November 10, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 8: No Turning Back (Part 1)

 

Hari ketujuh bulan kedua di kalender lunar.

Luoyang.

Cai Chong duduk di bangku yang terbuat dari empat potong kayu dan strip kanvas. Dia memandang kerumunan orang-orang di jalanan, wajahnya terlihat murung. Siapa pun dapat melihat bahwa ia tidak dalam kondisi mood yang baik hari ini.

Little Gao bagaikan kura-kura yang berada didalam sebuah toples, seekor ikan yang berada didalam jaring. Siapa yang dapat membayangkan pada saat-saat terakhir yang lalu Little Gao dapat terlepas dari cengkramannya?

Mungkin karena semua hal yang dilakukan oleh Cai Chong biasanya berjalan dengan mulus dan berhasil dengan cepat. Oleh sebab itu ia menyebabkan kelalaian semacam ini.

Sebenarnya, hingga saat ini, Cai Chong tak melupakan Zhu Meng.

Cai Chong mengetahui bahwa Zhu Meng tak meninggalkan Luoyang. Jika ia benar-benar pergi mencari, ia pasti dapat menemukannya.

Namun Cai Chong tak pergi mencarinya, bukan karena ia malu, tapi karena dia tak berani.

Meskipun Cai Chong dapat memperkirakan posisi Zhu Meng saat ini, Ia masih mempunyai rasa takut yang tak terbayangkan dan begitu dalamnya terhadap Zhu Meng.

Ketakutan ini telah berakar di dalam hatinya selama pelayanannya bertahun-tahun pada masa kekuasaan Zhu Meng.

Bahkan sampai sekarang, ketika ia berpikir tentang Zhu Meng, tangan dan kakinya akan menjadi dingin, dan tubuhnya akan berkeringat. Terkadang ia akan terbangun karena mimpi buruk di tengah-tengah malam, kemudian berbaring begitu saja di tempat tidur, berkeringat hingga basah dan gemetaran.

Cai Chong ingin Zhu Meng datang mencarinya.

Cai Chong telah memenuhi seluruh jalanan dengan perangkap yang mematikan dan penyergapan. Sedikit aba-aba dari dirinya, maka semuanya akan berjalan. Bahkan jika Zhu Meng dalam posisi yang sangat menguntungkan sekalipun, ia tetap tak akan dapat melarikan diri.

Dan, setiap pagi, Cai Chong akan duduk di sana untuk menjual irisan kue-kue manis, menggunakan dirinya sendiri sebagai umpan untuk memancing ikan yang besar layaknya Zhu Meng.

Meskipun hal tersebut berbahaya, selama Zhu Meng masih hidup ia tak akan pernah bisa beristirahat dengan tenang hingga akhir hidupnya.

Jalanan itu terlihat begitu sibuknya, dipenuhi dengan kedai-kedai teh, toko-toko bunga, dan warung-warung makanan. Bahkan pada saat subuhpun jalanan itu masih tetap sangat sibuk. Dan pada saat ini hari masih subuh, jalanan itu terisi oleh begitu banyak orang, seperti yang telah terjadi di dua hari terakhir. Sekitar setengah orang-orang dari kelompok memenuhi jalanan dan menunggu untuk menyergap. Diantara kelompok itu adalah anggota dari Lion Clan, dan beberapa lagi adalah tentara bayaran yang berasal dari tempat yang sangat jauh.

Orang-orang tersebut akan melakukan segalanya untuk uang.

Zhu Meng belum pernah melihat salah satu dari mereka sebelumnya, dan mereka semua tak mempunyai perasaan apapun terhadapnya.

Bahkan beberapa anggota lama Lion Clan seperti Cai Chong, takut akan Zhu Meng, dan ragu-ragu untuk melakukan gerakan disaat sesungguhnya, para tentara bayaran itu tak memiliki keluarga dan terlihat putus asa.

Ketika ia memikirkan tersebut, Cai Chong merasa sedikit lebih nyaman. Dan disaat yang sama, ia melihat seseorang berjalan menyusuri jalanan.

“Little Gao, Gao Jianfei!”

Cai Chong hampir tak bisa mempercayai apa yang telah dilihatnya.

Orang yang telah lolos dari kematian kemarin kini datang kembali untuk mengantarkan nyawanya.

Translator / Creator: fatality