November 29, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 12: Even Just a Dance can Overwhelm Emotions (Part 4)

 

Angin dingin berhembus melalui paviliun yang harum. Zhu Meng melonggarkan jaket yang berada didepannya. Tampak seolah-olah ia menginginkan angin dingin menusuk ke dalam hatinya.

Baik dia maupun Little Gao tak mengatakan sepatah kata pun. Tenggorokan mereka telah terhalang oleh perasaan yang manis, kuat, asam, dan pahit.

Seorang buta, beruban, berambut putih berjalan menuju paviliun, menggunakan tiang bambu untuk menekan tanah yang berada didepannya.

Seorang gadis kecil, berambut panjang dan diikat dikepang, memegang jubah orang tua itu dan berjalan bersama-sama dengannya.

Orang tua itu membawa suling bambu, dan gadis muda itu memegang pipa.  Tampaknya mereka memberikan iringan musik untuk tarian Die Wu. Meskipun wajah pria tua berkerut itu tak menunjukkan ekspresi, tampak seolah-olah setiap kerutan wajahnya adalah sebuah makam yang berisi penderitaan dan duka tak terhitung jumlahnya.

Dunia ini terlalu memiliki begitu banyak duka.

Gadis kecil itu tak melihat apa-apa, karena ia buta. Buta sejak lahir, ia tidak pernah melihat cahaya, dan tak pernah mengalami sukacita disaat muda.

Dua orang seperti ini, bagaimana bisa mereka memainkan musik yang penuh dengan kebahagiaan dan sukacita?

Orang tua itu berjalan dengan tenang dan duduk disudut tempat ia biasanya duduk.

Dan Itu bukan pertama kalinya ia kesini, dan setiap kali ia datang, ia memainkan lagu-lagu sedih.

Ketika anda memainkan lagu sedih untuk seseorang yang biasanya suka tertawa, suara musik dapat membangkitkan kesedihan tersembunyi dalam diri mereka.

Beberapa orang-orang meinginkan hal ini.

-Manusia benar-benar makhluk aneh. Terkadang mereka melihat kesedihan dan penderitaan sebagai sesuatu hal yang dapat dinikmati.

Dari lantai bawah dapat terdengar suara langkah kaki lagi.

Suara itu terdengar cepat, ringan, dan berbeda-beda.

Begitu mendengar suara langkah kaki itu, Little Gao melompat melewati meja kearah tangga dan bergegas turun.

Zhu Meng tak bergerak sama sekali.

Tubuhnya tampak kaku, kaku seperti mayat yang membatu, mayat yang telah mati selama berabad-abad tahun yang lalu.

-Seorang wanita dengan nama yang tak diketahui, dan hubungan yang tak akan pernah bisa dilupakan.

Little Gao berpikir bahwa ia tak akan pernah melihatnya lagi, namun di sini wanita itu berada didepannya.

-Apakah itu mimpi?

Wanita itu melihat dirinya juga.

Wanita itu menatap Little Gao dengan bingung. Apakah ia terkejut? Senang? Apakah ia ingin berlari menemuinya? Ataukah ia ingin lari?

Little Gao tak memberi dirinya sebuah kesempatan untuk memutuskan.

Dia bergegas lari kedepan dan memegangnya, menggenggam tangannya.

Ini bukanlah mimpi dan ilusi.

Tangannya penuh dengan perasaan hangat, seperti hatinya.

“Mengapa kau pergi pada saat itu? Kemana kau pergi? Kenapa kau berada disini?”

Little Gao tak mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu.

Selama mereka bisa melihat satu sama lain, hal-hal tersebut tidaklah penting.

“Kau ada disini, kau benar-benar berada disini. Kali ini aku tak akan membiarkanmu pergi. “

Little Gao menariknya kembali menaiki tangga, pandangan matanya tetap tertuju pada wajah wanita itu.

Namun tiba-tiba, wajah wanita itu tiba-tiba berubah, dipenuhi dengan tatapan ngeri.

Bola matanya tiba-tiba menunjukkan rasa takut, dan kemudian melebar. Sepertinya tubuhnya akan pingsan.

