January 12, 2017

Heroes Shed No Tears – Chapter 16: It’s lonely at the top (Part 3)

 

Dari jarak yang sangat jauh, terdengar suara drum dari seseorang penjaga malam. Jam ketiga telah berlalu.

Ketukan drum itu terdengar membosankan, redup dan datar. Setelah jam ketiga tiba, maka tak akan ada seorangpun yang tertinggal pada jam kedua.

Sima Chaoqun dapat teringat dengan jelas dengan hanya mendengarkan suara ketukan dari drum itu, dan ia ingat bahwa pada saat itu adalah jam kedua.

Dia telah mendengarnya dengan cukup jelas.

Pada saat itu ia sudah agak mabuk. Walaupun hanya meminum 7 atau 8 botol, ia hanya mabuk. Namun pikirannya masih sangat jernih.

Dia ingat dengan jelas bahwa ia telah berada didalam toko anggur kecil, dan minum-minum ditempat itu. Selain dirinya, terdapat meja pelanggan yang besar. Meja itu berisi para pemuda berusia 18 atau 19 tahun, memeluk empat dari 5 wanita yang setidaknya berumur dua kali dari usia mereka. Mereka sedang menembak melalui mulut mereka (membual).

Mereka memuji Sima Chaoqun, mengatakan ia adalah pahlawan terbesar didunia, seseorang yang langka dibumi, dan bagaimana cara mereka berteman dengan dia.

Mereka membual bahagia, dan para pendengar itu memperhatikannya dengan senang hati.

Hanya ada satu orang yang tidak senang, dan orang itu adalah Sima Chaoqun.

Ia minum tanpa memperhatikan hidupnya.

Ia mengingat dengan jelas pada saat mereka menembak melalui mulut mereka dengan bahagia, ia tiba-tiba berdiri dan memukul meja. “Siapa Sima Chaoqun? Dia bukanlah apa-apa! Dia bahkan bukanlah manusia. Tak berharga sepeser koin tembaga dan kentut sekalipun! “

Semakin ia mengutuk, semakin senang perasaannya. Tetapi orang-orang yang mendengarkan itu tidaklah senang. Salah satu dari mereka tiba-tiba menggulingkan meja, dan mereka menyerbu Sima Chaoqun, sepuluh orang total. Dia membelah salah satu hidung dari mereka menjadi dua.

Kejadian tersebut, Sima Chaoqun mengingatnya dengan sangat jelas, bahkan ingatannya jauh lebih baik daripada anak-anak muda Thousand Character Classic yang bersekolah.

Dia bahkan ingat ada salah satu dari wanita itu, wajahnya dicat dengan pemerah muka begitu parah sehingga dia nampak seperti hewan liar, wanita itu mengambil penyumbat kayu dari kakinya dan memukul Sima tepat dikepalanya dengan benda itu.

Setelah kejadian itu, ia tak dapat ingat apa-apa.

Pada saat itu, ia mendengar jam kedua telah dibunyikan, dan sekarang adalah jam ketiga.

Sebelumnya, dia duduk-duduk ditoko anggur kecil, minum-minum. Sekarang ia terbaring didalam lorong kegelapan, tanpa adanya pohon-pohon, angin, dan bulan. Kepalanya tampak delapan kali lebih berat daripada biasanya, dan tenggorokannya seperti cerobong asap dapur. Seluruh tubuhnya menderita rasa nyeri, ia seperti sepasang celana tua yang telah digosok berulang-ulang pada papan cuci.

-Apakah benar penyumbat kayu milik wanita gemuk berwajah merah itu telah memukul kepalanya?

-Bagaimana bisa ia tiba ditempat ini?

-Apakah yang terjadi dalam beberapa jam terakhir?

Sima Chaoqun tak dapat mengingat.

Beberapa jam terakhir itu seperti hampa, bagaikan halaman yang telah dirobek dalam sebuah buku.

Translator / Creator: fatality