December 6, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 13: Slaughterhouse (Part 4)

 

Kabut bermunculan dari dalam kamar mandi. Zhuo Donglai sedang mandi, dan tampak seolah-olah ia mendesak dirinya untuk membersihkan noda darah semalam yang berada ditubuhnya.

Terletak dibelakang markasnya, Kamar mandi itu telah dibangun dengan kokoh sebagai ruang harta karun yang tersembunyi.

Karena ia tak akan membiarkan siapapun masuk ketika ia sedang mandi.

Karena ketika mandi, orang-orang harus telanjang, tak ada pengecualian.

Selain ibunya ketika ia masih bayi, Zhuo Donglai tak pernah membiarkan siapapun untuk melihat dirinya telanjang sepanjang hidupnya.

Zhuo Donglai adalah orang cacat, cacat hypoplasticly.

Kaki kirinya terlihat lebih pendek daripada kaki kanannya. Alasan utama penyebab hipoplasia pada dirinya adalah bahwa ketika ia masih berada didalam rahim ibunya, Ia telah terjepit oleh orang lain.

Dan orang lain itu adalah adiknya.

Zhuo Donglai adalah orang kembar, dan seharusnya memiliki seorang adik. Seorang adik muda yang mana seharusnya mendapatkan kasih dan nutrisi dari ibunya.

Namun Zhuo Donglai lahir pertama kali, dan pada saat itu adiknya sudah mati didalam rahim ibunya. Mati bersama dengan ibunya. “Aku seorang pembunuh, terlahir alami sebagai seorang pembunuh .” Zhuo Donglai sering terpanggil seperti ini selama mimpi buruknya. “Perbuatanku yang pertama kali dalam hidup adalah membunuh ibu dan adikku.”

Ia juga mempercayai bahwa kecacatan itu adalah hukuman dari langit. Namun ia benar-benar tak yakin.

Tekad dan kemauannya yang tak tertandingi telah mengatasi cacat bawaan tersebut. Setelah ia dibesarkan, tak ada yang bisa melihat bahwa ia lumpuh, dan tak ada yang mengetahui berapa banyak waktu telah ia habiskan, berapa banyak rasa sakit dan keringat yang telah dia alami, hanya untuk dapat berjalan layaknya orang normal.

Namun sayangnya ada sesuatu yang tak bisa ia rubah, tak peduli berapapun harga yang harus ia bayar.

Dia tak pernah benar-benar menjadi seorang pria. Ada satu bagian pada tubuhnya yang akan selalu terlihat seperti bayi.

Urat-urat dibelakang tangan Zhuo Donglai menonjol, muncul karena air panas. Dia suka mandi didalam air panas.

Fasilitas pada kamar mandinya telah dirancang secara khusus untuk menyerupai Japanese ‘furo’ bathtubs.

Ketika ia merendam dirinya dalam air mendidih, ia merasa seolah-olah ia berada kembali disisi saudaranya, merasakan panas dan tekanannya.

-Apakah ia sedang menyiksa diri sendiri? Ataukah menghukum diri sendiri?

Apakah dia sedang menghibur dirinya sendiri dengan cara menyiksa dan menghukum orang lain?

Sekarang Zhuo Donglai tak dapat berpikir tentang hal tersebut. Saat ini dia sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih menyenangkan. Dia sedang memikirkan Little Gao dan Xiao Leixue.

Salah satunya adalah seorang master terhebat didunia, yang membawa senjata paling menakutkan di bawah langit.

Namun nasibnya telah ditakdirkan, hidupnya pasti akan diambil oleh pedang berharga yang ditempa oleh ayahnya.

Seseorang yang lain harus mati ditangannya, karena tak ada cara bagi orang itu untuk melarikan diri.

Hanya saja orang itu memiliki pedang berharga.

-Dari kedua orang ini siapakah yang akan mati?

Zhuo Donglai menemukan pertanyaan ini menghibur, sangat menghibur dirinya.

Dia tak bisa menahan tawa.

Namun sebelum tertawa dinginnya keluar, ia tersenyum membeku.

Pupil matanya mengerut.

pupil matanya dapat mengerut hanya pada saat ia merasa takut atau cemas. Dan sekarang dia merasakan hal tersebut.

Dia dapat merasakan bahwa seseorang telah menggunakan teknik yang tak terduga untuk membuka pintu ruang rahasia ini, dan berdiri seperti hantu dibelakangnya.