-Apakah yang dilihat oleh wanita itu?

Little Gao menatapnya dengan kaget, dan ia ingin berbalik untuk melihat apa yang dilihat oleh wanita tersebut.

Dan kemudian, wajah Little Gao juga dipenuhi oleh tatapan ngeri, seolah-olah ia telah melihat sesuatu yang luar biasa mengerikan. Setelah beberapa lama. pada akhirnya ia memberanikan dirinya untuk melihat ke belakang.

Little Gao menoleh dan melihat Zhu Meng.

Raut wajah Zhu Meng seperti seekor binatang buas. Binatang buas yang telah jatuh ke dalam perangkap pemburu, patah hati, marah, dan putus asa. Orang yang dicari-cari olehnya selama ini ternyata adalah orang yang sama-sama dicari oleh Little Gao yang mana sekarang wanita itu telah ditarik oleh Little Gao naik keatas tangga.

Die Wu.

Dan disaat itu, Little Gao tiba-tiba mengerti akan segalanya.

Die Wu.

Wanita ini, yang ia temukan dengan begitu mempesona, dan perasaan yang tak akan pernah ia bisa lupakan, adalah seseorang yang telah mempesona Zhu Meng, Die Wu yang tak terlupakan.

-Bagaimana bisa nasib begitu kejam!

Tapi ini bukanlah nasib dan bukan kebetulan. Bukan apapun.

Zhuo Donglai menatap mereka, matanya penuh dengan tawa bagaikan dewa jahat yang sedang menyaksikan seorang manusia sederhana dikorbankan diatas altarnya.

Tangan yang membeku.

Tangan semua orang membeku.

Little Gao melepaskan tangan Die Wu yang membeku, dan mulai berjalan mundur. Dia terus berjalan hingga ia mencapai sudut.

Zhu Meng menatap wajah Little Gao, dan mata merahnya sepertinya telah berubah menjadi tombak.

Tombak yang berlumuran darah.

Little Gao mati rasa.

Meskipun tubuhnya tak mati, namun tombak berdarah itu telah menusuk kedalam hatinya.

Namun kematian ini belumlah terjadi.

-Apa yang akan Zhu Meng lakukan kepadanya? Apa yang harus ia lakukan terhadap Zhu Meng?

Little Gao tak berani memikirkan tentang hal itu, dan ia tak bisa. Ia tak mampu untuk berpikir.

Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah pergi meninggalkan.

Siapa yang akan berpikir bahwa ia akan pergi, tiba-tiba terdengar suara yang mengatakan, “Tunggu sebentar.”

Little Gao terkejut melihat Die Wu telah pulih ketenangannya, dan tiba-tiba tak takut untuk menghadap kearah Little Gao.

“Aku mengerti kau ingin pergi, karena kau merasa harus pergi,” kata Die Wu. “Namun kau harus menunggu sebentar sebelum kau pergi.”

Tenang dan tegas, mata wanita itu memancarkan kekuatan yang tampaknya tak ada seorangpun yang dapat menolaknya.

Hanya seseorang yang tak takut dengan hal apapun yang dapat memanggilkan kekuatan semacam itu.

Die Wu berbalik menghadap Zhu Meng. “Aku ingat kau pernah berkata bahwa ketika aku sedang menari, maka tak ada seorangpun yang boleh pergi.”

Zhu Meng mengepalkan tangannya, seolah-olah ia ingin memegang bumi dan menghancurkannya berkeping-keping, menghancurkan segalanya.

Zhuo Donglai tertawa. Ia tersenyum menakutkan kearah Die Wu dan berkata, “Apakah kau masih bisa menari?”

“Apakah kau pernah melihat ulat sutera dimusim semi?” Jawab wanita itu. “Selama ulat itu tak mati, mereka akan terus-menerus memintal sutra. Akupun sama. Selama aku masih hidup, aku bisa menari. “

Zhuo Donglai bertepuk tangan. “Baiklah, bagus sekali!”

Mantel rubah menjatuhkan bulu-bulunya, jubah tarian berkibaran.

