January 13, 2017

Heroes Shed No Tears – Chapter 16: It’s lonely at the top (Part 5)

 

Zhu Meng juga tak meneteskan air mata.

Ketika ia menyaksikan Cleats tewas dalam pertempuran, ketika ia menahannya dalam pelukannya, dia tak meneteskan air mata.

Dia meneteskan darah.

Meskipun itu mengalir dari matanya, apa yang mengalir keluar adalah darah.

Die Wu masih mengalami pendarahan secara terus-menerus. Tak ada seorangpun didunia yang dapat menghentikan darahnya mengalir keluar.

Karena apa yang mengalir keluar dari luka-lukanya itu bukanlah darah lagi, melainkan jiwa seorang penari.

Dan jiwa penari telah berubah menjadi seekor kupu-kupu.

-Siapa yang pernah melihat kupu-kupu menumpahkan darah? Siapa yang tahu warna darah kupu-kupu?

Menumpahkan darah. Mengapa orang harus menumpahkan darah, dan bagaimana mungkin mereka tidak mengetahui bagaimana menjijikkannya hal itu? Namun kupu-kupu mengetahuinya.

Karena hidupnya indah, sementara, dan dia tidak membiarkan orang-orang lainnya untuk melihat sisi jeleknya.

“Bantu saya menutupi diri dengan selimut. Tutup kaki saya. Jangan biarkan orang melihat kaki saya.”

Ini adalah apa yang dikatakan oleh Die Wu, empat kali, sebelum ia tergeletak hingga tak sadarkan diri.

Sebenarnya, ia tak mempunyai kaki.

Itu karena dia tak mempunyai kaki dan dia tak membiarkan siapapun melihatnya. Jika ada yang berperasaan mengatakan hal ini merupakan beberapa jenis ironi, maka itu adalah kelemahan dasar dari kemanusiaan, dan hati orang itu seharusnya telah dirubah oleh roh-roh jahat menjadi besi dan batu. Selimut tebal dan berat menutupi tubuh Die Wu, seperti lapisan awan gelap yang tebal menutupi matahari sebelum hujan badai.

Wajah Die Wu benar-benar tak memiliki gairah atau warna apapun, seperti mangkuk kecil pada lampu minyak diatas meja kayu pada ruangan kecil, yang akan segera memudar.

Zhu Meng duduk dibawah sinar lampu mengawasi dirinya. Dia tak bergerak dan tak berbicara. Dia tidak minum setetes atau meneteskan air mata.

Ruangan kecil itu gelap, lembab, dan dingin.

Tiga belas orang bawahan tetapnya, mereka semua melihatnya dengan cara yang sama yang dilakukan oleh Zhu Meng. Hati mereka berduka dan putus asa sama seperti dirinya. Dan sampai sekarang mereka semua masih hidup.

-Mengapa Ah Gen tak kembali setelah diutus untuk mengumpulkan informasi dan membeli makanan? Kemudian kembali dan bersama-sama dengan Sima Chaoqun.

Ketiga belas orang itu melihat Ah Gen kembali dengan seseorang, orang asing yang tinggi. Rambutnya melingkar bagaikan disanggul dan berantakan, pakaiannya robek dan koyak, tubuhnya penuh dengan luka, tanpa senjata di tangannya.

Tetapi terlepas dari hal itu, pada saat-saat seperti ini, seharusnya Ah Gen tak membawa orang asing ke tempat ini.

Karena meskipun orang asing yang tampak begitu lemah dan pingsan itu tak lebih dari seekor binatang yang telah ditangkap dan tak punya arah tujuan untuk pergi, binatang tetaplah binatang, penuh bahaya, dan hanya bisa membuat orang-orang lainnya terluka.

Meskipun ia tak membawa senjata, ia memiliki sikap yang mengesankan dan tampak lebih tajam dari pisau apapun.

Semua orang didalam ruangan mencengkeram pedang ditangan mereka, pedang yang telah disumpah oleh mereka agar tak pernah lepas sampai mati.

Setiap pedang telah dicabut sejak tadi.

