October 1, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 2: An Important Head (Part 3)

 

Sun Tong sebenarnya tidak harus disebut Sun Tong.

Dia seharusnya disebut Sun Dang.

Zhuo Donglai telah memujinya di depan banyak orang dan mengatakan, “Meskipun Sun Tong masih muda, ia dapat memblokir jalan siapa pun. Tak peduli apapun yang terjadi, ia dapat memblokir jalan dan membuatnya tetap terblokir.”

Di jalan utama yang mengarah keluar dari Red Flower Bazaar, terdapat sebuah kedai teh. Jika anda duduk di meja dekat dengan pintu kedai teh tersebut, maka anda dapat melihat dengan jelas semua orang yang melewati jalan.

Sun Tong duduk tepat dalam posisi itu.

Di kedua sisi jalan, berdiri di bawah atap di mana salju tidak bertiup, terdapat dua laki-laki yang mengenakan pakaian berwarna hitam. Mereka terlihat lebih tua daripada Sun Tong, dan telah bekerja dengan agency lebih lama daripada dia, namun mereka adalah para bawahannya. Mereka berdua dipilih secara khusus untuk tugas ini. Mereka memiliki tatapan yang tajam, dan juga merupakan para ahli yang berpengalaman, namun Sun Tong unggul dalam segala hal tersebut. bahkan mereka benar-benar yakin tentang hal ini.

Mereka telah dikirim kemari karena Sun Tong membutuhkan penglihatan mereka yang tajam dan pengalaman mereka untuk membantunya memeriksa setiap orang yang datang dan pergi dari Red Flower Bazaar.

Tidak peduli siapapun orangnya, jika mereka nampak sedikit mencurigakan, atau dibawanya sesuatu apapun ditangan mereka yang menyerupai kepala manusia, atau mengendarai apapun yang dapat menyembunyikan kepala, mereka akan di paksa berhenti dan benar-benar di geledah. Terkadang jenis pencarian seperti ini merupakan hal yang memalukan, tetapi tak ada yang berani untuk menolak. Hal ini disebabkan karena semua orang mengetahui bahwa orang-orang yang dikirim oleh “Great Protection Agency” tak boleh terganggu sedikitpun.

Sebaliknya, Sun Tong tidak takut untuk mengganggu siapapun.

Dia telah menerima perintah dari Zhuo Donglai terlepas dari situasi tersebut, dia tidak ingin membiarkan kepala Yang Jian pergi meninggalkan daerah disekitar Chang’an.

Setiap kali melaksanakan perintah Zhuo Donglai, dia tak tanggung-tanggung dan efektif.

**

Sun Tong tidak memperhatikan sedikit pun ke arah Little Gao saat ia meninggalkan Red Flower Bazaar,

Lagipula, disitu tak ada tempat baginya untuk menyembunyikan sebuah kepala.

Tetapi Little Gao berjalan ke arahnya dan duduk bersebelahan dengannya di meja, tertawa. “Apa nama margamu? Siapa nama julukanmu? “

Sun Tong tidak tertawa, dan juga tidak menolak untuk menjawab. “Saya bermarga Sun. Sun Tong.”

“Apa kabar?”

“Tak begitu baik, juga tidak terlalu buruk,” kata Sun Tong dengan nada dingin. “Setidaknya kepalaku masih berada pada leherku.”

Little Gao tertawa keras.

“Mengetahui bahwa kepala anda masih berada di leher benar-benar merupakan sesuatu yang membahagiakan. Jika kau tahu di mana kepala Yang Jian itu, kau tentu akan lebih bahagia.”

“Apakah kau tahu?”

“Aku hanya tahu bahwa Mr. Zhuo tidak ingin kepala Yang Jian jatuh ke tangan Zhu Meng. Dia pasti akan menggunakannya untuk dipamerkan ke seluruh teman-temannya di Jianghu. Dan untuk itulah mengapa kau berada di sini. “

“Tampaknya kau sedikit mengerti.”

“Sayangnya aku masih belum benar-benar mengerti. Orang-orang yang hendak pergi Luo Yang ada baiknya tidak mengambil arah ke jalan utama. Bahkan orang asing sepertiku tahu bahwa setidaknya ada dua atau tiga jalan samping yang dapat diambil.”

“Aku hanya mengawasi jalan utama, bukan jalan kecil.”

“Kenapa?”

