December 19, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 15: Summit (Part 6)

 

Ada beberapa jenis orang spesial didunia yang mana ketika kau mencari mereka, kau tak akan menemukannya, tetapi ketika kau membutuhkannya, mereka akan mendekatimu, dan tak akan membuat kecewa.

Zhuo Qing adalah tipe orang semacam ini.

“Zhuo Qing, silahkan masuk.”

Tampaknya Zhuo Donglai tahu bahwa Zhuo Qing berada didekatnya, dan panggilan lembut itu akan membuatnya muncul.

Zhuo Qing tak mengecewakannya. Ia tak pernah membuat siapapun kecewa.

Pada waktu ia masih sangat muda, ia tak pernah mengecewakan siapapun. Namun hari ini, dia terlihat tampak agak lelah. Dia masih mengenakan pakaian yang sama seperti kemarin, dan sepatunya terlapisi oleh lumpur.

Dia tak seperti ini biasanya.

Biasanya, tak peduli betapa sibuk dirinya, dia akan meluangkan waktunya untuk merapikan penampilannya. Dia tahu bahwa Zhuo Donglai dan Sima Chaoqun adalah orang yang sangat perhatian dengan hal-hal tersebut.

Untungnya, Zhuo Donglai tak memperhatikan penampilannya hari ini, dia hanya memerintahkan, “Berlutut dan bersujudlah kepada Paman Sima.”

Zhuo Qing berlutut, dan Sima Chaoqun tak menghalanginya. Matanya tertuju tetap pada Zhuo Donglai.

“Kau tak perlu membuatnya bersujud,” kata Sima. “Aku tahu dia adalah anak adopsimu. Dan kau tak memiliki seorang putra, serta kau ingin ia membawa nama dari marga Zhuo. Apabila kau meninggal, aku akan mengurusnya nanti.”

Sima tak dapat menahan diri untuk melihat putranya sendiri, dan matanya penuh dengan kesedihan dan amarah. “Namun setidaknya, aku tak akan mengurusnya dengan cara seperti kau mengurus anakku sekarang ini.”

“Aku mempercayaimu,” kata Zhuo Donglai. “Aku benar-benar mempercayaimu.” Dia melihat Zhuo Qing selesai bersujud dan berdiri. Lalu ia berkata, “Kau dengar apa yang barusan dikatakan oleh Paman Sima. Kau harus tahu bahwa dia tak akan pernah menarik ulang kata-katanya. Dia akan mengurusmu lebih baik daripada aku.”

“Aku mengerti.” Suara Zhuo Qing terdengar serak dengan rasa bersyukur. “Tetapi, Aku tak akan pernah lagi membawa nama marga yang lain.”

“Ingatlah, jika aku mati, kau harus memperlakukan Paman Sima sama seperti kau memperlakukan diriku.” Zhuo Donglai tampak tergerak oleh emosi. “Tak peduli apa yang akan terjadi antara aku dan Paman Sima, Kau tak boleh membiarkan kebencian masuk kedalam hatimu, dan kau tak boleh mengatakan kepada siapapun apa yang akan kau lihat pada hari ini.”

“Aku mengerti,” kata Zhuo Qing dengan sedih. “Aku pasti akan mematuhi segala keinginanmu, bahkan jika aku mati sekalipun.”

Zhuo Donglai mendesah panjang.

“Kau memang anak yang baik, dan pasti memiliki masa depan yang cerah kelak.” Dia menatap Zhuo Qing. “Kemarilah, ada sesuatu yang ingin kuberikan. Entah aku hidup atau mati, kau haru tetap menjaganya dengan aman.”

“Ya.”

Zhuo Qing perlahan-lahan berjalan, matanya penuh dengan kesedihan yang tak tergambarkan, seolah-olah ia telah meramalkan bahwa beberapa hal yang tragis dan mengerikan akan terjadi.

