December 22, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 15: Summit (Part 9)

 

Pedang-pedang berkilauan, menimpa bagaikan kilat.

Zhuo Donglai tak ragu-ragu, dan tak bergeming. Aura pedang bagaikan petir tak memikat dirinya.

Dia telah berada diujung pedang bersinar yang berkelap-kelip.

Ujung pedang: jantung pedang.

Kekuatan dan variasi dari serangan pedang ini mengikuti ujungnya, dan variasi serangan tersebut adalah kekuatan hidup pedang.

Ia memukul kearah kekuatan hidup pedang dengan pisaunya.

Aura pedang langit yang berkilauan itu tiba-tiba menghilang. Pisau Zhuo Donglai mendarat tepat pada tenggorokan Sima Chaoqun.

Sima tak memiliki energi yang tersisa untuk menghindari atau melakukan serangan balik. Pisau, yang dapat memotong besi bagaikan lumpur, dan juga dapat memotong kepalanya dalam sekejap.

Dia menunggu pisau itu untuk menyerang, matanya terbuka.

Matanya benar-benar bebas dari kesedihan, kebencian, ataupun ketakutan.

Dalam sekejap, ia telah menjadi jauh lebih tenang daripada sebelumnya. Jika serangan itu berhasil, dan Zhuo Donglai sudah mati, mungkin dia tidak akan setenang ini.

Zhuo Donglai menatapnya dengan dingin, matanya benar-benar tanpa emosi.

“Kau telah membuat kesalahan,” katanya. “Dan juga, kau kalah.”

“Ya. Aku telah kalah.”

“Kau selalu ingin mengetahui diantara kita siapa yang akan menang ketika bertarung, Benar bukan?”

“Ya.”

“Tidak. Aku tak pernah ingin tahu. “

Tanpa diduga, Perusak suasana hati yang tak tergambarkan mengisi suaranya. Namun, hal ini tak menghentikan pisau ditangannya dari memotong leher Sima Chaoqun.

Pisau itu berkilauan, namun tak ada darah yang berceceran.

Ia terpental karena terpukul gagang belakang pada pisau itu. Dengan demikian, ia pergi meninggalkan, tak melihat kearah belakang, bahkan ia tak melirik Sima sedikitpun.

“Mengapa kau tidak membunuhku?” teriak Sima dengan suara serak.

Zhuo Donglai tak menoleh. Dia hanya berkata, “Bagiku kau sudah mati.”

**

 

Translator / Creator: fatality