January 17, 2017

Heroes Shed No Tears – Chapter 17: The cold aura of a sword (Part 6)

 

Zhu Meng berdiri dengan hormat, menghadapi Sima Chaoqun. Hidup dan mati akan ditentukan dalam sekejap mata.

Anehnya, semangat amarah yang hilang diantara mereka berdua bukanlah karena balas dendam, melainkan kejujuran.

Zhu Meng tiba-tiba bertanya, “Selama hampir sepuluh tahun, kau tak pernah kalah, dan kau belum pernah bertemu lawan yang sebanding dengan dirimu. Senjata yang kau gunakan untuk menghadapi musuh-musuhmu adalah Thousand Hammers Great Iron Sword, benar? “

“Ya.”

“Lalu dimanakah pedangmu?”

“Pedangku tak ada di sini, namun aku sendiri,” kata Sima Chaoqun. “Kau disini untuk bertarung denganku, bukan pedangku. Selama aku berada disini, hal itu sudah cukup. “

“Kau kemari untuk memperjuangkan hidup dan mati, kemenangan dan kekalahan. Mengapa kau tak membawa pedangmu?”

“Karena tangan kosongku cukup untuk membunuh seekor singa.”

Zhu Meng secara perlahan membungkus kembali sabuknya pinggangnya, meninggalkan dirinya dengan dua tangan kosong.

“aku telah menjelajahi Jianghu dalam seluruh hidupku,” katanya. “Saya senang untuk melakukan pembalasan. Siapa yang tahu berapa banyak orang yang setia, bermoral, jujur, penjahat kurang ajar yang telah aku bunuh dengan pedangku? Ketika aku membunuh orang, aku biasanya menggunakan Great Sweeper Blade.”

“Kemanakah pedang itu?”

“Disini,” kata Zhu Meng. “Pedangku ada disini.”

Dia mengulurkan tangannya, dan seseorang membawakan Great Sweeper Blade miliknya, senjata yang dapat memenggal kepala pasukan musuh dalam puluhan ribu jumlahnya.

“Ini adalah pedang yang bagus,” kata Sima Chaoqun. “Sebuah pedang pembunuh.”

“Ini adalah pedang pembunuh yang bagus,” kata Zhu Meng, membelai tepi tajam. “Namun pedang ini biasanya digunakan untuk membunuh para penjahat, bukan para pahlawan.”

Pedang itu berada ditangannya.

Tangan kirinya mencengkeram gagang, tangan kanannya memuntirkan ujung pedang. Suara berdentum dapat didengar. Pedang itu masih di tangannya, namun sekarang pedang itu terbelah menjadi dua bagian.

Pedang rusak itu terbang seperti pelangi. Terbang kedalam senja yang gelap. Terbang hingga pedang itu tidak terlihat.

Suara Zhu Meng terdengar serak, begitu seraknya sehingga ia tampak hampir tak bisa bicara. Namun keberaniannya tak hilang. “Jika Sima Chaoqun dapat menggunakan tangan kosong untuk membunuh singa, kenapa Zhu Meng tak mencobanya juga?”

Tangannya terkepal, tinju besi. Tinju besi Sima Chaqun itu tajam bagaikan pedang.

“Kau telah melakukan perjalanan jauh, dan kau adalah seorang tamu,” kata Sima. “Aku tak akan memaksamu, Namun kau harus melakukan gerakan terlebih dulu.”

“Hebat!”

Ketika ia mendengar Zhu Meng berkata “hebat,” Man Niu tahu bahwa ia sendiri akan segera dihabisi.

“Man Niu” adalah orang, seorang pria sejati.

Namun kadang-kadang ia bertindak seperti lembu. Dia memiliki temperamen seperti lembu, dan keras kepala bagaikan lembu. Lebih liar daripada lembu liar sekalipun, ganas, dan ia juga sangat kuat, bagaikan lembu yang terbuat dari besi.

Namun sayangnya, jantung lembu besi itu tampaknya terbuat dari porselen. Dengan sedikit sentuhan dapat menghancurkannya.

Jadi ia duduk sejauh mungkin.

Yang lain sedang berdiri, tetapi ia duduk, karena ia takut bahwa ia tak dapat menanganinya.

Ada begitu banyak hal yang tak bisa ia tangani.

Yang bisa ia lakukan untuk bertahan adalah ketika para penjahat kecil sedang menjual teman-temannya. Ketika ia bertemu dengan orang-orang seperti itu, ia siap untuk memberi kehidupannya untuk berurusan dengan mereka.

Dia juga tak dapat menangani jenis teman yang penuh dengan loyalitas pribadi, karena ketika ia bertemu dengan orang-orang seperti itu, ia siap untuk mengorbankan hidupnya kepada mereka. Memberikan hidupnya tanpa persyaratan apapun dan tanpa penyesalan.

Jadi, ketika ia mendengar Zhu Meng mengatakan “Hebat,” ketika ia melihat Zhu Meng mulai menyerang dengan tinjunya, ia tahu bahwa ia sendiri akan segera mati. Kejadian itu mirip dengan Cleats ketika melihat Zhu Meng berdiri disamping Little Gao. Selain kematian, Tak ada pengambilan langkah kedua.

Dia hanya berharap bahwa sebelum ia meninggal, ia dapat melihat Zhu Meng dan Sima Chaoqun bertarung. Dan juga ia berharap ia bisa mengikuti Zhu Meng ke Great Protection Agency dan bertempur dengan Zhuo Donglai.

Jika dia bisa mencapai hal-hal tersebut, maka bisa dikatakan bahwa Tuhan tak memperlakukannya dengan buruk, dan dia bisa mati tanpa mengeluh.

Hanya kematian yang dapat melepaskan penderitaan usianya. Dia sudah siap untuk mati, sehingga persyaratan nya tak berlebihan.

Namun Tuhan pun tak menyetujuinya.

Dia menyaksikan Zhu Meng tampaknya kembali kedalam bentuk dirinya yang sangat menginspirasi dan terhormat, mengacungkan tinju besinya, dan menyerang. Namun tiba-tiba dari belakangnya melayang jeratan hitam. Jeratan itu mengelilingi tenggorokannya.

Man Niu ingin berteriak, namun sudah terlambat.

Jeratan tali itu begitu serat, menghancurkan jakunnya. Dia merasakan semua kekuatan ditubuhnya menghilang. Otot-ototnya tumbuh kendur. Kotoran mengalir keluar.

Zhu Meng dan Sima terkunci dalam pertempuran sengit, dan perhatian orang-orang lain pada saat itu tetap mengarah pada mereka berdua. tak ada yang melihat bahwa Man Niu telah mati. Tak ada yang satupun yang mengarah kearahnya.

Jadi si pria lembu besi secara diam-diam meninggal dunia.

kematiannya bahkan lebih tragis daripada Cleats.

Translator / Creator: fatality