January 11, 2017

Heroes Shed No Tears – Chapter 16: It’s lonely at the top (Part 1)

 

Hari kedua puluh lima pada bulan kedua, sekitar jam ketiga.

Chang’an.

Di suatu tempat dari kejauhan, terdengar seseorang memukul drum pada jam ketiga.

Setiap malam berisi jam ketiga, dan itu selalu tampak membawa semacam keindahan perasaan yang sepi dan misterius.

Jam ketiga pada setiap malam merupakan waktu yang paling memungkinkan untuk membangkitkan perasaan emosi orang-orang.

Zhuo Donglai duduk tertutup oleh mantel marten-nya, menuangkan secangkir anggur berbarengan dengan drum jam ketiga. Selama jam-jam yang mencampur adukkan jiwa ini, seharusnya ia menjadi orang yang paling bahagia di Chang’an.

Semua musuhnya telah dikalahkan, dan ia juga telah berhasil menyelesaikan segala hal yang dibutuhkannya. Setelah semua ini, siapa yang dapat menantangnya?

Namun, dapatkah seseorang berkata bahwa, jauh di dalam hatinya, apakah ia benar-benar bahagia seperti yang dibayangkan?

Zhuo Donglai bertanya kepada dirinya sendiri dengan pertanyaan yang sama.

-jika ia tak berencana untuk membunuh Sima, mengapa ia mengalahkannya? Mengapa ia mengalahkan pahlawan idola yang dibuat oleh dirinya sendiri? tidakkah ia akan berakhir kecewa seperti pahlawan-pahlawan lain yang ada didunia?

Dia tak tahu jawaban untuk pertanyaan ini.

-jika ia tak berencana untuk membunuh Sima, mengapa tak menyerah saja kepadanya? Mengapa tak hanya menyetujui secara diam-diam?

Zhuo Donglai tak tahu.

Dia hanya tahu bahwa ia tak dapat menyerang dengan ujung pisau. Ia tak akan pernah membiarkan Sima Chaoqun mati ditangannya. Sama seperti dirinya yang tak akan pernah bisa untuk membunuh dirinya sendiri.

Dalam beberapa aspek, ia adalah bagian dari Sima Chaoqun, dan bagian dari dirinya telah digantikan oleh Sima.

Namun ia benar-benar percaya bahwa tanpa Sima Chaoqun sekalipun, dia akan terus hidup, dan Great Protection Agency akan terus ada.

Pada saat ia menghabiskan cangkir keempat, semangatnya telah bangkit, dan ia sedang mempersiapkan untuk meminum satu minuman lagi sebelum berbaring tidur.

Ketika ia mengulurkan tangannya untuk menuangkan anggur, hatinya tiba-tiba kaget dan pupil matanya mengerut.

Tiba-tiba ia menyadari bahwa kotak yang berada dibawah lampu itu telah menghilang.

Disana terdapat para penjaga yang mengelilingi  daerah dari pagi hingga malam hari. Tak ada yang bisa dengan mudah menyelinap kedalam ruangan ini, dan tak ada seorangpun yang mengetahui bahwa kotak biasa dan kuno itu adalah senjata yang misterius dan menakutkan.

Siapa yang berniat meresikokan kehidupannya untuk datang kemari dan mengambilnya?

Terdapat suara pecahan kristal yang hancur ditangan Zhuo Donglai. Tiba-tiba ia menyadari bahwa kelihatannya ia membuat sebuah kesalahan. Dan tiba-tiba ia teringat kembali ekspresi wajah Zhuo Qing sebelum ia meninggal.

Dan kemudian dia mendengar seseorang mengetuk pintu.

“Masuk.”

Seorang pemuda tegap membuka pintu dan masuk; bertubuh tinggi dan berbahu lebar, dengan tangan yang besar, pakaiannya rapi dan baik, meskipun biasa, ekspresinya serius dan tulus.

Great Protection Agency sangat besar dan terorganisir dengan ketat. Setiap pekerjaan dan tindakan, diawasi oleh seseorang. Namun tak banyak yang menerima perintah langsung dari Zhuo Donglai, sehingga di antara jajaran yang lebih rendah, hanya sedikit diantara mereka yang memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya secara langsung.

Zhuo Donglai belum pernah melihat pemuda ini sebelumnya, namun ia bisa menebak siapa dia.

“Zheng Cheng.” Zhuo Donglai menatapnya dengan tenang. “Aku paham bahwa kau telah melakukan banyak jasa untuk Zhuo Qing baru-baru ini. Namun kau harus mengerti bahwa tempat ini bukanlah tempat bagi siapapun yang dengan santai bisa masuk.”

“Hamba mengerti.” Zheng Cheng menjawab dengan hormat dan tulus. “Tetapi hamba harus datang kemari.”

“Kenapa?”

“Pada bulan yang lalu, Zhuo Qing mengangkat hamba sebagai salah satu bawahan langsungnya dan mulai memberi tugas. Ketika ia meminta hamba untuk melakukan sesuatu, hamba tak dapat menolaknya.”

