November 28, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 11: Eighty-Eight Slain (Part 6)

 

Senja. Setelah senja.

Ruangan itu gelap, dan lampu-lampu masih belum dinyalakan. Die Wu tak menyukai lampu.

-Apakah itu disebabkan karena ia takut terbakar seperti seekor ngengat?

Api menyala didalam oven. Die Wu berdiri disampingnya, dan perlahan-lahan melepas pakaiannya.

Tubuhnya yang telanjang berkilauan, halus, putih bersih, dan tanpa cacat.

Pintu terdorong terbuka. ia tahu bahwa seseorang telah memasuki ruangan, namun kepalanya tak berpaling. Selain Zhuo Donglai, tak ada yang berani masuk ke kamarnya.

Die Wu membungkuk dan mulai memijat lembut kakinya.

Dia tahu bahwa kelenturan kakinya dapat dengan mudah membangkitkan nafsu laki-laki.

Tak ada yang dapat menolak daya tarik semacam ini, tak ada yang seorangpun pria yang pernah.

Sehingga ia merasa aneh.

Zhuo Donglai menatapnya, namun tak melakukan gerakan apapun.

Die Wu menyelinap menuju ke lemari pakaian menarinya, yang halus bagaikan sayap seekor jangkrik. Ketika ia mengenakannya, tampak seolah-olah dirinya dipercantik oleh cahaya bulan, cahaya bulan samar-samar, begitu cantiknya sehingga membuat orang-orang lain tak dapat menahannya.

Namun Zhuo Donglai terus berdiri disana tanpa gerakan apapun.

Die Wu akhirnya tak dapat menahannya dan berbalik. Mutiara hiasan kepala ditangannya jatuh ke tanah.

Orang yang telah masuk bukanlah Zhuo Donglai.

Saat ia menoleh, ia melihat seorang pemuda berdiri di depannya, menatapnya, wajahnya pucat dan tak bernyawa.

Die Wu memulihkan rasa tenangnya dengan cepat.

Dia tak pernah membayangkan orang lain selain Zhuo Donglai akan berani memasuki kamarnya, Namun ia menerima kehadirannya.

Satu-satunya hal aneh yang ia temukan sekarang adalah bahwa pemuda itu menatapnya dengan cara yang tak pernah dilakukan oleh orang lain sebelumnya.

Ketika orang lain melihat tubuh dan kakinya yang panjang telanjang, mata mereka akan terbakar seperti api.

Namun mata pemuda ini  dingin dan tajam bagaikan karang es.

Zhuo Qing menatap Die Wu, dan tampak seolah-olah ia melihat sebuah bongkahan es, atau sebuah balok batu, atau ujung dari pisau.

Die Wu menatapnya juga, dalam waktu yang lama. Dia dapat merasakan tak ada perubahan dalam ekspresinya.

“Siapa kau?” Akhirnya dia bertanya. “Dapatkah kau memberitahu siapa dirimu?”

“Zhuo Qing. Nama saya Zhuo Qing. “

“Apakah kau adalah orang? Orang yang berdaging dan berdarah? “

“Ya.”

“Apakah kau buta?”

“Tidak.”

“Tidak bisakah kau melihatku?”

“Aku bisa,” kata Zhuo Qing. “Aku dapat melihat setiap bagian dari tubuhmu dengan sangat jelas.”

Suaranya dingin dan sopan, dan tak mengandung kesan cemoohan atau kecabulan.

Dia hanya menyatakan fakta-fakta.

Die Wu tertawa dan kemudian mendesah, mendesah tertawa. “Jangan bilang kau selalu jujur?”

“Terkadang aku melakukannya, terkadang tidak. Ketika tak perlu berbohong, aku mengatakan yang sejujurnya. “

“Dan sekarang, kau tak perlu berbohong?”

“Benar-benar tidak.”

