September 28, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 1: A Solitary Box (Part 4)

 

Langit perlahan menjadi gelap. Meskipun tak ada lampu di dalam ruangan, cahaya lampu yang berasal dari luar bersinar sangat terang.

Angin dingin bertiup melalui celah-celah yang ada di jendela, dan suara samar dari perbincangan dan tawa bisa terdengar dari halaman luar.

Sima Chaoqun mengetahui bahwa tamu yang telah datang tanpa undangan untuk menyaksikan upacara melebihi jumlah tamu yang secara pribadi dia undang.

Dia juga mengetahui bahwa semua orang sedang menunggunya untuk muncul, menunggu kesempatan untuk melihatnya.

Namun ia duduk di kursinya, tidak bergerak. Bahkan ketika istrinya hadir, dia juga tidak bergerak.

Dia sangat kesal.

Membakar dupa, menerima murid, melemparkan bangket besar, menerima tamu… dia berpikir semua hal tersebut sangat menjengkelkan.

Dia hanya ingin duduk di sana dengan damai dan minum.

**

Wu Wan mengerti apa yang sedang dipikirkannya .

Tak ada seorangpun yang lebih memahami Sima Chaoqun selain Wu Wan. Mereka telah menikah selama sebelas tahun, dan memiliki seorang anak berusia sembilan tahun.

Dia datang untuk mendesak Sima Chaoqun untuk pergi keluar secepat mungkin.

Dia telah membuka pintu secara perlahan-lahan dan masuk. Sekarang dia pergi, menutup pintu yang ada di belakangnya, dan tak ingin mengganggunya.

Saat ia pergi, air mata menetes dari wajahnya.

**

Sima menuangkan sendiri secangkir alcohol.

Cangkir pertama telah dilewatinya sejak lama. Dan sekarang ini adalah cangkir yang ke dua puluh tujuh.

Apa yang diminumnya bukanlah anggur, layaknya Zhuo Dongli minum, tetapi secangkir baijiu . Meskipun tak berwarna dan terasa hambar, ketika anda meminumnya, perut anda serasa seperti terbakar api.

Tetapi dia tidak meminum apa yang ada pada cangkir tersebut.

Pintu terbuka lagi secara perlahan. Kali ini orang yang masuk bukanlah Wu Wan, Ia adalah Zhuo Donglai .

Sima mengangkat kepalanya dan ditempatkan cangkir di bawah kursinya. Dia melihat bayangan Zhuo Donglai di ambang pintu.

“Apakah sudah saatnya aku untuk pergi? “

“Ya.”

Translator / Creator: fatality