“Apakah Zhuo Qing yang mengutusmu untuk datang kemari?”

“Ya,” kata Zheng Cheng. “Berbicara untuknya.”

“Berbicara untuknya?” Kata Zhuo Donglai dengan kasar. “Mengapa ia membutuhkanmu untuk berbicara untuknya?”

“Karena dia telah mati.”

“Jika dia belum mati, maka kau tak akan datang?”

“Benar,” kata Zheng Cheng dengan tenang. “Jika dia masih hidup, hamba tak akan mengungkapkan apa yang telah dia katakan bahkan jika aku dilemparkan ke dalam tong minyak yang mendidih.”

“Kau harus menunggunya sampai meninggal setelah itu kau datang?”

“Benar. Perintahnya adalah jika dia meninggal, hamba harus datang untuk melihat Mr. Zhuo dalam waktu dua jam, dan mengirimkan pesannya tanpa kelalaian.”

Zhuo Donglai menatapnya dengan dingin. Dia tiba-tiba menyadari bahwa sikap dan cara berbicara Zheng Cheng sama seperti Zhuo Qing.

“Dia telah mati,” kata Zheng Cheng, “jadi hamba datang kemari. Hamba tak berani untuk menolaknya.”

Fragmen-fragmen yang hancur dari wadah minuman yang terbuat dari kristal berkilauan di bawah cahaya lampu. Setiap bagian-bagiannya tampak bersinar seperti mata Zhuo Qing ketika kematian mendekatinya.

Zhuo Donglai memikirkan sikapnya sebelum ia meninggal, dan setelah beberapa lama ia bertanya kepada Zheng Cheng, “Kapan dia memberikan perintah itu?”

“Malam ini.”

“Malam ini?” Pupil mata Zhuo Donglai mengerut. “Tentu saja itu malam ini.”

Pada saat itu, ia dan Sima Chaoqun sudah tiba dirumah seperti pemakaman.

Pada saat itu, Zhuo Qing dapat membersihkan diri dan berganti pakaian.

Tetapi, dia tak melakukan hal-hal itu dengan cara yang biasa ia lakukan. Apa yang ia lakukan, hanya akan diungkapkan kepada Zhuo Donglai setelah kematiannya.

Zhuo Donglai menatap Zheng Cheng.

“Pada saat itu ia tahu ia akan mati?”

“Kemungkinan besar seperti itu. Dia mengatakan kepada hamba bahwa kemungkinan besar ia tak akan hidup melewati matahari terbit besok. “

“Dia memiliki kehidupan yang baik, bagaimana bisa ia mati?”

“Dia tahu bahwa seseorang berencana untuk membunuhnya.”

“Siapa orang itu?”

“Anda.” Zheng Cheng menatap langsung Zhuo Donglai. “Dia bilang orang itu adalah anda.”

“Mengapa aku ingin dia mati?”

“Karena dia telah melakukan terlalu banyak hal untuk anda, dan mengetahui terlalu banyak. Anda tak akan meninggalkan dia untuk Sima Chaoqun.”

“Dia bisa melihat bahwa anda dan Sima Chaoqun telah mencapai titik puncaknya, dan terlepas dari apakah itu karena Sima atau diri anda sendiri, anda akan mengirimnya kepada kematiannya.”

“Dia telah memperhitungkan segalanya dengan baik. Kenapa dia tak melarikan diri saja? “

“Karena dia tidak punya waktu. Dia tak pernah membayangkan hal-hal yang akan terjadi begitu cepat, dan itu terlalu terlambat untuk membuat rencana lain. Sebelum Anda dan Sima bertarung, Anda akan memanggilnya. Jika Anda mengerti bahwa ia telah melarikan diri, Anda akan meninggalkan segalanya dan mengejar dirinya. Pada tingkat kekuatan yang sekarang, dia tak dapat lari dari kendali anda. “

“Ketika saatnya tiba, hal terburuk yang bisa terjadi adalah dia akan mati. Mengapa ia tak mencoba untuk melawan saja?”

“Karena ketika waktunya tiba, kesedihan Sima kemungkinan besar akan mereda, dan tekadnya akan menjadi bimbang. Akan lebih sulit untuk menghindari kematian jika anda dan Sima bersatu kembali. Anda tahu orang macam apa dia. Dia tak akan membiarkan hal itu terjadi.”

Zhuo Donglai mengepalkan tangannya. “Jadi dia lebih baik mati daripada membiarkan Sima dan aku bersatu kembali?”

“Benar,” kata Zheng Cheng. “Jika kalian berdua bersatu, anda akan berhasil. Jika anda terpisah, Anda akan kalah. Dia harus membalas dendam untuk dirinya sendiri, dan ini adalah satu-satunya kesempatannya. “

Zhuo Donglai tertawa dingin. “Dia telah mati, namun ia masih bisa membalas dendam untuk dirinya sendiri?”