Hanya Zhu Meng yang duduk disana tak bergerak. Dan tiba-tiba ia memberi perintah kepada bawahannya yang sulit untuk dipahami.

“Nyalakan lampu, lilin, dan api.” Perintahnya langsung dan sederhana, tetapi sangat aneh. “Nyalakan apapun yang bisa menyala”

Tak ada yang dapat mengerti apa yang dimaksud oleh Zhu Meng, tetapi Sima Chaoqun memahaminya.

Dia belum pernah melihat Zhu Meng sebelumnya.

Tetapi begitu dia masuk ke ruangan yang lusuh, gelap, dan sedikit lembab ini, ia melihat sosok Zhu Meng yang sedang duduk disamping tempat tidur seperti batu yang terkikis oleh angin, ia tahu bahwa ia telah menangkap sesosok orang yang ingin dicari olehnya.

Ruangan kecil itu awalnya hanya memiliki satu lampu redup kecil.

Cahaya lampu yang bersinar seharusnya membawa perasaan bahagia, namun dalam keadaan tragis seperti ini, hal tersebut menjadi tak berguna.

Namun pada saat ini Zhu Meng, dengan suaranya yang begitu dalam dan serak, memerintahkan, “Nyalakan semua lilin, lampu, dan obor. Biarkan aku melihat tamu terhormat itu.”

Cahaya lampu telah dinyalakan. Dan ketika Zhu Meng berbicara, perintahnya biasanya dipatuhi.

Lampu-lampu kecil, tujuh lilin, dan lima obor cukup untuk menerangi ruangan kecil  itu seperti terang disaat pagi hari, cukup untuk menerangi setiap wajah orang yang hadir. Setiap bekas luka dan keriput bisa dilihat dengan jelas.

Kesedihan dan duka, kebencian dan amarah, semuanya menimbulkan keriput, keriput yang lebih dalam daripada luka yang ditimbulkan oleh pedang yang tajam.

Zhu Meng perlahan-lahan berdiri dan berbalik, dan pada akhirnya berhadapan kearah Sima Chaoqun.

Kedua pria saling menatap secara tenang, menilai satu sama lain. Dan nampak suara yang tersisa dibawah langit hanyalah suara api yang berkedip-kedip.

Sepertinya satu-satunya orang yang tersisa dibawah langit hanyalah kedua orang ini.

Dua pria, tubuh mereka tertutup oleh bekas-bekas luka, hati mereka dipenuhi dengan kesedihan. Kedua orang yang sedang mengalami masa-masa yang sulit, benar-benar sepenuhnya terkalahkan. Hanya mereka berdua yang ada.

Ketika mereka berdua berdiri disana dan saling berhadapan, tampaknya seolah-olah orang-orang lain tak ada.

“Kau adalah Sima Chaoqun?”

“Apakah dia terlihat seperti diriku?”

“Kau tak terlihat seperti dia. Sima Chaoqun yang tak terkalahkan benar-benar tak terlihat seperti ini. Namun, aku tahu kau adalah Sima Chaoqun. Sudah pasti engkau.”

“Kenapa?”

“Karena selain Sima Chaoqun, tak ada orang lain lagi dibawah langit yang memiliki penampilan seperti ini. Dan sekarang kau terlihat seperti orang yang baru saja melihat delapan ribu delapan ratus delapan puluh delapan arwah gentayangan.”

Sima setuju. “Tak banyak orang selain aku yang dapat melihat delapan ribu delapan ratus delapan puluh delapan arwah gentayangan. Namun ada satu orang yang lagi yang pernah melihatnya.”

“Selain kau?” Tanya Zhu Meng. “Apakah itu adalah seseorang yang bermarga Zhu? Zhu Meng? “

“Sepertinya begitu.”

Zhu Meng tertawa terbahak-bahak.

Dia benar-benar tertawa, tertawa dengan cara biasanya ketika ia mendengar sesuatu hal seperti ini, tawa yang dapat didengar oleh siapa pun dalam jarak sepuluh mil.

Dia tertawa, namun wajahnya nampak tak ada kesan tertawa. Dan tampaknya orang-orang yang berdiri di sekelilingnya tak dapat mendengarnya tertawa.

