November 16, 2016

DKWSS – Chapter 3 : Flowered Flags

 

Flowered Flags

Part 1

16 April. Siang hari.

Bagi Song Changseng, hari itu dimulai seperti hari lain. Tapi setelah makan siang, sesuatu terjadi dan tidak akan pernah terjadi lagi seumur hidupnya.

Song Changseng adalah satu-satunya pemilik toko peti mati di Desa Liu.

Mungkin karena penduduk Desa Liu menjalani hidup yang sederhana dan relatif berumur panjang, bisnisnya tidak terlalu bagus. Kadang pemasukan bahkan tak cukup untuk menutup pengeluaran. Siapa yang mengira bahwa dia mendapatkan pelanggan setelah makan siang?

Dia duduk sambil mengantuk di belakang meja. Angin bulan April bertiup melewati jendela dan tubuhnya yang tua dan lesu. Sepertinya tidak puas.

Yang lebih mengganggu lagi, tepat sebelum jatuh tertidur, dia terbangun karena pengemis muda itu.

Biasanya, ketika para pengemis memanggil, dia akan memberi mereka sedikitnya dua koin perunggu. Tapi hari ini dia tidak memberi apapun.

Siapa akan membayangkan bahwa pengemis itu akan mengeluarkan setumpuk koin perak dan menyerahkannya.

Ternyata pengemis itu tidak datang untuk minta sedekah.

“Aku ingin beli beberapa peti mati. Lima buah. Apakah perak ini cukup?”

Song Changseng menatap dengan terkejut.

Dibungkus dengan tikar jerami setelah mati biasanya sudah cukup bagus bagi seorang pengemis, tapi yang diinginkan pengemis muda ini, bukan hanya sebuah peti mati, tapi lima peti mati.

Song Changsheng telah menjalankan bisnis peti mati selama tiga puluh tahun, dan belum pernah menghadapi situasi seaneh ini.

Yang lebih aneh lagi, setelah memuat peti-peti mati itu ke dalam kereta, dia melakukan perjalanan dengan pengemis muda itu keluar desa menuju hutan murbei untuk mengambil mayat-mayat itu, dan ternyata tak ada mayat yang terlihat.

“Tidak ada mayat? Mengapa kau beli peti mati?”

Dia ingin menanyakan hal ini pada pengemis muda itu, tapi ternyata orangnya sudah menghilang. Dan dia meninggalkan lebih dari duapuluh koin perak yang telah dibayarkannya untuk peti mati itu.

Mungkin kau berpikir bahwa pengemis muda ini sedang memainkan sejenis lelucon, tapi koin koin perak itu bukan lelucon.

Semakin Song Changsheng memikirkannya, itu semakin tidak masuk akal.

Yang semakin tidak terbayangkan, baru saja dia kembali ke tokonya dengan lima peti mati, datang orang lain mencari untuk membeli.

Kali ini, pembelinya adalah pengemis lain. Dan dia juga membeli lima peti mati!

Wajah pengemis itu penuh bopeng, dan kelihatan lebih garang dibandingkan dengan pengemis muda yang datang lebih dulu tadi.

Song Changsheng tidak berani bertanya hal lain selain, “Jenazah yang hendak kau tempatkan di peti-peti mati itu, di manakah mereka, kemana harus kukirim petinya?”

Dengan wajah tanpa ekspresi, pengemis bopeng itu berkata, “Itu rahasia. Rahasia yang senilai dengan nyawamu.”

Dengan gaya bicaranya yang serius, dia melanjutkan, “Jika kau tahu siapa jenazahnya, aku khawatir kau tak akan hidup sehari lagi.”

Dengan itu, dia mendapatkan keretanya sendiri dan membawanya pergi. Song Changsheng begitu takutnya sampai tak bisa bicara.

***

Dia tidak bisa tidur semalaman.

Part 2

Pengemis muda itu sama bingungnya dengan Song Changseng tentang mengapa mayat-mayat di hutan murbei itu tiba-tiba hilang.

Ketika dia pergi, mereka masih di sana, dan mereka benar-benar sudah mati.

Lelaki gondok itu menggunakan sisa-sisa kekuatan terakhirnya itu ke dalam tinjunya, Dia jelas berniat untuk mati bersama pengemis muda itu. Jadi ketika serangannya mengenai pohon, dia langsung mati.

Empat mayat yang lain sudah jadi dingin.

Sebelum pergi, pengemis muda itu memeriksa semua mayat itu dengan teliti.

Dia sebenarnya tidak ingin membeli peti mati untuk mereka.

Mereka sudah mencoba mencuri uangnya dan berusaha membunuhnya, dan tidak mudah medapatkan perak itu. Dia lebih suka menghabiskan perak itu untuk  gulali, roti, alkohol dan daging. Atau mungkin memasukkannya ke dalam gong gadis berkepang dan berkaki panjang itu.

Tapi tetap saja dia membeli peti mati untuk mereka.

Jika seseorang ingin hidup. Sulit menghindari situasi di mana kau harus melakukan sesuatu yang sesungguhnya tidak ingin kau lakukan.

