January 23, 2017

Heroes Shed No Tears – Chapter 18: Heroes don’t die (Part 9)

 

Awan yang begitu padat sekali lagi memblokir sinar matahari. Lentera telah terbakar, langit mendung, niat untuk membunuh bercampur aduk. Bahkan para dewa maupun para hantu akan mustahil untuk menemukan penebusan.

Gao Jianfei melintas maju seperti burung.

Mata Zhuo Donglai  bagaikan jarum itu menatap kearah senjata. Dia tiba-tiba berteriak dan melemparkan “Tearstains” langsung kearah Little Gao. “Ini adalah pedangmu, ambillah kembali!”

Tak ada yang dapat menduga gerakan ini, termasuk Little Gao sendiri.

Pedang ini telah bersamanya selama bertahun-tahun. Dari awal hingga sekarang pedang itu selalu berada disisinya. Pedang ini telah menjadi bagian yang terpenting dalam hidupnya, hampir seperti tambahan pada dirinya, menyatu dengan tulang dan darahnya.

Dan tanpa berpikir tentang hal itu, ia meraih pedang tersebut – ia meraih pedang itu dengan pedang yang ada ditangannya, seolah-olah ia benar-benar lupa bahwa di pedang ditangannya adalah senjata yang dapat menghancurkan pedang.

Seolah-olah pada saat itu ia sama sekali tak memiliki kemampuan untuk berpikir, dan tak bisa mengendalikan dirinya sama sekali.

Bagaimanapun, orang yang berpikir secara rasional tak akan pernah melakukan sesuatu yang begitu bodoh dalam keadaan seperti ini.

Zhuo Donglai tersenyum.

Sekarang Little Gao memiliki pedang miliknya lagi, namun senjata penghancur pedang itu telah menjadi milik Zhuo Donglai.

Dia merupakan orang yang memiliki kepintaran yang sangat tinggi dibawah langit, dengan mata tajam yang melebihi semua orang. Xiao Leixue telah terlalu sedikit banyak bicara, dan telah memberinya cukup waktu untuk melihat sangat jelas pada bentuk dan pembangunan senjata yang unik. Dia bisa melihat dengan jelas bahwa senjata itu memiliki banyak cara untuk mengontrol pedang lawan. Dia juga telah melihat metode untuk menggunakannya.

Terlepas dari lawannya.

Hanya Xiao Leixue yang dapat membuat senjata seperti ini, dan hanya Zhuo Donglai yang dapat melakukan hal yang sama seperti Xiao Leixue lakukan.

Mereka adalah dua jenis orang yang sama sekali berbeda, tetapi dalam beberapa hal mereka benar-benar sama, seolah-olah mereka memikirkan suatu hal yang sama.

Ekspresi tragis muncul pada wajah Zhu Meng.

Ia tak pernah membayangkan bahwa Little Gao akan melakukan sesuatu yang begitu bodoh, dan apa yang terjadi berikutnya akan membuatnya lebih terkejut.

Gao Jianfei terbang seperti burung, kemudian, pedangnya menjadi samar-samar dan berbentuk seperti bunga, menusuk menuju kearah Zhuo Donglai.

Secara umum, Little Gao seharusnya tak bergerak untuk pertama kali. Namun, dalam situasi seperti ini, kesempatan terbaik adalah menyerang Zhuo Donglai sebelum ia benar-benar memahami cara membangun dan menggunakan senjata.

Dia jelas meremehkan kecerdasan dan ketajaman Zhuo Donglai.

Dari dalam aura pedang yang mempesona itu dapat dilihat bentuk pedang berkedip-kedip yang tak terhitung jumlahnya. Namun sebenarnya hanya ada satu pedang saja.

Dalam bayangan pedang yang tak terhitung jumlahnya itu, tentu saja hanya ada satu sikap gerakan yang benar.

Zhuo Donglai memandang dan mengerti yang mana merupakan sikap gerakan yang benar. Ketika berada dalam keahlian menyerang seperti ini, menggunakan sikap gerakan palsu untuk menyamarkan sikap gerakan yang benar, pemahamannya jauh melampaui kebanyakan orang di dunia.

Dia juga melihat bahwa senjata ini memiliki setidaknya empat atau lima bagian. Salah satu dari senjata itu dapat menetralisir kekuatan pedang lawan, atau bahkan mengambil pedang lawan sepenuhnya, kemudian memberi serangan fatal secara langsung. Namun ia tak ingin mengakhiri segalanya dengan cepat.

Dia masih belum paham sepenuhnya  cara menggunakan senjata tersebut, jadi mengapa tak mencobanya terlebih dahulu ke Little Gao?

Dia sudah cukup yakin bahwa ia bisa mengambil nyawa Little Gao setiap saat.

Oleh karena itu, ia tidak cemas sedikitpun.

Pedang Little Gao menusuk kebawah, dan Zhuo Donglai memperpanjang senjatanya untuk menempel pada senjata Little Gao, menggunakan sebuah pengait cincin disisi atas untuk menangkap pedang Little Gao.

Suara dingin dapat terdengar seperti pedang dan pengait sedang menempel. Dan senjata itu menghasilkan efek sihir yang tak seorangpun mampu memprediksinya. Bagian lain dari senjata muncul untuk bergabung dengan cincin pengait tersebut, dan, seperti penjepit, menjepit pedang Little Gao, dan menahannya.

