October 29, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 7: The Lion Clan Hall of Copper Camel Alley (Part 2)

 

Momen dimana sebelumnya ia tak menemukan tanda-tanda kehidupan di gang yang begitu sunyi, sekarang mendadak ia menemui begitu banyak orang-orang.

Seseorang yang mengenakan pakaian berwarna coklat muncul; tingginya tak lebih dari empat kaki, dengan bentuk wajah mirip seperti kuda dengan lebar satu kaki. Alisnya tampak seperti dua sapu yang diikat secara bersamaan oleh sepotong tali simpul.

Orang itu tak terlihat sangat tua, namun mempunyai sikap yang dewasa. Mata sipit yang berada di bawah alis lebat itu berkilauan. Begitu ia melihat ke arah Little Gao, pandangannya selalu tetap ke arahnya layaknya sebuah paku.

Little Gao pernah melihat orang ini sebelumnya.

**

Ketika anda melihat orang seperti ini, sulit untuk melupakannya.

Little Gao ingat bahwa ia telah menjual kue beras yang teriris-iris di jalanan luar gang. Dia menggunakan pisau yang tajam, tipis, dan panjang untuk memotong kue manis.

Pisau itu terselubung di pinggangnya.

Tak akan sulit menggunakan pisau ini untuk memotong seseorang menjadi beberapa bagian.

**

Begitu ia sampai, gang itu tiba-tiba dipenuhi dengan kebisingan dan orang-orang. Tampaknya semua orang yang berada di luar jalan utama tiba-tiba masuk bagaikan ombak air, Dan Little Gao tenggelam didalamnya.

Little Gao merasakan dirinya seperti tiba-tiba masuk ke dalam sebuah pameran kuil yang sangat sibuk. Berbagai arah dipenuhi oleh orang-orang, semua jenis orang. Bahkan tak setetes air pun bisa melewatinya. Dan tak sedikitpun yang dapat bergerak.

Dia tak begitu yakin bagaimana menangani situasi tersebut, karena ia belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.

Penjual kue itu pada awalnya telah berada tepat di depannya, namun sekarang ia tak terlihat dimanapun.

Orang itu sangat pendek dan susah untuk ditemukan. Tetapi, jika orang tersebut ingin menggunakan pisau untuk menusuk seseorang didalam kerumunan, hal itu akan lebih mudah daripada memotong kue.

Little Gao tak ingin mendekati jenis pisau seperti itu.

Ia harus menemukan orang itu. Orang itu terlihat jelas seperti seorang pemimpin.

“Aku ingin membeli irisan kue manis!” Tiba-tiba orang itu memanggil. “Siapa pun yang menjual kue, kemana kau pergi?”

“Aku tak pergi ke mana-mana,” terdengar jawaban, suara serak yang mendalam. “Aku disini.”

Suara itu datang dari belakang Little Gao. Dia berbalik, tapi masih tak dapat melihat orang tersebut.

Namun Little Gao dapat mendengar ia memanggil lagi, dan kemudian ia menyadari bahwa ia tak bisa melihatnya karena ia masih belum melihat kebawah.

Orang yang pendek, di tengah-tengah kerumunan orang banyak, tak dapat dilihat jika anda tidak melihat kebawah.

“Dapatkah kau melihatku?” Tanya Little Gao. “Aku masih tidak dapat melihatmu. Bagaimana bisa kita berbisnis? “

“Masalahnya sangat mudah untuk dipecahkan.”

Little Gao tiba-tiba berjongkok. Ia tak bisa melihat wajah orang-orang lain didalam keramaian, namun tepat di depannya ada wajah panjang dan lebar berbentuk seperti kuda.

“Sekarang kita bisa melakukan bisnis, kan?”

Pria itu tersenyum, dan sudut-sudut bibirnya hampir mencapai telinganya. “Kau benar-benar ingin membeli irisan kue manis?”