***

Tidak mungkin bagi pengemis muda itu untuk menebak siapa yang mengambil mayat-mayat tersebut. Dan bahkan lebih tidak mungkin lagi baginya mengetahui pengemis bopeng itu pergi ke Song Changsheng untuk membeli lima peti mati.

Dia hanya ingin segera pergi dari tempat ini secepatnya.

Saat senja, dia telah mencapai Jinan. Setelah berkeliling sebentar, dia melihat sosok Wu Tao.

Sepertinya kedua orang ini memang memiliki semacam hubungan yang sudah ditakdirkan.

Part 3

Mayat-mayat di hutan murbei itu telah dibawa pergi oleh lelaki berbaju hijau kebiruan.

Itu terjadi saat pengemis muda itu pergi untuk membeli peti mati.

Tentu saja lelaki berbaju hijau kebiruan itu tidak benar-benar melepaskan si pengemis muda untuk pergi. Dia sudah melanjutkan mengikutinya, hanya saja belum melakukan tindakan terhadapnya.

Ketika pengemis muda itu kembali dan menemukan bahwa mayat-mayat itu telah hilang, dia tidak pergi mencari mereka.

Dengan membeli peti mati untuk mereka, dia telah melakukan apa yang dia bisa. Dia tak peduli siapa yang telah membawa mayat-mayat itu pergi; itu tidak ada hubungannya dengan dia, dan dia sudah tidak tertarik lagi dengan hal itu.

Tapi lelaki berbaju hijau kebiruan itu melihat bahwa mayat-mayat itu sangat menarik. Dia menyuruh anak buahnya untuk pergi membeli lima peti mati dan meletakkan mayat-mayat itu di dalamnya. Kemudian dia membiarkan pengemis muda itu pergi.

Apa hubungannya lima orang ini dengannya? Mengapa dia mau mengurus mayat mereka? Mengapa tiba-tiba dia membiarkan pengemis muda itu pergi?

Anak buahnya tidak berani bertanya-tanya, dan dia sendiri tidak berencana akan menjelaskannya pada mereka.

Dia hanya memberi perintah sederhana.

“Tak peduli jika kalian bertemu anak itu nantinya, jangan apa-apakan dia.” Dia memasang ekspresi sangat serius di wajahnya yang pucat.

“Sekarang bawa peti-peti mati ini ke Jinan, secepatnya.”

***

Pada saat pengemis muda itu melihat Wu Tao, peti-peti mati itu sudah memasuki kota.

Part 4

Malam hari itu cukup berbeda dari malam lain bagi sebagian besar orang . Situasi bisnis di Jinan sedang suram. Banyak toko besar yang sebelumnya sangat sukses, sudah lama menutup pintu mereka. Bahkan pelanggan yang sudah jauh-jauh hari membuat janji ditolak.

Bahkan dua keluarga yang sudah memesan tempat untuk pernikahan di restoran “Great Three Yuan” harus mencari lokasi lain.

Tidak ada yang tahu mengapa ini terjadi. Manajer dan para pegawainya menutup mulut mereka rapat-rapat.

Satu-satunya petunjuk adalah bahwa semua bisnis tersebut dimiliki oleh jutawan besar ternama Sun Jicheng. juga para lelaki tegap di atas kuda-kuda gagah yang terus keluar masuk rumah mewahnya yang dijaga ketat.

***

Ketika pengemis muda itu menangkap bayangan Wu Tao, dia sedang duduk di sebuah restoran berukuran sedang, terlihat sedikit tertekan. Dua piring hidangan lezat di hadapannya, begitu juga secangkir alkohol, belum satupun yang disentuhnya.

Pengemis muda itu berdiri di jalan di seberangnya, hanya melihatnya, selama beberapa saat. Setelahnya, dia memutuskan untuk bergabung dengannya, mencoba menghiburnya, dan tentu saja pada saat yang sama membantu dirinya mendapatkan sedikit makanan dan alkohol.

Sayangnya, lelaki berwajah tajam itu sepertinya tidak menghargai niatnya, dan bahkan benar-benar mengabaikannya, seolah-olah dia bahkan tak melihatnya berdiri di sana.

Pengemis muda itu tersenyum, memamerkan lesung pipitnya.

Dia bukan tipe orang yang mudah menyerah pada kesempatan untuk mendapatkan makanan enak dan alkohol.

Meskipun orang ini sangat pelit, pengemis muda itu yakin dia akan punya cara untuk mengatasinya.

Jadi dia duduk di depan pria itu dan berkata, “Apa kau kehilangan dompet koinmu?”

Dia telah memikirkan sesaat tentang apa yang akan dikatakannya, dan dia tahu bahwa dengan kalimat ini, Wu Tao tidak akan mungkin mengabaikannya lagi.

Dan tentu saja Wu Tao jatuh tepat dalam perangkapnya. Tiba-tiba dia mendongak dan bertanya, “Bagaimana kau bisa tahu kalau aku kehilangan dompet koinku?”

