October 28, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 7: The Lion Clan Hall of Copper Camel Alley (Part 1)

 

Hari keenam di bulan kedua pada kalender lunar.

Luoyang.

Luoyang merupakan lokasi dari ibukota Dinasti Zhou Timur, Dinasti Wei Utara, Dinasti Jin Barat, Keadaan Wei selama periode peperangan, Dinasti Sui yang nantinya berubah nama menjadi Dinasti Tang, beserta tujuh lainnya. Di timur terdapat Tiger Cage Pass, di barat terdapat Guanzhong Plain, di utara terdapat Yanyun Sixteen Prefectures, dan di selatan terdapat Jiangnan region.  Istana dan menara pengawas yang berada disana sangatlah megah.

Tempat lahir Kaisar Song Taizu’s berasal dari Jia Ma Ying, yang merupakan sebuah kuil terbesar di timur dan dibangun pada masa Dinasti Tang, Fu Fei berasal dari “Rhapsody of the Goddess of Luo” dan diciptakan oleh sang penyair Cao Zhi, pemukiman kuno Laozi yang berada di Copper Camel alley, jembatan kuno “Spring Water under Tianjin,” semuanya masih berada disana.

Namun jiwa Gao Jianfei tidak berada disana.

Ia tak datang untuk mengunjungi tempat-tempat yang kuno dan terkenal. Dia datang ke satu tempat dan untuk satu orang. Ia ingin mencari lokasi aula dari Lion Clan, Zhu Meng Lion Clan.

Dan ia menemukannya.

Markas Lion Clan terletak di Copper Camel alley, dan merupakan satu daerah yang sama dengan pemukiman kuno Laozi. Pemukiman tersebut hampir menduduki seluruh gang.

Little Gao menemukannya dengan sangat cepat.

Dalam imajinasinya, aula Lion Clan adalah sebuah bangunan yang kuno dan besar. Dan jikalau tak begitu indah dan mengesankan, bangunan itu pasti luas, terbuka, dan memancarkan keagungan layaknya diri Zhu Meng.

Little Gao memang benar, aula Lion Clan memang terlihat seperti demikian. Namun ada satu hal yang belum pernah ia bayangkan: Bangunan yang kuno, besar, dan luas ini telah terbakar menjadi puing-puing reruntuhan.

Selain beberapa ruang yang berada dibelakang, aula Lion Clan yang telah menduduki Luoyang selama bertahun-tahun, Benar-benar hancur oleh amukan api.

**

Hati Gao Jianfei kecewa.

Angin memotong layaknya sebuah pisau. Angin sepoi yang dingin menerbangkan beberapa puing-puing reruntuhan sekitar. Entah itu sisa-sisa balok kayu ataukah tulang seseorang?

Aula Lion Clan, dimasa lalu terus-menerus kedatangan tamu bagaikan salju yang berada ditengah-tengah badai, namun sekarang hal itu hanyalah tinggal sebuah kenangan saja.

Copper Camel alley, tempat ini dulunya penuh dengan pendekar-pendekar legenda yang kuno dan modern, sekarang hanya terisi dengan penderitaan dan kesuraman.

Waktu membawa perubahan yang sangat besar , dan kepentingan orang secara terus-menerus berubah, tetapi jenis perubahan ini terlalu cepat dan mengerikan.

-Kapan hal ini terjadi? Bagaimana hal tersebut bisa terjadi?

-Pemberani, energik dan sangat dibangga-banggakan. Zhu Meng, murid-muridnya, dan para ahli veterannya … kemanakah mereka semua pergi?

**

Little Gao berpikir tentang Zhuo Donglai, Metodenya yang jahat, keji, dan tak berperasaan.

Pada saat ini, Ia tak dapat membantu kecuali berpikir tentang apa yang terjadi di Red Flower Bazaar yang selalu tertutup oleh salju pada saat itu, berpikir akan semua detailnya.

Dan Little Gao tiba-tiba mengetahui kenapa Zhuo Donglai membiarkan Zhu Meng pergi pada saat itu.

Dengan kepergian Zhu Meng ke Chang’an, pertahanan markas Luoyang sudah pasti menjadi lemah. Peluang terbaik Zhuo Donglai adalah mengutus seseorang dengan kecepatan ganda untuk meluncurkan serangan dadakan.

Zhuo Donglai sudah pasti telah menunggu kesempatan seperti ini dalam waktu yang lama.

Pada saat Zhuo Donglai mengangkat gelasnya dan bersulang kepada Zhu Meng, pasukan yang diutus olehnya untuk menyerang secara mendadak sudah pasti dalam perjalanan.

Dan semua kejadian ini adalah hasil dari serangan dadakan tersebut.

Di saat yang tepat di mana Zhu Meng merasa paling aman dan paling menang, ia sebenarnya sudah benar-benar terkalahkan.

Dan kali ini kekalahannya adalah sangatlah brutal.

**

Tangan dan kaki Little Gao membeku.

Ia tak dapat membayangkan bagaimana bisa Zhu Meng  menangani serangan besar-besaran seperti demikian, namun ia percaya bahwa Zhu Meng tak sepenuhnya tumbang.

Selama Zhu Meng masih hidup, tak akan ada satupun orang yang dapat mengalahkannya.

Sekarang Little Gao berpikir bahawa Zhu Meng sudah pasti bergegas pergi dan menyerang Chang’an untuk membalas dendam. Zhuo Donglai sudah pasti menunggunya untuk kembali dan membuat suatu perangkap.

Apabila Zhu Meng telah mencapai Chang’an, maka peluangnya untuk kembali hidup sangatlah kecil.

Siapapun yang menyerang dengan cara membabi buta sudah pasti akan dipenuhi dengan perasaan penuh emosi dan kecerobohan.

Dan sedikit saja ceroboh dapat menyebabkan kesalahan yang fatal.

Rencana Zhuo Donglai tak pernah sedikit pun ceroboh, dan ketika Little Gao berpikir tentang hal ini, hatinya menjadi dingin. Pada saat itu ia membuat sebuah keputusan.

Little Gao memutuskan untuk kembali ke Chang’an secepat mungkin. Entah Zhu Meng masih hidup atau mati, ia tetap akan kesana.

Jika Zhu Meng masih hidup, mungkin ia bisa membantu teman-temannya.

Ia masih memiliki kedua tangan dan pedang dalam hidupnya.

Apabila Zhu Meng telah mati ditangan Zhuo Donglai, maka Little Gao dapat membawa mayatnya, dan melakukan segala cara untuk membalas dendam.

Terlepas dari hal tersebut, Zhu Meng adalah satu-satunya orang yang pernah menganggap Little Gao sebagai teman.

Pada kenyataannya, Zhu Meng hanyalah satu-satunya teman Little Gao.

Little Gao benar-benar belum sepenuhnya memahami makna dari “pertemanan” di dunia ini. Karena ia memang belum pernah memiliki seorang teman sebelumnya.

Akan tetapi ia memiliki sebuah semangat.

Semangat ksatria, semangat keberanian, semangat persaudaraan, dan loyalitas.

– Karena dunia ini terdapat orang-orang yang memiliki semangat seperti ini, keadilan bisa menang diatas kejahatan, dan kemanusiaan akan terus ada untuk selama-lamanya.

Namun sayangnya, pada saat ini tak peduli kemanapun Gao Jianfei akan pergi, hal itu akan sangat sulit untuk dilakukan.

Translator / Creator: fatality