Karena sebenarnya memang tak ada kesan tertawa.

Tak ada tawa, tak ada tangisan. Yang lain tak bisa tertawa atau menangis.

Namun mata mereka penuh dengan air mata yang panas.

Mereka bukanlah Zhu Meng, dan juga Sima Chaoqun, jadi mereka bisa saja meneteskan air mata.

Mereka bisa menumpahkan darah dan juga meneteskan air mata.

Namun satu-satunya hal yang tersisa dari mereka hanyalah air mata darah.

Zhu Meng melihat kearah orang-orang itu, orang-orang baik yang akan gugur sebelum meninggalkan dirinya, dan nampaknya mata Zhu Meng yang memerah seperti darah akan segera menumpahkan darah.

“Kali ini kita dikalahkan. Benar-benar dikalahkan.” Suaranya terdengar serak. “Tetapi kita tak menyerah kalah, dan tak menyerah hingga mati.”

“Aku tahu,” kata Sima Chaoqun sedih. “Aku tahu semua yang terjadi.”

“Tetapi ketika kami tiba, kau tak ada di Chang’an.”

“Benar. Aku tak ada disini.” Sima Chaoqun mendesah. “Aku tak menyadari bahwa kau akan tiba begitu cepat.”

“Jadi kau pergi sendirian ke Luoyang?”

“Aku ingin pergi sendiri untuk melihatmu, untuk menyelesaikan masalah di antara kita berdua. Menyelesaikan masalah, hanya kau dan aku.”

“Kau benar-benar ingin melakukan hal itu?”

“Ya, aku benar-benar ingin melakukannya.”

Zhu Meng tiba-tiba mendesah panjang. “Aku tak salah menilai dirimu. Aku tahu jika kau berada di Chang’an, mungkin kau setidaknya akan memberi kami kesempatan, berjuang hingga mati terhormat.” Suaranya penuh dengan kesedihan dan kemarahan. “Kita kemari untuk mati, tetapi bagi kita untuk mati sekeji ini, rencana-rencana licik, kita tak dapat menerima kematian dengan cara ini.”

“Aku mengerti.”

“Aku tak menyalahkanmu. Jika kau berada di Chang’an, penghinaan dan hal-hal yang memalukan seperti ini tak mungkin terjadi.”

“Kau salah,” kata Sima Chaoqun dengan sungguh-sungguh. “Terlepas dari apakah aku disini atau tidak, itu semua adalah tanggung jawabku.”

“Mengapa?”

“Karena pada saat itu aku adalah kepala utama dari Great Protection Agency, dan aku memegang tanggung jawab utama. Ketidak adilan memiliki sumber, utang memiliki debitur. utang ini harus dibayar olehku.”

“Kau datang hari ini untuk membayar utang?”

“Ya.”

“Bisakah kau membayar utang sepenuhnya?” Tanya Zhu Meng, nadanya keras. “Bagaimana bisa kau membayarnya?”

“Bahkan jika aku tak dapat membayar sepenuhnya, aku harus tetap mencoba,” kata Sima Chaoqun. “Bagaimana cara aku membayarnya? Bagaimanapun kau ingin aku membayarnya, aku akan melakukannya, jika tidak, tak ada gunanya aku datang sekarang.”

Zhu Meng menatapnya, dan ia menatap Zhu Meng. Hal yang aneh adalah, tak ada kebencian atau permusuhan dimata mereka. Sebaliknya, mereka dipenuhi dengan rasa hormat dan pujian.

“Kau bilang ‘pada saat itu kau’ adalah kepala utama dari Great Protection Agency,” kata Zhu Meng tiba-tiba. “Bagaimana dengan sekarang?”

“Tak peduli sekarang aku berada diposisi apa, aku masih menanggung tanggung jawab penuh.”

“Mengapa?”

“Karena kau masih tetap adalah Zhu Meng, dan aku adalah Sima Chaoqun.”

