January 20, 2017

Heroes Shed No Tears – Chapter 18: Heroes don’t die (Part 6)

 

Zhu Meng tak bergerak sama sekali. Sebaliknya ia berpikir dengan tenang.

Sudah pasti ia tak terlihat seperti biasanya. Kematian Sima seharusnya telah memompa darahnya dengan amarah keadilan, Karena ia mengangkat tangannya keatas dan berteriak gila.

Tetapi ia tak bergerak. Karena kematian Sima telah menyebabkan dia berpikir tentang banyak hal, dan masing-masing pikirannya bagaikan tombak panjang yang sedang menusuk jantungnya.

-Mengapa Wu Wan melakukan hal ini? Untuk balas dendam? Atau untuk melindungi dirinya sendiri?

Ketika seseorang melakukan kesalahan, namun menempatkan kesalahan itu terhadap orang lain, Maka perasaan orang itu tak terisi dengan perasaan bersalah melainkan keinginan untuk membalas dendam. Dan pada akhirnya mereka akan mencari seseorang untuk dijadikan pelampiasan balas dendam tersebut. Perilaku seperti ini adalah salah satu kelemahan manusia yang paling primitif.

Untuk membuat kesalahan dan kemudian menyakiti orang lain untuk melindungi diri sendiri adalah sama buruknya.

Egoisme. Bahkan orang-orang bijak dan orang-orang suci, Sang abadi dan Buddha, dapat mengalami kesulitan dalam mengatasi rintangan seperti ini, apalagi orang-orang biasa.

Namun pemikiran Zhu Meng berbeda.

Dia tiba-tiba berpikir bahwa mungkin alasan Wu Wan melakukan hal itu karena cintanya yang begitu dalam terhadap Sima, cinta yang tak bisa dikendalikan olehnya, yang meninggalkannya tak berdaya.

Ketika anda mencintai seseorang hingga tingkatan dan cara seperti itu, cinta dapat mencapai tingkat tertinggi: kehancuran.

Sehingga Wu Wan menghancurkan dirinya sendiri. Tak hanya dirinya sendiri, namun segala hal yang dicintainya.

Sima dapat memahami hal tersebut, sehingga ia tak menyalahkan Wu Wan.

Bagaimana dengan Die Wu?

Ketika Zhuo Donglai memerintahkan anak buahnya untuk menyerang Balai Lion Clan pada malam itu, mengapa Die Wu melarikan diri? Mengapa ia lebih memilih lari dan dimanfaatkan oleh Zhuo Donglai?

Apakah ia pergi karena “kasih”? Atau karena “kekurangan rasa kasih sayang”?

Jika cintanya sangat dalam sama seperti Wu Wan mencintai Sima, namun percaya bahwa Zhu Meng tak peduli sama sekali tentang dirinya, maka tentu saja ia akan pergi.

Jika ia tak mencintai Zhu Meng, tentu ia tak mempunyai alasan yang lain lagi untuk pergi.

Tetapi jika Die Wu benar-benar tak mencintainya, lalu kenapa ia begitu memperhatikannya? Mengapa ia harus mati?

Kurangnya cinta adalah kebencian. cinta yang begitu ekstrim juga akan menjadi kebencian. Disana terdapat garis yang sangat tipis diantara rasa cinta dan benci.

Apakah itu cinta, ataukah rasa benci? Siapa yang dapat membedakannya? Siapa yang dapat memahaminya?

Zhu Meng akhirnya tertawa gila.

“Sima Chaoqun, kau meninggal dengan baik. Kau meninggal dengan sangat baik.” Tawanya begitu sedih dan nyaring seperti seekor kera yang sedang memanggil-manggil. “Kamu memang pantas mati, karena kau benar-benar orang bodoh yang tak punya harapan.”

Ketika ia selesai tertawa, Zhuo Donglai dengan dingin bertanya, “Dan bagaimana dengan dirimu?”

“Aku bahkan lebih layak untuk mati,” kata Zhu Meng. “Aku ingin menyerahkan kepalaku, namun tak ada satupun yang menginginkannya. Sebaliknya mereka ingin aku mati di bawah tanganmu, dan itu adalah suatu hal yang tak dapat aku terima.”