Ini benar-benar luar biasa. Dia tak pernah membayangkan bahwa seseorang didunia akan memiliki jenis kemampuan yang luar biasa.

Namun ia harus mempercayainya.

Dia tiba-tiba teringat seseorang. Satu-satunya orang: “Xiao Leixue. Aku tahu itu adalah dirimu.”

“Ya.” Suaranya begitu dalam dan serak. “Ini aku.”

Zhuo Donglai tiba-tiba mendesah panjang. “Para dewa dan para hantu adalah sesuatu hal yang tak dapat dipercaya. Dan semua hal tentang roh-roh tak dapat dipercaya. Jika tidak, kau tak akan datang.”

“Kenapa?”

“Karena kau seharusnya sudah mati, mati dibawah pedang ‘Tearstains’ Little Gao. Kematianmu adalah takdir, kematianmu sudah ditakdirkan oleh dunia roh.” Dia menghela napas lagi. “Sekarang aku mengerti bahwa semua ini adalah hal yang tak masuk akal dan konyol.”

“Bagaimana dengan sebelumnya?” Tanya Xiao Leixue. “Sebelumnya, kau percaya?”

“Aku tak percaya, dan aku tak kafir.”

“Jadi kau memikirkan cara untuk menyingkirkan diriku setelah Gao Jianfei. Kau ingin melihat diantara kami siapa yang mati terlebih dulu”

“Ya.”

“Dan terlepas dari siapa yang akan mati, kau tak akan merasa sedih.”

“Tidak, sudah pasti aku takkan sedih,” kata Zhuo Donglai. “Siapa pun yang meninggal, itu akan menguntungkan diriku. Dan jika kalian berdua mati, itu akan menjadi kata-kata yang paling indah untukku. Aku sudah pasti mengatur semua urusanmu dengan hati-hati setelah kau mati.”

Dia mengatakan dengan jujur. Zhuo Donglai selalu berbicara jujur.

Karena ia tidak perlu berbohong.

Didepan kebanyakan orang, dia tak perlu berbohong, dan berbohong didepan orang lain adalah hal yang sia-sia.

Xiao Leixue dapat melihatnya.

Ia suka berkelahi dengan orang-orang seperti ini, karena tak terlalu banyak melibatkan rasa frustasi.

Bertengkar dengan orang-orang jauh lebih menyenangkan daripada memiliki teman.

“Aku juga selalu berkata jujur,” kata Xiao Leixue. “Sebaiknya kau mempercayai setiap ucapan yang aku katakan.”

“Tentu saja aku akan percaya.”

“Aku tahu kau tak pernah melihatku. Tentunya kau ingin melihat seperti apakah diriku ini.”

“Ya, hal itu membunuhku.”

“Namun, jika kau menoleh dan menatapku, kau tak akan melihat apapun lagi nanti.”

“Aku tak akan menoleh,” kata Zhuo Donglai. “Saat ini aku tak ingin mati.”

“Berbicara jujur adalah kebiasaan yang benar-benar baik. Dan aku sangat berharap kau akan tetap hidup.” Suara Xiao Leixue itu sangat datar. “Jika kau berbohong, aku jamin kau akan mati di bak kayu itu.”

“Seperti yang telah aku katakan, aku tak ingin mati saat ini.” Suara Zhuo Donglai juga sangat tenang. “Aku sudah pasti tak ingin mati telanjang di bak kayu ini. Kau harus percaya bahwa aku tak akan berbalik.”

“Bagus sekali.”

Xiao Leixue tampaknya puas dengan situasi tersebut, dan akhirnya ia bertanya sesuatu yang ingin ia tanyakan.

“Dua puluh tahun yang lalu, aku menandatangani kontrak pembunuhan dengan seseorang. Kau tahu tentang hal ini? “

“Aku mengetahuinya.”

“Bagian terpenting dari kontrak itu dibiarkan kosong. Dan kontrak itu tak memiliki nama seseorang.”

“Aku juga mengetahui tentang hal itu.”

“Seseorang mengirim kontrak itu kembali ke diriku, dan kontrak itu berisi sebuah nama. Apakah kau tahu siapa nama yang ada dalam kontrak itu?”

“Ya.” Zhuo Donglai tiba-tiba tertawa. “Akulah yang mengisi nama itu. Bagaimana bisa kau tak mengetahuinya?”

