November 23, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 11: Eighty-Eight Slain (Part 1)

 

Bulan kedua, Hari ke dua puluh tiga.

Chang’an.

Sebelum fajar.

Langit berwarna abu-abu mati, seperti tanah. kota kuno Chang’an yang dibangun dengan megah ini masih belum membuka gerbangnya.

Old Huang dan Ah Jin, yang bertanggung jawab untuk membuka gerbang setiap hari, telah membantai seekor babi tadi malam, dan mengumpulkan uang mereka untuk membeli sebotol besar baijiu dan tumpukan flatbreads. Mabuk-mabukan dan makan menuruti isi hatinya, mereka hampir tak dapat merangkak keluar dari tempat tidur dipagi hari.

Melalaikan tugas penjaga dan kegagalan untuk segera membukakan gerbang kota, keduanya terancam hukuman “Pemenggalan kepala segera.”

Hukum militer bersifat tetap dan tak bergerak layaknya sebuah gunung. Jadi, ketika Old Huang bangun dan menyadari bahwa ia sudah terlambat tiga puluh menit, ia mulai berkeringat ketakutan. Sebelum ia selesai mengancingkan mantel empuknya, ia masih berada diluar membukakan gerbang kota.

“Cuacanya sangat dingin, disana mungkin tak akan ada orang yang menunggu untuk masuk ke kota.”

Dia menghibur dirinya sendiri sambil memain-mainkan kunci besar yang ada digerbang utama. Ia membuka gerbang dan hampir mati karena ketakutan.

Diluar terdapat tujuh puluh atau delapan puluh orang, semuanya berpakaian menyolok, semua jalanan berisi penuh jejak oleh penutup kaki mereka. Mereka mengenakan pedang berkepala hantu yang terikat dipunggung mereka, dan kepala mereka tertutup dengan kain putih, diatasnya dijahit dengan potongan kain berwarna bintik-bintik kemerahan.  Masing-masing orang mengenakan ekspresi yang cocok dengan cuaca pada hari itu, dan memancarkan aura pembunuh yang akan menyebabkan semua orang merinding.

Begitu gerbang kota dibuka, orang-orang terpisah menjadi dua kelompok dan secara diam-diam memasuki kota, jumbai berwarna merah darah yang ada pada pedang mereka berkibaran diatas angin, kain putih yang membungkus kepala mereka bersinar, ujung pedang mereka berkilauan.

Pedang mereka tak tertutup, karena mereka tak membawa sarung pedang.

-Siapakah orang-orang ganas itu? Untuk apa mereka datang ke Chang’an?

Old Huang si penjaga kota itu berdiri diposisinya. Awalnya ia berencana untuk menanyai mereka, namun sekarang lidahnya terasa kaku dan tak dapat berbicara.

Mungkin ini dikarenakan pada saat itu terdapat seorang pria yang berjalan kedepan. Ia mengenakan pakaian berbulu beruang, dan ia menatap Old Huang dengan sepasang matanya yang berwarna merah. Meskipun ia tampak kurus, tulang pipinya menonjol bangga, dan matanya setajam pisau. Kehadirannya menakjubkan, seperti binatang buas yang baru saja muncul dari pegunungan yang dalam.

Kain putih, dijahit dengan potongan kain berwarna bintik-bintik kemerahan, menahan rambut yang acak-acakan.

Satu-satunya orang yang berpakaian berbeda adalah seorang pria kurus, tampan muda, membawa bundel sempit yang panjang, terbungkus oleh kain hitam, mencengkeram erat-erat ditubuhnya.

Lutut Old Huang melemah. Siapapun yang melihat kelompok pembunuh itu sudah pasti akan memilki rasa kekhawatiran.

“Apa kau ingin bertanya kepada kami? Darimana kami berada? Apa yang kami lakukan disini? “

Suara pria itu, yang terdengar serak, serta membawa aura keagungan dan semangat.

“Dengar, dan perhatikan dengan baik. Aku adalah Zhu Meng. Zhu Meng dari Luoyang.” Dengan suara tegas ia melanjutkan, “Kami datang ke Chang’an untuk mati. “

Translator / Creator: fatality