“Selain membeli kue, apakah ada bisnis lain yang dapat kita bahas? Bisnis lain yang dapat dilakukan? “

“Tidak, tidak ada.”

“Lalu aku akan membeli beberapa kue manis yang teriris.”

“Berapa banyak yang ingin kau beli?”

“Berapa banyak yang dapat kau jual?”

“Selama kau mampu membayar, berapapun banyaknya dapat aku jual.”

“Berapa harga kue milikmu?”

“Itu tergantung.”

“Tergantung apa?”

“Tergantung pada orang tersebut.”

“Tergantung pada orang?” Little Gao tak mengerti. “menjual kue manis tergantung pada orang?”

“Tentu saja itu tergantung pada orang. Harga kue-kue manis ini ditentukan oleh jenis orang apa yang ingin membeli. “

Menyesuaikan harga berdasarkan pelanggan sudah pasti menjadi salah satu rahasia untuk bisnis yang sukses.

“Untuk beberapa orang yang ingin membeli kue-kue manis, saya menjualnya dengan harga dua koin per setengah kilo. Bagi orang lain, saya tak akan menjualnya bahkan lima ratus emas batang sekalipun. Karena aku tak suka melihat mereka.”

“Bagaimana dengan diriku,” tanya Little Gao. “Apakah kau suka melihat diriku?”

Pria itu memeriksanya dalam waktu yang lama, dari atas ke bawah. Mata sipit yang berada dibawah alis tebal itu berkilauan layaknya sebuah pisau. “Apakah kau datang dari Chang’an.”

“Betul.”

“Apakah yang ada didalam buntelan kain itu? Apakah itu sebuah pedang? “

“Betul.”

“Alasan kau datang dari Chang’an … untuk bertemu pendekar Zhu dari Lion Clan?”

“Benar.”

Pria itu tiba-tiba tersenyum lagi, menunjukkan gigi putihnya yang menakutkan. “Aku rasa kita tak dapat melakukan bisnis.”

“Mengapa?”

“Karena orang yang sudah mati tak dapat memakan kue manis, dan aku tak menjual kue-kue manis ini kepada orang-orang mati.”

**

Telapak tangan Little Gao sudah mulai berkeringat, keringat dingin.

Jika kerumunan orang-orang dari berbagai arah tiba-tiba berdesakan maju, mereka bisa dengan mudah menghancurkannya hingga mati, dan ia tak akan berdaya untuk menghentikannya.

Dia bisa mendengar ada beberapa orang didalam kerumunan bernapas dengan berat dalam kegembiraan. Orang-orang biasanya bersemangat sebelum membunuh.

Kerumunan orang-orang mulai berdesakan maju, dan penjual kue itu sudah menarik pisau dari pinggangnya.

Little Gao tiba-tiba menyadari sesuatu. Hal yang paling menakutkan di dunia adalah sekumpulan banyak orang; ketika orang-orang dikumpulkan bersama-sama, hal tersebut lebih menakutkan dibandingkan sesuatu hal yang kuat di muka bumi ini.

Namun Little Gao masih bisa tetap tenang. Karena ia bisa melihat bahwa semua orang-orang disini adalah anggota Lion Clan. Seperti dia, mereka semua berpihak kepada Zhu Meng. Sehingga ia berkata, “Aku kemari dan berasal dari Chang’an, bundel saya berisi sebuah pedang yang sangat mematikan, namun kedatanganku kemari bukanlah untuk membunuh Zhu Meng.”

“Kau kemari untuk membunuh siapa?”

“Aku kemari untuk membunuh orang-orang yang sama sepertimu. Karena aku sama sepertimu, aku adalah teman Zhu Meng. “

“Oh?”

“Namaku Gao, Gao Jianfei.”

“Apakah kau Gao Jianfei yang ingin terbang secara berlahan?”

“Benar. mungkin kau bisa bertanya kepada Zhu Meng bahwa ia memiliki teman seperti diriku. “

“Aku tak perlu bertanya.”

