November 14, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 8: No Turning Back (Part 2)

 

Little Gao hanya mengenakan sepasang celana panjang yang terbuat dari kain yang kasar. Dan ia telah melemparkan jubah yang berada di atas bahunya.

Wajah dan matanya memerah, terlihat jelas ia tak tertidur dengan pulas.

Namun ia terlihat bersemangat, aman, dan tenang, serta tak jauh berbeda dengan orang-orang terdekat yang telah datang dan meminum teh dipagi hari.

Mereka semua yang telah mengenalinya menatap dengan pandangan terkejut, mata mereka penuh dengan hasrat untuk membunuh.

Little Gao tak mempedulikannya sedikit pun.

Banyak diantara mereka semua yang telah bersiap-siap untuk bergerak, namun anehnya, Cai Chong belum memberikan aba-aba, bahkan ketika Little Gao sudah berjalan dan berada tepat di depannya.

Little Gao berdiri di depan meja kayu yang berisi kue-kue milik Cai Chong. Ada beberapa lapis kue di atas meja, masing-masing kue ditutupi oleh kain kasar. Little Gao melemparkan dua koin diatas meja dan melihat ke arah Cai Chong.

“Aku mau membeli kue manis seharga dua koin. Aku ingin jenis kue yang memiliki kurma didalamnya.”

Cai Chong menatapnya dalam waktu yang lama, dan kemudian tertawa. “Kau benar-benar datang untuk membeli kue-kue manis ini?”

“Kau menjual kue maniskan, tentu saja aku akan membeli kue-kue manis ini. Apa yang aneh dengan hal itu? Apakah ada yang lucu dengan hal itu? “

“Ini jelas tidak lucu, tak lucu sama sekali. Ini jelas sesuatu hal yang membuat seseorang menangis.”

“Lalu kenapa kau tak menangis?”

“Karena orang yang seharusnya menangis itu adalah dirimu.”

“Oh?”

“Kau masih hidup.” Cai Chong bertanya dengan nada dingin, “Apakah kau tahu mengapa kau masih hidup?”

“Aku tak tahu.”

“Karena aku ingin menanyakanmu sesuatu hal,” kata Cai Chong. “Kenapa kau kemari? Apakah kau ingin berbicara dengan Zhu Meng? Berikan aku persyaratannya? Memohon untuk keringanan hukuman? “

Little Gao menatapnya dalam waktu yang lama, dan kemudian menghela napas. “Aku rasa orang-orang tak dapat menyembunyikan tujuan yang sebenarnya terhadap dirimu.”

Cai Chong tertawa lagi.

“Sebenarnya, Zhu Meng dapat datang kemari sendiri. Tak peduli apapun yang terjadi, aku dan dirinya masihlah saudara.” Cai Chong tampaknya begitu tulus dengan apa yang ia ucapkan barusan. “Selama tak ada persyaratan yang berlebihan, aku akan bersedia untuk mematuhi apapun yang ia meminta.”

“Sungguh?”

“Tentu saja. Aku benar-benar tak ingin bertele-tele dengannya. Kondisi markasnya sudah berbalik keadaan sekarang, semua orang kelelahan dan telah menderita kekalahan. Menggunakan orang luar untuk mengambil keuntungan bukanlah suatu hal yang baik bukan? “

“Kau benar, tak ada yang baik tentang hal itu sama sekali.”

“Jadi sebaiknya kau kembali dan katakan sendiri kepadanya. Aku yakin kau bisa mengatakan kepadanya bahwa aku mempunyai tujuan yang baik. “

“Tentu saja aku akan mengatakannya. Namun saya berpikir itu agak aneh.”

“Apa yang aneh?”

“Jangan bilang kalau kau tak pernah berpikir bahwa aku bisa saja membunuhmu untuk Zhu Meng?”

Cai Chong tersenyum, dan matanya yang sipit bagaikan pisau itu terlihat begitu senang. “Kau orang yang cerdas. Bagaimana bisa kau melakukan hal seperti itu? Jalanan ini dipenuhi oleh orang-orangku. Jika kau membuat sedikit gerakan, Mereka  semua bisa membunuhmu. Tak ada cara bagimu untuk dapat lolos dari kematian.”

“Aku mempercayainya,” kata Little Gao. “Aku dapat mengerti apa yang sebenarnya kau bicarakan.”

“Kau masih muda dan memiliki banyak prospek yang cerah. Kau bahkan tak memiliki hubungan yang sangat mendalam dengan Zhu Meng; mengapa kau mau menyerahkan hidupmu untuknya? “Cai Chong tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Kau sudah pasti tak akan melakukan hal seperti itu.”

Little Gao juga tersenyum. “Kau memang benar. Bahkan orang yang sangat idiot pun tak akan melakukan sesuatu hal seperti itu. “

Cai Chong tersenyum, tersenyum dengan senang.

Dan ketika ia tersenyum dengan begitu menyenangkan, tiba-tiba ia melihat sebuah kilatan gelombang cahaya, dan kemudian sebuah pedang yang tajam menusuk ke dalam hatinya.

**

Senyuman itu membeku, bagaikan senyuman yang berada pada topeng yang terbuat dari kayu yang sangat buruk.

Di saat yang sama, semua suara dan gerakan di jalanan tampaknya membeku. Dan segala sesuatu tampak meledak, seakan-akan jalanan telah berubah menjadi sebuah panci bubur yang mendidih didalam oven yang sedang terbakar.

Satu-satunya orang yang dapat mengendalikan ketenangannya adalah Little Gao.

Apa yang ia ingin selesaikan, harus diselesaikan, terlepas dari sukses atau kalah, hidup atau mati. Dia tak pernah berpikir tentang hal-hal tersebut.

Sekarang, misinya telah tercapai. Dan ia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa seorang pengkhianat telah menerima upahnya. Ia tak mempedulikan hal apa pun.

Namun, meskipun ia tidak peduli, orang-orang lain peduli.

**

Kerumunan orang-orang, dalam suasana yang kacau, masih belum melakukan gerakan. Namun tiba-tiba, sebuah bayangan yang besar memenuhi langit-langit bagaikan orang yang meluncur dan pergi ke arah Little Gao dan menggenggam tangannya.

“Ini temanku,” Zhu Meng meraung layaknya singa. “Langkahi mayatku dulu sebelum menyentuh dirinya!”

**

Translator / Creator: fatality