November 22, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 10: The Second Month is Too Early for Spring in Luoyang (Part 3)

 

Dijalanan kecil yang lain, didalam suatu perkumpulan kecil yang disebut "Old Zhang Mantou Shop" Oxhide sedang meracau .

"Oxhide" adalah julukan untuk seorang pemuda. Seorang penggemar minuman, ia tak hanya dapat gemar meracau, namun kulit wajahnya juga sangat tebal. Lebih tebal daripada kulit lembu.

Dia meracau kepada orang-orang asing yang berasal dari bagian China yang lain, karena orang-orang asing itu telah mentraktirnya beberapa minuman.

Ia selalu berpergian karena peristiwa tragis pada saat itu di Copper Camel alley.

"Anak kecil itu benar-benar adalah seorang anak ajaib yang baik. Aku mengaguminya dari lubuk hatiku yang paling dalam. Dia punya nyali dan rasa tak takut yang ajaib."

Orang asing itu mendengarkannya dengan tenang dan menuangkan anggur lagi kepada oxhide.

"Pada suatu hari, aku mendengar bahwa nama marga dari anak itu adalah Gao, dan dia adalah teman  dari old lion. Naga berteman dengan naga, burung phoenix berteman dengan burung phoenix, teman-teman dari tikus menggali lubang di tanah. Pepatah ini benar-benar nyata dan ajaib. Hanya pria sejati seperti old lion yang dapat memiliki teman semacam itu."

Mata orang asing itu tiba-tiba tampak bersinar, namun dengan cepat ia menundukkan kepala. "Kau berada dijalanan itu pada saat itu?"

"Bagaimana mungkin tidak? Bagaimana bisa saya melewatkan hal itu? "Oxhide tampak begitu bersemangat. "Pada saat itu aku ingin pergi minum pagi di kedai teh Old Hu, dan seketika itu juga aku melihat anak itu berjalan dengan angkuhnya dijalanan. Dibulan kedua ini, ia hanya mengenakan pakaian bagian dalam yang pendek. pakaian bagian atasnya, yang dibawa dengan tangannya. Dan pada suatu hari aku menyadari bahwa ia memiliki pedang tersembunyi di bawahnya."

Oxhide tiba-tiba berdiri dan membuat gerakan dengan sumpitnya, dan ia berkata, "Sama seperti ini, ia menusuk Boss Cai melalui jantung. Begitu cepatnya bahkan kau tak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi." Dia menggeleng dan mendesah. "Tak ada yang mengira bahwa anak itu begitu berani, bahkan aku pun terkejut konyol."

"Kemudian apa yang terjadi?"

"Semua orang berasumsi bahwa anak itu telah bersiap-siap untuk dipotong-potong menjadi bagian-bagian kecil. Tak ada yang membayangkan bahwa disaat kritis tersebut, seseorang akan melayang turun dari udara. Ia seperti ... seperti Flying General Li Guang yang turun dari langit."

Mendengar kata-kata indah yang keluar dari mulutnya sendiri, oxhide merasa sangat puas. Jadi ia menghabiskan semangkuk anggur yang lain, dan kemudian bertanya kepada orang asing itu, "Coba tebak. Menurut anda siapakah yang turun dari langit tersebut?"

"Old Lion?"

Oxhide menampar pahanya. "Tentu saja benar, itu adalah dia." Semakin banyak ia bicara semakin antusias dirinya. "Old Lion benar-benar adalah singa tua. keberuntungannya akhir-akhir ini tidaklah baik, dan ia telah kehilangan berat badan, tetapi segera setelah ia muncul, ia benar-benar tampak persis seperti singa."

Oxhide meregangkan dadanya dan menepuknya, serta meniru cara bicara Zhu Meng yang terbaik, "Dia adalah temanku. Barang siapa yang berani menyentuhnya langkahi mayatku terlebih dulu."

