October 11, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 4: An Extraordinary Person, an Extraordinary Place, Extraordinary Things

 

Tanggal 18 bulan pertama kalender lunar.

Tempat yang tidak ada yang tahu.

Bagaimana sekumpulan komponen logam berbentuk acak menjadi senjata paling menakutkan di dunia?

**
Little Gao belum benar-benar sadar, namun pertanyaan ini masih melingkari hatinya seperti ular berbisa.

Ketika akhirnya dia benar-benar sadar, dia ketakutan saat melihat pemandangan di depan matanya.

Tiba-tiba dia menemukan bahwa dia berada di tempat yang hanya ada dalam ruang mimpi yang paling aneh.

Rasanya seperti gua di lereng gunung, tapi Little Gao tidak bisa memastikannya. Siapa pun yang datang ke sini akan memiliki reaksi yang sama dengan dia, dan terpesona.

Dia belum pernah melihat tempat dengan begitu banyak hal menakjubkan dan mempesona.

Cahaya berasal dari lampu kristal Persia yang berwarna warni dan berwarna terang, menerangi stalaktit besar yang aneh. Permadani yang dihias dengan hiasan halus, aneh dan indah, menutupi lantai. Senjata aneh tergantung pada empat set rak kayu. Tujuh dari mereka, Little Gao belum pernah melihat sebelumnya, atau bahkan pernah mendengarnya.

Ada juga sebongkah karang setinggi tiga meter, beberapa gading gajah masing-masing sekitar tiga kaki, kuda yang diukir dari batu giok putih yang halus, koleksi berbagai tanaman, buah dan sayuran yang terbuat dari batu giok dan batu akik, dan seekor Buddha emas yang besar dari Siam, terbungkus senar permata, berkilau dan bersinar, sama besar seperti leci.

Selanjutnya, di atas sebuah meja besar diletakkan bak batu giok dan emas serta botol kristal, diisi dengan alkohol terbaik dari setiap penjuru bumi.

Berdiri di samping tempat tidur empuk tempat Little Gao terbaring, ada empat wanita yang sangat cantik mengenakan gaun kasa yang berwarna-warni seperti sayap cicada. Mereka menatap Little Gao, cekikikan. Salah satu gadis berambut pirang dan mata biru, kulitnya lebih putih dari salju, dan senyum murni dan polos; Yang lain memiliki kulit yang setipis puce, kenyal seperti satin, lentur dan glossy, hampir berkilauan. Little Gao benar-benar terpesona.

Senjata, harta karun, wanita cantik, semua hal yang orang biasa tidak akan pernah bisa melihat.

Mungkinkah tempat ini tidak terletak di alam fana?

Jika itu benar-benar neraka, siapa yang tahu berapa banyak orang di dunia ini yang mau masuk neraka?

*********

-Siapa kalian? Tempat apakah ini?

Gadis-gadis itu hanya tertawa, mereka tak berbicara.

Little Gao ingin bangun dari mimpinya, akan tetapi di bahunya muncul seorang gadis yang hadir dengan lembutnya bagaikan liontin pada kipas, gadis itu sedang menahan bahunya.

Little Gao tak berani menyentuhnya.

Little Gao tahu bahwa ia bukanlah tipe orang yang bisa dengan mudah menahan godaan.

Hal yang membuat dirinya menjadi gila adalah seorang gadis berambut pirang, bermata biru, yang meraba wajahnya dengan kedua tangan dan meniup lembut ke telinganya.

Little Gao dapat merasakan dirinya berubah, dan ia berubah dengan cara yang sangat aneh dan memalukan.

Tiba-tiba tubuhnya berputar-putar, melengkung dengan cara yang tak terbayangkan dan sepenuhnya lentur kearah tujuan yang tak terduga.

Gadis yang memegang bahu dan menggenggam wajahnya merasakan sesuatu yang bergeser melalui tangan mereka, dan tiba-tiba mereka menyadari bahwa orang yang mereka tahan sudah tidak berada lagi disana. Setelah membalikkan kepala, mereka menemukan bahwa Little Gao bersembunyi di belakang patung Buddha emas.