“Orang-orang yang mengambil sisi jalan bukanlah orang punya nyali. Mereka tidak memerlukanku untuk menangani mereka.”

“Kata-kata yang bagus! Benar-benar kata yang sangat bagus! “

Little Gao menuangkan secangkir teh dari teko Sun Tong. Tiba-tiba ia merendahkan nada suaranya. “Apakah kau melihat orang yang mencurigakan?”

“Satu orang.”

“Siapa?”

“Kamu.”

Little Gao tertawa lagi. “Kalau aku, itu bukanlah pertanda yang baik.”

“Pertanda baik untuk siapa?”

“Kamu!” Little Gao melihat Sun Tong. “Jika aku lari dengan kepala Yang Jian. Yang mulia mendadak akan merasa bahwa kepala Yang mulia sudah tidak ada berada di leher lagi.” Tiba-tiba dia membutuhkan penjelasan. “Ketika aku mengatakan Yang mulia, berarti yang aku maksud adalah dirimu”.

Sun Tong tidak marah, dan ekspresi wajahnya tidak berubah. Dia bahkan tak berkedip.

“Saya dapat melihat bahwa kau tidak membawa kepala Yang Jian! Tapi saya juga dapat melihat bahwa engkau membawa sebuah pedang. “

“Kamu benar.”

“Mengapa kau tidak menarik pedangmu dan mengujinya?”

“Apa yang kau maksud mengujinya?”

“Menguji kepala siapa yang akan jatuh nanti.”

Little Gao mengusap dengan lembut bahan kasar yang tak pernah meninggalkan sisinya. Dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa mengujinya. Aku sudah pasti tidak bisa. “

“Kau takut?”

“Ini bukan karena aku takut, itu karena memang aku tak bisa.”

“Mengapa?”

“Karena pedang ini tidak dibuat untuk digunakan kepadamu.” Dengan suara nada yang sedikit menghormati, lanjutnya, “Karena kau tidak layak.”

**

Ekspresi Sun Tong masih tidak berubah, namun tiba-tiba matanya menjadi berwarna merah.

Semua orang terlihat seperti itu sebelum mereka membunuh orang.

Ia menurunkan tangannya, menggenggam gagang pedangnya, yang bersandar di bangku sampingnya.

Little Gao berdiri dan berbalik, bersiap-siap untuk pergi. Jika ia ingin bergerak, tak ada yang dapat menghentikannya. Jika ia tak ingin bergerak, tak ada satupun yang dapat memaksanya.

Tapi sebelum ia pergi, suara gemuruh dari kuda berlari dapat didengar.

suara lainnya dapat didengar di tengah-tengah suara tapak kuda, suara yang mungkin dilakukan oleh seseorang yang menggunakan cleat, berlari disepanjang es dan salju.

Dia baru saja membedakan kedua suara tersebut ketika mendadak ia melihat seekor kuda berlarian dijalanan.

Di kuda tersebut terdapat seorang pengendara dengan jenggot yang tebal, mengenakan mantel kulit domba yang terbuka. Angin yang dingin dan begitu menusuk memukul dadanya bertubi-tubi, namun nampaknya dia tak begitu memhiraukannya.

Di belakang kuda terdapat orang lain, mengenakan sepasang cleat yang terbuat dari kain minyak. Dengan satu tangan ia menggenggam ekor kuda, dan tangannya yang lain memegang tiang bambu, ditempelkan di ujungnya sebuah karung jerami. Dia berlari sepanjang belakang kuda, berteriak, “Kepala Yang Jian ada di sini. Ini adalah nasib akhir dari para pengkhianat! “

Pria yang mengendarai kuda tertawa, tertawa gila, begitu keras hingga atap bergetar, menjatuhkan lapisan demi lapisan salju ke permukaan tanah.

**

Little Gao sudah pasti tidak akan pergi.

Ia belum pernah melihat Zhu Meng sebelumnya, tapi ia tahu bahwa orang itu adalah dia.

Selain “Fierce Lion” Zhu Meng, siapa lagi yang bisa terlihat begitu mengesankan dan menakjubkan?

Dia tak pernah membayangkan bahwa Zhu Meng akan muncul di sini, tapi dia benar-benar berharap bahwa Sun Tong akan membiarkannya lewat.

Karena ia melihat di tangan Zhu Meng membawa sebuah pedang besar yang berlapiskan emas.

