November 26, 2016

DKWSS – Chapter 9 : Wagering People Not Lives

 

Wagering People Not Lives

Part 1

17 Agustus. Malam.

Lentera telah dinyalakan, baru saja. Seratus sembilan puluh enam lentera cinnabar yang indah.

Big Boss Tang dari “As You Wish Gambling Hall” memberi perhatian penuh pada kemegahan dan upacara, dan percaya bahwa orang menyukai tempat yang terang benderang. Jika orang datang untuk menghabiskan uang, mereka akan menghabiskan sedikit lebih banyak dalam lokasi yang diterangi dengan baik.

Desainer interior yang menghias arena judi telah merekomendasikan sembilan puluh lentera, tapi Boss Tang bersikeras memakai seratus sembilan puluh enam.

Itu bukanlah sebuah kesalahan.

As You Wish Gambling Hall memberi lebih banyak pemasukan daripada tujuh atau delapan arena judi yang lain jika digabungkan.

Big Boss Tang jarang membuat kesalahan, dan seperti sekarang, tidak benar-benar perlu melakukan apapun.

Satu-satunya hal yang perlu dilakukannya adalah duduk di rumah dan menghitung perak yang mengalir masuk. Jika bukan perak yang mengalir masuk, emas yang mengalir masuk.

Cahaya dari seratus sembilan puluh enam lampu itu cukup memadai. Di bawah sejumlah cahaya tersebut, bahkan keriput pada wanita berusia tigapuluh lima tahun yang dirias dengan seksama pun bisa terlihat dengan jelas.

Tapi tampaknya Xiao Jun tidak melihat apapun.

Orang-orang memenuhi arena judi, orang tampan maupun jelek.

Segala sesuatu terjadi di arena judi, hal baik maupun buruk.

Tapi Xiao Jun tidak melihat satupun dari mereka.

Tentu saja segala macam orang datang ke sini untuk berjudi, bahkan jika resikonya adalah kehilangan istri.

Tidak ada yang tahu apa yang dilakukan Xiao Jun di sana, dan tidak ada yang berani bertanya.

Ekspresi wajahnya terlalu menakutkan, dan di bawah cahaya terang, itu bahkan terlihat semakin menyeramkan.

Itu terlihat hampir transparan.

Part 2

Tepat saat lentera dinyalakan, Frogboy tiba bersama Wu Tao dan Ingot.

Tentu saja, banyak orang di arena judi mengenalnya.

Dia bukanlah pangeran yang menolak untuk minum, berpesta, wanita dan berjudi.

Dia adalah teman dekat Big Boss Tang.

Siapapun di Jinan yang menjalankan bisnis seperti ini perlu berteman dengan the Flowered Flag Sect, jika tidak maka segera saat seratus dan sembilan puluh enam lentera dinyalakan di aula utama, mereka akan hancur berkeping-keping.

Dan Frogboy memasuki ruangan dengan gaya yang cukup menarik perhatian. Bahkan orang yang tidak benar-benar mengenalnya ingin memanggil untuk menyapanya.

Seseorang perlu cukup punya muka untuk memanggil dan menyapa Frogboy, bahkan terlebih untuk bisa memanggilnya “Frogbro.”

Tampaknya cukup banyak orang yang punya muka untuk menyapanya. Tidak sedikit yang berteriak. “Frogbro, apa yang akan kau mainkan hari ini?”

“Aku tidak bermain hari ini.” jawabnya dengan gelengan kepala. “Aku membawa dua teman ke sini hari ini, mereka yang akan main. Mereka adalah tamuku.”

Hanya orang dengan banyak muka yang bisa mendapatkan hak untuk disebut teman Frogboy, dan meskipun Wu Tao dan Ingot tampaknya bukan tipe seperti itu, orang tidak punya pilihan selain melihat mereka dengan pandangan sopan.

Xiao Jun tidak melihatnya.

Dia tidak melihat mereka dan tampaknya mereka juga tidak melihatnya.
Sepertinya dia hanya bisa melihat hal-hal di dunia lain yang dia tinggali.
Dan kepingan pai gow (semacam jenis judi di china -red- ) di hadapannya.

Pai gow sangat menyenangkan, selama kau tidak kalah.

Kebanyakan judi seperti itu, menyenangkan selama kau tidak kalah.

Sayangnya, dia menang delapan kali dan kalah sembilan kali.

–Atau mungkin sedang kalah yang kesembilan kali.

“Permainan apa yang dua tamu itu ingin mainkan?”

“Pai gow.”

Dua tamu Frogboy itu segera diantar ke meja pai gow terbesar di ruang itu.