Little Gao tiba-tiba berkata, “Kau tak boleh mati.” Hanya dalam selangkah ia telah mencapai posisi Zhu Meng, berdiri di sampingnya dan menggenggam lengannya dengan paksa. “Siapa pun yang berani menyentuhnya harus terlebih dahulu membunuhku.”

Zhuo Donglai memandang Little Gao, Seolah-olah ia sedang melihat anaknya sendiri yang telah ia manja. Perasaannya sedikit marah, namun penuh dengan rasa iba. “Terlepas dari bagaimana kau memperlakukanku, aku belum melakukan banyak hal untukmu. Bila kau ingin aku mati, aku juga tak bisa apa-apa. Aku rasa kau dapat memahami apa yang aku bicarakan.”

Little Gao tak menyangkalnya. “Tentu saja aku mengerti,” katanya. “Kau ingin aku menjadi Sima Chaoqun yang baru.”

Zhuo Donglai mendesah pelan.

“Dia adalah satu-satunya teman yang pernah aku miliki dalam kehidupanku. Tak peduli bagaimana ia memperlakukanku, tak ada seorangpun yang dapat mengubahnya.”

“Aku mempercayainya.”

“Apakah kau percaya bahwa aku dapat membunuhmu kapanpun aku mau?”

“Aku tak dapat membandingkan seni bela diri ataupun keterampilan pedangmu,” kata Gao Jianfei. “Dan kelicikanmu tak tertandingi oleh siapa pun yang berada dibawah langit. Barusan kau mengatakan bahwa Tuan Ji memiliki bakat yang luar biasa, Namun sebenarnya yang memiliki bakat luar biasa itu bukanlah dia, melainkan engkau. Siapa yang tak dapat mengagumimu?” Little Gao menatapnya. Dan kemudian, menggunakan nada unik milik Zhuo Donglai, berkata, satu kata pada suatu waktu: “Namun, mencoba untuk membunuhku adalah hal yang sia-sia. Meskipun aku mati, aku tak akan membiarkanmu menyentuh Zhu Meng. Selama aku masih memiliki semangat yang tersisa, hanya sedikit semangat, kau tak akan bisa mengalahkan diriku.

Sedikit semangat?

Semangat seperti apakah? Energi? Kesopanan? Keberanian? Loyalitas? Ataukah campuran dari semua itu, dikombinasikan dengan keberanian jantan untuk menciptakan kejujuran?

Pupil mata Zhuo Donglai mulai mengerut secara bertahap. “Aku tak dapat menyangkal bahwa kau memiliki beberapa semangat yang masih tersisa. namun,” tanyanya kepada Little Gao. “Dimanakah pedangmu?”

“Ditanganmu.”

“Ditanganku, jadi pedang itu adalah milikku sekarang. Apakah kau mempunyai pedang yang lain?”

“Tidak.”

Zhuo Donglai tertawa. “Kau tidak, namun aku punya.”

Pedang itu berada ditangannya, terhunus.

Pedang ini bisa membelah rambut menjadi dua. Tangan yang memegang pedang itu adalah tangan yang menakutkan, bahkan lebih menakutkan daripada pedang itu sendiri.

Ketika tangan itu membunuh seseorang, tangan itu tak meninggalkan bekas darah, bahkan tak sedikitpun tearstains.

“Jika kau benar-benar ingin melakukannya, maka baiklah,” kata Zhuo Donglai. “Mungkin inilah takdir. Yang memiliki kemampuan untuk mengubah nasib seseorang? “

Orang ini ,tangan ini, dan pedangnya ini; dalam sekejap semuanya pasti bisa memutuskan nasib dan takdir seseorang.

Zhu Meng tiba-tiba memiringkan kepalanya ke belakang dan tertawa lagi. “Sukacita apakah yang dapat ditemukan oleh lelaki sejati dalam hidup? ketakutan seperti apakah yang mereka temukan dalam kematian? Sampai hari ini saya, Zhu Meng, akhirnya mengerti. “Tawanya secara bertahap memudar. “Gao Jianfei, setelah berteman dengan orang sepertimu, aku bisa mati tanpa penyesalan. Namun kau masih muda. Tak layak jika kau mengorbankan nyawamu untuk diriku.”