“Apakah ini merupakan kontrak antara aku dan kau?”

“Tidak,” kata Zhuo Donglai. “Aku tak pantas.”

“Apakah kau yang mengirimkan kontrak itu kepadaku?”

“Ya,” kata Zhuo Donglai. “Seseorang mengirimkan kontrak itu kepadaku agar aku dapat mengirimkannya. Pertama-tama aku mengambil kontrak itu dari kuil desa kecil. Kemudian aku pergi ke pinggiran kota untuk menyalakan api. Dan memastikan kau akan melihatnya, aku menyalakan api tiga kali setiap hari.”

“Seseorang mengirim kontrak itu kepadamu.” Suara Xiao Leixue tiba-tiba menjadi lebih serak. “Apakah kau tahu siapa orang itu?”

“Aku tahu,” kata Zhuo Donglai. “Semua orang mengetahui bahwa orang itu telah meninggal sejak lama. Banyak yang tak tahu namanya, tetapi aku mengetahuinya. Tak ada orang didunia ini yang lebih mengetahui selain diriku.

“Kau tahu dia tidak mati?”

“Ya.”

“Apakah kau tahu dimana dia?”

“Ya.”

“Bagus sekali.” Suara Xiao Leixue tampak telah robek berkeping-keping. “Kau dapat berdiri sekarang.”

“Kenapa aku harus berdiri?”

“Karena aku ingin kau membawa diriku untuk melihatnya.”

“Boleh aku tak ikut?”

“Tidak.”

Zhuo Donglai berdiri. Ketika ada suatu hal yang tidak dapat diperdebatkan, dia tak akan melakukannya.

“Kau bisa memakai jubah marten berbulu dan sepatumu sekarang,” kata Xiao Leixue. “Tetapi lebih baik kau tak melakukan apa-apa lagi.”

Zhuo Donglai melangkah keluar dari bak mandi dan mengenakan bulu marten nya.

Ia bergerak sangat lambat, sangat hati-hati dalam tiap langkahnya.

Dia dapat mendengar permusuhan dan naluri pembunuh pada suara Xiao Leixue ini.

Xiao Leixue tak akan membunuh atau memotong kakinya. Tetapi jika Xiao Leixue merasakan Zhuo Donglai melakukan gerakan diluar batas, pasti ada beberapa bagian dari tubuhnya yang akan terpotong.

Dia tak akan pernah memberikan orang lain kesempatan seperti ini.

Xiao Leixue itu tentu mengawasinya dengan sangat hati-hati, mengawasi setiap gerakannya secara rinci dan ekstrim.

“Aku tahu bahwa kau adalah orang yang sangat arogan, reaksi dan kecepatanmu sangat cepat, dan kau telah melatih qigong keluargamu dengan sangat baik,” kata Xiao Leixue. “Di masa depan, tak banyak orang yang akan dapat mengalahkanmu. Bahkan aku rasa Sima Chaoqun tidak akan dapat mengalahkanmu, Karena ia belum pernah mencapai tingkat ketenangan seperti dirimu. Aku belum pernah melihat orang setenang dirimu.”

“Aku juga sudah memikirkan hal ini sebelumnya,” kata Zhuo Donglai dengan tertawa lagi. “Semua orang bisa narsis juga kadang-kadang, terutama pada larut malam ini ketika tidak ada orang dan mereka sedikit mabuk.”

“Kau tak pernah melihat diriku, dan tak pernah melihatku bertarung. Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku lebih kuat daripada engkau?” Tanya Xiao Leixue dingin. “Apakah kau pernah berpikir bahwa mungkin kau bisa membunuhku?”

“Aku tak pernah memikirkan tentang hal itu,” kata Zhuo Donglai. “Aku bahkan tak pernah mempertimbangkan hal tersebut.”

“Kenapa tidak?”

“Karena aku mengendalikan pikiranku.” Tawa Zhuo Donglai sepertinya mengandung sedikit kesedihan. “Jika seseorang ingin lanjut hidup, mereka tak akan berpikir tentang hal semacam itu.”

Xiao Leixue tertawa dingin. “Jadi, kau lebih suka berubah menjadi seseorang yang mengikuti perintah seperti anjing, tak berani bergerak?”

“Benar,” kata Zhuo Donglai. “Ada banyak situasi di dunia yang seperti ini.”

Translator / Creator: fatality