December 19, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 15: Summit (Part 1)

 

Bulan kedua, Hari kedua puluh lima.

Chang’an.

Sebuah lampu-lampu.

Berwarna keunguan, terbuat dari kristal, dan api yang menyala didalamnya. Dibawah lampu tersebut terdapat sebuah kotak soliter, kuno, dan biasa.

Dibawah lampu itu juga terdapat seseorang, namun orang itu bukanlah orang yang pendiam, biasa, dan selalu membawa sebuah kotak.

Orang yang berada dibawah lampu itu adalah Zhuo Donglai.

Tak ada cahaya pada langit-langit, sehingga lampu-lampu menyala dengan api, cahaya lampu-lampu menyinari sisi kiri wajahnya, begitu lunak dan lembut.

Hari ini, setengah dari wajahnya nampak seperti wajah seorang ayah.

Ketika seseorang benar-benar puas dengan diri mereka sendiri, mereka cenderung memperlakukan orang lain dengan cara yang agak ramah daripada biasanya.

Nyawa Zhu Meng berada dalam genggamannya, Lion Clan telah hancur, dan Gao Jianfei sudah mati, atau setidaknya sekarat, sehingga Zhuo Donglai percaya bahwa semuanya berada di bawah kendalinya.

Musuh-musuhnya telah dikalahkan, dan ia mendapatkan kekuatan yang sempurna. Tak seorangpun di Jianghu yang akan mampu bersaing dengan dirinya. Dalam keadaan ini, bahkan orang yang paling tak pernah puas dalam hidupnya akan merasa puas.

Cita-cita dalam hidupnya telah mencapai puncaknya.

Jadi, dia tidak membunuh Xiao Leixue.

Dan pada saat ini, keadaan Xiao Leixue sama persis dengan orang tua yang telah meninggal itu. kekuatannya menghilang, Xiao Leixue duduk dihalaman kecil, menunggu Zhuo Donglai untuk merenggut pengetahuan dan rahasia kekayaan yang ada pada diri Xiao Leixue.

Hal tersebut tentu saja bisa ditunggu. Zhuo Donglai tak terburu-buru.

Seorang pembunuh profesional dengan kekuatannya yang hilang bagaikan seorang pelacur tua yang terabaikan, yang tak mempunyai arah tujuan dan tempat untuk berpergian.

Kedua profesi itu merupakan profesi terkuno didalam dunia, penderitaan yang mereka akibatkan juga merupakan tragedi terkuno yang ada pada dunia.

Kotak Xiao Leixue sekarang berada ditangan Zhuo Donglai.

Dia tahu bahwa kotak ini adalah senjata yang paling menakutkan di dunia. Hari dimana seorang pengkhianat Lion Clan bernama Yang Jian telah dibunuh, Zhuo Donglai telah mempelajari bagaimana menakutkannya senjata itu.

Banyak orang-orang di Jianghu yang akan bersedia menjual nyawanya untuk mendapatkan kotak itu.

Untungnya, Zhuo Donglai bukanlah tipe orang seperti itu. Dia benar-benar berbeda.

Sekarang kotak itu berada didepannya, namun ia tak memiliki niat untuk menyentuhnya.

Karena ia sudah memiliki senjata yang lain, bahkan senjatanya itu lebih menakutkan. Senjata itu adalah kecerdasannya.

Ketika ia menggunakan kecerdasannya, dia bahkan lebih menakutkan daripada orang-orang atau senjata-senjata yang paling menakutkan sekalipun.

-Xiao Leixue mungkin seorang pendekar yang tak tertandingi, namun ia tak memiliki sebuah kesempatan untuk bergerak sedikitpun.

-Zhu Meng mungkin berani dan perkasa, Lion Clan mungkin kuat dan berkuasa, Namun pada saat-saat yang dibutuhkan untuk bertindak, Zhuo donglai berhasil mengusir mereka.

Dia berhasil mencapai titik ini bukan hanya karena ia telah mengambil keuntungan dari setiap kesempatan, namun juga karena ia bisa menciptakan peluang.