“Tentu saja aku tahu.” Lalu dia membalas, “Apa kau ingin aku mendapatkannya kembali untukmu?”

Sambil berbicara, dia meraih sumpit dari tabung bambu di meja dan mengambil sendiri dari piring telinga babi dan jeroan

Wu Tao melihatnya makan.

Uang dalam dompet koin itu cukup untuk membeli satu babi utuh.

“Kau bisa mendapatkannya kembali untukku?”

“Tentu. Aku tidak bercanda.”

“Kapan kau bisa mendapatkannya kembali?”

“Sekarang,” katanya. “Aku bisa mendapatkannya secepatnya.”

Saat yang sama, dia telah menghabiskan setengah piring Mushu pork dan roti goreng.

“Baiklah, di mana benda itu?” tanya Wu Tao tak sabar.

“Di sini.” Pengemis muda itu terus makan dengan tangan kanannya, dan mengeluarkan dompet koin itu dengan tangan kirinya. “Apakah yang ini?”

“Benar. Itu milikku.”

Dompet koin itu miliknya, tapi sayangnya, tidak ada uang di dalamnya.

“Sebelumnya ada duapuluh tiga keping perak dan uang kecil di dalamnya.”

“Aku tahu.” jawab pengemis muda itu, dan dia makan semakin cepat.

“Aku berjanji untuk mendapatkan kembali dompet koin itu. Aku tak pernah bilang apapun tentang uang di dalamnya.”

“Apa yang terjadi pada uang itu?”

“Aku menghabiskan semuanya.” Sebelum Wu Tao marah, pengemis muda itu melanjutkan, “Aku berani taruhan bahwa kau tak bisa menebak untuk apa aku menghabiskannya.”

Dengan perak yang sudah hilang, tak ada gunanya untuk marah. Wu Tao hanya menggelengkan kepalanya dan mendesah, “Kau bisa hidup selama sebulan dengan duapuluh tiga keping perak. Bagaimana mungkin kau menghabiskannya sekaligus?”

“Aku membeli sesuatu.”

“Apa yang kau beli?”

“Aku membeli lima peti mati.”

Wu Tao tidak bisa menghela napas meskipun ingin. Dia menatap pengemis muda itu dengan terkejut, dengan ekspresi yang sama di wajahnya seolah dia tiba-tiba menginjak setumpuk kotoran anjing.

“Mengapa kau beli peti mati?” dia berseru.

“Aku ingin membantumu melakukan sesuatu yang baik dengan perakmu.” jawab pengemis muda itu. “Aku hanya kebetulan melihat lima orang mati di jalan. Jadi aku membeli peti mati itu bagi mereka sekaligus membantumu membangun karma baik.”

Pengemis muda itu mendesah. “Kesempatan seperti ini tidak sering muncul. Kau sangat beruntung tiba-tiba mendapatkan kesempatan itu.”

Wu Tao menatapnya, ternganga, tidak yakin hendak tertawa, menangis, atau menggigit bocah itu.

Setelah beberapa saat, dia tertawa getir. “Jika kau melihatnya seperti itu,” katanya, “sepertinya aku ini benar-benar beruntung.”

Ternyata lelaki itu bisa mengumpat.

Pengemis muda itu tertawa.

“Aku tahu bahwa kau adalah jenis orang yang bisa membedakan yang baik dan yang buruk.” Pengemis muda itu sepertinya dengan sengaja mencoba membuatnya merasa terganggu. “Jika kesempatan lain seperti ini datang lagi, aku akan melakukan hal yang sama lagi.”

Sepertinya dia mencoba membuat lelaki ini gila.

Wu Tao menatapnya beberapa saat, lalu tiba-tiba menggebrak meja.

“Bawa alkohol,” dia memanggil pelayan dengan nyaring. “Aku ingin duapuluh pon kubis terbaik kalian dan lima hidangan pembuka, jenis terbaik, bukan yang murah.”

Pengemis muda itu terkejut.

Lelaki tua pelit itu pasti sudah gila, jika tidak, mengapa tiba-tiba dia jadi begitu murah hati dan boros?

Saat alkohol datang, Wu Tao, minum tiga cangkir berturut-turut, lalu meletakkan cangkirnya dan tertawa tiga kali. Dia menepuk dadanya dan berteriak, “Aku bahagia! Sudah lama sekali sejak aku bisa minum dengan begitu bahagia.”

Dia menuangkan secangkir untuk pengemis muda itu. “Ayo, minumlah denganku,” katanya. “Apapun yang ingin kau makan, pesan saja. Hari ini kita akan makan sepuas hati kita.”

Ketika orang gila mengatakan hal-hal gila, yang terbaik adalah mengikutinya saja, jangan sampai kau nanti mendapat pukulan.
Setelah minum tiga cangkir lagi, Wu Tao bertanya, “Kau tahu mengapa

aku begitu bahagia hari ini?”

“Aku tidak tahu.”

“Karena kau.” Wu Tao tertawa keras-keras. “Kau telah membuatku bahagia. Belum pernah aku bertemu bajingan kecil sepertimu.”

