January 13, 2017

Heroes Shed No Tears – Chapter 16: It’s lonely at the top (Part 6)

 

Kupu-kupu berterbangan, dan kemudian terbang kembali lagi. Apakah kupu-kupu itu datang? Apakah kupu-kupu itu pergi? Apakah kupu-kupu itu adalah seseorang? Ataukah itu hanya seekor kupu-kupu saja?

“Aku di sini, aku di sini. Aku selalu disini.”

Zhu Meng berada disana.

Pedangnya menghilang, Lion Clan menghilang, Seorang pahlawan yang sangat kasar dan arogan itu juga menghilang.

Akan tetapi Zhu Meng masih berada di sana.

Selama Die Wu masih berada disana, Zhu Meng juga akan berada disana.

“Zhu Meng, aku telah membuat kesalahan. Kau juga telah membuat kesalahan.”

“Ya, Aku telah membuat kesalahan.”

“Zhu Meng, mengapa aku tak pernah bisa mengerti tentang perasaanmu terhadap diriku?” Kata Die Wu. “Mengapa kau tak memberitahuku? Mengapa kau tak pernah memberitahuku betapa besar kau mencintaiku? Mengapa aku tak pernah memberitahumu bahwa aku sangat membutuhkan seseorang yang mencintai diriku? “

Tak ada jawaban apapun. Ada beberapa hal yang tak memerlukan jawaban, karena disana tak ada jawaban.

“Zhu Meng, aku akan mati,” kata Die Wu, “Kau tak perlu mati untuk diriku, aku akan segera pergi.”

Suaranya bagaikan helaian kabut yang halus.

“Aku tak akan pernah bisa menari lagi untuk dirimu, namun aku dapat menyanyikan lagu untukmu,” katanya. “Aku akan menyanyi untukmu sekarang, tolong dengarkanlah.”

“Ya, menyanyilah sekarang. Aku akan mendengarkannya.”

Suasana menjadi hampa.

Tak ada orang-orang, kebencian, dan permusuhan. Selain suara nyanyian dari Die Wu, tak ada hal apapun disana.

Dan ia pun bernyanyi.

“Rambut indah disisir dan dibentuk menjadi sanggul, riasan ringan diterapkan kewajah;

Asap hitam kebiruan dan kabut ungu menutupi keanggunan, tumbuhan catkins dan helaian tipis melayang tanpa tujuan yang ditetapkan;

Untuk tidak melihat satu sama lain jauh lebih baik daripada melihat, tak memiliki emosi sama sekali jauh lebih baik daripada memilikinya;

Ketika nyanyian selesai dan akal yang tak sehat muncul, bulan bersinar diatas halaman kosong yang tenang. “

Helai halus secara bertahap melayang semakin jauh, tak henti-hentinya.

Dia bernyanyi, dan kemudian dia selesai bernyanyi.

Die Wu berhenti bernyanyi.

Segala sesuatu dibawah langit menjadi berhenti. Setidaknya, dalam situasi yang hanya sesaat ini, semuanya menjadi berhenti.

Bahkan air matapun juga berhenti menetes.

Hanya darah.

Zhu Meng berdiri terbisu disana menatap kearah Die Wu. Dan kemudian tiba-tiba ia memuntahkan seteguk darah merah.

**

 

Translator / Creator: fatality