “Ini karena Zhuo Donglai. Kau tak menyetujui cara dia berbicara denganku?”

Wu Wan tak menyangkal pernyataannya, malahan ia menyetujuinya.

“Namun kau harus paham bahwa Zhuo Donglai biasanya tak seperti ini,” kata Sima. “Hari ini Zhuo Donglai marah karena aku terus memuji Little Gao.” Matanya bersinar dengan senyuman mengejek. “Dia tak pernah suka jika aku memuji orang lain ketika aku ingin bersikap seperti seorang teman yang baik.”

Wu Wan tiba-tiba berbicara: “Jangan bilang karena ia cemburu?” Suaranya terdengar keras daripada sebelumnya dan terdengar sinis. “Dan aku tak cemburu, apa hak Zhuo Donglai untuk cemburu kepadamu?”

Wu Wan selalu ramah dan sangat lembut. Namun sekarang ia seperti seseorang yang telah mabuk karena lima cangkir anggur.

Ia meminum alkohol yang sangat disukai oleh Sima, yang mana merupakan minuman keras yang kuat. Minuman keras yang sangat kuat.

Ketika seorang wanita yang tak biasanya minum-minum tiba-tiba menghabiskan lima cangkir minuman keras yang kuat, apa pun yang telah dikatakannya haruslah dimaafkan.

Bahkan, ketika seorang pria yang tak biasanya minum-minum tiba-tiba menghabiskan lima cangkir minuman keras yang kuat, apa pun yang dikatakan olehnya jugalah harus dimaafkan.

Sehingga Sima tertawa.

“Kau cemburu. Kau selalu cemburu terhadap Zhuo Donglai, seolah-olah aku memiliki perasaan romantis terhadapnya. “

“Aku tahu kau tidak akan memiliki perasaan yang romantis kepadanya, dan begitu juga dirinya.” Wu Wan menghabiskan minuman yang lain. “Kau memandangnya sebagai seorang anak sendiri. Tanpanya, kau tidak mungkin bisa seperti sekarang.”

Suara wanita itu terdengar serak, dan ia berbisik, “Mengapa kau tidak dapat melakukan segala sesuatu dengan kemampuanmu sendiri, biarkan ia tahu bahwa kau dapat bertahan hidup tanpa dirinya? Mengapa kau tak memberinya bukti?”

Sima tak menanggapinya, bahkan tak membuka mulutnya.

Seperti yang telah dilakukan oleh istrinya, dengan tenang ia menuangkan alkohol, mengisi mangkuk istri dan miliknya.

Namun Wu Wan tak meminum lagi. Dia jatuh menangis kedalam pelukan tangan Sima, dan tak mampu untuk berkata-kata.

Sima tak meneteskan air mata. Bahkan, matanya tak berisi satupun tetesan air mata.

Tampak seolah-olah ia tak memiliki air mata yang tersisa dalam dirinya sama sekali.

Translator / Creator: fatality