“Mengapa?”

Mata sipit penjual kue itu tiba-tiba bersinar dengan senyum licik. Dia mentertawakan Little Gao.

“Kau pikir aku tak tahu bahwa kau teman Zhu Meng?”

“Kau tahu?”

“Oleh karena itu aku akan membunuhmu.”

**

Little Gao tiba-tiba kembali meneteskan keringat dingin.

Kerumunan orang-orang sekali lagi berdesakan maju ke depan. Pisau pemotong kue itu sangatlah tajam, tetapi pada momen yang singkat ini, ia masih memiliki kesempatan untuk melumpuhkan pegangan pisau, memukul hidung yang berada tengah-tengah wajah seperti kuda itu, dan melenyapkan ekspresi jahat dan licik dari kedua matanya.

Namun ia tak dapat bertindak gegabah.

Dia bisa saja membunuh penjual kue itu, namun bukan orang-orang yang berada di sekelilingnya, tak sepenuhnya.

Jika Little Gao membunuhnya di saat yang tepat seperti sekarang ini, maka kemungkinan besar ia akan dicincang hingga berkeping-keping oleh beberapa pisau acak lainnya.

Penjual kue tertawa lagi, tertawa sinis. “Kau belum mati, mengapa Anda tidak bergerak?”

Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, Little Gao, yang telah berjongkok di depannya, tiba-tiba berdiri. Dia berdiri dan kemudian melompat lurus ke atas, seolah-olah sebuah tangan raksasa baru saja meraih kerah bajunya dan mengangkatnya, bagaikan tangan yang memetik daun bawang keluar dari tanah.

Ini adalah kungfu meringankan tubuh yang tak sering terlihat di Jianghu, keahlian unik yang digunakan untuk menghindari kematian.

Sayangnya, ia bukanlah seekor burung, serta tak memiliki sayap.

Tubuhnya mengandalkan kekuatan napas tunggal untuk terbang. Begitu nafas berakhir, tubuhnya akan jatuh lagi, dan ketika dia jatuh dia akan turun kembali ke kerumunan orang.

Dia mengetahuinya.

Dia tahu bahwa orang-orang di bawahnya sudah mencabut senjata mereka, dan siap untuk membunuhnya. Mereka hanya menunggu kekuatannya habis dan jatuh. Dan kemudian, bahkan jika ia mencabut pedangnya dan membunuh beberapa orang, ia juga pasti akan mati di antara darah dan mayat.

Dia tak ingin hal itu terjadi, dan ia juga tak ingin melihat pemandangan yang mengerikan dimana darah dan daging terbang dari berbagai arah.

Namun ia tak mati.

Pada saat itu, tiba-tiba ia melihat sebuah tali panjang terbang menuju ke arahnya.

Ia tak melihat darimana tali itu terbang, atau dari tangan siapa tali tersebut.

Namun untungnya, ia melihatnya, dan mampu meraihnya.

tali itu ditarik ke depan, menarik tubuhnya ke depan juga.

Hal menariknya bersama seperti layang-layang, terbang lebih tinggi dan lebih tinggi.

Sepertinya orang yang menarik tali itu sedang bergerak maju. Little Gao tak dapat melihat orang tersebut, tapi ia bisa mendengar suara yang tak begitu asing bagi dirinya.

Suaranya bagaikan suara sandal yang berlari di tengah-tengah salju.

Little Gao tiba-tiba merasakan kehangatan dalam hatinya.

Seolah-olah ia bisa melihat seseorang, mengenakan sepasang sandal, menggenggam ekor kuda, dan terbang di belakang kuda bagaikan layang-layang.

Dia nampak seperti melihat orang yang menunggang kuda, memancarkan dan menginspirasi jiwa yang heroik.

Ia mengetahui bahwa selama ini Zhu Meng tidak bisa dikalahkan oleh siapapun.

Translator / Creator: fatality