Ketika orang-orang lain berpikir ia telah kalah dan berada dalam bahaya, Ia tak akan bingung dan gugup, namun sebaliknya ia akan menyusun sebuah kesempatan untuk mengusir musuhnya, untuk mengubah kekalahan menjadi kemenangan.

Tipe orang-orang seperti ini benar-benar orang yang kuat.

Tombak, kapak, pisau, pedang adalah senjata-senjata orang biasa. Sama halnya dengan kotak ini.

Zhuo Qing telah berdiri di depannya dalam waktu yang sangat lama. Menikmati kemenangan seperti menikmati sebuah zaitun. Perlu mengunyah lebih lama agar dapat menikmati rasanya. Dan pada saat yang sama, Zhuo Qing bersiap-siap untuk pergi secara diam-diam.

Zhuo Donglai tiba-tiba memanggilnya, dengan suara lembut dan halus: “Kau telah bekerja keras sepanjang malam ini. Mengapa tak duduk dan minum-minum?”

“Aku tidak minum-minum.”

“Kau bisa belajar untuk minum-minum,” kata Zhuo Donglai dengan senyum. “Belajar untuk minum ini tidaklah terlalu sulit.”

“Tetapi sekarang bukan saatnya bagi diriku untuk belajar minum-minum.”

“Lalu apa yang kau tunggu?” Senyum Zhuo Donglai menghilang dalam kegelapan. “Apakah kau menunggu sampai kau dapat …” Sebelum menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba ia merubah topik. “Apakah kau sudah selesai mengurus Tuan Xiao?”

“Sudah.”

“Ketika kau pergi, bagaimana dia? Apakah ia berbicara?”

“Tidak,” kata Zhuo Qing. “Dia sama seperti sebelumnya, seolah-olah dia tak peduli tentang hal apapun.”

“Bagus sekali.” Zhuo Donglai tersenyum lagi. “Tunduk kepada kehendak langit dan pasrah kepada situasi, adalah sebuah tanda dari kecerdasan sejati. Tipe orang-orang seperti ini seharusnya dapat hidup lebih lama.”

“Ya.”

Senyum Zhuo Donglai tampak begitu tajam dan menusuk. “Terkadang aku merasa bahwa ia begitu mirip dengan diriku dalam berbagai hal. Dia tak akan mencoba melakukan hal-hal yang tak mungkin ia bisa lakukan. Bahkan ia tak berpikir tentang hal itu.” dia melanjutkan dengan dingin: “Jika seseorang suka melakukan hal-hal yang tak mampu ia lakukan, Pada akhirnya mereka akan mati mengenaskan. Gao Jianfei adalah contoh sempurna.”

“Gao Jianfei bukanlah contoh yang sempurna,” kata Zhuo Qing.

“Bukan dia? Kenapa?”

“Karena ia belum mati.”

“Kau yakin bahwa ia belum mati?”

“Ya. Kemarin pada saat senja, Zheng Cheng melihatnya dengan mata kepalanya sendiri, meninggalkan kota dengan pedangnya.”

“Zheng Cheng?” Zhuo Donglai tampak seperti mencari nama itu dalam pikirannya. “Bagaimana kau tahu bahwa ia benar-benar melihat Gao Jianfei?”

“Segera setelah ia mengetahui keberadaan Gao Jianfei, ia kembali untuk melaporkannya kepadaku.”

“Dan kau mempercayainya?”

“Aku mempercayainya.”

Senyum Zhuo Donglai menghilang lagi, namun suaranya terdengar lebih lembut: “Benar! kau harus percaya kepadanya. Jika kau ingin orang-orang lain mempercayaimu, Kau harus membiarkan mereka tahu bahwa kau mempercayai mereka. “

Dia tampak seperti tidak berharap untuk mengatakan apa yang baru saja dia katakan, sehingga ia merubah topik pembicaraannya lagi.

“Apakah kau sudah berpikir kemana Gao Jianfei akan pergi nanti?”