Pengemis muda itu juga tertawa keras-keras. “Tidak banyak bajingan kecil seperti aku.”

Pada titik ini, dia bisa melihat bahwa lelaki tua itu tidak gila. Tidak, kehidupan sehari-harinya terlalu dibatasi, disiplin dan kaku. Sekarang saat dia punya kesempatan, dia ingin bersantai dan menikmati sedikit kebahagiaan.

Wu Tao minum secangkir lagi, lalu kemudian tiba-tiba menggebrak meja lagi. “Bajingan-bajingan itu benar-benar tidak berguna,” katanya. “Jika bukan karenamu, aku masih akan sangat marah pada mereka dan mungkin tidak akan bisa tidur malam ini.”

“Bajingan-bajingan apa yang kau bicarakan?”

“Para bajingan dari pabrik Xiang Tai Chou ,” jawab Wu Tao dengan marah. “Aku memesan sutera Shandong dari mereka jauh-jauh hari, dan tanggal pengirimannya hari ini. Bahkan aku sudah membayarnya. Tapi mereka tidak buka hari ini, Tidak ada seorang pun di sana. Aku memanggil-manggil sampai tenggorokanku sakit, tapi tak ada yang muncul.”

Pengemis muda itu menggebrak meja. “Mereka benar-benar bajingan. Lupakan saja mereka. Ayo, mari kita minum.”

“Benar!” kata Wu Tao, dia terlihat kembali bahagia. “Lupakan mereka. Mari kita minum.”

Sayangnya, ketahanannya terhadap alkohol tidak terlalu baik. Setelah minum dua cangkir lagi, lidahnya mulai membengkak, dan wajahnya terlihat lebih merah daripada pantat monyet. Saat dia bicara, terdengar seolah dia sedang mengulum sebuah telur di mulutnya.

Tetapi sepertinya kepalanya masih bisa berpikir. “Nama keluargaku Wu.” katanya pada pengemis muda itu. “Aku dipanggil Wu Tao. Siapa namamu?”

“Aku dipanggil Ingot,” jawab pengemis muda itu. “Kau tahu, semua orang suka ingot.”

“Ingot.” Wu Tao tertawa. “Itu nama yang sangat bagus!”

Part 5

Pada saat ini, lelaki berbaju hijau kebiruan itu sudah tiba di Jinan.

Dua peti mati dibawa oleh dua kereta datar, bukan oleh hewan, tapi oleh manusia.

Para murid dari the Beggar Sect tidak menggunakan kuda atau kereta atau tandu. Tidak peduli sesulit apapun, mereka hanya mengandalkan diri mereka sendiri. Mereka berkeringat dengan keringat mereka sendiri, menggunakan tenaga mereka.

Pengemis bopeng dan pengemis pincang mendorong kereta itu, sedangkan pria berbaju hijau kebiruan berjalan pelan di belakang mereka, matanya yang kosong menerawang jauh. Meskipun dia berjalan di belakang mereka, seolah hatinya di dunia lain, dunia yang tak pernah di masuki orang lain kecuali dia sendiri.

Mereka menapaki sebuah jalanan yang suram dan terpencil.

Meskipun bulan penuh malam ini, cahayanya tidak menerangi tempat ini. Kereta reyot itu berderit dengan beban peti-peti mati itu. Jelaga bersama dengan bau sampah yang memenuhi udara, dan wajah lelaki berbaju hijau kebiruan itu semakin menyeramkan.

Kemana dia membawa peti-peti mati itu? Apa yang dia rencanakan pada mereka?

Tidak ada yang tahu, dan tidak ada yang berani bertanya.

Roda kereta berguling dalam abu, dan para pengemis itu mendorong kereta dengan keringat menetes dalam angin yang dingin.

Tiba-tiba, tujuh atau delapan tombak menusuk dari kegelapan, menghentikan roda kereta. Beberapa pria besar dengan kostum mewah melompat keluar, mengepung mereka. Mereka terlihat cepat dan lincah, dan pedang yang mereka keluarkan menyilaukan.

Karena langkahnya yang pelan, lelaki berbaju hijau kebiruan itu sekarang terpisah dari kereta. Wajah si bopeng berubah; Seolah hampir seperti bopeng di wajahnya mulai berkilau.

Tapi dia tetap tidak bergerak.

Dia bisa melihat bahwa yang paling menakutkan bukan orang-orang ini. Sejauh yang dia perhatikan, meskipun digabungkan, semua pedang tajam di tangan sembilan atau sepuluh orang itu tidak sebanding dengan secangkir alkohol dalam tangan seorang lelaki yang lain.

Lelaki ini duduk di sebuah kursi cendana merah, dan sedang didorong oleh lelaki lainnya.

Kursi kayu itu punya dua roda, dan lelaki itu memegang secangkir alkohol di tangannya.

Tiba dengan gaya seperti ini, yang terlihat hampir seperti dia melakukan perjalanan istimewa ke sini hanya untuk minum. Dia tidak tampak tertarik dengan apapun selain alkohol.

