November 14, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 9: Die Wu (Part 1)

 

Hari ke delapan bulan kedua di kalender lunar.

Chang’an.

Empat burung merpati berterbangan dari Luoyang. Salah satunya kehilangan arah dalam kegelapan yang dingin. Salah satunya mengalami sayap beku karena angin yang dingin dan jatuh hingga mati di pegunungan tinggi di luar Luoyang. Hanya dua dari merpati tersebut yang dapat terbang dengan selamat ke Chang’an, Merpati tersebut tiba sebelum fajar pada hari ke delapan.

**

“Cai Chong telah mati,” dengan tenang Zhuo Donglai  mengatakannya kepada Sima Chaoqun. “Yang Jian telah meninggal di Chang’an ini. Dua atau lebih anggota kita tewas dalam serangan kejutan dari empat prajurit terhebat Zhu Meng, tak ada satu pun yang selamat.”

Sima sedang menikmati santapan daging sapi panggangnya. Semua energi pada hari ini berasal dari makanan tersebut, sehingga pada saat ini semangatnya memuncak, dan pikirannya menjadi lebih jelas.

“Kapan Cai Chong mati?” Tanyanya.

“Kemarin pagi,” jawab Zhuo Donglai. “Aku baru saja menerima berita kematiannya beberapa jam yang lalu.”

Salah satu bawahannya adalah seorang yang ahli dalam melatih merpati pembawa surat. Ketika ia mengirim orang ke Luoyang untuk mengumpulkan informasi, mereka biasanya akan mengambil satu atau dua merpati pembawa surat bersama dengan mereka. Pada saat itu, tak ada metode yang lebih cepat untuk menyampaikan informasi.

“Dari apa yang aku dengar,” kata Sima Chaoqun dengan nada datar, “Cai Chong telah mengambil kontrol penuh atas Lion Clan. Bagaimana bisa ia tiba-tiba mati? Seseorang seperti dia tak mungkin mati begitu mudah. “

“Siapa pun orang yang jantungnya tertusuk oleh pedang akan mati dengan mudah.”

“Namun tak akan mudah untuk menusuk jantungnya dengan pedang. Pedang siapakah itu?”

“Little Gao. Gao Jianfei. “

“Dia lagi!” Sima Chaoqun memotong daging besar dengan pisau lengkungnya. “Dia sudah berada di Luoyang?”

“Tampaknya ia sudah tiba dua hari yang lalu.”

Sima Chaoqun mengunyah makanan secara perlahan, hingga rasa semua daging itu menghilang. “Cai Chong sudah jelas bukan tandingan bagi jurus pedang Gao Jianfei, akan tetapi Cai Chong telah menguasai Lion Clan. Bukankah ia seharusnya dikelilingi oleh para ahli untuk melindunginya? “

“Dikatakan bahwa seluruh jalanan itu telah dipenuhi oleh banyak orang. Tak hanya dipenuhi oleh para murid Lion Clan, namun juga setidaknya terdapat 10 orang asing pembunuh bayaran. Setiap musuh yang memasuki jalan itu seharusnya dalam bahaya yang besar bagaikan seekor domba yang berada di tengah-tengah kerumunan serigala.”

“Namun Little Gao tetap pergi.”

“Benar. Little Gao pergi sendirian. Satu orang dan satu pedang. Dia berjalan menyusuri jalan layaknya seorang wanita tua yang membawa keranjang sayuran untuk dijual.”

“Lalu apa?”

“Kemudian ia menusuk jantung Cai Chong dengan pedangnya, menusuk ke arah dada hingga keluar melalui punggungnya.”

“Mengapa Cai Chong membiarkannya begitu dekat? Mengapa ia tak membunuhnya lebih awal? “

“Aku tak mengerti. Aku membayangkan Cai Chong ingin memperdaya Little Gao untuk memancing keluar Zhu Meng dan membunuhnya. Dan kemungkinan ia tak terlalu menanggapi Little Gao dengan serius. Cai Chong tak pernah membayangkan bahwa Little Gao akan memiliki keberanian untuk membunuhnya dalam situasi seperti itu.”

“Kalo begitu kematiannya layak,” kata Sima dengan nada dingin. “Siapapun yang meremehkan musuhnya layak untuk mati.”

Cai Chong tak hanya meremehkan kecepatan Little Gao dan seni bela dirinya, namun ia juga meremehkan karakter dan keberaniannya.

Sima tiba-tiba mendesah. “Namun Little Gao seharusnya sudah mati juga. Ketika ia pergi ke jalanan itu, seharusnya ia sudah mempersiapkan diri untuk mati. Zhu Meng benar-benar beruntung telah memiliki teman seperti itu. “

“Di dunia ini benar-benar tak banyak orang seperti Little Gao. Kematiannya akan mengakibatkan rasa kehilangan bagi semua orang. namun sepertinya sekarang, seluruh orang didunia tak mengalami rasa kehilangan itu.”

