January 19, 2017

Heroes Shed No Tears – Chapter 18: Heroes don’t die (Part 3)

 

Wajah pucat Sima Chaoqun benar-benar tak berwarna. Melihatnya, Zhu Meng merasa takut.

Sang penari, yang terbanjiri oleh emosi, masih tergeletak di tanah, seolah-olah ia tak mendengar apa yang dikatakan oleh Zhuo Donglai.

Zhuo Donglai menatap penari itu dengan dingin. “Sebenarnya, aku tak menyalahkanmu, karena sebenarnya kami berdua adalah tipe orang yang sama. Kau sudah mengetahuinya sejak lama bahwa ada tiga orang di Great Protection Agency yang menentangku. Dan hanya ketiga orang itu yang mungkin bisa berurusan denganku. Kau bersekongkol dengan mereka secara diam-diam, dan oleh karena itu mereka dapat tiba begitu cepat. “

Penari itu tak dapat berkata apa-apa.

“Kau melakukan segala sesuatu untuk melindungi dirimu sendiri,” lanjut Zhuo Donglai, “dan untuk itu, aku tak akan menyakitimu. Namun sayangnya, kau membuat kesalahan.” Suaranya tiba-tiba berubah. Dia menggunakan nada suaranya yang unik, satu kata pada suatu waktu, berkata, “Tak peduli apapun alasanmu, kau seharusnya tak boleh memperlakukan Sima Chaoqun dengan cara ini.”

Berdasarkan penampilan luarnya, Zhuo Donglai tampak tak seperti orang yang brutal dan ganas. Tetapi ketika ia berbicara dalam nada suara seperti ini, siapapun yang mendengarkannya akan merasakan rambut mereka berdiri hingga ujung, dan akan gemetar ketakutan.

Dan orang yang paling mengerti dia adalah, tentu saja, Sima Chaoqun.

Setiap kali ia berbicara dalam nada ini kepada seseorang, itu berarti bahwa orang itu telah dihukum mati.

“Jangan menyentuh wanita itu.”

Sima melesat maju, menempatkan dirinya didepan penari misterius itu. “Apapun yang wanita ini lakukan,” katanya kasar, “Aku tak menyalahkannya. Selama bertahun-tahun, aku tak pernah memperlakukannya dengan baik. Bahkan meskipun aku mati dibawah tangannya, Aku tak akan mengijinkanmu untuk menyentuh rambut di kepalanya.”

Ekspresi Zhuo Donglai tiba-tiba berubah. Pupilnya mengerut, dan ia berteriak, “Awas!”

Namun peringatannya sedikit terlambat.

Penari itu melompat dari tanah, menangis dengan dingin, “Kau harus mati. Mati!”

Seiring dengan teriakannya, tiga bintang yang bersinar ditembakkan olehnya, terbang menuju kearah Sima.

Zhuo Donglai menggunakan kaki kirinya untuk mengaitkan Sima dan menariknya kearah samping, kemudian memukul rusuk Little Gao dengan telapak tangan kanannya. tangan kirinya, yang masih mencengkeram pedang, tertarik kebelakang, dan kemudian pedang itu berada ditangan kanannya. Semua gerakan-gerakan ini terjadi dalam hitungan detik, begitu cepatnya sampai-sampai hal itu tak dapat dipercaya.

Dan sekali lagi, dia hanya sedikit terlambat.

Sima telah ditarik ke samping, dan dua senjata tersembunyi yang melayang itu telah dibelokkan, namun senjata yang ketiga itu tertancap dilengan bagian atas kirinya.

Zhuo Donglai tak punya waktu untuk berpikir. Pedang ditangannya melesat maju kedepan. Aura pedang itu berkilauan, mengiris lengan sima secara utuh.

Ketika ular berbisa menggigit tangan, seorang pemberani akan memotong tangannya.

Little Gao tahu bahwa senjata-senjata itu berisi racun. Dan ini adalah satu-satunya cara untuk mencegah penyebaran racun, dan untuk menyelamatkan hidup Sima.

Tetapi ia harus bertanya kepada dirinya sendiri – Jika dia berada diposisi Zhuo Donglai, apakah ia akan mampu untuk membuat keputusan seperti itu dengan begitu cepat?

Angin dari pedang itu melepaskan topeng kain kasa yang dipakai oleh penari itu.

Wu Wan.

Penari misterius benar-benar adalah Wu Wan.

Translator / Creator: fatality