“Sebaiknya kalian tidak datang ke sini,” Katanya dengan suara keras. “Aku bukanlah orang yang baik, jika kalian berani untuk datang kepadaku, maka aku tidak akan bersikap sopan.”

Little Gao sebenarnya agak takut dengan gadis-gadis tersebut, tetapi jika para gadis itu benar-benar mendekatinya, Maka Little Gao tak akan menyesal dan takut.

Sayangnya, para gadis itu  tidak menghampirinya, karena tuan yang mempunyai tempat itu telah muncul.

Gagah dan kurus, tubuhnya sangat tinggi, memakai dengan santai gaun sutra berwarna hitam berkilauan yang menutupi seluruh tubuhnya. Rambutnya yang hitam pekat dan panjang menjuntai ke seluruh bahunya.

Meskipun berpakaian santai, ia memiliki sikap layaknya seorang kaisar.

Terutama wajahnya.

Riwayatnya istimewa dan sangat jelas.

Wajahnya, putih pucat, benar-benar tanpa warna, tampak seperti diukir dari marmer putih; hal tu membawa sesuatu kemuliaan dingin yang tak terlukiskan.

Begitu para gadis itu melihatnya, mereka berlutut dengan anggunnya ke lantai dan bersujud. Little Gao tiba-tiba berkata, “Kau pasti orang yang berkuasa ditempat ini.”

“Ya, benar.”

“Aku tak mengenalmu, dan kau tak mengenal diriku. Bagaimana bisa kamu membawa diriku kemari? “

“Aku juga tak tahu.”

“Kau juga tak tahu?” Teriak kecil Gao. “Bagaimana bisa kau tidak tahu?”

“Karena aku tak mengajakmu pergi bersamaku, Kau pergi bersamaku atas kemauanmu sendiri.”

Little Gao terkejut. Begitu terkejutnya hingga ia tak dapat membuka mulutnya untuk sementara.

“Aku datang bersamamu? Jangan bilang kau orang yang membawa kotak itu?”

“Ya. Itulah aku”

Little Gao memegang kepalanya dengan tangannya. Sepertinya dia akan pingsan.

Orang biasa yang mengenakan pakaian kasar, secara ajaib berubah menjadi seseorang seperti kaisar.

Hal semacam ini hanya terjadi dalam mitos, namun Little Gao baru saja melihat hal itu terjadi.

**

“Sebenarnya orang macam apa kau ini?” Little Gao melangkah keluar dari balik patung Buddha. “Apakah kau seorang pembunuh kelas tinggi yang mengembara dari satu sudut bumi ke sudut yang lain dengan kotakmu itu? Atau apakah kau semacam pertapa kaya yang mana telah meninggalkan dunia manusia? Kedua jenis orang tersebut benar-benar saling berlawanan. Yang manakah dirimu?”

“Bagaimana dengan dirimu?” Bantah orang tersebut. “Orang seperti apakah dirimu? Seorang bocah berdarah panas yang ingin tahu tentang segala sesuatu di dunia? Atau seorang pendekar berdarah dingin yang memandang kehidupan manusia sebagai sampah? “

“Aku adalah seorang murid dari perguruan pedang. Jika seseorang mempelajar ilmu pedang, mereka harus mengabdikan seluruh hidupnya untuk itu, dan juga tak takut akan kematian. Bagaimana dengan dirimu? Mengapa kau membunuh orang? Untuk uang? Atau karena membunuh orang akan membuatmu bahagia? ” Little Gao menatap ke arah orang itu. “Apakah itu membuatmu senang karena kau mengerti bagaimana cara untuk memutuskan hidup dan mati seseorang?”

Orang berjubah hitam berbalik dan berjalan menuju ke arah meja besar. Ia menuangkan dirinya segelas anggur dari salah satu bejana kristal, lalu perlahan-lahan meminumnya.

