January 18, 2017

Heroes Shed No Tears – Chapter 17: The cold aura of a sword (Part 8)

 

Ketika para master sedang bertarung, biasanya dalam satu gerakan. Hidup dan mati, kalah dan menang biasanya ditentukan dalam waktu yang singkat.

Pertempuran Sima dan Zhu Meng berbeda.

Pertempuran mereka adalah pertempuran yang pahit.

Mereka berdua kelelahan. Tak hanya perasaan mereka yang lelah, namun tubuh mereka juga tak bertenaga.

Tangan mereka tak lagi memiliki kekuatan untuk menggunakan sikap yang dapat membunuh musuh dalam sekejap mata.

Terkadang pukulan Sima tampak jelas mampu mengatasi Zhu Meng, namun setelah menyerang, kekuatan dan posisinya menjadi setengah dari apa yang seharusnya.

Situasi Zhu Meng juga sama.

Kedua pahlawan yang telah berusia itu, yang mana dapat mencomeli semua orang di Jianghu, sekarang nampak seperti dua binatang buas yang terkunci dalam perjuangan hidup atau mati. Benar-benar sebuah pemandangan yang menyedihkan.

Dan yang aneh, bagaimanapun juga, adalah bahwa para saudara Zhu Meng tampaknya tak memiliki reaksi apapun.

Ketika Zhu Meng terjatuh, dan berjuang untuk tetap berdiri, mereka tak bereaksi sama sekali, seolah-olah benar-benar tak peduli.

Mereka semua pernah diserang oleh lawan-lawan mereka sebelumnya. Bangkit setelah terjatuh itu bukanlah sesuatu hal yang istimewa.

Namun ketika Sima jatuh, mata mereka tiba-tiba dipenuhi dengan ketakutan yang tak terkatakan. Tubuhnya terbalik; ia bergulir ke arah Zhu Meng dan meraih kakinya.

Itu bukanlah sikap yang digunakan oleh seorang pahlawan dan manusia sejati.

Sima Chaoqun telah menjelajah dengan liar sepanjang hidupnya, dan tak pernah menggunakan sikap seperti ini. Zhu Meng tak pernah membayangkan bahwa ia akan melakukannya.

Dan pada akhirnya ia pun terjatuh. Dua dari mereka berguling-guling di tanah. kemarahan Zhu Meng bangkit. Suara pukulan terdengar saat ia menghantamkan tinjunya kepunggung Sima.

Sima memegangnya erat-erat dan tak melepaskannya. Lalu ia berbicara pelan ke telinga Zhu Meng, dengan suara yang sangat aneh: “Tampaknya saudara-saudaramu semuanya telah mati. Tetapi kita harus berpura-pura tidak tahu. “

Zhu Meng terkejut, dan ingin bertanya. “Mengapa?”

Namun ia tak mengucapkan sepatah kata, karena Sima menutupi mulutnya, dan sekali lagi berbicara ke telinganya, “Kita harus terus bertarung, membuat mereka berpikir bahwa pertempuran kita akan berakhir dengan kekalahan, dimana kita akan saling membunuh .”

Zhu Meng bukanlah orang kasar yang sembrono.

Dia adalah orang yang sangat bijaksana, dan ia menyadari bahwa situasi tiba-tiba berubah.

Saudara-saudaranya semua ada disana, namun kepala mereka terkulai longgar dileher mereka.

Dia mencium aroma memuakkan, bau yang memuakkan.

Saat mereka berdua berjuang dalam pertempuran sengit mereka, seseorang secara diam-diam telah mematahkan semua leher saudara-saudara Zhu Meng.

Dapatkah saudara-saudaranya, yang telah berjuang bersama dengannya melalui ratusan pertempuran, Terbunuh dengan begitu mudah?

Zhu Meng tak mempercayainya. Dia tak dapat percaya dan tak mau mempercayainya.

Namun tubuhnya dipenuhi dengan perasaan dingin.

Sima mengambil kesempatan untuk menjungkir dan menekan Zhu Meng , kemudian memukul sisi samping dan tulang rusuknya.

Tetapi ia tak memukulnya dengan sangat keras. Dan juga suaranya terdengar lembut.

“Tak masalah jika kita musuh atau teman. Sekarang kau harus mendengarkanku. Kalau tidak, kita berdua akan mati dengan penuh penyesalan.”

“Apa yang kau ingin aku lakukan?”

“Kita pergi. Bersama-sama,” kata Sima Chaoqun. “Ketika saya mengatakan pergi, melompatlah dan pergi.”

Seseorang tiba-tiba tertawa.

Suara eksentrik terdengar berbicara, “Ternyata Sima sedikit lebih cerdas. Namun sayangnya, Zhu Meng masih tak berguna.” Orang itu tertawa sini. “Dunia ini hanya ada Zhu Meng si pembunuh, bukan Zhu Meng si tukang kabur.”

Sima tiba-tiba melompat dan berkata, “Pergilah!”

Translator / Creator: fatality