"Jangan katakan kepadaku," tanya orang asing itu dengan tenang. "Saudara-saudara Boss Cai tak bersedia untuk bergerak."

"Jika ada seseorang yang bergerak, semangat singa dari old lion akan meletus. Siapa yang dapat berani melakukan sesuatu pada saat itu? "

Oxhide tiba-tiba mendesah. "Pada awalnya benar-benar tak ada yang bersedia untuk bergerak. Kami tak pernah membayangkan bahwa salah satu bajingan yang asing itu tak mengetahui perbedaan antara hidup dan mati, mereka juga mendadak menyerangnya."

"Orang  asing?"

Oxhide mengangguk. "Pada suatu hari aku menemukan bahwa Boss Cai benar-benar menyewa seluruh bajingan itu."

"Namun Boss Cai telah mati. Jika mereka membunuh old lion, maka tak akan ada orang yang akan mampu membayar mereka. Mengapa mereka bersedia mengambil risiko untuk kehilangan nyawanya untuk seseorang yang telah mati?"

"Mereka sudah pasti memiliki rencana," kata oxhide, dengan penuh bangga. "Bahkan kau sendiri, saudaraku, tak akan dapat mengetahuinya, aku tahu persis apa yang terjadi."

"Oh?"

"Kau, saudaraku, tak mengerti orang macam apakah Old Lion itu, tetapi aku dan sekelompok bajingan itu mengetahui dengan persis orang macam apakah Old Lion itu."

"Mengetahui apa?"

"Mengetahui bahwa Old Lion itu tak membiarkan mereka pergi."

"Mengapa?"

"Para bajingan itu adalah pembunuh bayaran dan tangan mereka berbau darah. Ditambah lagi, mereka bukanlah saudara dari Lion Clan. Jika Old Lion kembali menguasai klan, bagaimana bisa ia membiarkan kepala mereka masih berada dileher mereka? "

"Bagus," akui orang asing itu. "Itu masuk akal."

"Dan jika para bajingan itu benar-benar dapat membunuh Old Lion, siapa yang dapat mengetahui berapa banyak bawahan Boss Cai yang akan diperas oleh mereka berdua? Jadi, mereka semua memutuskan untuk melawannya."

Oxhide sangat bangga terhadap dirinya sendiri karena ia dapat menjelaskan dan menganalisis situasi yang rumit tersebut. Sehingga ia meminum mangkuk yang lain. "Ini disebut, ‘Dia yang menyerang pertama kali mendapatkan keuntungan, dia yang menyerang setelahnya mendapatkan bencana.'"

"Siapakah dari mereka yang menemukan bencana?"

"Pada awalnya sulit untuk mengatakan. pertempuran itu mengguncang langit dan bumi. Roh-roh menangis dan para dewa berteriak. Delapan dari sepuluh orang di jalanan begitu ketakutan bahkan mereka tak bisa kencing."

Ekspresi ketakutan bersinar di wajah oxhide ini, seolah-olah ia sekali lagi melihat tumpukan darah dan daging berterbangan dari segala arah, mendengar suara pisau membelah tulang.

"Aku bukanlah orang yang lemah, namun setelah melihat pertempuran itu, aku bahkan tak bisa makan atau tidur selama dua atau tiga hari."

Suaranya terdengar serak, sepertinya dia tak ingin mengatakan apa-apa lagi. Tetapi orang asing itu menuangkan semangkuk anggur yang lain.

Mangkuk ini membangkitkan semangatnya langsung.

"Pada awalnya, Old Lion dan si bocah Gao itu berada di atas angin, namun setelah kejadian itu segalanya berubah."

"Mengapa?"

"Pepatah ini benar, 'dua kepalan tangan tak dapat menahan empat tangan, seorang pria sejati tak dapat berdiri melawan banyak orang." Meskipun Old Lion itu menakjubkan seperti biasa, mereka hanyalah berdua. Meskipun orang-orang menahan diri agar kepala mereka tak terpenggal, namun cepat atau lambat mereka akan jatuh kelelahan. Melihat situasi ini, beberapa saudara dari Lion Clan yang pertama kali bergabung terkejut oleh kekuatannya, mereka tiba-tiba ingin melakukan gerakan, mengambil kesempatan untuk merobohkan Old Lion yang sakit."