Kemudian, ia melanjutkan dengan nada suara yang tak begitu peduli: “Sejauh yang aku ketahui, Hal itu bukanlah sesuatu yang membahagiakan. Namun sayangnya, Aku seperti kebanyakan orang di dunia; terkadang aku harus melakukan hal-hal yang benar-benar tak ingin aku lakukan. “

“Kenapa kau membunuh Yang Jian?”

“Untuk Zhu Meng. Karena aku berhutang nyawa kepadanya. “

“Hidup siapa?”

“Hidupku.”

“Zhu Meng menyelamatkan hidupmu?”

“Kebanyakan orang merasa sulit untuk menghindari situasi berbahaya dan menantang. Aku tak berbeda dengan siapapun. Kau juga akan menghadapi situasi seperti itu kelak, dan kau tak akan pernah bisa memprediksi siapa yang akan berada di sana nantinya untuk menyelamatkanmu, sama seperti engkau yang mana tidak mengetahui orang-orang seperti apakah nantinya yang akan mati ditanganmu. “

“Tak mati oleh tanganku, namun dengan pedangku,” kata Little Gao. “Orang-orang yang pernah mati oleh pedangku adalah semua orang yang pernah mengabdikan diri mereka kepada pedang. Aku seperti mereka, jadi jika aku mati oleh pedang mereka, maka aku akan mati tanpa mengeluh.”

Orang berjubah hitam itu tiba-tiba mengambil sebuah pedang panjang berbentuk aneh dari rak. Ia melihat Little Gao dengan pandangan yang dingin. “Dan bagaimana jika aku menggunakan pedang ini untuk membunuhmu sekarang?”

“Aku berpikir itu sangat disayangkan,” kata Little Gao. “Karena aku masih tak mengetahui siapa engkau.”

“Kau sudah cukup tahu, cukup bagiku untuk membunuhmu.”

“Oh?”

“Kau sudah tahu bahwa aku yang telah membunuh Yang Jian, dan kau juga diam-diam telah melihat isi dalam kotak soliter milikku.”

“Tetapi aku tak melihat apa-apa,” kata Little Gao. “Aku masih ingin tahu bagaimana bisa kotak itu menjadi senjata yang paling menakutkan di dunia.”

“Kau benar-benar ingin tahu?”

“Ya. Saya benar-benar ingin tahu!”

Orang itu tiba-tiba menarik pedangnya, dan aura dingin yang berada didalamnya berhembus ke arah wajah mereka. cahaya pedang itu berkedip-kedip berwarna hijau gelap.

“Pedang ini bernama Green Willow, sebuah pusaka yang telah ditinggalkan oleh Taoist Gu dari Gunung Ba. ” Pria itu membelai pedang itu dengan lembut.” Tahun lalu, Taoist Gu menyapu Cina dengan Cyclone Dancing Willows 49 Sword Forms. Sulit untuk mengatakan berapa banyak pendekar pedang terkenal yang telah mati oleh pedang ini.”

Pria itu meletakkan pedang panjangnya, dan dari rak itu ia mengambil sebuah kapak kayu berbentuk bunga.

“Ini adalah kapak yang dipakai oleh pahlawan tersembunyi Wu Lingqiao dari Gunung Huangshan di masa lalu. Beratnya delapan puluh pon. Meskipun Wu Lingqiao hanya menggunakan 11 postur yang berbeda-beda, masing-masing dari postur tersebut sangatlah mematikan. Konon pada saat itu, tak seorang pun di Jianghu yang dapat menahan hingga ke 7 postur tersebut.”

Disamping kapak kayu  bergantung senjata yang tampak seperti tombak, namun sebenarnya bukan, senjata itu memiliki pedang berbentuk sabit, yang melekat pada batang dengan sebuah rantai logam.

“The Iron Chain Flying Sickle dapat menebas orang-orang layaknya rumput,” kata orang berjubah hitam itu. “Dikatakan bahwa senjata ini berasal dari Jepang. bentuk senjata itu dirahasiakan, dan belum pernah terlihat di Cina.”