“Jadi, Little Gao tak mati?”

“Dia tak mati.”

“Sekarang, ia mungkin hidup jauh lebih bahagia daripada kebanyakan orang.”

“Kenapa?”

“Karena ia tak salah memilih temannya,” kata Zhu Donglai. “Zhu Meng tak membiarkan ia mempertaruhkan nyawanya sendiri.”

“Jangan bilang Zhu Meng juga ada di sana?” Sima nampak lebih terkejut daripada sebelumnya. “Zhu Meng terlihat tak berdaya ketika Cai Chong mengambil segala sesuatu darinya, dan kemudian ia kabur dan bersembunyi layaknya seekor anjing yang liar. Disaat seperti itu, bagaimana bisa ia punya nyali untuk muncul?”

“Kurasa ia sudah benar-benar matang. Matang bagaikan sebuah kacang kenari yang dipecahkan dengan menggunakan palu , Bagian dalamnya sangat lembut hingga seorang anak yang ompong dapat mengunyahnya.”

“Namun tampaknya ia sedang menumbuhkan tempurung yang lain.”

“Benar.”

“Bagaimana bisa ia terlihat seperti demikian?”

Ekspresi bijaksana muncul dari tatapan Zhuo Donglai kali ini. Dia bersikap tenang dalam waktu yang lama sebelum perlahan berkata, “Beberapa pohon tampaknya benar-benar mati ketika musim dingin, namun segera setelah musim semi tiba dan pohon-pohon itu merasakan angin pada musim semi, hujan, dan menerima kehangatan matahari, pohon-pohon itu bertumbuh lagi, mengeluarkan tunas dan tumbuh daun baru.” suaranya tampak terdengar sangat jauh. “Beberapa orang teman memiliki jenis efek seperti demikian. Sama seperti angin pada musim semi, hujan, dan kehangatan matahari. Sejauh ini Zhu Meng memperhatikan bahwa Gao Jianfei merupakan jenis teman seperti demikian.”

Sima Chaoqun mendesah pelan. “Dia. Sejauh ini ia memperhatikan, dia. “

Sikap Zhuo Donglai menjadi lebih bijaksana lagi, matanya yang nampak bagaikan serigala dan berwarna abu-abu bersinar dengan ekspresi yang tak seorangpun dapat mengerti atau dijelaskan, ketajaman matanya nampak secara perlahan-lahan menjadi tatapan yang lembut.

Sima Chaoqun tak melihatnya. Ia melanjutkan, “Sebagian besar orang-orang Cai Chong yang ditempatkan dijalanan untuk penyergapan tersebut merupakan bawahan lama Zhu Meng. Ketika mereka tiba-tiba melihat Zhu Meng kembali, yang mana selalu tampak terlihat mengesankan, mereka semua sudah pasti ketakutan. Bahkan terlebih lagi ketika mereka semua sudah melihat Cai Chong mati di bawah pedang Little Gao” Zhuo Donglai mencapai kesimpulannya: “Semua yang harus dilakukan oleh Zhu Meng adalah muncul, bersemangat, hingga sebagian besar dari orang-orang tersebut tak akan berani untuk bergerak”.

Zhuo Donglai menjaga dirinya untuk tetap diam.

Sima terus berbicara. “Orang-orang Cai Chong membayar harga yang sangat tinggi untuk orang-orang yang sedikit bersedia untuk melakukan gerakan.”

“Kenapa?”

“Karena mereka adalah orang-orang yang dapat dibayar. Jika Cai Chong dapat membelinya, maka Zhu Meng dapat membelinya juga.” Suaranya penuh dengan nada jijik. “Orang-orang yang dapat dibeli bukanlah orang-orang yang layak, tak layak bahkan satu koin pun.”

Zhuo Donglai tak berkata apa-apa.

“Dan oleh karena itu Cai Chong melupakan dua poin penting tersebut,” kata Sima, “Zhu Meng dan Little Gao masih hidup.” Dia menghela napas pendek, seakan-akan menjadi sangat puas dengan penilaian tentang hal-hal tersebut.

Ketika Zhuo Donglai benar-benar tak ada reaksi apapun, Sima tak dapat menahan diri untuk bertanya kepadanya, “Jangan bilang kau memiliki pendapat yang berbeda?”

Zhuo Donglai menggeleng kepalanya.

Sima Chaoqun mengerutkan kening. “Setelah Zhu Meng tiba, apa yang terjadi?”

“Aku tak tahu.”

“Kau tak tahu?” Sima Chaoqun hampir berteriak. “Bagaimana bisa kau tak tahu?”