Orang asing itu mengangguk.

Orang asing itu telah memikirkan hal yang sama, bahwa situasinya pasti akan berakhir seperti itu. "Begitu orang-orang itu melangkah maju, Old Lion dan si bocah Gao sudah pasti terpotong-potong menjadi daging cincang."

Oxhide mendesah. "Disaat itu, aku hanya berharap bahwa mereka akan keluar dari sana. Ini bukan berarti bahwa mereka tak memiliki kesempatan untuk melarikan diri. Jika itu adalah diriku, aku tahu persis kemana aku akan pergi melarikan diri."

"Old Lion tak melarikan diri?"

"Tentu saja ia tak melakukannya." Oxhide meregangkan dadanya lagi. "Old Lion bukanlah orang seperti diriku. Karena status dan temperamennya, ia tak akan melarikan diri bahkan jika kau membunuhnya."

"Jadi ia tak melarikan diri."

"Dia tak melakukannya."

"Tetapi aku tahu dia tidak mati."

"Tentu saja dia tak mati. Bagaimana bisa Old Lion mati?" Oxhide mendesah. "Tetapi Cleats meninggal."

"Cleats?" Kata orang asing itu. "Siapa Cleats?"

"Seorang pria sejati. Orang yang mengagumkan. "Wajah oxhide memerah dengan kegembiraan. "Dalam hidupku, aku belum pernah melihat orang yang lebih baik dari dia. Jika ia tak meninggal, aku bersedia untuk mencuci kakinya setiap hari. Tak hanya diriku saja yang mengaguminya, namun semua orang juga mengagumi dirinya."

"Kenapa?" Tanya orang asing itu.

"Awalnya dia hanyalah salah satu pelayan dari Old Lion. Dia selalu tampak seperti seorang anak kecil, selalu diganggu oleh orang lain." Wajah oxhide itu memerah. "Tetapi sekarang aku mengerti, orang-orang yang bertindak seperti pahlawan didepan Cleats sebelumnya, hanyalah seorang bajingan. Cleats adalah seorang pahlawan dan pria sejati."

Pada titik ini tampaknya darah oxhide sedang mendidih. Dia merobek jaket kapasnya yang empuk dan berteriak, "Pada hari itu aku melihat dengan jelas, tubuhnya tersayat sembilan belas kali oleh pisau, dan hidungnya terpotong setengah. Sisa setengah dari hidungnya menggantung diwajahnya berayunan bolak-balik saat ia bergerak. "

"Apa yang dia lakukan?"

"Dia merobek hidungnya, kulitnya, dan semuanya, kemudian menelannya. Lalu ia mengayunkan pedangnya dan memenggal orang lain."

Ketika orang asing itu mendengar hal ini, yang hingga kini nampak acuh tak acuh, Tak dapat berpaling melainkan meminum semangkuk anggur dan berteriak, "Seorang pria sejati. Benar-benar seorang pria sejati."

Oxhide memukul meja. "Menyedihkan bahwa seorang pria sejati seperti itu akan mati dalam pertempuran. Ia tak tumbang sampai kedua lengan dan salah satu kakinya telah terpotong. Dan bahkan ketika dia jatuh, dia masih menggigit daging orang lain."

"Lalu apa yang terjadi?"

"Melihat kematian yang begitu menyengsarakan dan heroik, kami semua tak dapat menolong kecuali menangis. Bahkan saudara Lion Clan yang ingin menggelar sebuah pemberontakan menangis karena hati mereka tergerak." Oxhide melanjutkan, "Old Lion tak meneteskan air mata, ia hanya meneteskan darah. Matanya telah terpotong, dan darah mengalir dari wajahnya seperti air mata. Meskipun ia hampir dititik dimana ia tak dapat untuk melanjutkan lagi, ia memanggil kekuatan ledakan terakhirnya untuk memotong jalan yang berada disamping Cleats. Dan kemudian ia membawa pendamping setianya itu."