Dia menunjuk beberapa senjata yang lainnya di rak; sepasang ‘Judge brushes’, sepasang ‘Emei spike’, ‘Tiger Cross blade’, ‘Hooked Wu Sword’, ‘Polearm’, ‘Persian Cutlass’ dan ‘Large white bamboo pole’.” Di masa lalu, senjata tersebut digunakan oleh para ahli yang hebat di masanya. Masing-masing memiliki bentuk senjata yang unik, dan sangat mustahil untuk mengatakan berapa banyak jiwa dari para ahli seni bela diri yang terkumpul di dalam senjata tersebut.”

“Tapi aku bertanya tentang kotak solitermu,” sembur Little Gao, “Bukan senjata-senjata ini”

“Kotak soliterku,” kata orang berjubah hitam itu, “adalah esensi dari senjata-senjata ini.”

“Aku tak mengerti. Bagaimana bisa sebuah kotak soliter dapat mengandung esensi dari tiga belas senjata yang berbeda? Aku melihat isi kotak itu, dan semua yang kulihat adalah kumpulan-kumpulan potongan acak dari tabung logam dan bagian-bagian.”

“Ada misteri didalamnya, tentu saja kau tak dapat melihatnya. Tetapi kau pasti mengerti bahwa semua senjata yang ada di dunia terbuat dari potongan acak pada logam. Jika kau meletakkan potongan logam bersama-sama, maka itu akan menjadi sebuah senjata.” Orang berpakaian hitam itu akhirnya menjelaskan dengan begitu detilnya: “Untuk membuat sebuah pedang, kau membutuhkan kerangka pisau, gagang, pelindung gagang, dan pegangan pisau.

Little Gao tampaknya mengerti, setidaknya sedikit. “Apakah maksudmu kau dapat menggunakan bagian pada logam di kotak soliter untuk membuat jenis senjata?”

“Bukan jenis senjata, namun tiga belas jenis senjata. Tiga belas jenis senjata yang benar-benar berbeda.”

Little Gao terkejut terdiam.

“Tiga belas metode yang berbeda-beda dapat digunakan untuk membuat tiga belas bentuk dan gaya senjata yang yang benar-benar berbeda. Dan hingga saat ini senjata-senjata tersebut berbeda dengan senjata-senjata yang sering terlihat, karena dari masing-masing senjata memiliki kemampuan setidaknya dua atau tiga senjata lain. Esensi dari semua bentuk senjata didalam senjata tersebut, terkandung didalam kotak soliterku.” Orang itu menatap Little Gao. “Sekarang kau mengerti?”

Little Gao sekarang benar-benar tak bisa berkata apapun.

Ia akhirnya mengerti bagaimana sebenarnya Yang Jian, Cloudly Sky dan ketujuh orang lainnya tampak secara bersamaan terbunuh oleh tiga jenis senjata yang berbeda-beda, Namun sebenarnya mereka hanyalah dibunuh oleh satu orang saja.

Tentu saja ia menyadari hal ini sebelumnya, namun ia tidak dapat sepenuhnya percaya.

Tanpa melihat dengan mata kepala anda sendiri, Siapakah yang dapat mempercayai bahwa senjata yang terampil dan terumit itu benar-benar ada di dunia?

Tapi Little Gao tak ada pilihan lain, selain mempercayainya.

Jadi dia mendesau panjang. “Siapa pun yang menempa senjata ini pasti adalah seorang yang jenius.”

“Ya.”

Pria berpakaian hitam dengan wajahnya yang putih, dingin, dan nampak mulia itu tiba-tiba memiliki ekpresi yang aneh. Ekpresi yang mungkin pernah anda lihat di wajah orang-orang taat beriman yang tiba-tiba menyebutkan nama dewa yang mereka hormati.

“Tak ada satupun orang yang dapat dibandingkan dengannya,” kata orang berpakaian hitam. “Ilmu pedangnya, kebijaksanaannya, cara berpikirnya, kesabarannya, Keahlian pandai besinya. Tak ada yang dapat membandinginya.”

“Siapakah dia?”

“Orang yang sama yang menempa ‘Tearstains.'”

Little Gao terkejut lagi.

