October 1, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 2: An Important Head (Part 4)

 

Little Gao duduk di kursi yang dipakai oleh Sun Ping beberapa saat yang lalu. Ia membawa sarung Sun Ping yang terjatuh dan meletakkannya diatas meja bersamaan dengan pedangnya yang terbungkus dalam kain. Ia tak melihat langsung kearah Zhu Meng,  tetapi ia dapat mengatakan bahwa ekspresi Zhu Meng telah berubah.

Kemudian ia menemukan Zhu Meng berada di depannya, bertengger tinggi di atas kuda, menatapnya tajam dengan matanya yang berwarna tembaga.

Little Gao tidak menatapnya.

Dia mengambil secangkir minuman teh.

Akan tetapi teh yang ada didalam cangkir itu dingin, jadi ia mengosongkan cangkir itu dan menuangkanya ke cangkir yang lainnya. Dia juga mengosongkannya cangkir yang lainnya ke tanah, Teh yang berada di dalam teko itu dingin, namun ia tak menyangka akan menuangkan cangkir yang lain.

Zhu Meng terus menatapnya, dan kemudian bertanya dengan suara yang keras, “Apa yang kau lakukan!”

“Aku minum teh,” kata Little Gao. “Aku haus, jadi saya ingin minum teh.”

“Tapi kau tidak minum.”

“Karena teh-nya dingin,” kata Little Gao. “Aku tak pernah minum teh dingin.” Dia menghela napas. “Jika aku minum alkohol aku tak peduli. aku bisa minum semua jenis alkohol, tetapi untuk teh saya sangat pemilih. teh dingin sama sekali tak dapat diminum. Aku lebih memilih untuk minum anggur yang beracun.”

“Jangan bilang kepadaku kalau kau berpikir akan mendapatkan teh panas dari teko itu?” Tanya Zhu Meng.

“Itulah yang aku pikirkan.”

“Tak dapat kau katakan bahwa teh yang ada didalam teko itu dingin sepenuhnya?”

“Aku tahu. Tentu saja aku tahu.”

Zhu Meng menatapnya seolah-olah dia adalah seseorang yang aneh. “Kau tahu kalau teh yang ada di dalam teko itu dingin, Tapi kau masih berpikir bahwa kau bisa menuangkan secangkir teh panas keluar dari teko itu?”

“Bukan hanya panas, tetapi sangat panas. Semakin mendidih maka, semakin enak juga rasa teh itu. “

Zhu Meng tiba-tiba tertawa, lalu berbalik dan menatap Cleats. “Pada awalnya aku ingin memotong kepala anak ini, tetapi sekarang aku tidak bisa.” Dia tertawa keras. “Dia gila, dan aku tidak pernah memenggal kepala orang gila.”

Cleats tidak tertawa, karena sekarang ia melihat sesuatu yang sangat aneh.

Dia melihat Little Gao menuangkan secangkir teh panas dari teko dingin. Begitu panasnya hingga bergelembung dan mengeluarkan asap.

Zhu Meng tiba-tiba berhenti tertawa disaat ia melihat hal yang sama.

Tak banyak orang yang bisa tertawa setelah melihat sesuatu hal seperti itu. juga tak banyak orang bisa mengendalikan kekuatan dari dalam diri dan amarah mereka untuk menghangatkan teko teh yang dingin.

Zhu Meng kembali menatap Cleats. “Apakah anak ini gila atau tidak?”

“Sepertinya tidak.”

“Lagipula, ia nampak seperti memiliki kung fu yang aneh. Setidaknya sedikit.”

“Sepertinya begitu.”

“Siapa yang akan berpikir bahwa dia adalah anak yang baik? Aku saja hampir meleset. “Ketika ia selesai berbicara, ia melakukan sesuatu yang tak terbayangkan oleh orang lain dan ia pun benar-benar melakukannya.

Dia mendadak turun dari kudanya, menancapkan pedangnya ke dalam tanah, dan berjalan menuju ke arah Xiao Gao ( Xiao berarti little ). menangkupkan tangannya, dan memberinya hormat dengan sungguh-sungguh dan berkata, “Anda tidak gila. Anda adalah seorang pria sejati. Jika anda bersedia untuk menjadi saudara, dan  bersedia untuk kembali denganku ke Luoyang serta minum selama beberapa hari, saya akan berlutut di depan anda dan bersujud tiga kali. “

Para-para ahli telah memenuhi “Lion Clan” seperti awan memenuhi langit. Fierce Lion Zhu Meng telah menjuarai ketenaran di seluruh wilayah Luoyang. Mengingat posisinya, bagaimana bisa dia menciumi pantat seorang pemuda yang tak terkenal, tak punya pekerjaan, tempat tinggal, dan uang sama sekali? Bagaimanapun, ia terlihat tidak bergurau sama sekali.

Little Gao tampak terkejut. Dia menatap dalam waktu yang lama sebelum ia mendesau dan tersenyum kecut. “Sekarang aku percaya bahwa apa yang dikatakan oleh orang-orang di Jianghu adalah benar. Fierce Lion Zhu Meng benar-benar seorang tokoh yang luar biasa. Tak heran jika banyak orang-orang yang memuji dan bersedia berkorban untukmu.”

“Dan kau?” Tanya Zhu Meng. “Apa kau bersedia untuk berteman dengan Zhu Meng?”

