December 19, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 15: Summit (Part 4)

 

Lantai bawah yang berada dibangunan kecil ini berisi ruangan; aula utama, dan ruang tamu kecil untuk minum. Meskipun tamu jarang datang berkunjung, Wu Wan telah menghiasi kedua ruangan itu dan membuatnya menjadi terasa begitu tenang dan damai.

Kamar Wu Wan dan kamar anak-anak berada dilantai dua. Mereka semua tinggal bersama-sama pengasuh dan dua gadis pelayan yang telah disediakan sebagai bagian dari mas kawinnya.

Suaminya tak tinggal di rumah.

Sima memperlakukan Wu Wan dan anak-anaknya dengan baik, tetapi pada malam hari Sima tak menginap disini.

Langit-langit masih belum terlihat cerah, dan lampu-lampu dilantai dua belum menyala. Wu Wan dan anak-anak seharusnya tertidur lelap.

-Mengapa Sima Chaoqun membawa Zhuo Donglai kemari untuk melihat mereka?

Zhuo Donglai tak mengerti.

Ketika angin meniupi kabut seputih susu itu melalui jendela kamar tidur yang terbuka, kabut itu berubah warna menjadi abu-abu pucat. Hal Itu seolah-olah seperti merubah rumah yang sebelumnya elegan dan damai menjadi rumah yang aneh dan mengerikan. Rumah Itu juga dingin, Dingin yang membuat bulu kuduk berdiri.

Sebuah anglo besi sudah lama terbakar.

Mengapa seorang ibu yang penuh perhatian tak menjaga anglo itu tetap menyala untuk anak-anaknya?

Tak ada cahaya dan api sedikitpun, hanya angin.

Melihat ke dalam ruangan yang begitu mengerikan dan terdapat kabut suram, tampak seolah-olah didalam ruangan itu terdapat seseorang yang sedang mengambang.

Mengambang di tengah-tengah ruangan.

-Bagaimana bisa seseorang mengambang ditengah-tengah ruangan? Siapa orang ini?

Hati Zhuo Donglai tiba-tiba tenggelam, dan pupil matanya mengerut.

Dia telah melatih penglihatannya selama bertahun-tahun agar menjadi setajam elang.

Dia sekarang dapat melihat bahwa itu adalah orang yang tergantung di udara, tergantung dalam sebuah tali.

Orang yang tergantung itu adalah Wu Wan.

Ia telah mengikat tali dan melekatkannya ke balok atap, kemudian melingkarkannya ke lehernya.

Begitu kakinya menyingkirkan benda padat yang berada dibawahnya, simpul tali itu secara otomatis melekat pada lehernya.

Wu Wan telah mati.

Sejak dulu, kematian adalah hal yang sulit untuk dihindari. Menghindarinya adalah sesuatu hal yang benar-benar menantang. Namun untuk mati adalah hal yang sangat mudah.

Selain Wu Wan, juga terdapat orang lain didalam ruangan. Pengasuh tua dengan rambutnya yang putih seperti es, dua gadis pelayan muda bagaikan bunga-bunga, dan dua anak kecil yang menggemaskan.

Dua anak kecil yang menggemaskan dengan prospek tak terbatas dalam hidupnya. Hanya dengan melihat mereka akan membuat orang-orang merasakan sukacita dalam hati mereka.

Tetapi sekarang, Rambut putih pengasuh itu tak akan tumbuh lagi. Gadis-gadis pelayan tak akan memiliki kesempatan untuk menjadi tua. Dan anak-anak tak akan pernah lagi membuat orang merasa sukacita dalam hati mereka dalam sekejap. Sebaliknya, mereka akan membuat orang-orang merasakan penderitaan layaknya sebuah pisau dan kesengsaraan.

– Anak-anak, begitu menggemaskan, begitu sengsara.

“Aku sudah mengecewakanmu, sehingga aku ingin mati sekarang. Aku harus mati. Aku hanya bisa mati. tetapi anak-anak tidak harus mati.

“Namun, aku harus membiarkan mereka menemaniku dalam kematian.

“Aku tak ingin mereka menjadi anak-anak tanpa ibu, dan aku tak ingin mereka tumbuh besar dan menjadi orang seperti temanmu Zhuo Donglai.