Seseorang lain berdiri di sampingnya, orang yang sepertinya sangat bertolak belakang dengannya.

Memakai pakaian mewah dan tersenyum dengan ekspresi malas. Dia terlihat seperti lembing yang siap kapanpun menembak dan menembus jantungmu.

Dia berhenti di depan kereta itu. “Nama keluargaku Lian.” Katanya dengan dingin. “Lian Gen. Ini adalah orang-orangku, dan mereka siap mati untukku saat ini juga.”

Dia bicara dengan sikap yang lugas dan ringkas, sedikit agresif. “Karena itu, kalian juga, siap mati untukku saat ini juga.”

Si bopeng tertawa. “Untungnya, kami tidak berharap orang lain atau diri kami sendiri mati. Kami hanya dua pengemis miskin.”

“Aku bisa melihatnya.”

“Kami tidak punya uang, dan tidak ada yang berharga di kereta kami, hanya lima peti mati. Tidak ada harta di dalam peti itu, hanya mayat.”

“Aku hanya ingin meminjam beberapa benda sebentar, untuk kami lihat.”

“Apa yang kami punya untuk kami pinjamkan padamu?”’

“Peti mati.” Kata Lian Gen. “Lima peti mati yang kau miliki di atas keretamu.”

“Menurutmu peti-peti ini tampak bagus?”

“Tidak. Begitupun mayatnya. Tapi aku tidak perlu melihat apapun yang bagus. Hal-hal yang tidak terlihat bagus pun, harus kuperiksa.”

“Haruskah?”

“Tentu saja!”

“Kau yakin?”

“Sangat yakin.” Jawab Lian Gen dengan tegas. “Bahkan meskipun pimpinan Beggar Sect kalian Lord Xiao ada di sini, aku akan tetap terpaksa memeriksanya.”

Si bopeng mendesah, “Jika begitu berarti kau meminta orang-orang ini mati untukmu sekarang!”

Wajah Lian Gen ditekuk dan perlahan dia mengangkat tangannya lalu tangannya terulur ke belakang, merebut pedang baja dari tangan salah satu orang-orangnya. Dia membengkokkan pedang itu di tangannya dan pedang itu patah jadi dua.

Akhirnya lelaki di atas kursi roda itu bicara. “Kung fu yang sangat bagus. Sangat bagus.” Dia tersenyum. “Bahkan Eagle King Clan Huinan tidak punya siapapun yang sebanding denganmu.

“Tentu saja tak ada yang sebanding denganku.”

Menjepit ujung patahan pedang itu di antara jarinya, dia menggerakkan tangannya. Cahaya berkelebat, dan sebuah suara berdebum saat potongan pedang itu menancap ke dalam salah satu peti mati.

Ekspresi wajah si bopeng berubah. “Syukurlah,” katanya dengan tenang. “Orang di dalam peti itu sudah mati. Menusuknya beberapa kali tidak akan menyakitinya.”

“Dia sudah mati, tapi kau belum.”

Lian Gen masih punya setengah pedang itu di tangannya. “Ini, aku berikan untukmu.”

Segera saat dia selesai bicara, seorang lain muncul di antara mereka berdua.

Seorang lelaki berbaju hijau kebiruan, wajahnya pucat. Seolah-olah dia baru saja ditiupkan di atas angin.”

Lian Gen mundur selangkah. “Siapa kau?” tanyanya dengan marah.

Sepertinya lelaki berbaju hijau kebiruan itu tidak mendengarnya, atau bahkan melihatnya. Dari dalam pakaiannya, dia mengeluarkan segenggam bendera, bendera yang sangat kecil, menempel pada tiang besi hitam masing-masing sepanjang enam atau tujuh inci.

–Apakah bendera-bendera kecil ini sejenis senjata mematikan?

Bahkan saat menggenggam pedangnya, tangan Lian Gen mulai berkeringat. Tangan semua orang mulai berkeringat.

Mereka semua bisa melihat bahwa lelaki berbaju hijau kebiruan itu bisa membunuh orang dengan apapun, bahkan dengan sebuah ranting.

Tapi dia tidak membunuh seorangpun.

Dia hanya menancapkan bendera-bendera itu ke peti mati.

Lima peti mati. Lima bendera.

Setelah menancapkan bendera-bendera itu ke peti, dia mulai berjalan pergi. Si bopeng dan si pincang mengikutinya, meninggalkan peti-peti yang beberapa saat yang lalu siap mereka pertahankan sampai mati.

Orang-orang dengan pedang terhunus itu segera memberi jalan untuk membiarkan mereka pergi.

Mereka datang hanya untuk peti mati itu. Selama petinya tinggal, mereka tidak ada mencari masalah. Semakin cepat mereka bisa menyelesaikan tugas, semakin cepat mereka bisa kembali, minum, mandi dan tidur. Yang terakhir, adalah lebih baik dibandingkan membahayakan hidup mereka di jalan terpencil yang gelap itu.

