November 29, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 12: Even Just a Dance can Overwhelm Emotions (Part 3)

 

Pada saat itu, sebuah kereta hitam yang berkilauan datang berhenti didepan Chang’an Restaurant.

Suara samar-samar dari instrumen senar dapat terdengar dari dalam pohon-pohon terdekat. Musik itu indah, lirik yang menyertai berbunyi tentang perubahan hidup, dan berisi dengan berbagai macam kesedihaan yang tak berdaya.

“Musim semi datang dan pergi, bunga-bunga bermekaran berjatuhan; ketika tiba saatnya untuk berpisah, siapa yang dapat tertinggal?”

Die Wu duduk membisu didalam kereta, mendengarkan. Angin yang sedang berhembus, daun-daun layu dan mati yang bertebaran dimana-mana layaknya kupu-kupu, mendarat dengan ringan dipermukaan tanah yang bersalju.

Setelah mendorong pintu kereta dan melangkah keluar, dia mengambil daun itu dan menatapnya dengan bingung dalam waktu yang lama.

Setetes air jatuh entah datang dari mana mendarat kearah daun. Mustahil untuk mengatakan bahwa itu berasal dari tetesan air mata ataupun tetesan hujan. Hal itu nampak seperti sebuah embun pada kelopak bunga segar yang bermekaran di tengah musim semi.

Translator / Creator: fatality