December 5, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 13: Slaughterhouse (Part 1)

 

Bulan kedua, Hari ke dua puluh empat.

Chang’an.

Sebelum fajar.

Langit bagaikan sebuah lembaran gelap, lebih gelap daripada hari-hari biasanya pada pagi hari.

Gao Jianfei duduk menyendiri dalam kegelapan, begitu dinginnya hingga darahnya terlihat hampir membeku.

“Aku tak melakukan kesalahan,” dia terus mengatakan hal itu kepada dirinya. “Aku tak membiarkan Zhu Meng dan wanita itu sedih. Aku tak melakukan suatu kesalahan.”

Cinta pada dasarnya tak salah.

Tak ada salahnya untuk jatuh cinta terhadap seseorang.

Ketika ia jatuh cinta kepada Die Wu, dia tak mengerti bahwa Die Wu adalah wanita Zhu Meng, bahkan tak pernah membayangkan hal tersebut.

Namun setiap kali ia berpikir tentang ekspresi wajah pada Zhu Meng ketika ia melihat Die Wu, Ia merasa seperti tertikam oleh pisau penyesalan dan kesalahan.

Sehingga pada saat itu pergi.

Awalnya, ia ingin bergegas membawa Die Wu pada saat ia terbaring disana dalam genangan darah, melupakan segalanya dan memeluk satu-satunya wanita dalam hidupnya, merawatnya selamanya, mencintainya selamanya, dan terlepas dari apakah kakinya putus atau tidak, hanya mencintainya.

Tapi Zhu Meng sudah bergegas memeluknya, sehingga Little Gao pergi meninggalkan dengan tenang.

Ia hanya bisa pergi meninggalkan.

-Berapa jauhkah ia dapat pergi? Kemanakah ia dapat pergi? Seberapa jauh dia harus pergi untuk dapat melupakan?

Siapa yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini untuknya?

Ketika siang hari mendekati, tanah tampaknya menjadi lebih dingin. Little Gao berbaring di tanah bersalju dan menatap langit gelap.

Kemudian dia menutup matanya.

Dengan mata terbuka, ia hanya bisa melihat lembar kegelapan, jadi mengapa tak menutup mata saja?

“Akankah aku mati seperti ini?”

Dia menutup matanya, sehingga ia hanya bisa mendengar suara dingin dari seseorang yang berkata, “Pada musim dingin di Chang’an ini setidaknya empat atau lima orang meninggal dalam keadaan dingin, membeku seperti batu. Bahkan anjing-anjing liarpun tak bisa menggigit sepotong dari mereka.”

Little Gao mengabaikannya.

–  Ketika kehidupan tiba-tiba menjadi begitu menyakitkan, mengapa tak mati saja?

Namun sepertinya orang ini tak akan membiarkan dia mati.

Rahangnya terbuka, dan ia merasakan sesuatu yang terbakar pergi ke tenggorokannya dan perutnya.

Perutnya tiba-tiba serasa seperti tungku yang menderu, dan kehangatan memenuhi tubuhnya.

Little Gao membuka matanya dan melihat seseorang berdiri di depannya seperti batu. Ditangannya terdapat sebuah kotak.

Seorang biasa dengan sebuah kotak yang luar biasa.

Jika orang ini menginginkan seseorang untuk hidup, ia akan membuat orang tersebut susah untuk mati. Dan jika dia menginginkan seseorang untuk mati, ia akan membuat orang tersebut susah untuk hidup.

Little Gao memahami hal ini.

“Ini alkohol yang bagus.” Dia duduk, berusaha sekeras mungkin untuk bertindak acuh tak acuh. “Apakah itu adalah Lu Zhou liquor (Minuman keras)?”

“Sepertinya.”

“Kau tak dapat menyembunyikan kebenaran tentang hal semacam ini dariku. Ketika orang lain masih meminum susu, aku sudah mulai meminum alkohol. ” Little Gao tertawa, dan tampak seperti tertawa senang. “Beberapa orang dilahirkan sebagai pahlawan, beberapa orang dilahirkan sebagai ahli pedang, dan beberapa lagi dilahirkan sebagai pecandu alkohol.”

“Kau bukan seorang pecandu alkohol.” Pria itu menatap dingin kearah Little Gao. “Kau bajingan.”

Little Gao tertawa terbahak-bahak. “Baiklah, aku bajingan kalo begitu. Lagipula, apa perbedaan antara bajingan dengan pecandu alkohol? “

“Disitu ada perbedaan.”

“Apa bedanya?”

“Ketika kau melihatnya nanti kau akan mengerti.”

“Melihat apa? Dimana?”

Pria itu tiba-tiba mencengkeram Little gao dari sisinya dan terbang bersama ke udara. Mereka melewati atap yang tak terhitung jumlahnya sebelum mereka berhenti.

“Di sini,” katanya. “Di sini kau bisa melihat.”

Mereka berdiri diatap sebuah bangunan tinggi, menghadap taman yang luas.

Bangunan itu adalah paviliun utama dari Chang’an Restaurant.

Translator / Creator: fatality