Die Wu mendesah lagi. “Kau mengatakan bahwa kau melihat setiap bagian tubuhku dengan jelas. Apakah kau tak khawatir bahwa Zhuo akan mencungkil matamu keluar? “

Zhuo Qing menatapnya dengan tenang dalam waktu yang lama, kemudian ia mengatukan satu kalimat, “Dia tak akan melakukan hal itu.”

Die Wu tak bereaksi terhadap hal ini, namun ia benar-benar mengerti maksudnya.

“Dia tak akan melakukan itu,” kata Die Wu. “Karena ia memberikan diriku kepadamu? Dia tak memberikan diriku kepadamu? Dia memberi diriku kepada orang lain? “

Zhuo Qing tak mengatakan apa-apa.

“Dia benar-benar sangat murah hati,” kata Die Wu, suaranya terisi dengan cemohan. “Belum pernah ada seorang pria yang tidur dengan diriku bersedia untuk membiarkanku pergi.” Dia menghela napas. “Ini benar-benar sangat disayangkan.”

“Disayangkan?”

“Sayang sekali untuk dirimu. Dia seharusnya memberikan diriku untukmu. Kau tak akan pernah bertemu wanita lain seperti diriku dalam seluruh hidupmu. “

“Oh?”

“Sayang sekali bagi diriku. Kau masih muda, dan tampan. Aku selalu menyukai bocah besar seperti dirimu. Kau tak akan pernah bosan.”

Die Wu menatapnya, matanya menyipit, bibirnya basah. Dia berjalan mendekatinya, perlahan-lahan membuka pakaiannya, serta menekankan tubuhnya yang lentur, ramping, dan hangat terhadap Zhuo Qing.

Pinggangnya berombak, dan suara desahan keluar dari dalam tenggorokannya.

Zhuo Qing tak bereaksi.

Die Wu terengah-engah, menjangkau dirinya dan menggenggam tangannya. Tiba-tiba, tangannya digenggam dengan keras, dan dia dibuang.

Zhuo Qing melemparkan dirinya layaknya melempar bola ketempat tidur, dan menatapnya dengan dingin. “Ada banyak cara yang dapat kau gunakan jika kau ingin menyiksa diri, untuk mempermalukan dirimu sendiri. Kau dapat menggunakan berbagai cara yang kau inginkan. Namun aku tak akan pernah melakukannya. “

“Kau tak akan melakukannya?” Die Wu Tertawa. tertawa dengan penuh kegilaan. “Apakah kau bukan seorang pria?”

“Mencoba membuat diriku marah tak akan mempan,” katanya. “Aku tak akan tidur dengan dirimu.”

“Kenapa tidak?”

“Karena aku adalah seorang pria. Aku tak ingin tersiksa setiap hari karena memikirkan tubuhmu.”

“Selama kau bersedia, kau dapat memelukku setiap malam.”

Zhuo Qing tersenyum, senyumannya tampak seolah-olah telah diukir dari batu granit. “Aku juga berpikir tentang hal itu. Namun aku juga mengetahui nasib dari orang-orang yang ingin memeluk dirimu. “

Die Wu berhenti tertawa, dan matanya terlihat seperti telah menderita oleh karena sesuatu yang tak dapat dijelaskan.

“Kau benar,” kata Die Wu dengan lembut. “Orang-orang yang ingin memelukku jika tak mati pastilah menderita.” Suaranya serak dan penuh dengan rasa sakit. “Untungnya, orang-orang itu bukanlah para bajingan, melainkan orang-orang idiot. Setiap penderitaan yang mereka alami adalah perbuatan mereka sendiri. “

“Dan Zhu Meng,” tanya Zhuo Qing. “Apakah Zhu Meng adalah seorang bajingan atau idiot?”

Die Wu berdiri dan menatap ke arah api yang berkedip-kedip didalam oven. Setelah beberapa lama, kemudian ia tertawa dingin. “Kau pikir Zhu Meng merindukan diriku? Kau berpikir Zhu Meng akan merasa sedih dan patah hati terhadap diriku? “

“Apakah dia merasakannya?”

