January 24, 2017

Heroes Shed No Tears – Chapter 18: Heroes don’t die (Part 10)

 

Di bawah sinar matahari, pedang Little Gao nampak seperti air jernih pada musim gugur. Tearstain yang ada pedang itu telah menghilang.

Gao Jianfei menatap bengong kearah pedang itu, berusaha untuk membungkus pikirannya dari segala hal yang telah terjadi sebelumnya.

Dia tak mengerti.

Waktu telah berlalu, dan akhirnya ia sadar bahwa ia ingin bertanya kepada Xiao Leixue.

Namun Xiao Leixue telah pergi. Mayat Zhuo Donglai dan senjatanya juga telah hilang.

Zhu Meng berkata, “Tuan Xiao sudah pergi. Dia membawa Zhuo Donglai bersama dengannya.” Hati Zhu Meng juga terisi dengan perasaan terkejut dan ketidakpastian. “Apa yang terjadi?”

Little Gao menatap dari kejauhan. Langit-langit cerah berlimpah.

“Itu tidak terlalu penting,” kata Little Gao. “Mulai hari ini, kemungkinan besar kita tak akan pernah melihat Tuan Xiao lagi.”

Lampu lentera telah padam, dan orang-orang yang membawanya telah berpencar, Satu-satunya orang yang tersisa adalah gadis buta muda dengan pipa tersebut.

Sinar matahari menerangi langit dan bumi, tetapi matanya hanya bisa melihat lembar kegelapan.

Hati Gao Jianfei tiba-tiba dipenuhi dengan rasa sakit yang tak terkatakan. Dia tak dapat menahan diri untuk bertanya kepada gadis muda tersebut, “Kakekmu, apakah dia masih hidup?”

“Aku tak tahu!”

Wajah putih pucat gadis muda itu benar-benar datar. Wajahnya tak berisi emosi apa pun, bahkan tak ada kesedihan.

Tapi siapapun yang melihat gadis muda itu akan merasakan tusukan derita pada jantung mereka.

“Dimanakah rumahmu?” Tanya Little Gao. “Apakah kau memiliki rumah? Apakah kau memiliki kerabat siapapun disana? “

Gadis kecil itu tak berkata apa-apa. Dia hanya memegang pipanya dengan erat, seperti orang tenggelam yang memegang erat pada sepotong kayu apung.

-Atau apakah bahwa satu-satunya hal yang ada didalam hidupnya adalah pipa miliknya?

“Kemanakah kau akan pergi?” Tanya Little Gao. “Apa yang akan kamu lakukan?”

Bahkan saat ia mengajukan pertanyaan itu, ia menyesalinya.

Pertanyaan seperti ini seharusnya tak ditanyakan. Bagaimana bisa seorang gadis kecil yang tak mempunyai kerabat, tak ada tujuan dalam hidup, tak ada seorangpun yang dapat diandalkan, dapat merenungkan hal-hal tersebut?

Bagaimana bisa gadis muda itu berpikir tentang hal ini? Bagaimana bisa ia menahannya? Bagaimanakan dengan anda, pembaca yang budiman, mengharapkan dia untuk menjawab pertanyaan tersebut?

Siapa yang dapat membayangkan bahwa gadis muda ini, Seluruh hidupnya ditakdirkan dalam kegelapan, tiba-tiba ia menanggapi dengan suara ceria, “Aku ingin terus bernyanyi. Aku ingin bernyanyi selamanya, hingga aku mati.”

Translator / Creator: fatality