Musisi berambut putih, yang duduk terdiam disudut ruangan, berdiri. Wajahnya yang lelah dan pucat nampak seperti sepotong kertas kuning yang berkerut.

“Aku buta, tua dan buta,” Kata orang tua itu dengan pelan. “Hatiku telah lama kosong dengan segala kebahagiaan. Jadi, biasanya aku selalu menyanyikan lagu-lagu sedih untuk orang-orang besar yang ada disini. Namun hari ini, aku akan membuat pengecualian.”

“Kau ingin memainkan lagu-lagu bahagia untuk kami?” Tanya Zhuo Donglai.

“Benar.”

“Apa kau berpikir sesuatu yang menyenangkan pada hari ini?”

“Tidak.”

“Tidak? Lalu mengapa kau ingin membuat pengecualian hari ini? “

Musisi berambut putih itu memandang ke dalam kegelapan dengan dua matanya yang tak terlihat. Suaranya terdengar serak dan sedih. “Meskipun aku buta, tua dan buta, aku masih bisa merasakan bahwa disini ada yangan terlalu banyak patah hati hari ini.”

Ada dentingan seperti pipa terdengar keluar. Nada pertama dari suara pria tua itu terdengar seolah-olah itu dimainkan senar sutra yang dapat menggerakan jiwa. senar sutra tunggal berubah menjadi senar sutra yang tak terhitung jumlahnya; musik pipa itu terdengar bagaikan mutiara jatuh dipiring giok.

Setiap senar sutra dan setiap mutiara begitu anggun dan membahagiakan. Apa yang ia mainkan hari ini sudah pasti bukan lagu sedih penuh penyesalan.

Apa yang dimainkannya adalah lagu sukacita gembira.

Die Wu menari.

Tariannya juga dipenuhi dengan sukacita, seolah-olah dia sudah melupakan segala kesedihan dalam hidupnya.

Hidupnya dan tariannya telah menyatu bersama.

Karena apa yang tersisa dalam seluruh hidupnya hanyalah tariannya.

Karena ia adalah seorang penari.

Dalam hal ini, dia bukanlah lagi seseorang yang pernah mengalami penderitaan hidup, seorang wanita yang menderita. Sebaliknya, ia adalah seorang penari yang mulia, murni, dan indah.

Dalam tariannya muncul perasaan bahagia dan masa mudanya, dan dalam tariannya, kebahagiaan dan masa mudanya juga memudar.

“Pedang pusaka itu kejam, Zhuangzi sedang bermimpi namun tak ada mimpi didalamnya;

Menari untuk raja, berubah menjadi kupu-kupu.”

Orang tua yang memainkan pipa itu tiba-tiba mulai menangis.

Dia memainkan lagu gembira, namun air mata memenuhi matanya yang kosong.

Dia tak dapat melihat orang-orang yang berada didalam ruangan, namun ia dapat merasakan mereka.

–  Seperti orang-orang sedih, begitu gelapnya.

Nada bahagia pada lagunya hanya dapat membuat orang sedih menjadi bertambah sedih. Seolah-olah melodi gembira itu telah berubah menjadi sebuah ejekan.

Terdapat suara “pa”  pada salah satu senar pipa yang rusak.

Tarian itu juga menjadi rusak.

Die Wu jatuh terjatuh dikaki Zhuo Donglai seperti daun. Dan mendadak, dari dalam sepatu Zhuo Donglai wanita itu mengeluarkan belati.

Belati pendek berkilauan seperti permata.

Wanita itu mengangkat kepalanya dan menatap kearah Zhu Meng, kemudian ia berbalik dan menatap kearah Little Gao.

Belati ditangannya telah turun, turun ke lututnya.

Darah berceceran.

Begitu belati itu turun, darah berceceran.

Dibawah pisau belati, kakinya menjadi seperti dua batang kayu yang membusuk.

Setelah belati itu tergeletak, Wanita itu bukanlah seorang penari lagi. Tak ada seorang penari di dunia ini dengan kaki yang terputus.

Kaki yang begitu indah, begitu lentur, begitu gesit, dan begitu indah.

***

 

Translator / Creator: fatality