January 17, 2017

Heroes Shed No Tears – Chapter 17: The cold aura of a sword (Part 4)

 

Langit tertutup oleh awan pada sore hari. Gunung-gunung dan bukit-bukit berada dalam kesenjaan yang tak terbatas, seperti yang dilakukan oleh Zhu Meng. Dia berdiri didepan tumpukan tanah berwarna kuning.

Itu adalah tumpukan tanah berwarna kuning yang masih baru. Tak ada rumput-rumput musim semi yang tumbuh dipemakaman, dan tak ada batu nisan yang dibangun. Mungkin orang di dalam kubur sudah berubah menjadi seekor kupu-kupu dan terbang jauh.

Mungkin apa yang terkubur disana adalah seorang pendekar yang telah hilang selama bertahun-tahun, ataukah seorang pemuda yang baik hati.

Zhu Meng dan Sima masih berada disana.

Dan jeratan dari perasaan dendam dan kebencian itu masih ada. Tak ada yang dapat melepaskan jeratan tersebut.

Langit menjadi semakin gelap.

Zhu Meng berdiri disana membisu. Setelah beberapa lama. Mereka yang masih menjadi saudara-saudaranya juga berdiri disana melihat Zhu Meng dengan membisu. Siapa yang tahu apa yang ada dalam pikiran dan perasaan Zhu Meng? Siapa yang tahu apa yang ada didalam pikiran mereka?

Yang mereka ketahui dalam pikiran mereka adalah hidup itu bagaikan sebuah sandiwara, dan jika hidupnya adalah sandiwara, maka secara tak meragukan waktu akan datang untuk menjatuhkan tirai sandiwara tersebut.

Terlepas dari bagaimana tragisnya dan memilukannya sandiwara itu, sudah saatnya tirau itu dijatuhkan.

Die Wu telah mengambil langkah awal, dan mereka harus menyelesaikan sisanya.

Tak peduli seberapa sulit, hal tersebut harus diselesaikan, dan mereka hanya berharap untuk dapat menaburi jalanan pada rumah mereka dengan darah-darah musuhnya.

Zhu Meng akhirnya berbalik dan menghadap kearah saudara-saudaranya, yang selalu menemaninya disaat susah dan duka. Ia menatap mereka masing-masing dengan matanya yang besar dan merah. Dia menatap setiap wajah perlahan-lahan, menatap mereka seolah-olah seperti kesempatan terakhirnya untuk melakukannya.

Dan kemudian, dengan suaranya yang serak, ia berkata, “Dalam kehidupan, tak ada perjamuan yang berlangsung untuk selamanya. Bahkan anak-anak dan orang tuapun pada akhirnya akan berpisah. Sekarang, sudah tiba saatnya bagi kita untuk berpisah.”

Wajah para saudaranya tergeliat, namun Zhu Meng pura-pura tak melihatnya.

“Jadi sekarang, aku ingin kalian semua untuk pergi . Yang terbaik adalah mengambil jalan yang berbeda, masing-masing mengambil jalan kehidupan sendiri. Aku ingin kalian tetap hidup. Jika salah satu dari kalian tetap hidup, maka Lion Clan akan memiliki harapan.”

Tak ada yang pergi. Tak ada yang bergerak.

Zhu Meng melompat kedepan, dan berteriak dengan suara serak:

“Persetan dengan leluhur kalian! Kau tak mendengar apa yang aku katakan? Apakah kalian ingin setiap orang terakhir yang ada di Lion Clan musnah dan terbasmi? “

Namun, tak ada seorangpun yang bergerak. Dan tak mengatakan apa-apa.

Zhu Meng merobek paksa sabuk pinggangnya, tali kulitnya selebar tangan. Ia menyerbu kearah mereka.

“Jika kalian tak ingin pergi, jika kalian ingin mati, maka baiklah, aku akan mengalahkan kalian sampai mati disini sehingga aku tak marah-marah!”

Sabuk telah dilepas, meninggalkan potongan darah berwarna keunguan.

Tetapi orang-orang itu, yang mengabaikan hidup dan mati, rasa sakit dan penderitaan, hanya menutup mulut mereka, mengertakkan gigi mereka, dan tetap tak bergerak.

Sima Chaoqun berdiri di kejauhan, melihatnya. Tampak seolah-olah ia tak memiliki perasaan apapun tentang apa yang telah terjadi.

Namun, darah segar mengalir dari sudut mulutnya.

Dia menggertak giginya terlalu keras, dan telah menggigit dirinya sendiri.

Angin bertiup. Tak jelas kapan angin tersebut bermunculan, namun angin itu berembus kearah tubuh mereka, begitu dinginnya, dan serasa terpotong oleh pisau kecil.

Zhu Meng akhirnya jatuh ke tanah.

“Baiklah. Jika kalian ingin tetap tinggal untuk mati bersama-sama denganku, aku akan mengijinkannya. Tetapi,” katanya dengan kasar,” Kalian tak boleh lupa, entah aku atau Sima yang akan menang dalam pertempuran ini, itu tak ada hubungannya dengan kalian. Kalian tak boleh melakukan penyerangan terhadapnya.”