“Posisi apa yang akan dipilih para tamu tersebut?”

“Posisi Heaven.”

Pemain yang sedang menempati posisi Heaven segera pergi.

Pembagi kartu bukanlah pegawai arena judi tersebut.

Siapapun yang menjalankan arena judi tidak boleh berjudi, jangan sampai arena judinya sendiri kalah.

Pembagi kartunya, seorang lelaki gemuk dengan perut besar, memiliki dompet koin yang besar, dan terkesan ceroboh.

Bagaimana bisa kau jadi pembagi kartu di arena judi kecuali jika kau sendiri tipe orang yang mau menghabiskan uang dengan ceroboh?

***

Ingot segera meletakkan tas berisi harta Frogboy, lalu menatap pembagi kartu.

Dia berharap pembagi kartu itu akan melihatnya dan menunjukkan kekaguman karena keborosannya yang berani.

Satu-satunya hal yang ingin dilakukan oleh pembagi kartu itu adalah menyingkirkan pengemis muda ini dan mengambil lagi orang yang baru saja meninggalkan posisi Heaven tadi.

Tapi dia tidak berani.

Siapa yang berani kurang ajar dengan teman Frogboy?

Pembagi kartu menggulirkan dadu, dan muncul tiga. Posisi Heaven mulai dulu, pembagi kartu giliran ketiga.

Tidak disangka pembagi kartu urutan ketiga memainkan sebuah club of panthers. Jika pengemis muda tadi tidak ikut campur dan mengacaukan semuanya, pembagi kartu akan memenangkan duaribu perak dari posisi Heaven dengan permainan ini, karena kartu posisi itu jelek.

Ingot telah kalah, dan benar-benar ludes.

Lalu, hanya dia satu-satunya orang yang belum menempatkan taruhan

baru di meja. Semua menunggu, bahkan pembagi kartu, sepertinya mereka tidak yakin apakah mereka ingin tertawa atau menangis. Apa yang akan dipakainya bertaruh?

Satu-satunya yang dia miliki untuk bertaruh, adalah dirinya sendiri.

“Mengapa kau tak meletakkan dirimu sendiri di meja? Tanya Frogboy.

“Jangan bilang kau lupa jika kau adalah ingot?”

Pembagi kartu ternganga.

Sekarang karena Frogboy menyarankan begitu, apa yang akan mereka lakukan jika pengemis muda itu benar-benar berbaring di meja?

Dia tidak pernah membayangkan bahwa “ingot” tiba-tiba menggelengkan kepalanya dan berkata; “Tidak, aku tidak bisa melakukannya.”

“Mengapa tidak?”

“Karena ingot yang ini terlalu berharga. Aku tak yakin mereka mampu mengimbangi untuk melawanku.”

Pembagi kartu mendesah, begitu juga yang lain. Tapi Frogboy tidak menyerah. “Lalu apa yang akan kau pertaruhkan untuk babak ini?”

“Beberapa emas.”

“Emas?” Pengemis muda itu jelas-jelas tak punya sedikitpun emas. Frogboy tidak bisa menahan diri untuk bertanya, “Emas apa?”

“Dekat sini. Ada emas di mana-mana,” jawabnya dengan santai. “Aku hanya perlu mengambilnya. Aku bisa kapan pun.”

“Kapan kau berencana melakukannya?”

“Sekarang.” Dia berjalan menuju pintu keluar. “Tunggulah, aku akan kembali sebentar lagi.”

Tunggu?

Apakah ada yang percaya jika dia benar-benar bisa mendapatkan emas di tangannya? Apakah ada yang percaya jika dia akan membawanya kembali?
Pembagi kartu itu tertawa keras. “Sepertinya posisi Heaven sekarang kosong. Siapa yang ingin bermain beberapa babak?”

Wu Tao tiba-tiba berdiri. “Aku,” katanya. “Aku di sini, kau pergi.”

Tersedak dengan tawa, pembagi kartu itu bertanya, “Mengapa aku harus pergi?”

“Karena,” jawab Wu Tao dingin, “Kau tidak mampu bertaruh untuk apa yang akan kupertaruhkan. Dan kau tak akan mampu kalah jika kau melakukannya.”

Pembagi kartu menatap syok. Dan tiba-tiba dia mendengar suara di belakangnya berkata, “Aku di sini, kau pergi.”

Dia berbalik dan menemukan dirinya menatap wajah sepucat mayat, sepucat mayat yang duduk di kotak pendingin selama tiga bulan.

Siapa yang berani menyinggung orang seperti ini?

Pembagi kartu itu pergi, begitu juga dua pemain di posisi lain di meja itu. Mereka pergi sejauh mereka bisa.

