October 24, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 6: Seven Story Buddhist Pagoda (Part 2)

 

Selama masa pemerintahan Dinasti Tang, Gao Zong memiliki Great Wild Goose Pagoda yang dibangun untuk mendiang ibunya, Empress Wende . Biksu terkenal Xuan Zang atau yang sering disebut sebagai Buddha sutra disana. Pada mulanya gedung ini hanya memiliki lima lantai, dan juga sebagai tempat untuk menyembah kepada Buddha di daerah wilayah barat. Pada suatu saat nanti, gedung itu dibangun menjadi 7 lantai, dan menjadi Seven Story Buddhist Pagoda.

**

Gao Jianfei berdiri di bawah Great Wild Goose Pagoda.

Pagoda itu tak menampilkan bayangan, karena cuaca di langit terlalu berawan, dan tak ada sinar matahari untuk menampilkan bayangan.

Tak ada bayangan yang ada didalam hati Little Gao. Hatinya sekarang seperti ruang kosong, tak ada apa-apa di dalamnya sama sekali.

Namun di tangannya terdapat sebuah pedang. Pedang yang terbungkus oleh kain yang kasar, dan hanya sedikit orang yang pernah melihatnya. Hanya ada sebuah pedang, tak ada kotak.

**

Wanita itu tak mengambil kotak tersebut pergi bersama dengan dirinya. Seharusnya ia pergi meninggalkan, namun pada akhirnya ia pun pergi. Dan ia seharusnya sudah mengambil kotak itu pergi bersama dengan dirinya, namun ia tak melakukannya.

Little Gao meninggalkan kotak tersebut disebuah ruangan yang kecil.

Apa yang seharusnya ditinggalkan malah tidak ditinggalkan, dan apa yang seharusnya tak ditinggalkan malah ditinggalkan?

Ia tak tahu berapa lama ia sudah berada disana, dan ia tak tahu kapan ia akan sampai.

Yang ia tahu adalah bahwa ia telah sampai disana, karena ia telah melihat sosok dari Zhuo Donglai dan Sima Chaoqun.

**

Ia mengenakan satu set pakaian berwarna kontras  hitam dan putih yang tajam. Begitu pula dengan matanya, tajam, berwarna kontras hitam dan putih, Seputih salju dan gelap gulita. Setiap kali Sima Chaoqun tampil, hal itu akan membuat semua orang terkesan.

-Terbuka, terkuat, memahami perbedaan antara benar dan salah.

Pada saat ini, di dalam dunia berwarna putih keperakan, segala sinar kemuliaan dan kehormatan adalah milik Sima Chaoqun. Zhuo Donglai hanyalah sebuah bayang-bayang yang muncul dari kecerdikannya.

Zhuo Donglai mengetahui hal tersebut, dan karenanya akan selalu berada disamping, sehingga tak menghalangi kecerahan.

Hal pertama yang dilihat oleh Little Gao adalah mata Sima Chaoqun yang bersinar putih dan pupil matanya yang berwarna hitam.

Jika Little Gao berjalan sedikit lebih dekat, dan melihat Sima Chaoqun dengan hati-hati, ia mungkin dapat melihat tanda berwarna merah di bagian putih matanya, urat darah yang tampaknya berkobar karena hatinya yang membara.

Namun sayangnya, Gao Jianfei tak dapat melihatnya.

Tak ada menemani Sima Chaoqun, selain Zhuo Donglai.

“Kau adalah Gao Jianfei?”

“Itulah diriku.”

Sima Chaoqun melihat Little Gao. Menatap matanya, ekspresi wajahnya, penampilannya. The Giant Wild Goose Pagoda tak menampilkan bayangan, dan tampaknya seluruh orang-orang diselubungi oleh kegelapan.

Sima Chaoqun menatapnya dengan tenang dalam waktu yang lama, lalu tiba-tiba berbalik dan mulai pergi meninggalkan.

Zhuo Donglai tak menghalangi jalan, tak bergerak, dan bahkan tak berkedip.

Gao Jianfei bergegas ke depan untuk menghalang jalannya.

“Kenapa kau pergi?”

“Karena aku tak ingin membunuhmu, dan dibawah pedangku, kekalahan adalah kematian.” Dalam sikap Sima yang dingin, ia tak nampak seperti orang yang telah berminum. “Sebenarnya, kau seharusnya mengerti bahwa kau telah kalah. Karena kau adalah seseorang yang berjiwa kosong, sama kosongnya seperti karung beras tanpa sebutir beras di dalamnya.”

Baik orang-orang maupun karung beras yang sama-sama kosong tak dapat berjuang. Tanpa perjuangan bagaimana bisa salah satu darinya dapat mencapai suatu kemenangan?

Siapa pun dapat memahami kebenaran ini.

Terkecuali untuk Gao Jianfei.

Karena dirinya telah kosong, dan bagaimana bisa seseorang yang kosong dapat memahami kebenaran?

Dan ia pun memulai membuka bundel kainnya. Bundel tersebut tak kosong.

Pedang yang berada di dalam bundel kain itu dapat mengambil nyawa seseorang dalam sekejap. Dan sama halnya juga, Pedang itu dapat memberi keputusan terhadap orang lain untuk mengambil hidupnya dalam sekejap.

Sima Chaoqun berhenti berjalan dan sedang melihat dari kejauhan.

Ia tak melihat kearah Gao Jianfei, karena ia tahu bahwa pemuda itu telah mencabut pedangnya, dan disitu tak ada cara lain untuk menghentikannya.

Ia juga tak melihat ke arah Zhuo Donglai, karena ia mengerti bahwa Zhuo Donglai tak akan bereaksi sedikitpun terhadap apapun hal yang akan terjadi nantinya.

Namun dari mata Zhuo Donglai, Sima Chaoqun dapat melihat tatapannya yang begitu lemah dan menyesal.

-Bagaimana bisa kehidupan yang begitu layak menjadi begitu tak berarti setelah menghadapi keadaan seperti itu?

Tangannya mencengkeram pedangnya, karena dalam situasi seperti ini, dia tak ada pilihan lain.

**

Sebuah suara ceklikan terdengar sebagaimana pedang itu dikeluarkan dari sarungnya, namun Sima Chaoqun tak mencabut pedangnya.

Karena pada saat itu, bayangan seseorang melintas turun seperti meteor dari atas Giant Wild Goose Pagoda.

Apa yang jatuh dari puncak pagoda itu tidak hanya bayangan, tapi seseorang. dengan kecepatan luar biasa, begitu cepat sehingga Sima Chaoqun tak bisa melihat orang tersebut dengan jelas. Dia hanya bisa melihat bayangan abu-abu gelap yang mengikuti Gao Jianfei.

Kemudian Gao Jianfei terbang, tak secara perlahan, namun secepat burung. Dalam sekejap, ia telah mencapai lantai tiga pagoda.

Dalam sekejap mata, bayangan kedua orang telah mencapai lantai ketujuh dari pagoda Buddha.

Dan kemudian mereka benar-benar menghilang dari pandangan.

Sima Chaoqun hendak mengejarnya saat ia mendengar Zhuo Donglai berkata. “Kau tak ingin membunuhnya,” katanya dengan nada dingin. “Lalu kenapa kau mengejarnya?”

Translator / Creator: fatality