October 21, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 6: Seven Story Buddhist Pagoda (Part 1)

 

Hari pertama di bulan kedua kalender lunar.

Li Village, the Temple of Maternal Grace.

Pagi hari.

Salju tak henti-hentinya turun sejak tengah malam. Halaman candi tersapu bersih, namun halaman itu tertutupi oleh lapisan perak berwarna putih.

Suara bel pada pagi hari telah dibunyikan. Hawa sejuk membawakan suara bel bersamaan dengan iringan suara pujian untuk Buddha. Suara-suara itu mengalir hingga ruang meditasi yang berada pada sisi kanan halaman.

Sima Chaoqun duduk terdiam di atas tikar doa, mendengarkan, meminum sebotol alkohol dingin yang ia bawa kemarin malam.

Alkohol itu dingin bagaikan es, namun karena ia meminum baijiu, rasanya seperti terbakar oleh api.

Zhuo Donglai telah memasuki ruangan, dan menatapnya dengan dingin.

Sima Chaoqun pura-pura tak melihatnya.

Zhuo Donglai akhirnya berbicara. “Bukankah masih terlalu awal untuk minum-minum?” Tanyanya dengan nada dingin. “Jika kau ingin minum hari ini, bukankah seharusnya kau menunggu sebentar lagi?”

“Kenapa?”

“Karena kau akan menghadapi lawan yang sangat tangguh. Sangat memungkinan bahwa ia lebih kuat daripada yang kita bayangkan. “

“Oh?”

“Jika kau ingin minum, seharusnya engkau menunggu hingga selesai duel.”

Sima Chaoqun tiba-tiba tertawa.

“Mengapa aku harus menunggu sampai saat itu? Apakah kau lupa bahwa diriku adalah Sima Chaoqun yang tak terkalahkan untuk selamanya? “Sebuah cemoohan yang tak terlukiskan mengisi tawanya.” Dalam hal apapun, aku tak akan kalah. Bahkan jika aku meminum seluruh kendi, aku masih tak akan kalah. Karena kau sudah pasti mengatur segala sesuatu jauh-jauh hari, mengatur setiap detailnya.” Sima Chaoqun tertawa keras. “Si anak kecil Gao Jianfei itu tak akan bisa lolos dengan kekalahan dan tanpa sekarat sedikitpun.”

Zhuo Donglai tak tertawa, tetapi ia tak mengakui apa yang dikatakan Sima Chaoqun, juga tak menyangkalnya. Wajahnya benar-benar tak berekspresi.

Sima Chaoqun menatapnya. “Kali ini bisa kau ceritakan apa yang telah kau atur?”

Zhuo Donglai terdiam untuk waktu yang lama. “Hanya beberapa hal saja,” katanya dengan nada cuek. “Tak ada sesuatu yang perlu diatur lagi.”

“Jadi secara kebetulan kau membiarkan Gao Jianfei mengalami hal seperti itu.”

“Setiap orang pada akhirnya akan mengalami hal-hal demikian. siapapun orangnya, mereka akan sama-sama tak berdaya nantinya.”

Tiba-tiba Sima Chaoqun berjalan dan membawa sebotol baijiu dari meja pendek yang berada di samping tikar doa, serta menuangkannya sedikit ke dalam segelas air yang jernih.

Alkohol dan air tercampur bersama-sama seketika.

“Bukankah ini merupakan suatu hal yang sangat alami?” Tanya Zhuo Donglai kepada Sima Chaoqun.

“Ya.”

“Beberapa orang memang seperti ini,” kata Zhuo Donglai. “Ketika mereka bertemu, mereka akan bercampur layaknya alkohol dan air.”

“Tapi setelah mereka bercampur, alkohol akan menjadi encer, dan kualitas air juga berubah.”

“Begitu pula dengan manusia. Sama Persis.”

“Oh?”

“Beberapa orang berubah setelah mereka bertemu. Jika mereka bertemu orang tertentu, mereka akan menjadi lemah. “

“Sama seperti alkohol yang bercampur dengan air.”

“Sebenarnya, Kesempatan bertemu dan Kesempatan terakhir. Siapa pun orangnya tak akan berdaya.” Suaranya masih terdengar cuek. “Ada begitu banyak situasi seperti ini di langit dan di bumi.

Sima tertawa lagi.

“Mengapa kau memperlakukan diriku dengan sangat baik?” Tanya Sima. “Mengapa kau mengatur segalanya dengan sangat hati-hati untuk diriku?”

“Karena kau adalah Sima Chaoqun.” Jawab Zhuo Donglai dengan mudahnya. “Karena Sima Chaoqun harus tak pernah terkalahkan.”

Translator / Creator: fatality