Orang-orang lain dapat melihat bahwa didalam mata kedua orang yang terkalahkan ini memancarkan sebuah ‘unencroachable dignity’ (Martabat yang tak dapat diganggu gugat). “Hari ini, aku harus membayar hutang, karena kau adalah Zhu Meng dan aku adalah Sima Chaoqun. Tak peduli apapun keadaannya, hal ini tak akan bisa berubah. Meskipun kepalaku dipenggal dan darahku tumpah, bahkan jika keluargaku hancur dan orang-orangku mati. Hal ini tak akan bisa berubah.”

-Benar-benar harus seperti cara ini.

-Kepala dapat putus, dan darah dapat tumpah, namun semangat tak akan pernah menyerah, dan tak akan pernah bisa dihancurkan.

Ini adalah semangat loyalitas pribadi dari orang-orang Jianghu, keberanian dan kejujuran dari Jianghu.

Zhu Meng menatap kearah Sima Chaoqun, matanya juga berisi dengan ‘uencroachable dignity’.

“Kau adalah musuh bebuyutanku. Kebencian diantara kita sungguh mendalam; siapa yang tahu berapa banyak orang yang telah meninggal karena hal itu? Bagaimana bisa kita hidup berdampingan dengan arwah-arwah gentayangan yang terdorong mati karena hal itu? “

“Aku mengerti.”

“Aku, Zhu Meng, telah menjelajahi Jianghu dalam seluruh hidupku. Aku membunuh dengan gelombang pedangku, dan bersenang-senang dalam menuntut pembalasan. Aku tak pernah mendapat pemberitahuan dari siapa pun. terkecuali dirimu, Sima Chaoqun.” Suaranya bergetar dengan gejolak. “Hari ini, terimalah penghormatan dariku.”

Lalu ia benar-benar memberi hormat, Orang ini yang belum pernah bersujud kepada siapapun. Dia tiba-tiba berlutut ketanah dan bersujud kepada Sima Chaoqun.

Sima Chaoqun juga berlutut ketanah dan bersujud kepada Zhu Meng.

“Saya memberi hormat kepadamu, pahlawan sejati, seorang pria sejati,” kata Zhu Meng dengan serak. “Tetapi setelah ini, kau dan aku harus dipisahkan oleh kematian.” Satu kata pada suatu waktu, ia berkata, “Karena aku masih harus membunuhmu. Aku tak punya pilihan lain.”

Sima Chaoqun dengan sungguh-sungguh menjawab: “Ya. Kehidupan seperti ini yang dialami oleh orang-orang di Jianghu. Kami tak punya pilihan lain.”

“Bagus jika kau mengerti.” Suara Zhu Meng bertambah serak. “Bagus jikalau kau mengerti.”

Dia berdiri, dan sekali lagi menoleh ke para bawahannya.

“Orang ini adalah Sima Chaoqun, orang yang telah menghancurkan Lion Clan.” Suara Zhu Meng begitu dalam dan berbicara sangat lambat. “Karena keinginannya untuk mencapai kekuasaan tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya, siapa yang tahu berapa banyak saudara kita yang meninggal tragis dijalan, tulang-tulang mereka tak dikubur dengan layak? Siapa yang tahu berapa banyak dari saudara kita menjadi janda, dan dipaksa melacur hanya untuk makan? “

Semua orang mendengarkan dengan tenang, tetesan air mata mereka melesat dengan garis darah, pembuluh darah didahi mereka menonjol keluar.

“Setiap dari kita telah bersumpah dalam hati kita untuk tak akan pernah kembali ke rumah kami terkecuali bagi mereka yang masih hidup. Bahkan meskipun kita semua mati, kita akan menjadi arwah penasaran yang akan menghantui jiwa orang-orang yang telah membunuh kita.”

Dia menunjuk kearah Sima Chaoqun. “Sekarang dia ada di sini. Kalian semua mendengar dengan jelas apa yang barusan telah ia katakan. Dia datang kemari untuk membayar utangnya. Sebuah utang darah yang harus dibayar dengan darah.”

