October 26, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 6: Seven Story Buddhist Pagoda (Part 6)

 

Angin bertiup dengan sangat kencang dan dingin.

Mereka berdua melompat tinggi ke puncak lantai pada Seven Story Buddhist Pagoda.

“Kau. Kau lagi.” Gao Jianfei melihat sekelilingnya dengan perasaan kecewa. “Siapa dirimu sebenarnya? Mengapa kau membawaku ke tempat terkutuk seperti ini? “

“Tempat ini tidaklah terkutuk. Namun jika aku tak membawamu kemari, maka jiwa seseorang yang lain yang akan terkutuk. Mati dan terkutuk. “

“Apakah orang lain yang kau maksud itu adalah diriku?”

“Benar.”

“Bagaimana bisa kau tahu kalau aku akan mati?”

“Itu karena pedangmu.”

Pada tatapan pria yang tak berekpresi dan nampak lesu itu tiba-tiba memunculkan sedikit cahaya. Sama seperti bintang yang bergantung selamanya pada cakrawala diujung utara; terpencil, misterius, dan cerah.

“Peristiwa-peristiwa pada masa lalu lenyap bagaikan asap; pedang yang begitu terkenal di masa lampau telah terkubur dalam-dalam. Pedang milikmu adalah senjata yang tak tertandingi. Tak ada satupun pedang yang dapat mengalahkannya di masa lima ratus tahun silam. “

“Oh?”

“Orang yang membuat pedang itu adalah pendekar terbesar pertama yang muncul setelah Ou Yezi, dan juga merupakan pendekar terbesar dimasanya. Namun selama hidupnya, ia tak pernah sekalipun menggunakan pedang itu. Bahkan, ia tak pernah mencabutnya untuk dilihat oleh orang-orang.”

“Kenapa?”

“Karena pedang itu terlalu mengerikan. Apabila dicabut, pedang itu harus meminum darah manusia.”

Wajahnya tak berekspresi, tertutup dan terlihat seperti menggunakan bahan-bahan yang terbuat dari lilin yang digunakan untuk menyamar. Tapi dari tatapan matanya dapat terlihat kesedihan yang tak dapat dijelaskan.

“Ketika pedang ini keluar dari bengkel besi, sang pemilik dapat melihat hawa jahat didalamnya, suatu kejahatan yang tak dapat disembuhkan. Dan karena hal tersebut, Pemilik tak dapat berbuat apa-apa namun hanya bisa menangis. Tetesan air matanya jatuh ke pedang tersebut, dan meninggalkan sebuah tearstains disana.”

“Jadi, Tearstains itu berasal dari sana?”

“Benar.”

“Jika sang pemilik dapat melihat hawa jahat berada didalam pedang itu, mengapa ia tak menghancurkannya saja?”

“Karena pedang itu telah diciptakan terlalu sempurna. Di dalam dunia ini” kata pria tersebut “siapakah yang memiliki niat untuk menghancurkan sesuatu yang dibuat dengan begitu sempurna dan penuh penderitaan? Selain itu, setelah meninggalkan bengkel besi, pedang itu berubah menjadi senjata ajaib. Mungkin kau dapat menghancurkan pedangnya, namun bukan jiwa yang berada didalamnya. Dan cepat atau lambat, apa yang dibutuhkannya akan segera terbayar.”

Little Gao akhirnya memahami apa yang dimaksud olehnya. “Ada beberapa hal di langit dan bumi ini yang tidak dapat dimusnahkan.”

“Dan begitu pula, jika kau mencabut pedangmu sekarang, maka kau akan mati olehnya. Karena pada saat ini, kau bukanlah lawan tanding bagi Sima Chaoqun.” Dia menatap kearah Little Gao. “Sekarang, seharusnya kau paham, duel mungkin terlihat adil, namun tidak sepenuhnya.”

“Oh?”

“Ketika seseorang mencapai suatu titik tertentu dan mendapatkan kekuatan yang cukup, mereka dapat menciptakan situasi untuk melemahkan kekuatan lawan, dan memastikan kemenangan mereka sendiri. hal semacam ini biasanya mengarahkan orang lain ke dalam penderitaan yang ekstrim.” Itu adalah kenyataan. Kenyataan yang kejam dan bengis.

Little Gao tak memiliki kemampuan untuk menolak. Karena pada akhirnya ia mulai melihat dengan jelas, untuk mempelajari arti dari patah hati.