Siapa yang mengira para pengemis itu akan pergi? Tapi mereka memang pergi, dan meninggalkan lima bendera, menancap pada lima peti mati.

Mengapa mereka melakukan ini?

Tidak ada yang bisa mencari jawabannya, meskipun mereka memikirkannya dalam-dalam.

Di jalan setapak yang panjang dan gelap, di bawah sinar bulan yang pucat, di tengah angin dingin, Lian Gen tiba-tiba menggerakkan tangannya.

“Ayo!” katanya. “Bawa peti-peti ini dan pergi.”

Empat lelaki besar menyarungkan pedang mereka lalu segera maju untuk mendorong kereta itu. Tapi, setelah dua langkah, tiba-tiba mereka berhenti. Seolah ada kekuatan sihir tak terlihat yang menghentikan mereka, seperti kekuatan sihir gaib yang menggunakan delapan paku gaib yang menempelkan mereka di tanah. Mereka tidak bergerak sedikitpun.

Mata empat lelaki ini menatap tepat pada sesuatu yang sama.

Pada bendera-bendera itu.

Baru saja, hembusan angin meniup jalan itu dan mengibarkan bendera-bendera dari tiang kecil mereka. Bendera-bendera itu berkibar terkena angin; sulaman di atasnya adalah bunga warna-warni yang tak terhitung banyaknya, yang kelihatan makin hidup dengan cahaya putih bulan.

Dengan marah, Lian Gen bergerak cepat.

Dia selalu melatih anak buahnya dengan disiplin militer, belum pernah sebelumnya mereka menentang perintahnya.

Beberapa tepukan terdengar bergantian, dan wajah keempat lelaki itu mulai membengkak dan memerah.

Mereka tidak berani melawan, atau menghindar. Mereka sangat takut dan hormat pada Lian Gen.

Tapi tetap saja mereka tidak mampu menyentuh peti mati itu.

Telapak tangan besi Lian Gen beraksi lagi, mencengkeram lengan salah satu dari mereka; tak peduli seberapa besar dan kuat lengan itu, dia akan serapuh arang di tangannya.

Dia tidak pernah memberi perintah dua kali, dan dia telah bertekad untuk membuktikan ini dengan tindakannya.

Suara tulang patah dalam angin dingin itu membuat darah jadi dingin. Lelaki yang lengannya patah itu melolong nyaring seperti serigala.

Lian Gen melotot tajam pada yang lainnya. Satu demi satu kata, dia berucap, “Adakah dari kalian yang akan memindahkan peti-peti ini?”

***

Tidak ada yang maju.

Tidak satupun.

Lelaki di atas kursi roda itu akhirnya meletakkan cangkirnya dan mendesah panjang. “itu tidak ada gunanya” katanya. “Bahkan membunuh mereka pun akan sia-sia. Tidak ada satupun dari mereka akan berani memindahkan peti mati itu.”

Lian Gen menolehkan kepalanya, matanya marah. “Mengapa?”

“Karena bendera-bendera itu. Selama tigapuluh tahun, tidak ada seorangpun dalam jarak empatratus kilometer dari Prefektur Jinan berani memindahkan bendera Old Master Tian.”

Lian Gen tertawa.

“Apa yang terjadi jika kau memindahkan mereka?”

“Aku tidak tahu,” jawab lelaki di kursi roda itu. “Mengapa tak kau coba dan lihat sendiri?”

Pembuluh darah di keningnya menggembung, Lian Gen berkata, “Itu yang akan kulakukan sekarang.”

***

Kereta itu masih ada di jalan; peti matinya masih di atas kereta.

Lian Gen berjalan pelan, pembuluh darah di belakang tangannya menggembung seperti beludak.

Dan kemudian dia benar-benar mengulurkan tangannya untuk mengambil salah satu bendera itu.

Dengan kung funya, dan kekuatan manusia super dari telapak tangan besinya, bahkan seandainya mereka pohon besarpun, dia masih bisa mencabutnya.

Dan tetap saja dia tidak bisa mengangkat bendera kecil ini.

Bahkan saat tangannya mulai terulur, seorang lelaki tua kurus muncul di depannya. Ia memakai pakaian hitam, dan kepalanya sama botaknya dengan burung condor, tangannya, sekurus kaki ayam, meluncur secepat kilat, dan mencengkeram tangan Lian Gen.

Wajah Lian Gen menegang, dan meskipun dia masih berdiri setegak lembing, butiran keringat mengalir di wajahnya seperti biji kedelai kuning.

Lelaki botak itu melihatnya dengan acuh, lalu bertanya, Apakah kau kepala pelayan Sun Jicheng, lelaki yang disebut “Superhuman Eagle King?”

“Ya, akulah itu.” kata Lian Gen, suaranya serak dan kesakitan. “Aku Lian Gen.”

“Berarti kau salah,” kata lelaki tua itu. “Ada dua hal di mana kau salah.”

“Oh?”

“Pertama, kau seharusnya tidak mencoba memindahkan bendera itu.”

“Dan yang kedua?”

