September 28, 2016

Heroes Shed No Tears – Chapter 1: A Solitary Box (Part 1)

 

Seorang penyendiri dengan sebuah kotak soliter.

Seorang yang sederhana dan sikapnya yang pendiam, membawa sesuatu yang berhiaskan motif kuno, sebuah kotak biasa. Pada saat matahari terbenam, orang itu memasuki kota kuno Chang’an dengan tenang.

Hari kelima belas di bulan pertama kalender lunar.

Chang’an .

Zhuo Donglai menutup pintu, menghalangi angin dan salju yang beribu tahun lamanya telah menjadi bagian dari kota kuno Chang’an. Dia melepas mantel bulunya yang berwarna ungu kemerahan dan menggantungnya di gantungan yang terbuat dari cendana berwarna ungu kemerahan pada tiang sebelah kiri. Di tangan kanannya ia memegang satu set penjepit tembaga berwarna ungu kemerahan, yang ia gunakan untuk menyalakan api pada tungku arang tembaga berwarna merah keunguan didepannya, sebuah tungku arang yang tak pernah padam.

Di samping tungku terdapat kursi cendana berwarna ungu kemerahan, yang terbungkus oleh bulu musang berwarna ungu kemerahan. Di samping kursi tersebut terdapat sebuah meja kayu cendana berwarna ungu kemerahan dan terdapat botol berwarna ungu berisi anggur merah dari Persia.

Hanya membutuhkan dua langkah untuk dapat sampai menuju ke arah meja, dimana ia dengan leluasa dapat menuangkan anggur ke dalam gelas.

Dia menyukai warna ungu.

Dia menyukai ras kuda yang terkenal, wanita-wanita cantik, pakaian mewah, anggur yang lezat, dan menikmati hidupnya.

Dia sangat teliti, pemilih, dan merencanakan segala sesuatunya dengan matang. Dia tak pernah mau menyia-nyiakan energinya sedikitpun, dan juga tidak pernah lengah. Dia bahkan tak pernah membuat pengecualian untuk hal-hal kecil dalam hidupnya.

Dia adalah Zhuo Donglai.

Mungkin karena dia adalah tipe orang seperti demikian, sehingga ia mampu bertahan hidup hingga saat ini.

Dia duduk dan meminum sedikit anggur.

Suasana yang hangat, mewah, dan indahnya ruangan. Serta anggur harum yang terasa manis, menghempaskan seluruh hawa dingin yang berada di dalam tubuhnya, dan seketika itu juga ia merasa sangat lelah.

Persiapan dua hari yang lalu untuk upacara besar pada malam ini telah membuat kebiasaan sehari-harinya menjadi sangat kacau.

Tentu ia tak akan membiarkan segala kesalahan terjadi, meskipun itu hanyalah kesalahan kecil namun dapat menyebabkan sebuah dampak yang besar dan tak terobati. Jika hal itu terjadi, tak hanya dia yang merasa bersalah seumur hidupnya, namun gurunya juga akan mengalami hal yang serupa. bahkan, hal ini juga berpengaruh terhadap semua orang di Jianghu.

Hal terpenting dalam hidup Zhuo Donglai adalah ia tak ingin reputasi atau kehidupan Sima Chaoqun tercoreng sedikitpun, terutama pada saat sekarang dimana ia berada pada masa puncak kesuksesannya.

Orang seperti Zhuo Donglai, yang mana telah bekerja keras untuk menjadi pahlawan pujaan di Jianghu, harus berhasil dalam segala tindakan, tidak boleh gagal.

Ada dua hal dalam hidup Zhuo Donglai yang tidak bisa ia toleransi: kesalahan dan kegagalan.

**

Sima Chaoqun tidak terkalahkan.

Dia bangkit menjadi orang tertinggi di Jianghu ketika berumur sembilan belas tahun. Sebanyak tiga puluh tiga pertempuran besar yang telah ia alami, tak pernah sekalipun terkalahkan.

Dia sangat tinggi, kuat, rupawan, bersikap tegas, dan pemberani. Wajahnya yang terlihat keras selalu menampakan senyuman yang indah. Bahkan musuh-musuhnya pun tak dapat menyangkal bahwa ia memanglah seseorang yang unik, tak sedikit wanita-wanita cantik yang bersedia untuk menemani dirinya. Dia tak hanya setia dengan istrinya, namun juga setia terhadap anak-anak dan teman-temannya, serta tak pernah terlibat dalam skandal apapun.

Dia sangat bangga dengan semua ini.

Bagaimanapun, kebanggaan terbesar dalam hidupnya adalah apa yang telah ia capai dalam dua tahun terakhir. Menggunakan seluruh kemampuan bela dirinya, kebijaksanaannya, perilaku mulia, dan kerja keras, Ia telah berhasil menjelajah Heshuo disekitar Central Plains . Semua cara telah dilakukannya agar dapat menuju ke Northeast China, Ia mengajak 39 pahlawan dan penjahat terbaik untuk bergabung dengan dirinya. Ia bangkit dari dalamnya dunia kejahatan hingga menuju puncak kebenaran, Ia juga mengorganisasi “Great Protection Agency” yang belum pernah ada sebelumnya. Dengan harga yang masuk akal, mereka telah melindungi semua pedagang dan penjelajah yang berada di daerah tersebut.

Tak ada satupun musibah yang pernah menimpa orang-orang yang berlindung dibawah naungan bendera satin berwarna ungu milik mereka, Hal itu memancarkan dengan jelas karakter organisasi mereka yang benar-benar “Great”.

Kejadian yang belum pernah ada sebelumnya, prestasi terbesar jianhu di dunia. Hal tersebut tak mungkin bisa dicapai hanya dengan menggunakan besi dan darah secara menyendiri.

**

Sima Choqun sekarang berusia tiga puluh enam tahun, dan ia telah dinobatkan sebagai pahlawan idola di Jianghu – Pahlawan idola yang tak terkalahkan.

Hanya dia dan Zhuo Donglai yang paham bagaimana cara untuk menjaga posisi mereka pada saat ini.

Translator / Creator: fatality