“Nenek Cui adalah pengasuhku. Ketika aku masih kecil, ASI-nya (Air susu ibu) yang telah membesarkanku. Dia selalu memperlakukanku seperti anaknya sendiri.

“Little Fen dan Little Fang seperti adik-adikku.

“Jika aku mati, mereka tak ingin tetap hidup.

“Jadi oleh karena itu kita semua mati.”

“Aku tak ingin belas kasihanmu, aku hanya ingin kau tetap hidup. Aku mengerti bahwa tanpa kami semua, kau akan dapat memiliki kehidupan yang lebih baik.”

Begitu dingin, dingin, dan sangat dingin. Zhuo Donglai tak pernah merasakan dingin seperti ini sebelumnya.

Kamar kecil yang elegan ini sebenarnya adalah sebuah makam, dan sekarang dia berada didalam makam itu.

Rasanya seolah-olah semua otot, pembuluh darah, dan bahkan sumsum diseluruh tubuhnya benar-benar terasa beku.

“Apa yang terjadi? Kapan ini terjadi? Mengapa Wu Wan ingin mati?”

“Kau tak tahu?”

“Aku tak tahu,” kata Zhuo Donglai. “Aku benar-benar tak tahu.”

“Mereka sudah meninggal setidaknya tiga atau empat hari yang lalu, namun kau tak tahu.” Suara Sima Chaoqun itu dingin bagaikan es. “Kau benar-benar menjaga mereka dengan cukup baik. Aku seharusnya sangat berterima kasih kepadamu. “

Kata-katanya begitu panjang, jarum dingin menusuk dari puncak kemampuannya hingga kebagian ujung kakinya.

Dia memiliki banyak alasan untuk memberikan penjelasan.

–  Pada hari-hari itu Sima benar-benar sangat bahagia dalam menangani Lion Clan. Dan tempat ini adalah milik Wu Wan dan anak-anaknya, Sima dan orang-orang lain dari Great Protection Agency jarang datang ketempat ini.

Zhuo Donglai tak dapat menjelaskan.

Dalam situasi ini, tak ada penjelasan yang bisa diberikan. Berbagai macam penjelasan akan menjadi tidak berarti.

Sima Chaoqun tak menatapnya sepanjang waktu, dan Zhuo Donglai tak bisa melihat ekspresi pada wajah Sima ini.

“Kau bertanya kepadaku, mengapa Wu Wan ingin mati?” Kata Sima Chaoqun. “Awalnya aku juga tidak mengerti. Ia tidak tua, memiliki sosok yang baik, dia selalu mencintai anak-anak. Meskipun ia tidak benar-benar setia kepadaku, dia selalu memenuhi tugasnya sebagai seorang istri.” Suaranya terdengar aneh dan tenang. “Tetapi aku tak memenuhi tugasku sebagai suami. Jadi orang yang salah adalah diriku, bukan dia.”

“Kau tahu apa yang terjadi?”

“Aku tahu. Dan mengetahuinya sejak lama. Seorang suami tak selalu menjadi orang terakhir yang tahu. Aku juga menyadari segera bahwa semua itu akan menjadi masa lalu. Ia masih akan menjadi istri yang tercinta, dan ia juga masih akan mengurus anak-anakku.”

Dia melanjutkan dengan dingin, “Aku selalu tahu bahwa akan ada harga yang harus dibayar jika aku pergi bersama dengan ide-idemu untuk menjadi pahlawan.”

“Jadi kau berpura-pura seolah-olah kau tak tahu apa-apa.”

“Benar,” kata Sima Chaoqun. “Jika aku tahu, aku harus membunuhnya. Karena urusan semacam ini tak boleh terjadi dalam rumah tangga seorang pahlawan besar, Aku tak akan punya pilihan selain untuk membunuhnya. Dan juga, aku hanya bisa berpura-pura tak tahu. Karena rumah ini adalah milikku, Aku tak bisa membiarkan hal apapun menghancurkan rumah tangga milikku. Sebenarnya, berpura-pura tak tahu tidaklah cukup, aku harus membuatnya percaya bahwa aku tak curiga apa-apa. Hanya dengan cara seperti ini aku bisa menjaga keluargaku.”

Zhuo Donglai benar-benar terkejut.