Matanya yang seperti pisau melihat tiap-tiap para bawahannya. “Dia sendirian, seperti kita, kesepian dan terisolasi, dengan tak adanya orang yang dikasihi. Namun kita semua masih memiliki diri kita masing-masing, saudara-saudaraku, dan kita harus membalas dendam. Sekarang adalah kesempatan terbaik. Dia tak bisa menghadapi kita semua dengan dirinya sendiri.” Suaranya tumbuh dalam intensitas. “kalian semua memiliki pedang ditangan. Kalian dapat menariknya dan memenggal kepalanya di sini.”

Tak ada yang menarik pedang mereka.

Mereka berdiri dan mendengarkan dengan tenang, tak bersedia untuk melihat Sima Chaoqun.

“Mengapa kau tak melakukan sesuatu?” Teriak Zhu Meng. “Apakah tanganmu melemah? Apakah kau lupa bagaimana cara untuk membunuh? “

Ah Gen tiba-tiba melangkah maju, dan kemudian bersujud dihadapan Sima Chaoqun dan Zhu Meng.

“Bos, aku mengerti kau datang kemari bersama denganku karena kau telah bersiap-siap untuk mati,” katanya. “Kau telah menjalani kehidupan yang layak, dan kau bisa meninggal tanpa penyesalan. Setelah kau meninggal, aku akan mengatur semua urusan anda, dan kemudian aku akan segera bergabung denganmu.”

Sima Chaoqun tertawa terbahak-bahak. “Bagus. Kau adalah saudara yang baik.” Dia tertawa. “Bagus sekali. Sebuah kehidupan yang layak. Mati tanpa penyesalan.”

Tiba-tiba, muncul suara pisau yang berdentangan jatuh kelantai dari tangan seseorang.

Zhu Meng menatap orang itu, dan bertanya dengan kasar, “Man Niu, kau selalu menjadi orang yang baik, tak pernah takut untuk membunuh. Kenapa kau tak tahan memegang pedangmu?”

Man Niu menunduk, wajahnya ditutupi dengan air mata darah.

“Clan Leader, Anda tahu bahwa aku selalu bermimpi untuk memenggal kepalanya. Namun sekarang…”

“Namun sekarang apa?” Suara Zhu Meng bahkan lebih nyaring. “Jangan bilang kau tak ingin membunuhnya sekarang?”

“Aku bisa, tetapi jika anda memintaku untuk membunuhnya dengan cara seperti ini, tak ada cara yang dapat saya lakukan untuk membunuhnya.”

“Mengapa?”

“Aku tidak tahu kenapa.” Man Niu berlutut, dan menampar dirinya sendiri diwajah dengan pedangnya. “Aku harus mati. Aku pengecut yang layak untuk mati. Saya tahu dalam hatiku, tetapi jika ketua clan meminta saya untuk mengatakannya, aku tak bisa. “

“Kau pengecut, Jadi kau tak dapat mengatakannya, tetapi aku dapat mengatakannya,” kata Zhu Meng. “Kau tidak bisa melakukannya karena tiba-tiba kau sadar bahwa orang yang ingin kita bunuh sejak lama adalah seorang pria sejati. Dia cukup berani datang sendiri untuk menemui kami, dan oleh karena itu kita harus memperlakukannya seperti seorang pria sejati. Jika kita membunuhnya seperti ini, meskipun hanya ingin membalas dendam, maka kita tak akan pernah punya muka untuk berdiri didepan para pahlawan lain di dunia.” Dia bertanya kepada Man Niu, “Apakah itu yang kau pikirkan dalam hatimu?”

Man Niu menggedor dahinya ketanah, wajahnya tertutup oleh air mata darah.

Tatapan Zhu Meng bagaikan pisau itu melihat kearah anak buahnya yang lain. “Dan kalian semua?” Ia bertanya kepada mereka, kelompok orang-orang yang mengikuti dia melalui pertempuran yang tak terhitung jumlahnya, yang lolos dari kematian bersama dengannya, dan tak memiliki apapun terkecuali kehidupan mereka. “Bagaimana perasaan yang ada dalam hatimu?”

Tak ada yang menjawabnya.

Namun tangan-tangan yang mencengkeram pedang itu terluka.

