September 28, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 1: A Solitary Box (Part 7)

 

Di balik pintu itu sebelumnya berisi sebuah ruangan yang menarik dan megah. Tetapi untuk sekarang, isi pintu itu telah berubah seperti neraka.

Neraka tak berisi oleh orang-orang yang hidup, begitu pula dengan ruangan ini.

Ketujuh orang yang baru saja memasuki ruangan tersebut tak akan dapat hidup lagi. Beberapa diantara mereka mengalami leher yang terpotong, beberapa mengalami jantung yang tertusuk, dan beberapa lagi ada yang tertusuk dari depan hingga belakang.

Dan yang paling mengenaskan diantara mereka semua adalah Yang Jian.

Kepalanya tak terlihat, dan tersebar di samping tubuhnya segelintir kartu kertas. Tertulis dimasing-masing kartunya terdapat delapan buah kalimat: “Ini adalah nasib akhir untuk para pengkhianat!”

**

Disana terdapat empat jendela di dalam ruangan, dan semuanya terbuka.

Kemanakah pembunuh itu?

Bintang-bintang bersinar dari luar jendela yang terbuka, dan dari jauh terdengar suara drum dan gong yang nyaring dan keras. Malam ini merupakan malam di hari kelima belas pada bulan pertama kalender lunar, oleh karena itu bunyi sirene pada malam tersebut telah lenyap.

Zhuo Donglai berdiri dengan diam dalam waktu yang lama, angin dingin berhembus di wajahnya. Anehnya, ia tak mengutus seseorang untuk mengejar pembunuh. Sebaliknya, ia berbalik dan menatap Little Gao.

“Kau tahu pembunuh itu diutus kemari?”

“Jika aku tahu, maka seharusnya kau tahu juga.” Little Gao menghela napas. “Sudah lama sekali aku ingin menemuinya.”

“Tetapi pembunuhnya tak hanya satu orang saja”

Tenggorokan telah dipotong dengan pisau kecil yang tajam. Jantung telah ditusuk dengan tombak yang ujungnya sangat tajam.

Dan kepala Yang Jian telah dipenggal oleh semacam kapak.

Zhuo Donglai terlihat tenang. tenang dan sabar.

“Kau seharusnya dapat memberitahu aku bahwa setidaknya ada tiga orang yang pernah kemari,” katanya. “Tak ada satupun orang yang dapat menggunakan tiga metode yang berbeda-beda, dan juga senjata yang benar-benar berbeda, untuk membunuh orang.”

“Ada” Jawab Little Gao dengan serius. “Ada satu orang.”

“Kau sungguh percaya bahwa ada orang seperti itu di dunia? Seorang ahli manakah yang dapat menggunakan senjata yang berbeda-beda dalam kurun waktu yang sama untuk membunuh tujuh orang? “

“Ya!” Kata Little Gao, dengan penuh keyakinan. “Siapa tahu, disana terdapat dua orang. Tetapi setidaknya yang pasti ada satu orang.”

“Siapakah orang itu?”

“Aku tak tahu.” Little Gao mendesau lagi. “Jika kau tidak menghalangi jalanku barusan, mungkin aku sudah melihatnya.”

Zhuo Donglai terus menatapnya. telapak tangannya tampak terasa berkeringat.

“Meskipun,” kata Little Gao, “Aku sebenarnya tak tahu dia berada di Chang’an ini. Dan aku juga tak membayangkan kalo ia akan bersedia bekerja sebagai pembunuh untuk Zhu Meng.”

Zhuo Donglai terus menatapnya dalam waktu yang lama. Dia menatap ekspresi wajahnya, sikapnya, cara berdirinya, dan pedang yang terbungkus kain ditangannya. Tiba-tiba ia berkata, “Aku mempercayaimu, jika kau ingin pergi, pergilah.”

Hal yang sangat mengejutkan. Ini bukanlah gaya Zhuo Donglai. Dia tak pernah membiarkan seseorang pergi begitu mudah.

Satu-satunya alasan dia melakukan hal tersebut ialah karena ia mengganggap Little Gao adalah orang yang sangat berbahaya. Dalam keadaan seperti itu, dia tidak ingin menimbulkan masalah lagi.

Little Gao tertawa.

“Aku tahu, aku bisa pergi kapanpun aku mau,” katanya. “Masalahnya adalah, aku tidak ingin pergi.”

“Mengapa?”

“Karena aku ingin memberitahu engkau sesuatu.”

“Apa itu?”

“Nama julukanku bukanlah Li, dan nama julukanku bukanlah HuiCheng. Dan lagi, aku datang kemari bukanlah untuk Yang Jian.”

“Aku mengerti,” kata Zhuo Donglai. “Oleh karena itu, aku membiarkan engkau pergi.”

“Sebenarnya, ada begitu banyak hal yang tidak engkau ketahui.” Little Gao tertawa. “Dan karena engkau tidak mengetahuinya, aku tak akan pergi.”

Zhuo Donglai mengepalkan tangannya.

Dia tiba-tiba menyadari bahwa pemuda ini memiliki banyak sikap yang sukar untuk dikendalikan dan diprediksi pada awal mulanya. Dia seperti binatang liar yang baru saja menjelajah pegunungan yang sangat dalam, dan tak takut sedikitpun dengan hal apapun.

“Saya bermarga Gao, dan saya datang ke sini untuk seseorang.”

“Untuk siapa?”

“Untuk Sima Chaoqun. Sima Chaoqun yang tak terkalahkan.”

Keringat dingin bermunculan keluar dari dalam kepalan tangan Zhuo Donglai’s

“Kau adalah Gao Jianfei! Pendekar Muda Gao Jianfei yang mana tiga bulan yang lalu telah membunuh empat guru pedang tertinggi dalam kelompok Kunlun, Huashan, dan Kongtong!”

“Ya,” kata LittleGao. “Itulah diriku.”

**

Malam semakin gelap, angin bertiup dengan sangat kencang.

“Aku tak ingin membunuh orang secara diam-diam” kata Little Gao. “Jadi tentukan tanggal, dan tempatnya. Aku ingin tahu apakah benar Sima Chaoqun benar-benar tak terkalahkan.”

Zhuo Donglai tertawa. “Aku jamin engkau akan segera mengetahuinya nanti. Aku hanya berharap kau tidak akan melakukannya”

Translator / Creator: fatality