Sima Chaoqun tiba-tiba tertawa dingin. “Percuma saja. Tak peduli teknik apa yang kau gunakan untuk membangkitkan emosiku, semua itu akan sia-sia.”

“Apa?” Tanya Zhu Meng suara serak. “Apa yang kau katakan?”

“Aku hanya ingin kau mengerti bahwa meskipun keluargaku telah hilang, itu tidak berarti bahwa aku akan membantumu untuk mencapai tujuan. Aku tak akan membiarkanmu membunuhku dan menggunakan kepalaku untuk menghidupkan kembali martabatmu, dan untuk menghidupkan kembali Lion Clan.” Suara Sima Chaoqun terdengar benar-benar serak. “Jika kau ingin mengambil kepalaku, maka kau harus menggunakan kung fu yang sebenarnya.”

“Kau kentut anjing ibumu!” Zhu Meng mengamuk. “Kata siapa aku akan melepaskan dirimu? Aku masih melihat dirimu sebagai seseorang, siapa yang akan mengira bahwa kau seperti kentut anjing?”

“Bagus. Benar-benar kata-kata hujatan yang bagus.” Sima mendongak ke langit dan tertawa. “Jika kau punya nyali, kemari dan lawanlah aku!”

Zhu Meng baru saja hendak menyerang kearahnya, tetapi kemudian ia tiba-tiba berhenti. Halilintar yang dashyat tiba-tiba mereda menjadi tenang. Ia memandang kearah Sima Chaoqun dengan ekspresi yang sangat aneh di wajahnya, seolah-olah ia baru saja melihatnya untuk pertama kalinya.

“Anda tak berani mendekati diriku?” Ejek Sima. “Mungkinkah kau hanya punya nyali untuk menyerang saudara-saudaramu? Mungkinkah ‘Lion Fierce ” Zhu Meng tak lebih dari seorang pengecut?”

Zhu Meng tiba-tiba tertawa, tertawa liar.

” Bagus. Benar-benar kata-kata hujatan yang bagus. Kata-kata hujatan benar bekerja dengan baik” Dia tertawa seperti seekor kera yang menjerit-jerit. “Sayangnya, hal itu benar-benar tak berguna.”

“Apa?” Sima Chaoqun masih tertawa dingin. “Apa maksudmu?”

Kali ini, Zhu Meng tak marah. Bahkan, ia menghela napas panjang. “Sima Chaoqun, kau adalah seorang pria sejati. Dalam pengembaraan hidupku, aku tak pernah mengagumi siapa pun. Sampai sekarang, aku memberimu sedikit rasa kagum. Tetapi jika kau berpikir bahwa Zhu Meng hanyalah seorang kasar yang tidak tahu salah dan benar, maka kau keliru. Aku mengerti apa yang kau pikirkan. “

“Apa yang kau mengerti?”

“Kau tidak perlu mencoba memprovokasi dirku untuk membunuhmu. Dan kau tak perlu menggunakan metode itu untuk mencoba membuatku marah. Aku sudah kalah. Kehilangan jiwa saya seperti orang idiot, karena seorang wanita; Hatiku lebih hancur daripada ibuku yang telah meninggal.” Dia tiba-tiba menampar dadanya. “Tetapi selama aku memiliki napas yang tersisa didalam tubuhku, Aku akan berjuang hingga akhir. Kau tak perlu memprovokasi diriku, aku pasti akan terus berjuang hingga selesai. “

“Oh?”

“Kepala Zhu Meng tak sembarang diambil oleh orang-orang. Bahkan kepalaku tak cukup untuk membantumu mencapai tujuan. Dan aku tak perlu bantuanmu untuk mencapai tujuanku. “Mata besarnya menatap Sima Chaoqun. “Pertempuran kita pada hari ini bukanlah tentang hidup dan mati, menang dan kalah. Aku tak peduli tentang itu. bagaimanapun, tampaknya kau seperti mencoba untuk membantuku.” Suaranya menjadi lebih keras. “Jika kau mencoba untuk melakukan hal itu, maka kau bukanlah seseorang yang dibesarkan oleh orangtua yang penuh kasih, melainkan seseorang yang dibesarkan oleh anjing. Jika kau masih bersikeras atau bergerak selangkah saja, maka aku akan mati disini dan kembali sebagai arwah gentayangan untuk menghantuimu.”

Sima Chaoqun menatapnya, menatap kearah mata besarnya yang merah, melihat wataknya yang meskipun kurus, masih membawa semangat seekor singa. Setelah beberapa lama, ia berkata, “Baiklah. aku berjanji kepadamu. Tak peduli apa yang terjadi, dalam pertempuran hari ini aku akan menggunakan semua kekuatanku dan berjuang hingga mati. “

Zhu Meng menatapnya, seorang pria yang pernah menjadi sosok yang paling menonjol di dunia, pahlawan terbesar di bawah langit, namun telah jatuh jauh ke dalam sebuah kotoran. Ia mendesah. “Kau dan aku ditakdirkan untuk menjadi musuh. Aku hanya berharap bahwa dikehidupanku berikutnya, kita bisa berteman. Terlepas dari siapa yang akan menang atau kalah hari ini, hidup atau mati, ini adalah keinginanku.”

Translator / Creator: fatality