October 10, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 4: An Extraordinary Person, an Extraordinary Place, Extraordinary Things (Part 1)

 

Hari ke-18 di bulan pertama kalender lunar.

Di suatu tempat yang tak seorangpun mengetahuinya.

Bagaimana bisa kumpulan dari bagian logam yang berbentuk secara acak dapat menjadi sebuah senjata yang sangat menakutkan di bumi?

**

Little Gao belum tersadar sepenuhnya, tapi pertanyaan ini masih melilit didalam hatinya seperti ular berbisa.

Ketika ia benar-benar tersadar, Ia begitu ketakutan hingga tak dapat berkata-kata dengan pemandangan yang berada didepan matanya.

Ia tiba-tiba menemukan dirinya telah berada di suatu tempat sangat aneh dan mungkin hanya ada pada alam mimpi.

Rasanya seperti di suatu gua pegunungan, tapi Little Gao tak bisa memastikan. Siapa pun yang pernah berkunjung kesini akan memiliki reaksi yang sama seperti dia, dan akan terpesona dengan pemandangan tersebut.

Ia belum pernah melihat tempat yang begitu menakjubkan dan menarik.

Lampu kristal yang berasal dari Persia memancarkan sebuah cahaya dari kumpulan beberapa warna, bersinar dengan hebatnya, memiliki bentuk stalaktit yang aneh. Karpet halus yang berhiaskan motif yang aneh dan indah, terbuat dari tangan, menutupi seluruh permukaan lantai. Senjata-senjata yang aneh tergantung di empat susunan pada rak kayu. Dari beberapa benda itu, Little Gao belum pernah melihat atau bahkan mendengar sebelumnya.

Disana juga terdapat sepotong karang dengan tinggi hampir sembilan kaki, beberapa gading gajah dengan panjang sekitar tiga kaki masing-masing, ukiran patung kuda yang terbuat batu giok putih yang mulus, berbagai jenis koleksi tanaman, aneka buah-buahan dan sayur-sayuran yang terbuat dari giok dan batu akik, serta patung Buddha yang terbuat dari emas dan terhiasi dengan deretan batu permata yang besarnya sama seperti buah leci, berkilau dan bersinar. (1)

Selanjutnya, di sebuah meja yang besar diletakkan beberapa batu giok, wadah minuman yang terbuat dari emas, dan botol-botol kristal yang berisi dengan alkohol terbaik dari setiap penjuru dunia.

Di samping tempat tidur yang lembut dimana Little Gao terbaring, berdiri empat orang wanita yang sangat cantik mengenakan gaun kain kasa yang terlihat seperti “Diaphanouse” ataupun “Cicada Wings”. Mereka memandang ke arah Little Gao, tertawa genit. Salah satu gadis itu berambut pirang dan bermata biru, kulitnya sempurna dan lebih putih daripada salju, senyuman terlihat polos;  dan yang lain memiliki kulit gelap seperti warna puce, terlihat kenyal bagaikan satin, lentur dan mengkilap, hampir berkilau. Little Gao benar-benar terpesona.

Senjata-senjata, harta, wanita cantik, semua hal-hal yang tak akan pernah dapat dilihat oleh orang-orang biasa.

Mungkinkah tempat ini tidak berada di dalam dunia manusia?

Jikalau ini adalah neraka, siapa yang akan tahu berapa banyak orang-orang yang akan bersedia untuk pergi ke neraka?

Translator / Creator: fatality