Meskipun mereka sudah kehilangan segalanya, mereka tak kehilangan semangat kejujuran, kesetiaan dan keberanian.

Zhu Meng memandang mereka satu per satu dan matanya yang kelelahan dan tak berekspresi itu sekali lagi menyala. Dia mengangkat kepalanya dan berkata, “Bagus. Mereka benar-benar seorang saudara sejati. Mereka benar-benar saudara Zhu Meng. Memiliki saudara seperti ini, saya bisa mati tanpa perasaan pahit.” Dia berbalik kearah Sima Chaoqun. “Apakah kamu melihatnya? Apakah kau melihat jenis persaudaraan yang dimiliki Zhu Meng? Apakah salah satu dari mereka adalah pengecut? “

Mata Sima Chaoqun memerah, telah lama memerah.

Tetapi dia tak meneteskan air mata.

Dia berdiri disana dengan tegap bagaikan tombak. Setelah beberapa lama, dia berkata, satu kata pada satu waktu, “Zhu Meng, aku tak pantas dibandingkan denganmu. Aku bahkan tak cukup baik untuk menendangmu keluar. Karena,” katanya, “Aku tak punya saudara seperti ini.”

Kata-kata itu tak diucapkan oleh orang-orang lain, itu diucapkan sendiri oleh Sima Chaoqun.

Pahlawan tak tertandingi Sima Chaoqun.

Mata Zhu Meng tidak terlihat puas, melainkan penuh dengan kesedihan, seakan-akan bertanya kepada dirinya sendiri: -Mengapa kita menjadi musuh, bukan teman?

Dia tak mengatakan hal itu meskipun ia ingin mengatakannya. Sebaliknya, ia berkata, “Tak peduli apapun, jika kau memperlakukan kami dengan baik, kita tidak akan memperlakukanmu dengan buruk. Namun ada satu hal yang tak dapat berubah.” Ia mengepalkan tangannya. “Aku masihlah Zhu Meng, dan kau masihlah Sima Chaoqun. Oleh karena itu, aku harus tetap membunuhmu.”

Ini merupakan suatu jenis kehormatan, seperti cinta abadi yang tak akan pernah berubah. laut bisa saja kering, batu dapat pergi kemana saja, namun kehormatan jenis seperti ini akan tetap ada untuk selamanya.

Karena jenis kehormatan seperti ini, Orang-orang di Jianghu yang tak memiliki apa-apa, bahkan yang tak memiliki garis keturunan ataupun sejarah, masih bisa hidup selamanya didalam hati orang-orang yang menghargai keberanian dan kejujuran.

“Seperti yang kau katakan,” lanjut Zhu Meng, “ini adalah masalah kami berdua. Kami harus menyelesaikannya sendiri. apakah sudah saatnya?”

“Ya.”

Zhu Meng menatapnya dalam waktu yang lama, dan tiba-tiba berkata, “Berikan pahlawan besar Sima pedang.”

Man Niu segera memegang pedangnya dan membawanya dengan kedua tangan. Itu adalah pedang baja, ditempa oleh seratus pukulan palu, bagian tepinya telah terpotong-potong dibeberapa tempat.

“Ini bukanlah pedang yang bagus,” kata Zhu Meng, “namun ditangan Sima Chaoqun, apapun pedangnya dapat ia gunakan untuk membunuh.”

“Ya.” Sima Chaoqun dengan lembut membelai titik-titik lemah pada pisau. “Pedang ini dibuat untuk membunuh.”

“Oleh karena itu, kau harus berjanji sesuatu padaku.”

“Janji apa?”

“Jika kau memiliki kesempatan untuk membunuhku, dalam keadaan apapun kau tidak boleh menunjukkan belas kasihan.” Suara Zhu Meng terdengar sedih. “Jika tidak, aku yang akan membunuhmu, dan mungkin aku akan menyesal sampai seumur hidupku. Apa kau ingin aku untuk terus menyesal seumur hidup?”

Tanggapan Sima Chaoqun terdengar begitu mudah untuk dipahami. “Jika aku dapat membunuhmu dalam satu gerakan, maka kau tidak akan melihat gerakan yang kedua.”