Semua orang bisa mengatakan bahwa dua orang ini akan melakukan judi yang luar biasa

Tentu saja Frogboy, tidak pergi. Dia tahu benar bagaimana luar biasanya babak judi ini. Luar biasa dalam poin untuk kematian.

Satu-satunya yang tidak dia ketahui, akan jadi kematian siapa itu.

Part 3

Dalam sekejap, tiba-tiba tampak seolah seratus sembilan puluh enam lentera bersinar di atas dua wajah.

Wajah-wajah tersebut memang terlihat seperti wajah mayat.

Wu Tao duduk di posisi Heaven. Xiao Jun mengambil posisi pembagi kartu.

“Kau di sini, begitu juga aku. “ kata Xiao Jun. “Kau ingin berjudi, aku akan bergabung denganmu.”

“Bagus.”

“Apakah aku layak?”

“Kau layak.” jawab Wu Tao. “Apa yang akan kupakai berjudi, hanya kau yang mampu.”

“Apa yang ingin kau pertaruhkan? Nyawa?”

“Taruhan nyawa? Berapa nyawa yang kau punya?”

“Hanya satu,” jawab Xiao Jun. “Satu saja cukup.”

“Tidak, itu tidak cukup.”

“Mengapa tidak? Mungkin sebelumnya kau punya lebih dari satu nyawa, tapi saat ini, kau hanya punya satu tersisa.”

“Justru karena itu: Aku hanya punya satu nyawa. Itu tidak cukup.” Jawab Wu Tao. “Karena itu, kita tidak bisa berjudi.”

“Mengapa?”

“Karena jika kau kalah sekali saja, kau tidak punya kesempatan memulihkan kekalahanmu. Itu tidak menyenangkan atau memuaskan.”

“Lalu bagaimana kau ingin berjudi?”

“Aku selalu mempertaruhkan orang, bukan nyawa.”

“Mempertaruhkan orang?” Xiao Jun tidak mengerti. “Apa bedanya mempertaruhkan orang dengan mempertaruhkan nyawa?”

“Mereka sangat berbeda. Kita berdua hanya punya satu nyawa untuk dipertaruhkan, tapi jika orang, ada banyak orang.”

“Orang yang ingin kau pertaruhkan bukan dirimu sendiri?”

“Tentu tidak.”

“Lalu siapa?”

“Dia.”

Wu Tao mengulurkan tangannya dan menunjuk jari ke seorang lelaki berpakaian abu-abu, dengan rambut hitam dan wajah pucat. “Kali ini, aku ingin mempertaruhkannya. Siapapun yang menang, akan mendapatkannya.”

***

Lelaki berbaju abu-abu itu awalnya berwajah pucat, namun sekarang berubah jadi hijau.

Namun dia masih berdiri di sana, tidak bergerak.

Tiba-tiba Frogboy tertawa. “Ini adalah judi yang luar biasa. Luar biasa secara keseluruhan. Kau menggunakan orang yang tak ada hubungannya denganmu sebagai taruhannya. Dengan cara itu, jika penjudi kalah, tidak ada yang terjadi padanya.”

“Belum tentu.” Dengan dingin Wu Tao bertanya padanya, “Jika kau kalah, apa kau yakin kau bisa menangkap orang itu dan menyerahkannya padaku?”

“Tidak,” Frogboy mengaku. “Aku tidak yakin.”

“Lalu apa yang akan terjadi jika kau kalah?”
Frogboy tidak merespon, sehingga Wu Tao bertanya pada Xiao Jun:

“Bagaimana denganmu?”

Xiao Jun tidak mengatakan apa-pa. Dia melempar dadu. Yang satu muncul empat, yang lainnya, terlalu kecil untuk disebutkan.

Tidak mudah menggulirkan sekecil itu, tapi Xiao Jun melakukannya.

Frogboy melompat dan berteriak pada lelaki berbaju abu-abu itu:” Lari! Lari! Dia kalah, kau harus lari!”

Lelaki berbaju abu-abu itu tidak lari. Bahkan, tidak saja dia tidak berusaha lari, dia berjalan ke depan untuk berdiri di depan Wu Tao. Wajah pucatnya yang kehijauan tersenyum, senyum yang agak mengerikan.

“Jadi aku telah kalah dan diberikan padamu?” tanyanya pada Wu Tao dengan sungguh-sungguh.

“Ya.”

“Kalau begitu inilah aku, kau bisa mengumpulkanku.”