Setelah mengatakan hal ini, ia menggunakan ujung kakinya untuk melempar pedang Gongsun Baojian keatas. Tangannya terulur meraih pedang tersebut, dan kemudian lengannya berputar kearah belakang lehernya. Dengan mengerahkan sedikit tenaganya, kepalanya akan jatuh ke tanah.

Namun Little Gao sudah meraih lengannya dengan satu tangan, dan pisau pedangnya dengan yang lain. Suara benturan dapat terdengar, gagang pedang mematahkan ujung besi yang ada pada pedang itu.

“Kenapa kau tak membiarkanku mati?” Kata Zhu Meng kasar.

“Mengapa kau ingin mati?”

“Sehingga kau bisa hidup,” kata Zhu Meng. “Aku seharusnya sudah mati. Setelah aku mati, kau tak perlu mengorbankan hidupmu untuk pergi melawan Zhuo Donglai. Aku bisa mati kematian dengan layak, tanpa penyesalan. Aku bisa mati dan mengetahui hidupku  layak.”

“Kau salah,” kata Gao Jianfei. “Hidup Anda atau kematian tidak ada hubungannya dengan pertempuran yang akan berjuang hari ini. Dan apakah Anda hidup atau mati, itu akan diperjuangkan. “

“Mengapa?”

“Karena Zhuo Donglai tak akan melepaskanku. Jika aku belum mati, maka ia yang akan mati ditanganku. Dan jika aku dapat membunuhnya, dia tak akan hidup untuk melihat matahari terbit. “Dia mencengkeram lengan Zhu Meng.” kedua kalimat yang baru saja kau ucapkan itu tidaklah benar. Lelaki sejati telah lahir didunia dan mereka harus tetap hidup. Mereka harus hidup bahagia. Dan ketika mereka mati, kematian mereka haruslah memiliki nilai. Jika kau mati sekarang, kau hanya memberikan nyawamu bersamaan dengan nyawaku, dan kematianmu akan menjadi tak berharga dan tak layak sepeser tembaga sedikitpun.”

Zhuo Donglai tiba-tiba tertawa. “Dia benar. Jika kau hanya menunggunya sampai mati, tak akan terlalu terlambat bagimu untuk mati juga. Mengapa kau begitu ingin membuang hidupmu? Apakah kau berpikir bahwa aku akan berterima kasih kepadamu jika kau melakukannya? “

Tangan Zhu Meng menjadi agak santai, namun Little Gao mencengkeramnya lebih erat.

“Jika aku hidup sampai hari ini,” kata Little Gao, “Aku tidak hanya membantumu untuk menghidupkan kembali Lion Clan, namun aku juga akan mereformasi Great Protection Agency. Ada begitu banyak waktu untuk segalanya, dan banyak prospek cerah. Selama kita masih hidup, tak perlu mengatakan ‘mati’ dengan begitu ringan.”

Zhuo Donglai mendesah. “Dia benar lagi. Jika kau masih hidup, mengapa harus mati? Mengapa memandang rendah hidupmu sendiri?” Sambil menghela napas yang lain, ia melanjutkan,” Sayangnya, ketika tiba waktunya salah satu orang untuk mati, maka kematian itu benar-benar sulit untuk dihindari. Tak ada pengecualian.” Dia memandang Little Gao, pupil matanya mulai mengerut. “Sekarang, kematianmu telah tiba. Karena kau sudah membuat sebuah kesalahan.”

“Kesalahan apa?”

“Seharusnya kau tak merusak pedang itu. Dengan pedang itu ditanganmu, kau mungkin bisa bertahan melawanku dengan 30 jurus. Tetapi sekarang, aku bisa membunuhmu hanya dengan 10 jurus.”

Begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, mereka mendengar suara yang arogan dan dingin: “Aku kuatir kali ini, orang yang melakukan kesalahan itu adalah dirimu.”

Translator / Creator: fatality