Zhuo Donglai terkejut dan cukup senang. Dia tak pernah berpikir bahwa senjata itu benar-benar begitu kuat.

Dan kemudian sesuatu yang tak terpikirkan telah terjadi. Pedang Little Gao tiba-tiba melesat maju melalui senjata tersebut.

Ini adalah sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.

Mengapa membuat senjata rumit dan cerdik yang dapat membiarkan pedang lawan masuk dan menusuk tepat ditengah-tengah bagian senjata tersebut?

Apakah mungkin bahwa sebenarnya senjata itu memang diciptakan untuk membiarkan pedang untuk melewatinya? Apakah Little Gao memang sengaja membiarkan pedangnya untuk dikunci, agar dapat menggunakan fungsi senjata yang sangat mematikan ini?

Zhuo Donglai tak memiliki kesempatan untuk merenungkan masalah itu lebih lanjut.

Pada saat-saat tertentu dibutuhkan petir untuk menyambar, atau cetusan untuk membuat batu melayang, pedang Little Gao telah menusuk ke dada Zhuo Donglai, menusuk kedalam berjarak satu inci setengah. Sejauh itulah ia dapat menusuk.

Namun jarak itu sangat cukup. Satu inci setengah sudah lebih dari mematikan. Pedang Little Gao menusuk langsung ke arah jantung Zhuo Donglai.

-Senjata itu benar-benar dibuat untuk mengalahkan Zhuo Donglai.

-Hanya Zhuo Donglai yang dapat, dalam moment yang sesaat ini, memahami pembangunan dari senjata tersebut. Hanya Zhuo Donglai yang berpikir untuk menukar pedang ditangannya dengan senjata penghancur pedang itu. Tak ada seorangpun yang memikirkan tentang hal itu, apalagi melakukannya. –Namun sayangnya, Apa yang Zhuo Donglai pikir itu, sudah terpikirkan oleh Xiao Leixue dan telah dipersiapkan olehnya.

-Senjata itu adalah perangkap yang telah dipersiapkan dengan hati-hati, hanya tinggal menunggu Zhuo Donglai untuk melangkah.

Dan sekarang, Zhuo Donglai mengerti.

“Xiao Leixue. Tuan Xue. Ternyata aku benar. Bahwa kaulah musuhku. Aku telah memperhitungkan sejak lama bahwa aku akan mati ditanganmu. Jika tidak,” katanya dengan nada celaka, “Bagaimana mungkin aku bisa tertipu olehmu?”

Xiao Leixue menatapnya dengan dingin. “Apa kau tak ingat? Aku berkata bahwa terlepas dari siapa yang memegang senjata, hal itu akan berakibat fatal bagimu. Bahkan jika tangan yang memegang senjata itu adalah kau sendiri! “Suaranya menjadi bertambah dingin dan obyektif. “Kau harus tahu bahwa aku selalu berbicara jujur.”

Zhuo Donglai tertawa sedih.

Tawanya menyebabkan getaran didalam hatinya dan pedang tersebut. Tiba-tiba ia merasa seolah-olah ia sedang ditusuk lagi; pedang itu terdorong sedikit lebih jauh. Jarak antara hidup dan mati sekarang bagaikan garis tipis.

Little Gao perlahan-lahan menarik pedangnya, dan dengan hati-hati menyelipkan senjata itu dari dadanya.

Awan tiba-tiba menjadi terpisah lagi, dan sinar matahari bersinar melalui, menerangi pedang.

Zhuo Donglai melihat kearah pedang itu, dan wajahnya tiba-tiba dipenuhi dengan ekspresi takut yang tak dapat tergambarkan.

“Tearstains?” Tanyanya dengan suara serak. “Mengapa tak ada Tearstains pada pedang? Jangan bilang bahwa … “

Ada satu pertanyaan yang jika ia tak pertanyakan, ia tak akan bisa mati dengan tenang. Namun, ia masih tak menanyakan hal tersebut.

-Apakah pertanyaan itu adalah bahwa Zhuo Donglai memiliki hubungan relative dengan Grandmaster Xiao? Mungkinkah ayahnya yang tak pernah ia lihat itu adalah Grandmaster Xiao? Dan oleh karena itu, ketika ia mati terbunuh oleh pedang, Tearstain itu menghilang?

-atau apakah karena ucapan-ucapan dari para dewa dan para hantu tak dapat dipercaya, dan tearstains menghilang karena waktu mereka telah habis?

Tak ada yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kecuali mungkin orang tua yang berada dipaviliun itu. Namun ia telah mati, dan dibunuh oleh Zhuo Donglai sendiri.

Mungkin pertanyaan yang ingin dilontarkan oleh Xiao Leixue kepada orang tua itu adalah pertanyaan ini. Dan jika orang tua itu telah memberikannya jawaban yang pasti, mungkin ia tak akan membunuh Zhuo Donglai.

Namun sayangnya, hal itu sudah terlambat.

Hati Zhuo Donglai telah tertusuk, dan dia meninggal dan tak akan mengerti jawabannya.

Hasil dari semua kejadian ini adalah hasutan dari dirinya, atau bukan?

Translator / Creator: fatality