Tiba-tiba Little Gao memiliki perasaan ganjil bahwa disana pasti ada suatu hubungan yang misterius dan aneh diantara orang itu dengan pria berpakaian hitam tersebut.

Perasaan itu membuatnya terkejut, senang, dan ketakutan.

Tapi Little Gao masih ingin mengetahui lebih banyak, tentang diri orang berpakaian hitam itu, apa yang mereka berdua lakukan terhadap satu dan lainnya, tentang kotak soliternya, dan pedangnya. Namun tampaknya pria tersebut tak ingin membiarkan Little Gao untuk mengetahui lebih jauh lagi. Pria tersebut telah mengubah topik pembicaraannya: “Meskipun sudah tak ada lagi senjata yang hebat seperti kotak soliter ini, menggunakan kotak ini sangatlah tidak mudah, jika bukan digunakan oleh orang yang memiliki kemampuan luar biasa, kotak ini tak akan mengeluarkan sedikitpun kekuatan.”

Pria berpakaian hitam itu tak pamer, dan tidak ada nada kesombongan dalam suaranya. Dia hanya menjelaskan fakta-fakta. “Orang ini tak hanya mahir dalam segala bentuk dari ketiga belas senjata tersebut, namun juga harus benar-benar memahami komposisinya, Ia juga harus memiliki tangan yang sangat terampil untuk dapat merakit semua potongan-potongan dalam kotak hanya dalam waktu sesaat.” Ia melanjutkan, “Selain semua ini, ia harus memiliki banyak pengalaman, kelincahan ekstrim dan refleks, dan penilaian sangat baik.”

“Kenapa?”

“Karena semua lawan itu berbeda-beda, dan senjata yang dibutuhkan dan bentuk senjatanya juga berbeda. Dalam periode waktu yang sangat singkat, kau harus membuat keputusan tentang senjata mana yang secara efektif dapat mengatasi lawan. Sebelum lawanmu melakukan gerakan, kau harus memutuskan bagian-bagian manakah yang harus disambung bersama-sama pada senjata tersebut. Juga harus benar-benar bisa merakit senjata. Apabila terlambat satu langkah saja, maka kau akan mati ditangan lawanmu. “

Little Gao tertawa pahit. “Ini benar-benar bukan hal yang mudah. Orang seperti ini … kau dapat menemukannya dilangit dan dibumi, Juga aku takut kau hanya bisa menemukan beberapa orang saja.”

Pria berpakaian hitam menatapnya dengan tenang. Waktu yang panjang telah berlalu, kemudian ia berkata, “Untuk membuka kotak soliter juga tidak mudah. Namun kau membukanya dengan sangat cepat. tanganmu sudah cukup terampil.”

“Tampaknya iya.”

“Kemampuan bela dirimu sudah memiliki dasar yang baik, dan sepertinya kau berlatih seni yoga mistis dari India dipuncak Gunung Everest.”

“Ya, sepertinya begitu.”

“Orang tua yang mewariskan ‘Tearstains’ kepadamu memiliki relasi dengan kotak soliterku. Jadi sampai sekarang, kau tak akan mati.”

“Jangan bilang kau benar-benar ingin membunuhku? Jika tidak kenapa alasannya? “

“Karena kau perlu tinggal disini. Aku ingin memberikanmu ilmu bela diriku, memberikanmu kotak itu, memberikanmu segalanya yang ada disini.”

**

Kata-kata pria berpakaian hitam itu seperti sesuatu yang tak mungkin didengar oleh orang yang beruntung atau bermimpi sekalipun.

– kekayaan yang tak tertandingi, seni bela diri yang sangat mistis, dan senjata yang paling menakutkan didunia.

Seorang pemuda yang tidak memiliki apa-apa didunia tiba-tiba mendapatkan segalanya, yang mana kehidupannya berubah dalam sesaat.

Apakah yang dirasakan oleh pemuda ini didalam hatinya?

Little Gao tak bereaksi, seperti seseorang yang menyebutkan sesuatu tetapi tak ada gunanya untuk dia.

