December 5, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 13: Slaughterhouse (Part 3)

 

Apa yang istimewa dengan tempat ini? Mengapa Xiao Leixue membawanya kesini? Apa yang akan ia lakukan?

Little Gao tak bertanya. Xiao Leixue mengatakan, “Mereka tahu segalanya. Semuanya yang aku lakukan selama bertahun-tahun, mereka tahu semua tentang itu.”

“Mereka?” Tanya Little Gao. “Siapa mereka?'”

“Mereka.” Xiao melihat patung-patung di kuil. “Jiwa bumi dari kakek dan nenek ini.”

Little Gao tak mengerti, namun Xiao Leixue mengetahuinya.

“Dua puluh tahun yang lalu, orang-orang yang mampu untuk menyewa diriku sebagai seorang pembunuh semuanya mengetahui tentang tempat ini,” jelasnya. “Mereka akan datang kemari dan meninggalkan nama lokasi dan seseorang. Lokasi adalah tempat dimana aku akan mendapatkan uang, dan seseorang adalah yang akan aku bunuh. “

-Sebuah desa kuil yang terpencil, terdapat sudut-sudut rahasia, dan sebuah batu bata merah terpecah-pecah, serta sebuah bilah yang digulung kertas  dengan sangat hati-hati, harganya selangit, berisi sebuah kehidupan.

Begitu sederhana, dan begitu rumit.

“Jika aku percaya bahwa orang itu harus mati, maka aku akan pergi ke lokasi dan mengambil uang itu. Hanya ada uang saja, tak pernah bertemu dengan orang. Klienku tak pernah melihat wajahku. “

“Dan bagaimana dengan mereka yang telah mati ditanganmu?”

“Orang-orang yang memaksa menghabiskan begitu banyak uang untuk membunuh orang lain biasanya layak mati,” kata Xiao Leixue. “Jadi desa kuil yang kecil ini mungkin adalah pusat bisnis terbesar di Chang’an.” Sinisme mengisi suaranya. “Profesi kami adalah salah satu profesi yang paling kuno dalam kehidupan manusia, dan sudah pasti merupakan profesi paling kuno untuk seorang pria.”

Little Gao memahaminya.

Adapun profesi yang paling kuno pada wanita, itu sedikit lebih kuno karena perempuan memiliki akses ke sumber daya yang paling alami.

“Enam belas tahun. Enam belas tahun dan tiga bulan. Betul-betul waktu yang sangat panjang. “Xiao Leixue mendesah. “Dalam periode waktu itu, orang-orang lahir, menjadi tua, dan meninggal. Tetapi tempat ini tampaknya tak berubah sama sekali. “

“Kau belum pernah kesini selama enam belas tahun?”

“Belum pernah hingga kemarin ini.”

“Setelah enam belas tahun, mengapa tiba-tiba kau datang kembali?”

“Karena aku melihat sesuatu disaat-saat terakhir pada enam belas tahun silam, yang orang-orang Jianghu sebut sebagai ‘Blood fire’ smoke.”

“Itu sama dengan asap yang baru saja kita lihat?”

“Ya.” Xiao Leixue melanjutkan, “Ketika ‘Blood fire’ muncul, beberapa orang penting di Jianghu tiba-tiba akan mati. Jadi, beberapa orang menyebutnya sebagai ‘Command of death.’ Sebuah perintah sihir kematian.” Ia melanjutkan penjelasannya, “Ketika seseorang meninggalkan pesan untukku disini, mereka kharus pergi kepinggiran kota dan menyalakan asap merah. Dimulai pada pagi hari, sebanyak tiga kali. Apa yang baru kau lihat itu adalah yang ketiga kalinya.”

“Jadi, ketika kau datang kemari kemarin, kau telah menerima kontrak yang harus kau penuhi.”

“Ya.”

“Orang yang menukarkan hidupmu untuk kontrak itu adalah Zhuo Donglai?”

“Tidak, bukan dia,” kata Xiao Leixue dengan dingin. “Dia tak layak.”

“Tapi kau berpikir bahwa Zhuo Donglai ada dibalik semua ini.”

“Aku tahu. Tentu saja aku mengetahunya.” Kata-katanya terdengar sangat aneh: “Setelah orang itu menghilang dari dunia, aku tak pernah mengetahui dimana ia pergi bersembunyi. Hanya itu yang aku ketahui sekarang.”

“Orang itu” yang Xiao Leixue sebutkan merupakan seseorang yang tak diragukan adalah orang yang memasukkan nama Little Gao kedalam kontrak.

-Siapa orang ini? Hubungan misterius apa yang ia miliki dengan Zhuo Donglai?

Little Gao tak ingin mengajukan pertanyaan ini. Dia lelah, begitu lelahnya hingga ia merasa ingin pingsan setiap saat. Tetapi kemudian, vitalitas pada dirinya bangkit lagi.

“Aku tahu bahwa hidupku ada ditanganmu. Jika aku mati ditanganmu, aku bisa mati dengan puas, karena aku mengetahui bahwa lebih baik aku mati ditangan orang lain. Tetapi, membunuhku tidaklah mudah.” Little Gao menatap kotak ditangan Xiao Leixue. “Jika kau ingin membunuhku, pertama-tama kau harus membuka kotak milikmu. Kau harus membukanya dulu sebelum aku mencabut pedang-Ku.”

Pedangnya berada di tangannya. Pedang Itu tak lagi terbungkus oleh kain hitam. Selama ia sendirian di Chang’an dalam waktu yang lama, ia bersiap-siap untuk menarik pedang itu.

Xiao Leixue perlahan berbalik dan melihat tangan yang memegang pedang itu. Tiba-tiba, sebuah ekspresi yang sangat aneh memenuhi tatapannya.

Jari-jari tangan yang memegang kotak tiba-tiba menjadi bersinar putih. Urat-uratnya menonjol.

-Ketika pedang pusaka muncul, dewa-dewa dan hantu-hantu akan gemetar ketakutan.

-Tearstains siapakah yang menandai pedang itu?

-Grandmaster Xiao.

-Pedang pusaka itu sudah ditempa. Kenapa dia menangis?

-Karena ia telah meramalkan sebuah bencana. Dia meramalkan adanya sebuah jiwa pada pedang, yang mana satu-satunya putra miliknya akan mati oleh pedang ini.

-Satu-satunya putra miliknya adalah Xiao Leixue?

-Ya.

Translator / Creator: fatality