Dia meniup hidung dan mengusap noda air mata dari wajah Cleats. Air mata mengisi mata Zhu Meng dan berkata, "Cleats belum mati, dan ia hanya punya satu napas yang tersisa."

Darah mengalir disepanjang jalanan, dan Little Gao terus melanjutkan pertempuran.

Zhu Meng mengangkat Cleats ke dalam pelukannya, Ia ingin berbicara, tetapi tak mampu untuk melakukannya. Darah mengalir dari matanya menuju kearah wajah Cleats.

Cleat tiba-tiba membuka matanya yang bernoda darah, dan mengucapkan kata-kata terakhirnya.

"Melapor kepada Ketua Klan. Hamba tak mampu menjaga Ketua Klan lagi. Hamba harus mati sekarang."

Angin dingin bertiup tanpa henti, menyebabkan lembaran salju jatuh dari atap luar toko mantou. Air mata menetes dari wajah oxhide.

Orang asing itu tak menetaskan air mata dan tak berbicara. Tapi ia mengepalkan tangannya, seolah-olah sedang berjuang untuk mengendalikan diri, kuatir jika air mata terjatuh dari matanya.

Setelah beberapa lama, oxhide berbicara lagi. "Setelah Cleats mengatakan hal itu, dia berhenti bernapas. Dan kemudian, seluruh jalanan itu dipenuhi raungan hebat layaknya halilintar. Tak hanya saudara dari Lion Clan yang tak dapat menahannya, aku sendiri juga tak dapat menahannya. Semuanya serang," katanya dengan keras, "dan bunuh semua para bajingan itu. Meskipun aku hanya membunuh beberapa."

Tiba-tiba, orang asing itu membanting meja dengan telapak tangannya. "Bagus. Pembantaian yang sangat bagus." Dia menghabiskan semangkuk anggur yang lain. "Aku, Sima Chaoqun, aku meminum untuk dirimu."

Sebuah suara pecah dapat terdengar dari mangkuk besar oxhide yang jatuh dan hancur.

"Apa?" Katanya, melihat orang asing itu, terkejut. "Apa …. apa katamu?"

"Aku mengatakan aku bersulang untuk dirimu."

"Siapa engkau? Siapa yang mau meminum untuk diriku? "

"Ini hanya diriku, Sima Chaoqun."

"Kau Sima Chaoqun?"

"Ya, benar."

Tubuh oxhide ini tiba-tiba menjadi lemah dan tampak seperti akan terjatuh ketanah. Dengan gagap, ia berkata, "Hamba tak tahu bahwa anda adalah seorang pria sejati terbesar yang berada dibawah langit, Tuan Sima. Hamba tak berani membiarkan anda meminum untuk diriku."

"Saya ingin meminum untuk anda, dan itu harus. Karena kau juga seorang yang pemberani dan jujur. Bahkan, meminum satu cangkir tak akan cukup. Aku harus meminum seluruh kendi untuk Anda. "

Lalu ia benar-benar mengambil kendi dengan kedua tangannya, memiringkan lehernya kembali dan meminumnya. Lalu ia mendongak ke langit dan mendesah. "Semua kerabat di Jianghu yang berada dibawah langit mengatakan bahwa diriku adalah seorang pria sejati dan pahlawan tiada tanding dimasa ini, namun bagaimana bisa diriku dibandingkan dengan Cleats? Atau bahkan dibandingkan dengan Zhu Meng? "

Angin di luar bertiup lebih kencang dan mendesak.

Meskipun itu sudah bulan kedua, tampaknya musim semi masih terasa sangat jauh di Luoyang.

**

 

Translator / Creator: fatality