“Bagus,” kata Zhu Meng. “Sangat bagus sekali.”

Pisau Zhu Meng bersinar saat ia menghunusnya.

Semua orang diruangan itu melangkah mundur. Mereka semua adalah saudara-saudara Zhu Meng, baik yang kurus maupun yang gemuk.

Mereka semua mundur.

Sejak zaman kuno, orang tidak mampu untuk menghindari kematian. Apa yang luar biasa tentang kematian?

Namun martabat dan loyalitas seorang pria sejati adalah sesuatu yang tak mampu untuk dinodai.

Memegang pedangnya secara horizontal, Zhu Meng bertanya, “Jika aku mati di bawah pedangmu, saudara-saudaraku tak akan mencarimu. Zhu Meng bisa mati dibawah pedang Sima Chaoqun tanpa penyesalan.”

Namun, ia tak dapat menahan untuk menoleh ke belakang dan melihat kearah Die Wu. Ini bisa menjadi yang terakhir kali ia melihatnya.

-Aku rela mati di bawah pedangmu. Aku hanya berharap bahwa kau dapat merawatnya kelak untukku.

Dia tak mengatakan kata-kata tersebut. Sebaliknya, ia berkata, “Jika kau mati dibawah pedangku, Aku sudah pasti akan mengurus istri dan anak-anakmu nanti.”

“Istri dan anak-anak?” Sima Chaoqun tersenyum sedih. “Aku kuatir jika istri dan anak-anak menungguku mati dibawah pedangmu sehingga aku dapat mengurus mereka.”

Hati Zhu Meng menjadi sedih.

Pada saat ini ia menyadari bahwa mungkin kesedihan dan penderitaan Sima jauh lebih berat dan lebih dalam daripada dirinya sendiri.

Tetapi dia telah menghunus pedangnya. Dan ia juga telah menetapkan arah pedangnya.

Tujuan hatinya telah ditetapkan.

Hidup dan mati akan diputuskan dalam sesaat. Sayangnya, tak ada seorangpun didunia yang dapat mencegah pertempuran ini sampai mati.

Namun disaat yang tepat ini, pada saat-saat sekilas ini—

“Zhu Meng.”

Tiba-tiba ia mendengar seseorang memanggil. Suara itu tampaknya datang dari jauh, sangat jauh.

Namun orang yang memanggil Zhu Meng itu berada dipihaknya, seorang wanita yang dapat meminta Zhu Meng mati untuk dirinya setiap saat, dan Zhu Meng bersedia untuk melakukan hal itu.

Seseorang yang tak dapat dilupakan bahkan dalam mimpi.

Seseorang yang telah meninggal telah pergi jauh, namun perasaan emosi masih tetap ada

Menarilah untuk raja, berubah menjadi kupu-kupu.

Zhu Meng tak melihat kebelakang.

Pedangnya berada ditangan. Musuh bebuyutannya berdiri tepat didepan ujung pedangnya. Para saudaranya sedang melihatnya. Dia tak dapat menghentikannya. Dan ia wajib untuk tidak melakukan hal tersebut.

“Zhu Meng,” suara itu memanggil lagi. “Zhu Meng.”

Seperti panggilan yang sangat jauh, namun terdengar begitu dekat.

Panggilan begitu dekat, namun sangat sejauh, sejauh rumah dari dalam mimpi seorang pengembara.

Rumah pengembara hanya dapat ditemukan ditengah-tengah dalam penderitaan yang sangat dalam.

Zhu Meng melihat kebelakang.

Suara deringan yang lain terdengar. Zhu Meng menoleh kearah belakang, dan waktu ia melakukannya, pedangnya terjatuh. Die Wu menatap kearahnya.

Die Wu melihatnya sendiri, dan Zhu Meng menatapnya.

Dalam momen yang hanya sekejap ini, Tak ada satupun orang yang ada. Tak ada yang lain.

Semua dendam, kebencian, amarah, dan kesedihan telah berubah menjadi seekor kupu-kupu.

Dan kupu-kupu itu terbang menjauh.

Translator / Creator: fatality