Little Gao memukul meja. “Ah apa-apaan?” Katanya dengan suara keras. “Mari berteman. Apa masalahnya?” Suaranya bahkan lebih keras daripada Zhu Meng. “Aku Gao Jianfei, dan selama pengembaraanku beberapa bulan di Jianghu, belum pernah aku bertemu dengan orang yang memperlakukanku begitu hormat. Mengapa aku harus menolak untuk berteman denganmu?”

Zhu Meng menggelengkan kepalanya dan tertawa. “Bagus! Bagus sekali!”

“Tapi, untuk bersujud, mari kita mengesampingkan bagian itu. Jika kau berlutut di depanku, aku tidak bisa tetap berdiri. Jika kita berdua berlutut dan bersujud, kau bersujud kepadaku, dan aku bersujud kepadamu, bukankah hal itu akan membuat kita menjadi seperti sepasang kumbang jepret? aku tak mau melakukannya.”

Zhu Meng setuju. “Jika kau mengatakan untuk tidak melakukannya, maka kita tidak akan melakukannya.”

“Aku juga tidak bisa kembali denganmu untuk minum-minum, karena saya ada janji dengan kematian di Chang’an.”

“Baiklah, kalo begitu kita minum-minum saja disini! Minumlah!”

“Minum di sini?” Little Gao mengerutkan keningnya. “Apakah kau tak takut kalau Sima kemungkinan akan muncul disini?”

Zhu Meng memukul meja dengan keras.

“Aw persetan, bahkan jika ia muncul pun, apa masalahnya? Kemungkinan besar aku akan kehilangan nyawa dalam pertarungan hingga mati. Apa lagi yang dapat ia lakukan? Tapi untuk saat ini adalah ronde minum diantara kita berdua, marilah kita minum. Tak minum serasa lebih buruk daripada sekarat!”

“Baik! Mari kita minum,” kata Little Gao. “Jika kau tak takut, untuk apa aku harus takut?”

**

kedai teh itu tak hanya tiada pengunjung, namun juga para pelayannya tidak ada.

Untungnya, kendi anggur masih ada disitu.

Zhu Meng dan Little Gao minum bersama-sama. Cleats menuangkan anggur. Mereka minum lebih cepat daripada tuangannya, namun sebelum mereka menghabiskan kendi itu, suara dari tapak kuda terdengar melintas dari luar.

Derapan kaki kuda terdengar seperti bunyi drum yang dipukul. Setidaknya terdapat enam puluh atau tujuh puluh kuda disana.

Red Flower Bazaar merupakan daerah yang berada dalam pengaruh Sima Chaoqun. Jika seseorang menerima perintah dari Sima untuk menghancurkan seluruh tempat itu, maka hal tersebut akan terjadi dalam sekejap, dan itu bukanlah sesuatu hal yang berlebihan.

Tetapi Zhu Meng tak berkedip sedikitpun. Dia membawa semangkuk penuh anggur di tangannya, dan tak ada sedikitpun yang tertumpah.

“Biarkan aku bersulang untukmu tiga kali lagi,” katanya kepada Little Gao. “Semoga anda sehat, bahagia, dan berumur panjang!”

“Baik. Mari minum!”

Dia meminumnya dengan cepat, akan tetapi suara derapan kaki kuda dari luar nampak terdengar begitu mendesak. Pada mangkuk yang ketiga, terdengar nampak seperti kilat.

Tangan cleats, yang memegang kendi anggur, terlihat melemah, namun ekspresi Zhu Meng tak berubah.

“Sekarang saatnya bagi anda untuk bersulang kepadaku,” katanya kepada Little Gao. “Anda harus bersulang kepadaku setidaknya tiga kali.”

Cleats tiba-tiba menginterupsi, “Ketua clan, saya kuatir anda tak akan bisa menyelesaikan semua tiga mangkuk.”

“Mengapa tidak?” Zhu Meng sangat marah. “Kenapa tidak bisa?”

“Ketua Clan, jika anda terus minum, kehidupan tuan muda Gao beserta kehidupan anda akan berada dalam bahaya.”

Kemarahan Zhu Meng hilang dan dia mendesau panjang. “Apa yang dia katakan adalah benar. mempertaruhkan nyawaku bukanlah masalah yang besar, tetapi mengapa harus melibatkan anda?”

Dia pun berdiri, tetapi Little Gao memegang bahunya dan dengan santai berkata, “Hidupku tidak begitu berharga jika dibandingkan dengan hidup anda. Jika anda bersedia mengambil risiko, mengapa aku tidak bisa? Selain itu, siapa bilang kalau kita tidak dapat keluar melalui atap?”

Zhu Meng tertawa terbahak-bahak. “Benar. Apa yang kau katakan itu sangatlah benar.”

“Jadi, biarkan aku bersulang untukmu dengan ketiga mangkok itu. Semoga anda sehat, bahagia, dan panjang umur. “

Mereka tertawa bersama-sama, dan ketika mereka sedang tertawa terdengar suara kuda yang telah sampai di kedai teh dan mengepung seluruh tempat itu. Suaranya terdengar seperti badai petir.

Dan setelah itu suara derapan kaki kuda tersebut tiba-tiba berhenti. Terdengar sedikit ringkikan, dan kemudian menjadi hening sepenuhnya.

Semuanya mendadak hening seperti mati. kedai teh tampak seperti kuburan. Cleats tiba-tiba duduk. Dengan tertawa pahit, ia berkata, “Ketua Clan, saya ingin minum sedikit anggur.”

Translator / Creator: fatality