“Ia bukanlah manusia,” katanya, suaranya terisi dengan kebencian. “Sama seperti Zhuo Donglai.”

“Apakah kau mengatakan bahwa ia tak peduli tentang dirimu?”

“Apa yang ia pedulikan? Ia hanya peduli tentang reputasinya, posisinya, kekuasaannya. Jika aku mati didepannya, ia tak akan meneteskan satupun air mata.”

“Benarkah?”

“Dimatanya, aku bukanlah manusia, aku hanyalah sebuah mainan, seperti boneka anak-anak. Ketika ia senang, dia akan membawa boneka itu keluar untuk bermain, tetapi ketika ia bosan, ia akan melemparkan boneka itu ke samping. Terkadang ia tak akan berbicara denganku selama berhari-hari.”

“Jadi karena ia memperlakukan dirimu seperti ini, Kau memutuskan untuk menyelinap pergi setelah serangan dadakan kami terhadap Lion Clan?”

“Aku adalah manusia juga. Apakah semua orang mau diperlakukan seperti sebuah mainan?”

“Tidak. namun, ” kata Zhuo Qing, “Apakah kau pernah berhenti berpikir seperti itu bahwa mungkin saja kau salah menilai tentang dirinya? “

“Salah menilai tentang dirinya?”

“Terkadang orang-orang seperti dia tak mampu untuk menunjukkan perasaan yang sebenarnya dalam hati mereka. Aku mengerti bahwa ada banyak orang yang tak dapat menunjukkan perasaan mereka, terutama terhadap wanita yang mereka cintai. “

“Kenapa?”

“Mungkin karena mereka berpikir bahwa mengekspresikan cinta terhadap seorang wanita adalah perbuatan yang tak menunjukkan sikap seorang pria sejati, seorang pria yang jantan . Atau mungkin karena mereka benar-benar tak tahu bagaimana cara melakukannya pada saat pertama kali.”

“Zhu Meng tak seperti itu,” kata Die Wu dengan nada tajam. “Dia mengerti akan hal-hal itu lebih baik daripada siapapun, dan ia bisa melakukannya lebih baik daripada siapapun.”

“Oh?”

“Ketika ia memperlakukan orang lain dengan baik, ia melakukannya jauh lebih baik daripada siapapun. Terkadang hal itu membuatku sakit.”

“Namun kau tak seperti kebanyakan orang-orang lainnya. Kau berbeda.”

“Bagaimana bisa aku berbeda?”

“Karena kau adalah wanitanya. Mungkin ia berpikir bahwa kau seharusnya telah mengetahui dirimu berbeda dengan orang lain.”

“Ya, aku tak mengetahuinya,” kata Die Wu. “Jika seorang pria benar-benar mencintai seorang wanita, Ia harus membuat  wanita tersebut mengerti.”

“Mungkin kau tak memahami dirinya.”

“Aku tak memahami dirinya?!” Die Wu tertawa dingin lagi. “Aku tidur dengannya selama tiga atau empat tahun, dan aku tak memahami dirinya?”

Wajah Zhuo Qing terisi dengan senyum layaknya sebuah batu granit sekali lagi. “Tentu saja kau memahami dirinya, lebih dari apa yang kami lakukan.”

Malam yang gelap, dan ruangan itu begitu sunyi dalam waktu yang lama. Die Wu menghela napas ringan.

“Aku sudah terlalu banyak berbicara malam ini, Bukankah begitu.”

“Ya,” kata Zhuo Qing. “Kita harus pergi sekarang. Aku datang kemari untuk membawamu pergi. “

“Kemana kau akan membawaku?”

Satu kata pada satu waktu, Zhuo Qing mengatakan, “Jangan bilang kau lupa? Kau telah berjanji kepada Tuan Zhuo bahwa kau akan menari untuknya malam ini. “

**

 

 

Translator / Creator: fatality