Setelah berpikir panjang, Zhuo Donglai menanggapinya dengan nada dingin, “Karena aku masih belum mendapatkan informasi tentang hal tersebut. Informasi itu dibawa oleh seekor burung merpati. Merpati tak dapat berbicara, mereka hanya membawakan sesuatu. Dan mereka bukanlah burung elang. Jalan dari Luoyang menuju ke Chang’an tidaklah dekat; pesan yang mereka bawa bisa saja lama.” Nada suara Zhuo Donglai tak menunjukkan rasa emosi sedikitpun. “Hal-hal seperti ini biasanya hanya dapat dijelaskan dengan pesan yang sangat panjang, sehingga mereka biasanya membagi pesan-pesan tersebut menjadi empat bagian, dan menempatkannya ke dalam merpati yang berbeda-beda.”

“Dan berapa banyak merpati yang kau terima?”

“Dua. Dua merpati, dua pesan. “

“Dua bagian yang mana?”

“Bagian pertama, dan bagian terakhir.”

“Apa yang baru saja kau katakan kepadaku jelas-jelas adalah bagian pertama,” kata Sima Chaoqun. “Bagaimana dengan bagian yang terakhir?”

“Bagian terakhir berisi kesimpulan, dan disana hanya terdapat beberapa baris. Aku bisa membacakannya untukmu.”

Zhuo Donglai membacakan pesan tersebut: “Dua puluh tiga orang tewas dalam pertempuran, sembilan belas terluka kritis, sebelas mengalami luka ringan. Korban kecelakaan tewas dengan brutal, bau-bau darah dari pertempuran masih tertinggal dalam waktu yang sangat lama. Ini adalah pembantaian, sedangkan Zhu Meng dan Gao Jianfei dapat pergi tanpa terluka sedikitpun.”

**

Zhuo Donglai berhenti membaca. Waktu berlalu, dan akhirnya Sima mendesah panjang. “Lebih banyak orang meninggal daripada yang menderita luka parah, dan lebih banyak orang yang menderita luka parah daripada yang menderita luka ringan. Kita hanya bisa membayangkan bagaimana tragisnya kejadian tersebut.”

“Ya,” kata Zhuo Donglai dengan nada dingin. “Dan itu jelas bahwa tak ada seorangpun yang mau untuk bergerak.”

“Jalanan tersebut bagaikan kantong yang terisi penuh dengan bubuk mesiu. Semua itu diperuntukan untuk satu orang yang berani melakukan gerakan. orang tersebut sudah pasti menjadi sasaran yang empuk. Jikalau orang tersebut membuat sedikit gerakan, seluruh isi kantong yang berisi bubuk mesiu itu akan meledak, dan ledakan itu akan menghancurkan tubuh Zhu Meng dan Gao Jianfei berkeping-keping. “

“Benar. Tampaknya itulah yang terjadi.”

“Namun Zhu Meng dan Gao Jianfei masih hidup.”

“Ya. Kemungkinan besar mereka masih hidup.”

“Bagaimana mungkin kedua orang itu dapat melawan banyak orang?”

“Tak hanya dua orang saja. Namun ada tiga orang.”

“Siapakah orang ketiga itu?”

“Cleats.”

“Cleats?”

“Itu bukanlah sepasang sepatu,” kata Zhuo Donglai, “Melainkan seseorang.”

“Bagaimana seni bela dirinya?”

“Tak ada yang istimewa.”

“Namun tampaknya kau begitu menghormatinya.”

“Ya,” Zhuo Donglai mengakuinya. “Aku selalu menghormati orang-orang yang berguna.”

“Dia berguna?”

“Sangat berguna. Mungkin jauh lebih berguna daripada bawahan Zhu Meng yang lainnya.”

“Apakah karena ia bersedia mati kapanpun untuk Zhu Meng?”

“Mati bukanlah hal yang mengerikan, dan ia tak akan mau mati setiap saat. Selama Zhu Meng masih hidup, Cleats pasti akan memikirkan cara untuk melanjutkan kehidupannya, sehingga ia dapat mengurus Zhu Meng. Zhu Meng memandangnya layaknya seekor anjing yang setia melihat ke arah tuannya.” Zhuo Donglai melanjutkan dengan nada dingin: “Jikalau ia bersedia membuang nyawanya setiap saat, maka ia tak layak untuk diperhatikan.”

Sima Chaoqun tiba-tiba tertawa. Tertawa begitu lebarnya. “Aku tahu apa yang kau maksud,” katanya. “Aku benar-benar paham.”

Zhuo Donglai menatapnya dengan dingin, mata dinginnya yang bersinar terlihat jauh lebih menakutkan dan hebat daripada pisau. Dan tiba-tiba ia berbalik dan pergi meninggalkannya.

Translator / Creator: fatality