January 20, 2017

Heroes Shed No Tears – Chapter 18: Heroes don’t die (Part 4)

 

Lengan yang terputus itu jatuh, darah-darah berceceran, tetapi Sima Chaoqun masih berdiri disana, tegap seperti tombak, menjulang seperti raksasa.

Pedang aura bersinar, membidik kearah Wu Wan.

Tetapi Sima, menggunakan tangan kosongnya yang masih tersisa, mencengkeram pedang Zhuo Donglai itu.

“Jangan menyentuhnya,” katanya, suara begitu sengsara dan serak. “Aku berkata, tak masalah jika aku mati atau hidup, Kau tak boleh menyentuhnya.”

Lengannya telah terputus, namun semangat jiwanya tidak.

Pedang Zhuo Donglai itu tertahan oleh semangat jiwa milik Sima, dan yang bisa ia lakukan sekarang adalah tidak bergerak.

“Wu Wan, aku masih tak menyalahkanmu,” kata Sima. “Pergilah.”

Wu Wan menatapnya, menatap suaminya dengan ekspresi yang tak terlukiskan.

“Ya, aku harus pergi,” katanya dengan lembut. “Sudah seharusnya aku pergi.”

Tetapi ia tak pergi.

Sebaliknya, tiba-tiba ia melompat kearahnya dan memeluknya, menekankan wajahnya dibahu Sima yang telah terpotong, menggunakan wajahnya untuk menghentikan darah yang mengalir keluar dari tangan Sima.

Mengalir darah menutupi wajahnya, dan mengalir air mata.

“Aku telah memilih jalan yang salah dalam hidup,” katanya. “Dan aku tak akan membuat kesalahan yang sama lagi. Kali ini aku tak akan membuat kesalahan yang sama lagi.”

Wanita itu telah memilih jalannya.

Satu-satunya jalan.

Zhuo Donglai masih memegang pedang.

Wu Wan tiba-tiba mencengkeram suaminya dengan paksa dan mendorong dirinya maju menuju ujung pedang. Pedang itu menusuk ke punggungnya, menusuk dalam hatinya, dan menusuk jantung Sima.

Pedang pusaka itu benar-benar pedang yang tak tertandingi tajamnya.

“Tong tong,” kata Wu Wan dalam erangan berbisik. “Tong tong, Pada akhirnya kita dapat mati ditahun yang sama, bulan yang sama, hari yang sama. Mati bersama. “

Ini adalah hal terakhir yang pernah ia katakan.

“Pedang itu kejam, pahlawan tak meneteskan air mata.”

Sima Chaoqun masih berdiri disana tegap seperti tombak. Ia tak meneteskan air mata.

Sampai mati, ia tak jatuh. Dan sampai mati, Ia tak meneteskan air mata.

Translator / Creator: fatality