“Oleh karena itu, jika anda benar-benar ingin pergi melawan Sima Chaoqun, satu-satunya cara adalah menangkapnya dengan serangan kejutan, dan kemudian membunuhnya. Karena anda tak akan pernah benar-benar memiliki kesempatan untuk memiliki pertarungan yang adil dengannya.

Little Gao mengepalkan tangannya.

“Kenapa kau mengatakan semua hal tentang ini,” tanyanya. “Kenapa kau menyelamatkanku?”

“Aku tak membunuhmu, dan aku tak ingin kau mati di tangan orang lain.”

“Dan kau juga tak ingin kalau pedang ini jatuh ke tangan orang lain.”

“Benar.” Jawabannya sangat sederhana.

“Namun kau sudah memiliki senjata paling menakutkan di dunia,” kata Little Gao. “Jangan bilang kau menginginkan pedang ini juga?”

“Tidak,” jawab pria itu dengan dingin. “Jika aku menginginkannya, pedang itu sudah menjadi milikku sejak awal.”

Pada saat ini Little Gao tak bisa berdebat. “Kemudian, apa hubunganmu dengan hal ini? Apakah ada hubungan khusus antara dirimu dengan pedang ini?”

Tangan pria itu tiba-tiba melesat ke depan dan menggenggam pergelangan tangan Little Gao.

Little Gao mulai berkeringat dingin, keringat yang begitu menyakitkan dan bermunculan dari seluruh tubuhnya.

Pria itu mengerti bahwa ia telah menyentuh Little Gao, menyentuh hati dengan cara yang tak diinginkan oleh korbannya.

Bagaimana mungkin seseorang yang kuat dan tak berperasaan seperti Little Gao memiliki kelemahan didalam hatinya?

“Kotakmu dan pedangku keduanya dibuat oleh tangan yang sama. Apakah kau dan diriku juga memiliki beberapa hubungan yang khusus? Mengapa kau tak mengatakan hal yang sebenarnya?”

Little Gao harus menanyakannya, bahkan jika pergelangan tangannya hancur. Ia tetap harus menanyakannya.

Sayangnya, ia tak mendapatkan jawaban.

Pria itu melepaskan pergelangan tangannya, dan terbang jauh.

**

Lembaran berwarna putih keperakan mengelilingi pagoda raksasa; pria dengan kotaknya menghilang seperti kepingan salju berwarna keputihan.

**

Langit mulai menjadi gelap. Little Gao telah berdiri disana dalam waktu yang lama dan berpikir. Ada begitu banyak hal yang tidak diketahui olehnya.

Ia tak dapat berpikir apapun sekarang.

Tak peduli apapun yang dipikirkan olehnya, ia tak dapat berbuat apa-apa kecuali berpikir tentang wanita itu.

-Siapakah dia? Darimanakah ia berasal? kemanakah ia pergi?

-Siapakah orang-orang yang mencoba untuk membunuh wanita itu? Apakah benar wanita itu telah bertemu dengan Sima Chaoqun dan ia telah mengutus wanita itu agar Little Gao jatuh cinta kepadanya?

-Apakah wanita itu pergi karena Sima Chaoqun mengutusnya agar Little Gao merasa patah hati dan putus harapan?

Apapun yang terjadi, Little Gao bertekad untuk menemukan wanita itu dan mengetahui segalanya dengan jelas.

Namun, tak ada cara untuk menemukannya.

Ia tak tahu di mana ia harus mulai mencari.

Ia adalah seorang pemuda yang melakukan perjalanan untuk pertama kalinya di Jianghu, Tak memiliki pengalaman, teman, dan seorangpun yang mau membantunya. Hal apakah yang dapat dilakukannya?

Selain menggunakan pedangnya untuk membunuh orang, hal apalagi yang bisa dilakukannya?

Siapakah yang dapat ia bunuh? Siapakah yang harus ia bunuh?

Siapakah yang dapat memberitahu dirinya?

**

Langit menjadi semakin gelap, bel malam telah dibunyikan, dan aroma harum bubur dan nasi yang berasal dari dapur halaman belakang dapat tercium. Beberapa biksu, datang terlambat, mereka bergegas cepat dengan sandal mereka untuk mengambil makan malam.

Jejak sandal pada es dan salju itu tiba-tiba membuat Little Gao berpikir tentang Zhu Meng.

Zhu Meng di Luoyang.

**

 

Translator / Creator: fatality