Pedang itu memiliki panjang hampir lima kaki dan lebih lebar daripada talenan milik tukang daging. Ujung pisau itu lebih tipis daripada kertas.

Sun Tong masih muda.

Little Gao benar-benar tak ingin melihat seseorang yang begitu muda terpenggal dan terinjak-injak oleh kuda.

Tapi sayangnya, Sung Tong sudah bergerak maju terlebih dahulu, pedangnya bersinar seperti putih salju. Dia melompat dari balik meja, cahaya dari pedangnya berkilauan seperti pelangi dan ia melompat menuju kearah tenggorokan Zhu Meng.

Serangan ini seperti gambit terakhir penjudi, di mana anda akan meletakkan segala yang anda miliki dalam satu gerakan.

Ini adalah serangan yang fatal, yang fatal untuk lawan, atau bahkan untuk diri anda sendiri.

Zhu Meng tertawa liar. “Kau benar-benar punya nyali nak.”

Saat ia tertawa, dia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Emas memancarkan sinar, ujung pisau bercahaya seperti bulan. Terang yang menyilaukan dari pantulan salju menusuk mata seperti jarum.

Little Gao melihat cahaya pedang, dan kemudian tiba-tiba semuanya berubah menjadi merah.

Tetesan darah merah yang kental tersebar kemana-mana, seperti kembang api yang terpercik keluar dari dalam cahaya pedang yang bersinar dan bercampur dengan perak, Putih salju membuat suatu gambaran pandangan yang tak akan pernah terlupakan.

Keindahan yang tak terlukiskan. Ini adalah keindahan yang penuh dengan kesedihan, kekejaman, dan tragedi heroik.

Pada saat ini, tampak seolah-olah semua makhluk hidup yang ada di bumi terkejut dan tak bergerak sedikitpun dengan keindahan tersebut.

Little Gao merasakan jantungnya seperti berhenti berdetak, dan juga merasa tidak dapat bernapas.

Meskipun kejadian tersebut hanya terjadi dalam hitungan detik, namun dampaknya berlangsung untuk selamanya.

Di langit dan di bumi, hanya “kematian” yang berlangsung untuk selamanya.

**

Kuda itu terus berlari kencang, dan cleats masih berlari dibelakang bersamanya. Mereka telah pergi hampir enam puluh meter sebelum mayat Sun Tong jatuh ke permukaan tanah yang beku, dingin, dan tidak berperasaan seperti pedang itu.

Ratusan ribu tetesan kecil darah jatuh perlahan-lahan bersamaan dengan kepingan salju.

tetesan darah merah yang kental, kepingan salju putih yang bersinar.

Kuda yang berlari kencang itu meringkik panjang dan menjulang. cleats tampak terlihat seperti mengambang juga.

Zhu Meng mencengkeram kuda itu, memutarnya, dan berlari kembali. cleats yang berada dibelakang kuda terlihat berterbangan seperti layang-layang.

Dua pria berpakaian hitam berdiri di kedua sisi jalan, mengeluarkan pedangnya. Pedang berkilau secerah seperti pedang milik Zhu Meng, akan tetapi mata dan wajah mereka berwarna seperti abu orang mati.

Zhu Meng Tertawa.

“Lihatlah dengan dekat. Akulah Zhu Meng. Aku akan membiarkan kepala kalian tetap ada sehingga kalian dapat melihatku sekarang dengan jelas. Kemudian pergilah kembali dan katakan kepada Sima dan Zhuo Donglai bahwa aku telah datang kemari. Aku akan pergi sekarang. Tak masalah jika aku berada di gua naga atau di kandang singa, Jika aku ingin datang, aku akan datang, jika aku ingin pergi, aku akan pergi.“ Kemudian dia berteriak, “Kenapa kalian masih belum enyah juga?”

Pria berpakaian hitam tersebut bergerak berputar balik, segera setelah mereka mendengarkan teriakan tersebut, mereka mulai berlarian, berlari lebih kencang daripada kuda.

Zhu Meng ingin tertawa, tetapi dia tidak melakukannya, Karena ia tiba-tiba mendengar seseorang mendesau dan berkata, “Aku harus mengatakan, Bahwa sesungguhnya di dunia ini tak banyak orang seperti Sun Tong yang mana tak takut untuk mati.”

Translator / Creator: fatality