Dia telah dipilih secara misterius dan sulit dijelaskan untuk menjadi bahan taruhan, tapi sepertinya tidak merasa aneh dengan hal ini. Terlebih lagi, dia menyerahkan dirinya tanpa sedikit pun ketidakpuasan.

Frogboy menatap dengan takjub.

Dia belum pernah melihat sesuatu yang luar biasa seperti itu seumur hidupnya. Belum ada yang pernah.

Bahkan yang lebih luar biasa lagi, dari dalam kerumunan tiba-tiba muncul dua belas lelaki tambahan, masing-masing memakai pakaian abu-abu yang hampir sama persis. Mereka berjalan ke depan untuk berdiri di depan Wu Tao, dan dengan suara kosong aneh yang sama, berkata,

“Mengapa kau tidak mengumpulkanku?”

“Aku memenangkan satu orang. Mengapa aku harus mengumpulkan kalian semua?”

“Kami semua satu orang.” Mereka bertigabelas merespon dengan serempak… “Tapi ada sesuatu yang berbeda denganku.”

“Apa itu?”

“Orang lain hanya punya satu nyawa. Kau sendiri hanya punya satu nyawa.”

“Dan kalian semua?” tanya Wu Tao. “Berapa nyawa yang kalian punya? Tigabelas?”

“Kami punya sembilan ratus sembilan puluh sembilan.”

“Sembilanratus sembilanpuluh sembilan nyawa, kalian semua?’

“Ya.”

Wu Tao mendesah. “Siapapun dengan begitu banyak nyawa tidak akan takut pada kematian.”

Ketigabelas orang itu mengangguk serempak, dan mengulurkan lengan mereka.

Mereka mengulurkan lengan kiri mereka, hanya saja… mereka tidak punya lengan kiri.

Lengan kiri mereka telah dipotong, dan di tempatnya telah dipasang penjepit baja berkilauan yang berbentuk aneh. Mereka terlihat aneh, buruk, tangkas dan mematikan.

Sampai saat ini, tidak ada yang pernah melihat mereka mengulurkan lengan mereka, atau pernah melihat penjepit baja itu. Bagi mereka untuk tiba-tiba melakukan ini hanya meningkatkan perasaan ngeri yang aneh dan tak terucapkan.

Tampaknya mereka semua menggunakan jurus yang sama untuk memanjangkan lengan mereka, sebuah jurus sederhana, namun sebuah jurus di mana posisi tubuh setiap orang ini sangat aneh. Mereka semua saling melengkapi satu sama lain: tigabelas penjepit baja hampir terlihat seolah mereka dikendalikan oleh sejenis mesin. Dan tigabelas orang itu terlihat seolah mereka semacam robot yang indah.

Dalam kerlipan cahaya, tiga belas penjepit baja itu menembak ke arah pergelangan kaki, lutut, pergelangan tangan, siku, bahu, kepala, leher dan pangkal tenggorokan Wu Tao.

Dalam hitungan detik, setiap sendi dan titik vital tubuhnya menjadi rentan terhadap mereka, dan semua jalan untuk melarikan diri sudah ditutup.

Jika dia terbuat dari kayu, maka dia akan dihancurkan jadi berkeping-keping. Jika dia batu, maka dia akan diremukkan jadi serpihan.

Bahkan jika dia terbuat dari besi, dia masih tidak bisa menghindar dari cengkeraman penjepit baja itu.

Siapapun percaya dia tidak akan bisa lepas dari kematian. Tapi siapa yang bisa tahu pasti?

Tepat pada saat itu, seluruh seratus sembilan puluh enam lentera di aula utama padam.

Cahaya lentera terang di aula tiba-tiba menjadi lembaran gelap gulita.

Begitu gelap sehingga bahkan kilauan penjepit baja pun tidak bisa terlihat.

***

Beberapa orang menyukai kegelapan.

Dalam kegelapan, beberapa orang bisa melakukan hal tertentu yang biasanya tidak pernah terpikir untuk dilakukan.

Beberapa orang hanya bisa berpikir dalam kegelapan.

Sepanjang sejarah, banyak filosofi mendalam dan rencana rahasia yang lahir dalam kegelapan.

Namun kegelapan bisa menakutkan.

Orang akan selalu memiliki ketakutan pada kegelapan yang sulit untuk dijelaskan.

***

Dalam kegelapan As You Wish Gambling Hall, orang-orang mulai berteriak dan berlarian dalam kepanikan. Tapi kemudian mereka berhenti.
Karena tiba-tiba, tiga puluh enam dari seratus sembilan puluh enam lentera menyala lagi.

Saat cahaya lentera menyebar, kerumunan melihat bahwa tigabelas lelaki berbaju abu-abu tersebut tidak terlihat di manapun. Begitu juga Wu Tao.

