November 24, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 11: Eighty-Eight Slain (Part 3)

 

Setelah kembali dari kamarnya, Zhuo Donglai menemukan Die Wu sedang menyisir rambutnya.

Dia menyisir rambutnya yang panjang dan berwarna gelap gulita, lagi dan lagi. Tampak tak ada hal apapun didunia ini yang ingin dicarinya selain menyisir rambutnya.

Zhuo Donglai diam-diam mengawasinya, menyaksikan Die Wu menyisir rambutnya lagi dan lagi.

Dua orang, satu sedang menyisir, satu sedang menonton. Setelah beberapa lama, tiba-tiba suara derik terdengar seperti sisir pecah menjadi tiga bagian.

Sisir ini merupakan produk berkualitas tinggi yang berasal dari “Jade Square” di Liuzhou. Bahkan jika anda mencoba untuk memutarnya dengan kedua tangan, akan sulit untuk memecahkannya.

Harta wanita biasanya terletak pada rambut mereka, dan tak akan pernah menggunakan kekuatan pada saat mereka menyisir rambut.

Namun sisir itu benar-benar rusak.

Tangan Die Wu mulai bergetar. Begitu gemetarnya sehingga ia tak dapat memegang potongan sisa-sisa sisir dari tangannya. Potongan-potongan sisir itu berserakan diatas meja rias.

Zhuo Donglai tak melihat.

Tampak seolah-olah ia tak melihat hal-hal tersebut.

“Aku mengundang beberapa orang untuk makan malam,” katanya dengan nada lembut. “Dua tamu terhormat.”

Die Wu memandang dari pecahan sisir yang berada diatas meja rias, dan tampak seolah-olah ia mulai menjadi gila.

Dia tertawa gila, dan kemudian berkata, “Setiap hari aku merawat diriku, karena semua orang harus makan, bahkan orang sepertiku. Makan semangkuk, kemudian memakan semangkuk yang lain, aku makan dengan senang hati.”

“Aku juga ingin para tamuku makan dengan bahagia pada hari ini,” kata Zhuo Donglai. “Jadi aku ingin kau melakukan sesuatu untuk mereka.”

“Apapun yang kau perintahkan pasti akan kulakukan.” Dia tertawa tanpa henti. “Bahkan jika kau menginginkan aku pergi dan makan kotoran, aku akan mematuhinya.”

“Bagus sekali, lalu.” Zhuo Donglai juga tertawa, dan tawanya tampaknya penuh dengan sukacita. “Sebenarnya, kau harus tahu apa yang aku ingin kau lakukan terhadap mereka.” Dengan begitu lambat, ia berkata, “Aku ingin kau menari untuk mereka.”

“Pedang pusaka itu kejam, Zhuangzi sedang bermimpi namun tak ada mimpi didalamnya;

Menari untuk raja, berubah menjadi kupu-kupu.”

Translator / Creator: fatality