Pria berpakaian hitam itu melanjutkan: “Satu-satunya syarat sebelum kau menguasai semua ilmu bela diriku adalah, kau tidak dapat melangkah keluar dari tempat ini.”

Persyaratan itu tidaklah terlalu keras, dan benar-benar cukup masuk akal.

“Sayangnya kau lupa untuk menanyakanku sesuatu,” kata Little Gao. “Kau lupa untuk menanyakan apakah aku bersedia untuk tinggal di sini.”

Pertanyaan seperti ini seharusnya tak ditanyakan. Hanya orang-orang gila dan bodoh yang akan menolak persyaratan seperti ini.

Little Gao tidak gila, dan ia juga tidak bodoh. Pria berpakaian hitam itu bertanya, “Baiklah, apakah kau bersedia?”

“Tidak, aku tak bersedia.” Ia melanjutkannya tanpa penjelasan: “Dan aku tak akan bersedia.”

Pupil mata pria berpakaian hitam itu  tiba-tiba bergetar, berubah menjadi setitik jarum, ujung pedang, dan ekor lebah. Menatap tajam ke arah mata Little Gao.

Little Gao tak berkedip. Dalam waktu yang lama, Pria berpakaian hitam itu bertanya, “Kenapa kau tak bersedia?”

“Tak ada alasan, sebenarnya,” kata Little Gao. “Mungkin karena aku terlalu bosan di sini, dan aku selalu menghargai kehidupan yang bebas dan nyaman.” Ia menatap pria yang misterius, menakutkan. “Atau mungkin karena aku tak ingin menjadi orang sepertimu.”

“Apakah kau tahu orang macam apakah diriku?”

“Tidak. Tetapi aku dapat memberitahu bahwa kau adalah tipe orang yang tinggal dalam bayangan. Wajah apapun yang kau gunakan ketika berada diuar, tampaknya kau selalu menghindar dan masuk didalam bayangan.” Little Gao menghela napas. “Meskipun kau memiliki kekayaan yang tak terukur dan senjata paling menakutkan didunia, aku dapat merasakan hidupmu tidaklah menyenangkan. Bahkan, aku merasa kasihan kepada dirimu.”

Cahaya dingin yang berasal dari mata orang itu perlahan-lahan mulai memudar, memudar menjadi bayangan yang gelap, dan kemudian menjadi biasa.

“Setiap orang memiliki hak untuk memilih cara hidup mereka,” lanjut Little Gao, “termasuk diriku. aku ingin hidup di bawah matahari. Bahkan jika aku harus membunuh orang, aku akan membuka tantangan kepada mereka untuk berduel, dan memenangkan sebuah kemenangan yang adil. “

Pria berpakaian hitam tertawa.

“Kau pikir Sima Chaoqun benar-benar akan memberikan pertarungan yang adil?”

“Aku menantangnya secara terbuka dan adil. Satu lawan satu, bagaimana bisa tak adil?”

“Tentu saja kau tak akan mengerti sekarang,” desau pria berpakaian hitam tersebut. “Aku takut pada suatu saat nanti kau akan menyadarinya, tetapi hal itu sudah terlambat.”

“Tak peduli apapun yang terjadi, aku harus segera pergi. Sekarang juga, aku merasa seperti mati kelaparan. Aku hanya berharap kau akan membiarkanku tinggal dan makan, kemudian membiarkanku pergi.” Little Gao tampak bahagia lagi. “Aku tahu kau bukanlah orang yang pelit, dan kebutuhanku tidaklah tinggi.”

“Memang tidak tinggi,” kata pria berpakaian hitam itu dengan nada dingin. “Sayangnya, kau lupa bertanya kepadaku sesuatu.”

“Apa itu?”

“Tak ada satupun orang yang pernah mengunjungi tempat ini dapat pergi hidup-hidup.”

Little Gao tiba-tiba tertawa. “Aku percaya kepadamu. tetapi untungnya dimana-mana selalu ada pengecualian dalam semua hal.” Dia tertawa senang. “Aku percaya kau dapat  membuat sebuah pengecualian untukku.”

