November 23, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 11: Eighty-Eight Slain (Part 2)

 

Wajah Zhuo Donglai tak menunjukkan emosi, dan bahkan sampai sekarang tampak seolah-olah wajahnya telah membeku, disetiap urat-urat pada wajahnya. Jika anda pernah melihat orang yang mati membeku didalam es, mungkin anda bisa membayangkan ekspresi di wajahnya.

Seorang pemuda, belum mencapai umur dua puluh tahun, sedang berdiri lurus didepannya bagaikan tombak. Ekspresi wajah pemuda itu hampir sama dengan Zhuo Donglai pada saat ini.

Nama pemuda ini adalah Zhuo Qing

Dia tak selalu memakai nama marga Zhuo. Karena ia dulu pernah menggunakan nama marga Guo. Dia merupakan saudara Guo Zhuang, yang telah meninggal di Red Flower Bazaar.

Namun setelah diadopsi oleh Zhuo Donglai, dia telah melupakan namanya yang lama.

“Zhu Meng telah memasuki kota.”

Ia telah melaporkan berita ini, dan ia juga adalah salah satu orang yang menemukan obat mengalir dalam selokan.

Baru-baru ini, tugas-tugas yang telah diselesaikan olehnya untuk Zhuo Donglai jauh lebih banyak daripada setiap bawahannya yang terpercaya.

“Berapa banyak orang yang datang?”

“Termasuk Gao Jianfei, total ada delapan puluh delapan orang.

“Apakah dia memberitahu penjaga Huang secara khusus bahwa dirinya adalah Zhu Meng?”

“Ya.”

“Apa lagi yang dia katakan?”

“Mereka datang ke Chang’an untuk mati!”

Biji mata Zhuo Donglai mengerut, seolah-olah matanya menjadi sebuah jarum tusuk.

“Mereka tak datang ke Chang’an untuk membunuh seseorang? Mereka datang ke Chang’an untuk mati? “

“Ya.”

“Bagus. Sangat bagus.” Ujung-ujung matanya mulai berdenyut. “Sangat bagus.”

Orang-orang yang mengetahui Zhuo Donglai mengerti bahwa dalam keadaan yang sangat kritis ujung matanya akan berdenyut seperti itu.

Matanya berdenyut karena ia mengetahui bahwa lawannya tak hanya membawa delapan puluh delapan orang, melainkan delapan ratus delapan puluh orang.

-Orang dengan niat membunuh tak harus ditakuti, tetapi orang yang siap untuk mati adalah orang yang sebanding dengan sepuluh orang.

“Katakan lagi apa saja yang mereka kenakan.”

“Mereka berpakaian dengan baik dan memakai celana ketat. Mereka mengenakan pengikat kepala berwarna putih, dan masing-masing dari pengikat kepalanya dijahit dengan potongan kain robek berwarna kemerahan. “

Zhuo Donglai tertawa dingin.

“Bagus. Sangat bagus. Apakah kau tahu di mana potongan-potongan kain itu berasal? “

“Aku tak tahu.”

“Sudah pasti itu adalah pakaian Cleat yang berlumuran darah. Ketika ia meninggal, pakaiannya pasti berlumuran dengan darah merah.”

Orang-orang yang berasal dari Luoyang telah kembali dan melapor kepada Zhuo Donglai tentang semua perincian dari pertempuran berdarah itu.

“Lion Clan seperti lembaran pasir yang bergeser, mereka  tak dapat bersatu. Tetapi darah Cleats mempersatukan mereka kembali.” Suara Zhuo Donglai tiba-tiba tampak mengandung beberapa emosi. “Cleats. Sangat bagus. Benar-benar anak yang baik.”

“Ya,” kata Zhuo Qing. “Cleats (Sandal) mungkin terlihat sangat jelek, namun itu murah. Dan tak sebagus jenis sepatu yang lain, tetapi ketika hujan atau bersalju, atau jalanan becek dan licin, Cleats adalah yang paling berguna.”

Dia berbicara dengan nada yang sangat datar, karena ia hanya menjelaskan fakta.

Dia bukanlah tipe orang yang mudah terkena emosi.

Zhuo Donglai menatapnya, menatapnya dalam waktu yang sangat lama, dan melakukan sesuatu yang tak terduga.

Dia tiba-tiba berdiri, berjalan, dan memeluk Zhuo Qing. Meskipun itu adalah pelukan yang sangat ringan, ini adalah pertama kali dalam hidupnya ia melakukan sesuatu seperti ini.

-Selain Sima Chaoqun, ini adalah pertama kalinya Zhuo Donglai dekat dengan pria lain.

Meskipun Zhuo Qing masih berdiri disana seperti tombak, air mata yang  panas mengisi matanya.

Tampaknya Zhuo Donglai tak menduga reaksi ini. Dia tiba-tiba merubah topik. “Zhu Meng mengetahui keberadaanku, namun dia belum datang untuk mencariku.”

“Benar.”

“Mengingat bahwa mereka datang kemari untuk mati, maka aku benar-benar harus dapat mengabulkan keinginan mereka. Aku harus pergi mencari dia.”

“Ya.”

“Tetapi kedelapan puluh delapan orang tersebut ingin menemui kematian mereka berdasarkan keinginan hati mereka. Delapan puluh delapan orang dalam satu pikiran, satu jiwa. Mereka menekan semangat kematian, namun mungkin saja dapat terpecah setiap saat, hal itu tak akan mudah untuk menahan.”

“Benar.”

“Jadi aku tak pergi menemui mereka sekarang.”

“Ya.”

Biji mata Zhuo Donglai yang terlihat menabjubkan tiba-tiba terisi dengan hawa senyuman yang kejam dan aneh. “Apakah kau tahu bagaimana caraku berurusan dengan mereka nanti?” Tanyanya kepada Zhuo Qing.

“Aku tak tahu.”

Satu kata dalam satu waktu, Zhuo Donglai berbicara, dengan nada yang unik. “Aku akan mentraktir mereka makan. Aku ingin membuat perjamuan untuk menyambut mereka malam ini di ‘Chang’an’ Restaurant.”

“Baik.”

“Kau harus pergi mengundang mereka untukku.”

“Baiklah.”

“Zhu Meng mungkin tak akan menerima. Dia mungkin berpikir itu adalah sebuah jebakan. Tetapi, “katanya dengan nada dingin, “Aku yakin kau dapat memikirkan cara untuk meyakinkan mereka untuk pergi.”

“Ya,” kata Zhuo Qing, “mereka akan pergi. Mereka pasti akan pergi. “

“Dan aku harap kau bisa kembali kemari hidup-hidup.”

Balasan Zhuo Qing sederhana dan tegas: “Saya akan kembali hidup-hidup.”

Translator / Creator: fatality