Tiba-tiba ia sadar bahwa ia benar-benar tak mengerti tentang Sima Chaoqun setelah semua. Dia tak pernah membayangkan bahwa Sima telah memiliki sisi kepribadiannya. Dia adalah orang yang emosional, bahkan setelah mengalami kejadian-kejadian seperti ini Sima Chaoqun masih dapat mempertimbangkan hal-hal yang lainnya.

“Kebanyakan pria tak akan mau mentolerir sesuatu hal seperti ini,” kata Sima. “Namun aku menyadari jika aku menunggu dan membiarkan hal tersebut. menunggu anak-anak hingga dewasa, kami akan tetap masih menjadi suami dan istri seperti yang lainnya, saling bergantung satu sama lain, menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk bertumbuh bersama-sama.”

Dia berbalik dan menghadap ke arah Zhuo Donglai. “Jika kau tak mendesak Wu Wan untuk mati, Mungkin aku bisa hidup seperti itu.”

“Aku mendesaknya untuk mati?” Suara Zhuo Donglai terdengar serak. “Kau benar-benar percaya bahwa aku yang telah mendesaknya?”

“Kau tak hanya mendesak Wu Wan untuk mati, namun kau juga mendesak Guo Zhuang untuk mati, dan cepat atau lambat kau juga akan mendesak diriku. Karena kau selalu membutuhkan orang-orang untuk menyelesaikan segala urusanmu.”

Dia menatap Zhuo Donglai. “Karena ada kelainan jiwa pada dirimu. Dari luar mungkin kau terlihat seperti orang yang begitu bangga pada dirimu sendiri, namun didalam hatimu, kau sangat membenci dirimu sendiri. Sehingga, kau membutuhkanku untuk mengerjakan segala hal yang ingin kau lakukan. Kau membutuhkanku agar menjadi seorang pahlawan idola, karena dalam pikiranmu, Aku adalah perwujudan dari dirimu. Jika seseorang menghalangi rencanamu, kau akan melakukan apa saja untuk menghancurkan orang tersebut. Dan itulah sebabnya kenapa Wu Wan mati. Karena kau berpikir dia akan menghambat rencanamu.”

Zhuo Donglai berdiri merenung dalam waktu yang sangat lama.

“Kau baru saja mengatakan bahwa kau telah memikirkan hal tersebut dalam waktu yang sangat lama, dan juga berpikir tentang banyak hal.” Zhuo Donglai kemudian bertanya, “Apakah kau telah mencapai titik dimana kau perlu membuat sebuah keputusan?”

“Ya.”

“Dan apakah kau telah membuat keputusanmu itu?”

“Ya.”

“Keputusan apa yang telah kau putuskan setelah kejadian ini?”

“Ini bukan tentang keputusan apa yang akan terjadi nanti, ini tentang sekarang,” kata Sima Chaoqun. “Sekarang, aku ingin kau pergi, dan jangan biarkan aku melihat dirimu lagi. Jangan pernah berurusan denganku lagi.”

Zhuo Donglai tiba-tiba tampak tak dapat berdiri lagi, seolah-olah kepalanya tiba-tiba diserang dengan tongkat.

“Kau bisa membawa apapun, namun kau harus pergi,” Kata Sima Chaoqun tegas. “Sebelum matahari terbenam hari ini, kau harus berada jauh dari Chang’an.”

Zhuo Donglai tiba-tiba tertawa. “Aku tahu kau tak bermaksud seperti demikian,” katanya dengan lembut. “Kau sangat terluka, lelah, dan hanya perlu beristirahat, lalu kau akan lupa segala apa yang telah kau katakan barusan.”

Sima Chaoqun menatapnya dengan dingin. “Kali ini kau keliru. Kau akan pergi. Kau tak punya pilihan selain pergi. Kau ingat apa yang barusan saja aku katakan? kau harus membunuh orang disaat yang tepat, dan jangan biarkan kesempatan lewat begitu saja. Sama halnya dengan situasi sekarang ini.”

Pupil mata Zhuo Donglai mulai mengerut lagi. “Jika aku tak pergi?” Ia bertanya, sekali lagi. “Jika aku tak pergi, akankah kau membunuhku?”

“Ya,” jawab Sima Chaoqun dengan nada suara yang sama. Disaat yang sama dia berkata, “Jika kau tak pergi, maka aku akan membunuhmu.”

Translator / Creator: fatality