September 28, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 1: A Solitary Box (Part 3)

 

Pada waktu senja.

Di dalam sebuah restoran kecil, tercium aroma bau wangi yang berasal dari lemak babi dan tumis, keringat dari para kuli dan supir, bau minuman keras, cabai, daun bawang dan bawang putih, semuanya bercampur aduk menjadi satu membentuk aroma bau yang aneh dan susah untuk digambarkan.

Little Gao menyukai aroma tersebut.

Dia menyukai bau awan yang mengambang melewati puncak gunung, dan hawa angin dingin yang sejuk melewati pohon-pohon dan daun-daun. Dan lagi, ia juga menyukai bau tersebut.

Dia menyukai bau para bangsawan yang mulia dan elegan, juga menyukai orang-orang yang berkeringat, yang sedang duduk-duduk memakan roti data yang terbungkus oleh daun bawang, kepala bawang, daging berlemak, serta meminum minuman keras .

Dia menyukai semua orang .

Mungkin karena ia terlalu lama hidup menyendiri, dan jarang melihat banyak orang, hanya pegunungan hijau, awan putih , air yang mengalir dan pohon pinus kuno yang pernah dilihatnya. Tiga bulan yang lalu dia akhirnya kembali ke dunia yang dipenuhi oleh orang-orang. Dan dalam waktu tiga bulan ia telah membunuh empat orang .

Empat panglima perang daerah dengan reputasi terkenal, orang-orang yang pantas mati, bahkan beberapa orang yang susah untuk dibunuh.

Dia menyukai orang-orang, namun dia membunuhnya.

Dia tidak suka membunuh orang , namun dia membunuh mereka.

Dunia ini dipenuhi dengan hal-hal seperti ini , Sesuatu hal yang dapat membuat anda tidak mempunyai peluang untuk membuat keputusan.

**

Chang’an. Chang’an kuno. Sebuah kota besar, yang penuh dengan sejarah kuno dan kisah legenda yang tak terhitung jumlahnya.

Little Gao tidak datang ke Chang’an untuk alasan tersebut, meskipun.

Ia datang untuk seseorang — Sima Chaoqun pahlawan kekal yang abadi untuk selamanya.

Ia selalu membawa pedang bersama-sama dengannya, dan diletakannya disisi samping tangannya. selamanya berada dalam genggamannya.

Pedang itu terbungkus rapat didalam kain.

Hanya sedikit orang yang dapat melihat pedang ini. Semenjak pedang tersebut ditempa hingga sekarang, hanya sedikit orang yang memiliki kesempatan untuk melihatnya.

Pedang tersebut bukanlah pedang untuk dilihat orang-orang.

**

Little Gao mengetahui bahwa ada seseorang yang sedang mengawasinya.

Pada hari kedua ia tiba, dilihatnya seorang yang sangat kurus, mengenakan pakaian yang sangat mahal, dengan sepasang tatapan mata yang dingin yang tampaknya tidak pernah terisi oleh emosi. Bola matanya terlihat seperti bewarna abu2.

Little Gao pernah melihat jenis mata seperti itu sebelumnya.

Ketika ia berumur sebelas tahun, ia hampir dibunuh oleh seekor macan tutul. Mata macan tutul itu terlihat sangat mirip dengan orang tersebut.

Ketika orang itu muncul, nampak seolah-olah semua orang yang berada didalam restoran kecil itu berhenti bernapas sejenak.

Hingga suatu kali, ia menemukan bahwa orang tersebut adalah asisten kepercayaan dari kepala tertinggi “Steward of the 39 Northern Roads Great Protection Agency,” Sima Chaoqun. Namanya adalah Zhuo Donglai.

Little Gao dengan perlahan memakan sepiring mangkuk mie sup kubis rebus, dan ia merasa sangat senang.

Ia mengerti bahwa Zhuo Donglai dan Sima Chaoqun pasti akan curiga padanya, membahas dirinya, dan akan menebak siapa dia.

Little Gao yakin bahwa mereka berdua tidak akan pernah tahu siapa dirinya.

Ia seperti pedangnya. Dimana hanya sedikit orang yang pernah melihatnya.

Translator / Creator: fatality