“Yang kedua, kau berpikir terlalu banyak tentang kung fu mu. Itu masih jauh dibandingkan dengan Eagle King Clan Huinan.”

Segera selesai dia berbicara, suara tulang yang hancur bisa terdengar dalam angin yang dingin.

Lian Geng mengeluarkan jeritan yang menyayat, lalu meluncur seperti lembing ke dalam kegelapan malam.

Orang-orangnya mengikuti dia secepat mungkin, meninggalkan lelaki di atas kursi roda. Dia tersenyum dan bertepuk tangan. “Dari Three Kings dari Huinan, Old Wang, adalah yang terkuat.” Suaranya mengandung kekaguman tulus.” Divine Eagle Claw milik Mr.Old Wang memang luar biasa.”

“Luar biasa, luar biasa.” Suara orang lain terdengar dari jalan setapak yang gelap. Dia juga bertepuk tangan. “Aku tak pernah berpikir bahwa general manager ‘Great Three Yuan’ Tuan Zheng punya penglihatan yang tajam. Dengan satu lirikan dia mengenali kung fu paman Old Wang. Itu sangat luar biasa.”

***

Lelaki ini tidak tua atau Besar dan tinggi, dia juga tidak muda, tapi saat tersenyum dia terlihat seperti anak-anak.

Dia tidak bisa disebut menarik. Matanya kecil, mulutnya besar, hidung pesek dan wajah yang bundar; saat dia tersenyum, matanya tidak terlihat. Tapi dia tidak bisa dianggap jelek juga.

Dia juga duduk di kursi roda berhias indah seperti milik Zheng Nanyuan. Dia mendorong rodanya sendiri ke depan.

General Manager Zheng Nanyuan tertawa. “Ternyata anda adalah tuan muda Tian.” Dia menggenggam tangannya di depan tubuhnya lalu membungkuk. “Salam, Tuan muda.”

“Salam, General Manager Zheng.”

“Mengapa tuan muda juga menggunakan kursi roda?”

“Aku menirukanmu.” Katanya, sambil berhenti di samping bendera-bendera itu. “Aku selalu ingin punya kursi roda seperti ini.”

“Tapi, dua hari yang lalu kau sekuat harimau ataupun naga. Kau bisa melompat dua puluh atau lebih anak tangga restoran hanya dalam tiga langkah.”

“Kakiku baik-baik saja. Jika tidak, bagaimana bisa Old Master terus memanggilku Frogboy.”

“Lalu mengapa kau menggunakan kursi roda?” Zheng Nanyuan bertanya lagi.

“Karena aku malas,” jawab Frogboy. “Menurutku menggunakan energi untuk berjalan buang buang tenaga.”

Zheng Nanyuan tertawa keras. Mereka berdua tertawa.

“General Manager Zheng, jangan bilang kalau kau juga di sini untuk lima tamu kami.”

“Tamu? Lima tamu yang mana?”

“Kepada siapapun Old Master memberi benderanya adalah tamu kami, terlepas dari apakah mereka mati atau hidup.” Dengan senyuman Frogboy bertanya,

“Maukah kau mengijinkan kami membawa mereka pergi?”

“Silakan.”

Zheng Nanyuan segera memutar kursi rodanya untuk pergi.

Dia adalah orang yang bijaksana, sehingga dia memutuskan segera pergi supaya tidak menghalangi jalan Young Master Tian.

Dia tidak pernah membayangkan saat Mr.Old Wang memanggil, “Tunggu sebentar!”

Zheng Nanyuan berbalik dan mendapati bahwa Eagle Claw Old Wang yang terkenal berada di tenggorokannya.

Dua tangannya baru saja menghancurkan telapak tangan besi Lian Gen dengan sedikit upaya; mereka jelas bisa menusuk tenggorokan siapa saja.

Zheng Nanyuan bahkan tidak berkedip. “Ada apa ini.” katanya dengan tenang.

“Apa kau tahu siapa orang-orang dalam peti itu?”

“Tidak.”

“Lalu mengapa kau menginginkan mereka?”

“Karena sesuatu telah terjadi kemarin malam di kediaman Big Boss kami. Karena itu, siapapun yang memasuki Prefektur Jinan hari ini harus diperiksa, lepas dari mereka masih hidup atau sudah mati.”

Part 6

Pada saat ini, Wu Tao sudah mabuk, sangat mabuk, dia pingsan seperti terbenam di atas meja di restoran kecil itu.

Pengemis muda bernama “Ingot” itu duduk di depannya sambil menatapnya, tidak yakin apakah dia sendiri mabuk atau tidak.

–Dalam situasi seperti ini, bagi orang-orang di Jinan pertama kalinya malam itu, mungkin mabuk adalah yang terbaik.

Part 7

Dimanapun bisa terlihat tumpukan besar kayu, dikirim dari berbagai tempat. Aroma serbuk gergaji memenuhi udara.

Setiap orang dalam jarak 400 kilometer tahu bahwa tidak ada lapangan kayu lebih besar daripada yang ada di “Forest Memory”. Tapi hanya sedikit orang yang tahu bahwa itu juga berfungsi sebagai cabang pos terdepan bagi para murid Flowered Flag.