“Mengapa aku harus membuat pengecualian untuk dirimu?”

“Karena kita adalah teman, bukan musuh. Dan aku tak pernah berbuat salah kepadamu. “

“Kau keliru,” kata pria berpakain hitam tersebut. “Kau bukanlah temanku, dan kau tidak memenuhi syarat untuk menjadi temanku.”

Mata pria berpakaian hitam itu tiba-tiba tampak bersinar dengan cahaya aneh. “Jika aku membuat pengecualian untukmu, mungkin itu hanya karena satu alasan.”

“Alasan apa?”

“Karena kau kasihan terhadapku.”

Ekspresi di matanya tiba-tiba nampak bercampur aduk menjadi satu perasaan dari kepahitan dan kesedihan. “Dunia ini hanya berisi orang-orang yang membenciku atau takut terhadapku. Tak pernah ada satupun orang yang merasa kasihan padaku. Untuk alasan tersebut, Tak ada salahnya memberimu kesempatan. “

“Kesempatan? Kesempatan apa?”

Pria berpakaian hitam itu berdiri, dengan santainya ia membawa dua botol kristal dari meja panjang. Kemudian ia meminta Little Gao untuk memilih salah satu dari botol tersebut.

“Mengapa kau ingin aku memilih?” Tanya Little Gao. “Kedua botol terlihat sama. Semuanya terlihat sama.”

“Ada satu perbedaan kecil.”

“Perbedaan apa?”

“Salah satu botol memiliki racun di dalamnya. Sangat mematikan, berisi sebuah racun yang dapat memotong usus.”

**

Sebenarnya dua botol memiliki perbedaan diantara ke semua botol tersebut. Salah satu botol memiliki anggur yang lebih sedikit dibandingkan yang lain.

Karena pria berpakaian hitam itu telah menuangkan anggur ke dalam gelas dan meminumnya.

Dia masih hidup.

Little Gao melihatnya, tetapi ia masih memilih botol lainnya.

Pria berpakaian hitam itu menatapnya dengan dingin dan bertanya, “Kau sudah memutuskan?”

“Aku sudah memutuskan. Dan aku tak akan berubah pikiran. “

“Apakah kau tak melihatku minum segelas anggur barusan?”

“Aku melihatnya.”

“Dan kau tahu asal botol manakah yang aku gunakan untuk minum?”

“Aku tahu.”

“Lalu mengapa kau tak memilih botol itu?”

“Karena aku tak ingin mati.” Little Gao tertawa, bahkan lebih riang. “Kau tahu aku tidak buta, dan tidak bodoh. Aku jelas dapat melihat asal botol dari minumanmu. Tapi kau menginginkanku untuk membuat keputusan, karena kebanyakan orang dalam situasi seperti ini akan memilih untuk minum dari botol pertama. “

Itulah faktanya.

“Untungnya, aku tak seperti kebanyakan orang, dan kau tak dapat menyamakan diriku dengan mereka. Jika benar botol itu tak ada racun di dalamnya, Kau tak akan menggunakan metode itu untuk mengujiku. Jika kau ingin mengalahku, kau seharusnya menggunakan metode yang lebih hebat.”

Itu bukanlah keputusan yang mudah.

Bahkan mungkin banyak orang yang pintar sekalipun akan menyimpulkan bahwa racun itu berasal dari botol yang diminum oleh pria berpakaian hitam itu, namun mereka tak memiliki keberanian untuk meminum botol yang lain.

“Racun itu milikmu, dan tentu saja kau pasti memiliki penawarnya. Bahkan jika kau minum delapan atau sepuluh botol sekalipun, hal itu tak akan menjadi masalah. Tentu aku tak minum sedikit, jadi aku harus memilih botol yang lainnya.”

Pria berpakaian hitam itu memandang Little Gao dengan ekspresi yang sangat aneh. “Dan jika kau salah pilih?”

“Kalau begitu aku akan mati, dan itulah yang.”

Begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, ia mengambil botol dan minum seteguk.

Dan kemudian ia pingsan.

**

 

Translator / Creator: fatality