Tigapuluh enam lentera lain menyala, dan manager lantai arena judi berteriak, “Big Boss Tang telah menyiapkan seratus kendi alkohol bagus dan seratus meja makanan untuk semuanya. Setiap orang di sini menjadi tamu kehormatan Big Boss Tang. Semua kami tanggung.”

Seluruh seratus sembilan puluh enam lentera menyala sekarang. Setiap orang di kerumunan menonton saat anggota staf masuk membawa makanan dan alkohol. Dan mereka juga melihat saat pengemis muda itu kembali membawa sebuah tas besar yang berat.

***

Tidak ada orang yang bisa memadamkan seratus sembilan puluh enam lentera secara bersamaan.

Tidak ada yang tahu bagaimana itu terjadi. Terlebih lagi, tidak ada yang tahu bagaimana tigabelas lelaki itu dan Wu Tao tiba-tiba menghilang, entah kemana perginya.

Namun semua bisa melihat Ingot berjalan menuju meja, tas besar di tangannya mengeluarkan suara-suara “dentingan”.

Hanya dari suara dentingannya, orang bisa melihat bahwa benda-benda dalam tas itu sangat berat, mungkin seberat emas.

Pengemis muda itu benar-benar membawa kembali emas untuk berjudi. Darimana dia bisa memperoleh sejumlah itu?

Part 4

Xiao Jun masih duduk di sana, posturnya persis sama dengan saat sebelum lentera padam, wajahnya masih tanpa ekspresi, seolah tidak terjadi apapun.

Kendi alkohol dan piring-piring makanan sudah mulai dihidangkan.

Frogboy menggelengkan kepala dan mendesah. “Orang ini benar-benar gila-traktir.” gumamnya. “dan bahkan tampaknya seorang money phobe.”

Ingot mendengar ungkapan aneh ini saat meletakkan tasnya, dan tidak bisa menahan diri untuk bertanya, “Apa artinya gila-traktir?”

“Artinya orang ini sangat suka mentraktir orang sehingga mereka jadi gila.”

“Dan apa artinya ‘moneyphobe’?”

“Itu artinya orang ini takut menjadi terlalu kaya, jadi dia menghabiskan uangnya gila-gilaan dengan mentraktir orang lain.” Dia mendesah lagi. “Cahaya yang padam tidak ada hubungannya dengan dia, tapi dia mentraktir semua orang.”

“Siapa yang sedang kau bicarakan?”

“Selain Big Boss Tang, siapa lagi?

“Baiklah.” Ingot mengacungkan jempolnya. “Big Boss Tang ini memang terdengar seperti seorang bos besar. Aku menyukainya.”

Frogboy tertawa . “Sebaiknya tidak.”

“Mengapa tidak?” tanya Ingot.

“Karena dia pasti tidak akan menyukaimu.”

“Bagaimana kau tahu itu?”

Tampaknya Frigboy hendak mengatakan sesuatu, lalu berubah pikiran dan mengatakan hal lain: “Temanmu tiba-tiba menghilang, dan kau bahkan tidak menanyakannya. Bagaimana bisa ada orang yang menyukai seseorang yang tak ramah sepertimu?”

“Dia mungkin menghilang, tapi dia akan kembali. Jadi mengapa bertanya?” Ingot tampak yakin. “Bahkan, masih ada waktu untuk bertanya, setelah dia kembali.”

“Salah.” Jawab Frogboy, juga dengan nada yakin. “Temanmu tidak akan kembali.”

“Mengapa tidak?”

“Bagaimana bisa orang mati kembali?”

Ingot tertawa, begitu keras sampai dia membungkuk di pinggang. “Apa yang membuatmu berpikir dia mati?” Jika dia bisa mati, setengah dari yang orang-orang lainnya juga sudah mati.”

Setelah dia selesai tertawa, Frogboy bertanya, “Kau percaya dia takkan mati? Bahwa dia pasti kembali?”

“Pasti.”

“Apa yang ada dalam tasmu?”

“Emas.”

“Apa kau ingin bertaruh?” dia bertanya pada Ingot. “Kau bisa bertaruh dengan tas emasmu.”

“Kau sudah meminjamkan semua kekayaanmu. Jika kau kalah, apa yang akan kau berikan padaku?”

“Seseorang.”

“Baiklah.” Jawab Ingot. “Aku akan bertaruh denganmu. Jika dia tidak kembali dalam satu jam, berarti aku kalah.”

Frogboy tertawa dengan keras. “Kalau begitu kau sudah kalah.”

**

Translator / Creator: Jade77