September 28, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 2: An Important Head (Part 1)

 

Hari keenam belas dari bulan pertama kalender lunar.

Red Flower Bazaar.

Hembusan salju memenuhi langit.

Seekor kuda berlari menerjang hembusan salju menuju ke arah Red Flower Bazaar, yang terletak sekitar lima puluh mil barat daya dari kota Chang’an.

Festival lentera telah berakhir, hari-hari yang menyenangkan telah berlalu.

Sebuah lentera usang bergulir di atas jalanan yang dipenuhi oleh salju, terdorong bersama angin dingin yang tak pernah berhenti. Meskipun hal itu terbawa oleh suasana festival yang terjadi pada malam hari sebelumnya, namun pada saat ini tak ada seorangpun yang memhiraukannya. layaknya seperti seorang wanita yang dimanjakan pada saat malam, dan kemudian ditinggalkan pada keesokan harinya.

Penunggang kuda itu berhenti di luar bazaar dan diikatnya kuda itu ke sebatang pohon yang tua. Ia melemparkan jubahnya, yang dijahit dari bahan yang bagus dan mahal, untuk menunjukkan bahwa jaket itu sangat empuk dan terbuat dari brokat biru. Dia menarik keluar karung jerami dari sadel, bersama dengan payung kertas minyak dan satu set cleat.

Dia menempatkan cleat tersebut, membuka payung kertas minyak dan mengangkat karung jerami. Dia terlihat seperti penduduk kota yang kaya.

Dengan berjalan hati-hati, ia telah sampai ke Red Flower Bazaar.

**

Karung Jerami itu berisi sesuatu rahasia yang luar biasa didalamnya, Sesuatu yang dapat mengguncang langit dan bumi. Ia mengetahui rahasia itu, hanya dia.

Dia datang untuk memberikan barang yang ada di dalam karung tersebut ke sebuah rumah bordil di Red Flower Bazaar, dan untuk orang tertentu.

– Apa yang ada di dalam karung ini? Untuk siapakah ini?

Jika seseorang mengetahui rahasia tersebut, Maka dalam hitungan detik ia akan tercabik-cabik oleh pisau hingga menjadi sebuah potongan-potongan, ayah dan ibunya, istri dan anak-anak, semua kerabat, akan dibunuh hanya dalam waktu tiga hari. Seluruh keluarganya akan dibinasakan.

Untungnya, rahasia itu tidak terungkap. Dia tidak akan pernah mengungkapkannya, dan tidak ada yang akan dapat mengetahui rahasia tersebut.

Karena tak ada yang bisa menduga bahwa “Fierce Lion” Zhu Meng akan meninggalkan markasnya yang terjaga ketat di Luoyang untuk menyerang sendiri ke wilayah Sima Chaoqun.

Bahkan Zhuo Donglai, yang selalu memikirkan dan merencanakan segala sesuatu, tidak pernah membayangkan bahwa Zhu Meng akan berani mengambil tindakan beresiko seperti itu.

Translator / Creator: fatality