January 19, 2017

Heroes Shed No Tears – Chapter 18: Heroes don’t die (Part 1)

 

Bulan kedua, Hari ke-27.

Diluar perbatasan Chang’an, daerah liar, pegunungan tandus.

Masih ada beberapa waktu yang tersisa sebelum fajar. Lembar kegelapan menutupi langit dan bumi.

Di bawah cahaya yang berasal dari puluhan lentera Kongming, bayangan dari kedua orang itu muncul seperti hantu, disertai dengan suara nyanyian. Yang satu membawa pipa, yang lain membawa seruling bambu.

Bayangan samar-samar, menyanyikan lagu sedih. Bahkan jika dilihat dengan seksama dapat dibilang bahwa kedua orang itu mirip dengan kedua orang yang berada di Chang’an Restaurant malam itu. Mereka adalah orang tua buta berambut putih, ditemani oleh gadis muda buta yang begitu patah hati dan menyedihkan.

Mengapa mereka tiba-tiba muncul di sini? Apakah seseorang membuat perjanjian khusus bagi mereka untuk datang dan menyanyikan melodi sedih miliknya?

“Rambut tersisir indah dan terbungkus menjadi sanggul, riasan ringan diterapkan pada wajah; asap hitam biru dan kabut ungu menutupi keanggunan, tumbuhan catkins dan helaian tipis melayang entah kemana.”

Tak menunggu hingga ulat sutra mati, mereka akan berhenti memproduksi helaian sutra.

Tak menunggu hingga lilin terbakar, mereka akan berhenti untuk meneteskan air matanya.

Semangat dan keberanian yang ada pada Zhu Meng tiba-tiba berubah menjadi benang tipis.

Karena ia telah menangkap bayangan seseorang.

Seseorang tiba-tiba muncul dari dalam kegelapan, seperti hantu kupu-kupu dalam sebuah mimpi, wajahnya ditutupi dengan kain kasa halus, mengenakan pakaian halus seorang penari bagaikan cicada wings (Sayap serangga).

Pakaian tarian itu berkibar.

Zhu Meng tak meneteskan air mata, karena ia tak mempunyainya.

Bahkan darahnya yang panas dan memiliki semangat keadilan itu telah mengering.

Dia tahu itu bukanlah Die Wu, tetapi tariannya itu telah membawanya kedalam dunia mimpi milik kupu-kupu. Hal itu nampak nyata namun sebenarnya tidak nyata. Nampak seperti mimpi namun sebenarnya bukan mimpi.

Apakah itu: nyata ataukah mimpi?

Bagaimana jika itu nyata? Bagaimana jika itu hanyalah mimpi? Hidup ini hanya sementara, dan emosi sangatlah penting; Apakah perlu untuk mengurus segala sesuatu dengan serius?

Lepaskan! Lepaskanlah semua! Pergilah bersama kupu-kupu. Itulah yang terbaik.

Dia tahu bahwa sekarang, siapa pun bisa menarik pedang dan memenggal kepalanya, tetapi dia tak peduli.

Dia sudah siap untuk memberikan segalanya.

Namun Sima Chaoqun tak membiarkan Zhu Meng untuk melakukannya. Lagu ini masih dinyanyikan, penari masih menari. Sima Chaoqun menerkam ke depan seperti kucing, bersiap untuk menghancurkan kupu-kupu dengan cakarnya yang tajam.

Penari itu tak mencoba untuk melarikan diri,  malahan ia melangkah maju. Wanita itu menggunakan gerakan tarian anggun tak terlukiskan untuk bergerak maju, menghindar serangan Sima. Dan kemudian tiba-tiba ia berbisik dua kata ketelinga Sima Chaoqun. Tak ada yang dapat mendengar dua kata ini, tetapi semua orang bisa melihat reaksi Sima Chaoqun.

“Tong tong.”

Ini adalah kedua kata yang dikatakan oleh wanita itu. Dua kata yang tak memiliki arti sama sekali.

“Tong tong.”

Siapapun yang mendengar dua kata ini tak akan bereaksi apapun. Namun bagi Sima Chaoqun, kedua kata ini nampaknya seperti kilat yang menyambar melalui udara.

Dalam sekejap, ia menjadi tak bergerak. anggota pada tubuhnya tumbuh kaku, dan matanya penuh dengan perasaan terkejut dan takut. Dia mengambil dua langkah mundur dengan terpaksa.

“Tong tong.”

Dua kata itu tampaknya seperti beberapa jenis mantra magis yang dalam sekejap mata telah menyerap jiwa Sima Chaoqun.

Bagaimana bisa?

Siapa wanita asing ini, penari ini datang entah dari mana? Bagaimana bisa kedua kata yang tampaknya benar-benar tak memiliki arti apapun ini bisa membuat Sima Chaoqun bertindak demikian?

Tak ada yang dapat memberikan penjelasan. Namun, ada hal lain yang bisa dilihat oleh siapa saja.

-Sima Chaoqun dan Zhu Meng terpojok. Kepala mereka bisa dipotong oleh siapapun kapan saja.

Orang tua buta berambut putih itu tak bisa melihat apa-apa, tetapi suara yang dimainkan olehnya mengandung perasaan sedih dan kekerasan.

Namun tiba-tiba disana muncul kedapan angin pembunuh. Bahkan cahaya lampu seakan-akan telah menjadi pucat dan buruk. Cahaya itu menyinari wajah pucat milik Sima dan Zhu Meng, beserta pedang yang dicengkeram oleh Gongsun Baojian.

Pedangnya akan segera dicabut, dan kepala seseorang akan segera jatuh ke tanah. Dalam cahaya lampu buruk, sesuatu melintas. Didalam cahaya lampu yang berkedip-kedip itu tiba-tiba tampak sinar yang berkilauan bahkan lebih suram daripada apa yang bersinar sebelumnya.

Benda itu bersinar sebentar dan kemudian menghilang. Sebuah pedang yang telah menusuk dada seseorang dan kemudian menghilang.

Pedang Gongsun Baojian ini masih terselubung. Pedangnya telah terpental jatuh ketanah karena pedang yang lain.

Pedang yang baru muncul itu tak jatuh dari langit, namun pedang itu telah menikam seseorang dan melompat terbang bersama dengan orang lain.

Orang dan pedang itu muncul begitu cepat, seolah-olah itu adalah satu kesatuan.

Telah pedang menikam balik dengan orang terbang? Atau memiliki orang diterbangkan balik dengan pedang menusuk?

Tak ada yang dapat membedakan pada poin ini; tak ada yang dapat melihat dengan jelas apa yang telah terjadi.

Tetapi semua orang dapat melihat dengan jelas orang tersebut.

Pada pandangan pertama, ia terlihat tampak seperti versi muda dari Sima Chaoqun; gagah, tinggi, elegan, kuat. Dia mengenakan set pakaian yang dijahit dengan bagus dan berwarna-warni, pakaian itu dipotong dengan kain yang terbaik. Matanya bersinar dengan penuh keyakinan.

Pada pandangan pertama, tak mungkin ada yang dapat menyadari bahwa sebenarnya orang ini dulunya pernah jatuh dan bangun hidupnya, Pendekar pedang Jianghu tak terkenal, Gao Jianfei.

Translator / Creator: fatality