Ia tak melarikan diri, karena ia tahu bahwa melarikan diri adalah sia-sia.

Sima Chaoqun menoleh kebelakang, menolak untuk melihat mereka berdua.

Dia telah membuat sebuah keputusan dalam hatinya agar tak membiarkan orang-orang lain ikut campur dalam perasaan emosinya, dan tak akan membiarkan hal apapun pada dirinya untuk berubah pikiran.

Kemudian Sima mendengar suara yang sangat aneh, seperti suara kulit yang telah ditusuk.

Ketika ia menoleh kebelakang, ia melihat bahwa Zhuo Donglai telah menusuk jantung Zhuo Qing dengan pedangnya.

Zhuo Qing berjarak setengah langkah kebelakang dan kemudian berguling-guling ke tanah.

Ia tak menangis.

Wajahnya yang putih pucat tak memiliki ekpresi terkejut ataupun derita, seolah-olah ia telah mengetahui sejak lama bahwa hal seperti akan terjadi.

-Bukan karena pedang Zhuo Donglai yang bergerak dengan sangat cepat, melainkan ia telah mempersiapkan diri dari awal. Seolah-olah ketika ia mulai berjalan kedepan, dia sudah benar-benar siap.

Wajah Sima Chaoqun berkerut heran.

“Kenapa kau membunuhnya?” Suaranya terdengar keras, ia berkata, “Apakah kau takut aku akan menyiksanya setelah kau mati?”

“Bukan,” kata Zhuo Donglai. “Perasaanmu selalu lebih baik dan murah hati daripada aku. Kau tak akan melakukan hal seperti itu.” Suaranya sangat tenang. “Aku membunuhnya karena aku tak ingin meninggalkannya bersama denganmu.”

“Kenapa?”

“Dia sangat berbahaya, suram, tak berperasaan, dan berbahaya. Pada usianya yang muda ini, aku dapat membunuhnya, Namun dalam beberapa tahun lagi aku berpikir bahwa aku tak akan dapat menandinginya.” Dia melepaskan mantel marten berwarna ungunya dan membungkus dengan lembut mayat Zhuo Qing. Dia tampak seperti seorang ayah yang penuh kasih sayang menutupi anaknya yang tercinta dengan selimut.

Namun suaranya benar-benar tak memiliki emosi sedikitpun.

“Dia sudah mulai mengumpulkan seluruh kekuatannya. Selama aku masih hidup aku dapat mengontrolnya, tetapi jika aku mati, ia dapat mencapai posisiku hanya dalam beberapa tahun saja. Dan kemudian ia akan membunuhmu.” Suaranya terdengar sangat tenang. “Jika aku meninggalkan seseorang seperti ini kepadamu, aku tak akan dapat mati dengan tenang.”

Suaranya begitu datar, datar seolah-olah ia sedang berbicara seperti menepuk seekor nyamuk demi Sima Chaoqun.

Tampak seolah-olah ia ingin melindungi Sima Chaoqun tak peduli betapa kejamnya, ganasnya, dan tak berperasaannya dirinya terhadap orang lain, perasaannya terhadap Sima benar-benar serius.

Tak ada satupun orang yang dapat membantah tentang hal ini.

Sima Chaoqun mengepalkan tangannya, Pembuluh darahnya mendidih.

Ia tahu bahwa ia harus mengendalikan dirinya sendiri, dan tak akan pernah lagi bertindak seperti dulu lagi. Ia adalah seorang yang berdaging dan berdarah, bukan sebuah boneka. Istrinya masih tergantung diatap. dua anak-anaknya yang lincah, lucu, dan cerdas tak akan pernah lagi memanggilnya ayah.

Tubuh Sima Chaoqun tiba-tiba melayang keudara, dan ia melintas seperti layang-layang diatas palang atap.

Pedangnya terbaring dibalok atap.

Pedang itu berkilauan, dan menyambar seperti kilat.

Translator / Creator: fatality