October 25, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 6: Seven Story Buddhist Pagoda (Part 3)

 

Salju telah berhenti turun dan seorang biarawan tua membawakan teh kemudian pergi.

Terkadang mereka terlihat bermunculan, berpergian, berjatuhan, dan berhenti. Kepingan salju yang begitu kejam dan biarawan tua yang bersikap cuek itu keduanya terlihat sama.

Bagaimanakah dengan orang-orang lainnya?

Bukankah orang-orang juga seperti demikian?

**

Sima Chaoqun duduk lagi diatas tikar doa, meminum alkohol dingin yang belum habis dari botol yang sama seperti sebelumnya. Setelah beberapa lama, Ia tiba-tiba bertanya kepada Zhuo Donglai: “Siapakah orang itu?”

“Orang yang mana?”

Sima tertawa dingin. “Kau tahu yang mana orangnya. Alasanmu mengatakan kepadaku untuk tak mengejarnya adalah karena kau takut padanya. “

Zhuo Donglai berdiri dan berjalan ke arah jendela. Dia membukanya dan menutupnya kembali, dan kemudian berbalik menghadap Sima.

“Ada begitu banyak pendekar besar di seluruh dunia persilatan dan juga kemampuan bela diri yang unik. Ketika kedua pendekar saling berhadapan, kemenangan dan kekalahan biasanya ditentukan oleh situasi dan keadaaan mereka pada saat itu. Semenjak Little Li Flying Dagger pergi mengundurkan diri, hampir tak ada para pendekar hebat yang tersisa.

“Hampir atau benar-benar tak ada yang tersisa?”

“Aku tak dapat memastikan.” Suara Zhuo Donglai ini tampak sedikit serak. “Namun ada yang pernah mengatakan kepadaku bahwa di salah satu tempat yang kurang begitu diketahui di dunia, terdapat seseorang yang seperti demikian.”

“Siapa?” Sima Chaoqun tiba-tiba nampak bersemangat. “Siapakah orang itu?”

“Dia bermarga Xiao. Karakter Xiao yang sama sebagai garis pada puisi, ‘Perairan terpencil di sungai Yishui.’ Nama lengkapnya adalah Xiao Leixue. “

**

“Pedang yang mengeluarkan aura mengerikan, perairan terpencil di sungai Yishui, Heroes Shed No Tears, air mata mereka menjadi tetesan darah kebenaran.”

Gao Jianfei berpikir ia harus tidur. Hal itu terjadi ketika ia mulai membuka pedangnya. Tiba-tiba ia terjatuh kedalam mimpi dan melayang di udara.

Sebenarnya, ia benar-benar tak tahu apakah ini adalah mimpi ataukah kenyataan. Ketika seseorang menggunakan cara yang cerdik dan mahir untuk menghambat titik tekanan dan membuat seseorang tak sadarkan diri, Biasanya anda akan mengalami hal seperti demikian.

Ketika ia terbangun, ia mendengar seseorang bernyanyi dengan lembut. Dalam nyanyiannya yang begitu tenang nampak ada sebuah jiwa mengerikan berasal dari pedang, nyanyian tersebut tak terlukiskan, begitu sunyi dan menyedihkan.

“The Wanderer menyanyikan tiga lagu, dan hanya bernyanyi untuk para pendekar; The Wanderer yang tak pernah tinggal diam, The heroes shed no tears.”

**

Nyanyian itu tiba-tiba berhenti, dan penyanyi  itu perlahan berbalik kebelakang. Wajah berwarna kuning memucat; dengan sepasang mata yang tak bereskpresi dan terlihat lesu; juga memakai satu setel pakaian sederhana berwarna abu-abu.

Seseorang yang terlihat tenang dan sederhana, menggenggam sebuah kotak soliter biasa yang terlihat kuno.

Translator / Creator: fatality