“Dia pasti akan pergi ke rumah bordil yang berada di Red Flower Bazaar untuk mencari Zhu Meng. Namun semenjak Zhu Meng tak berada disana lagi, ia memutuskan untuk kembali, jadi aku tak perlu menyuruh Zheng Cheng untuk mengikutinya. Selama Gao Jianfei masih berada di Chang’an, ia berada dalam genggaman kita.

Zhuo Donglai tersenyum bahagia.

“Kau pasti bisa mempelajari bagaimana cara untuk minum-minum. kau sudah memenuhi syarat untuk minum-minum, bahkan kau lebih hebat daripada kebanyakan orang.”

Dia tiba-tiba berdiri dan memberikan secangkir anggur kepada Zhuo Qing.

Zhuo Qing menerima dan menghabiskan minuman tersebut.

Anggur itu rasanya manis, tetapi mulut Zhuo Qing terasa pahit dan asam.

Dia sadar bahwa ia telah terlalu banyak berbicara, dan ia berharap untuk dapat menarik ulang kata-katanya. Dan ia merasa lebih baik jika ia memotong tangannya sekarang.

Zhuo Donglai nampak tak memperhatikannya. Dia mengambil secangkir kosong dan mengisinya ulang, kemudian duduk dan menyesapnya.

“Xiao Leixue mengetahui bahwa Gao Jianfei memang ditakdirkan untuk tidak mati. Dia tak pernah merusak sebuah kontrak selama hidupnya. Lalu kenapa ia tak membunuh Gao Jianfei?” Zhuo Donglai nampak melamun. “Apakah mereka memiliki hubungan khusus? Hubungan apakah?”

Dia tiba-tiba menghabiskan minuman dan matanya bersinar. “Seharusnya orang tua itu mengerti tentang hubungan mereka berdua. Xiao Leixue ingin sekali bertanya kepadanya tentang hal itu, dan itu pasti adalah sesuatu hal yang sangat penting.

Ketika orang tua itu meninggal, hati Xiao Leixue menjadi penuh dengan rasa ingin membunuh, karena tak ada satupun orang didunia selain orang tua itu yang dapat menceritakan kepadanya bahwa Gao Jianfei adalah putranya atau bukan.”

“Putranya?” Zhuo Qing telah memutuskan untuk tak berkata apa-apa lagi, Namun ia tak bisa menahan diri untuk bertanya, “Bagaimana bisa Gao Jianfei adalah putra dari Xiao Leixue?”

“Kau pikir itu adalah hal yang mustahil?” Zhuo Donglai tertawa dingin. “Gao Jianfei adalah seorang pemuda yang tak berarti. Mengapa Xiao Leixue yang berdarah dingin mau menyelamatkannya? Jika mereka tak memiliki hubungan khusus, Bahkan jika ada seratus ribu Gao Jianfei yang sekarat didepannya, Xiao Leixue tak akan menggerakkan jarinya sedikitpun.”

Dia menatap Zhuo Qing,  suaranya terdengar sangat lembut lagi. “Percayalah, apa pun bisa terjadi. Misalnya, bagaimana bisa Zhu Meng, orang yang gagah berani seperti itu, bisa kalah hanya karena seorang wanita? Namun ia sekarang sudah benar-benar kalah, sebuah kekalahan yang begitu pahit. Xiao Leixue juga mengalami hal serupa. Siapa yang pernah berpikir bahwa hal ini akan terjadi?”

Zhuo Donglai menghela napas panjang. “Sebenarnya, aku juga sama. Aku tak pernah berpikir  siapa yang akan mengalahkanku kelak?”

Mungkin pernyataan ini tak sepenuhnya benar, namun pernyataan itu berisi kebenaran yang patut untuk direnungkan.

Zhuo Qing tiba-tiba pergi meninggalkan.

Dia tahu bahwa sekarang adalah waktu baginya untuk pergi, karena Sima Chaoqun telah tiba.

Dia mendengar suara Sima Chaoqun: “Benar. Tak ada yang pernah berpikir bahwa hal seperti ini akan terjadi.”

Translator / Creator: fatality