“Benar. Dia mengatakan kepada hamba untuk memberitahu anda bahwa anda telah membunuhnya, dan ia akan membuat anda menyesal. Sebelum meninggal, ia telah menggali kuburan untuk anda. Cepat atau lambat akan tiba bagi saatnya bagi anda untuk berbaring ditempat itu. Dan dia mengatakan kepada hamba untuk memberitahu Anda bahwa hari-hari itu akan segera tiba.”

Zhuo Donglai menatapnya. Satu kata pada satu waktu dia berkata, “Tetapi aku masih belum mati. Aku dapat saja membunuhmu disaat yang tepat hanya dengan mengangkat tangan. Dan aku dapat membuatmu mati tanpa pemakaman yang layak. “

“Aku tahu.”

“Lalu bagaimana bisa kau berani untuk berdiri didepanku dan berbicara begitu kasar?”

“Karena itu bukanlah kata-kata dari hamba sendiri, itu adalah kata-kata dari Zhuo Qing.” Ekspresi wajah Zheng Cheng tak berubah. “Dia mengutus hamba untuk memberitahu anda apa yang perlu disampaikan kata demi kata. Jika hamba melewatkan sesuatu, itu sama halnya mengkhianati anda dan juga tak setia kepadanya.” Sikapnya sangat khusyuk dan tulus. “Hamba tak memiliki kualifikasi untuk menjadi orang yang tak taat dan tak setia.”

“Tak memenuhi kualifikasi?” Zhuo Donglai tak dapat menahan diri untuk bertanya. “Kualifikasi seperti apakah tak taat dan tak setia itu?”

“Untuk menjadi orang yang tak taat dan tak setia secara blak-blakan, orang-orang harus membenci diri anda, namun juga memperlakukan anda dengan sangat hormat. Jika anda ingin menjadi orang seperti itu tanpa kualifikasi tersebut, maka anda pasti layak mati tanpa penguburan yang layak.”

Zhuo Donglai menatapnya dalam waktu yang sangat lama. Dan satu kata pada satu waktu bertanya, “Apakah saya memenuhi syarat untuk menjadi orang semacam itu?”

Tanpa ragu-ragu, Zheng Cheng menjawab, “Ya.”

Zhuo Donglai tiba-tiba tertawa.

Seharusnya dia tak tertawa. Apa yang Zheng Cheng katakan tidaklah lucu, tak ada satupun kata-kata dari itu. Siapapun yang mendengar apa yang dia katakan akan setuju bahwa hal itu tidak lucu sama sekali.

Namun ia tertawa.

“Bagus. Bagus sekali.” Zhuo Donglai tersenyum. “Jika seseorang memenuhi kualifikasi untuk menjadi orang yang tak taat dan tak setia, hal apa yang perlu dikuatirkan?”

“Kemungkinan besar tak ada yang perlu dikuatirkan,” kata Zheng Cheng dengan tulus. “Jika hamba dapat mencapai tingkatan seperti itu dalam kehidupanku, hamba tak akan khawatir tentang hal apapun.”

“Dan bekerja keras,” kata Zhuo Donglai. “Aku sangat berharap kau mencapai tujuanmu.” Dia tertawa. “Zhuo Qing seharusnya telah memperhitungkan sebelumnya bahwa aku tak akan membunuhmu, karena pada saat ini, aku membutuhkan orang-orang sepertimu.”

Zheng Cheng menatapnya, tatapannya penuh dengan rasa hormat, menatap dengan cara yang sama seperti ia menatap Zhuo Qing dimasa lalu.

“Disana ada seseorang,” kata Zheng Cheng. “Seseorang yang mungkin sangat lebih berguna daripada hamba.”

“Siapa?”

“Gao Jianfei. Dia telah menunggu anda. hamba sudah memintanya untuk pergi, namun ia tetap menunggu disana. Tak peduli berapa lama aku katakana kepadanya untuk menunggu, ia tetap tak akan pergi. Dia bilang bahwa ia tak memiliki tempat lagi untuk dituju.”

“Kalau begitu biarkan saja dia menunggu,” kata Zhuo Donglai dengan dingin. “Meskipun, dipaksa menunggu tidaklah mudah. Perlakukan dia dengan baik. Apapun yang dia inginkan, berikan.”

“Baiklah.”

Zheng Cheng melangkah mundur perlahan-lahan. Tampaknya dia sedang menunggu pertanyaan lebih lanjut dari Zhuo Donglai.

Namun Zhuo Donglai tak mempunyai pertanyaan. Bahkan, ia telah menutup matanya, dan tampaknya telah tertidur.

Dalam cahaya lampu, wajahnya tampak sangat lelah. Pucat putih, lemah, dan lelah.

Namun, sebagaimana Zheng Cheng menatapnya, tatapannya penuh dengan penghormatan, respek dan rasa takut yang tumpah keluar dari dalam dasar hatinya.

Itu karena dia berbeda daripada orang lain. sudut pandang dan reaksinya terhadap berbagai hal berbeda.

Zheng Cheng pergi, menutup pintu di belakangnya. Dan ketika angin dingin menghantam dirinya, ia menyadari bahwa selangkangan celananya itu benar-benar basah kuyup.

Translator / Creator: fatality