Di belakang alun-alun yang penuh tumpukan kayu, bisa ditemukan sebuah gudang kayu yang luas. Kereta reyot itu telah disingkirkan dan sekarang lima peti mati itu ada di dalam gudang kayu.

Di atas meja panjang yang terbuat dari papan kayu yang disatukan, sebuah lampu berkelip di atas sebaki daging, sebuah kendi alkohol, dan tiga set cangkir dan sumpit. Tapi hanya dua orang yang duduk di sana.

Condor Wang memandang tajam seperti elang kepada Frogboy, yang duduk di depannya.

“Apa kau sungguh percaya bahwa lelaki bermarga Zheng itu general manager sebuah restoran?”

“Tidak.”

“Kalau begitu seharusnya tidak kau biarkan dia pergi.”

“Apa yang akan kau lakukan jika dia tinggal?” tanya Frogboy sambil tersenyum. “Mengundangnya kesini untuk minum?”

“Paling tidak, aku bisa menguji kung fu ku.”

“Tidak perlu mencoba,” jawabnya dengan tegas. “Kung funya jelas tidak lebih buruk dari kita.”

Condor tidak bicara lagi. Tiba-tiba pupil matanya mengerut, lalu dia melompat ke udara seperti burung. Satu tangan melindungi dadanya, dia menembak ke arah jendela.

Tidak ada siapapun di jendela.

Orang yang tadinya di luar telah melayang masuk. Wajah sepucat mayat, sepasang mata yang terus menerawang jauh, setelan pakaian hijau kebiruan yang dicuci menyeluruh sehingga mulai memudar. Dan bagian lengan dimasukkan ke pinggang.

Frogboy menatapnya, lalu melihat peti mati itu. Dengan gelengan kepala dan tawa getir, dia bertanya, “Mengapa kau selalu melakukan pengiriman seperti ini pada kami?”

“Mengapa kau tak pernah meminta orang lain?” balas lelaki berbaju hijau kebiruan itu. “Dan mengapa kau tak bertanya pada orang-orang itu mengapa mereka tertarik pada lima peti mati itu?”

“Aku sudah bertanya. Dia hanya bilang ada sesuatu yang aneh terjadi kemarin malam di kediaman Big Boss mereka.”

“Mengapa kau tak bertanya secara rinci tentang kejadian aneh ini?”

“Aku tak perlu bertanya, karena aku sudah tahu. Tiga orang mati di sana kemarin malam.”

“Siapa tiga orang itu?”

“Salah satunya adalah kepala penjaga Qiu Budao. Yang satunya lagi adalah mantan pelayan kekaisaran paruh baya dengan keterampilan menjahit yang luar biasa, Liu Jin’niang. Dan yang terakhir tak lain adalah Big Boss mereka, Sun Jicheng.”

“Sun Jicheng mati?” kata pria berbaju hijau kebiruan itu, terdengar cukup terkejut. “Bagaimana dia bisa mati?”

“Mereka bilang dia terbunuh oleh Divine Shaolin Palm Qiu Budao. Satu serangan fatal.”

“Dan Qiu Budao?”

“Dia mati setelah minum secangkir alkohol beracun.” kata Frogboy.

“Sepertinya itu berisi racun yang cukup banyak untuk membunuh seluruh barak sejumlah pasukan.”

“Dan siapa yang meracuni anggurnya?”

“Mungkin Sun Jicheng. Mungkin Liu Jin’niang. Mungkin Qiu Budao sendiri. Mereka semua punya alasan untuk meracuni anggur itu. Tentang apa yang sebenarnya terjadi, aku khawatir hanya surga yang tahu.”

Lelaki berbaju hijau kebiruan itu duduk diam dalam pikirannya sendiri.

Condor sudah kembali dan berdiri di sampingnya, menatap dengan mata elangnya yang tajam pada titik vital di belakang kepala lelaki itu, tangannya berdenyut dengan aura Qi.

Sepertinya lelaki berbaju hijau kebiruan itu tidak menyadarinya. Setelah waktu cukup lama, dia bertanya, “Di mana mereka mati?”

“Mereka mati di ruang bawah tanah rahasia Sun Jicheng.”

“Apakah ada orang lain yang tahu tentang ruang bawah tanah itu?”

“Tidak.”

“Jadi, karena itu, tidak ada orang lain yang bisa meracuni alkohol itu?”

“Tepat.”

Frogboy menambahkan beberapa informasi: “Ruang bawah tanah itu terhubung dengan kamarnya. Kemarin malam, beberapa penjaga melihat Sun Jicheng dan Qiu Budao masuk bersama. Setelahnya, tidak ada yang keluar.”

Sebuah sinar tajam tiba-tiba berkilat di mata lelaki berbaju hijau kebiruan itu.

“Dalam situasi ini, hanya ada satu penjelasan untuk kematian mereka. Sebuah kejahatan  dengan hawa nafsu, di mana setiap orang binasa.”

“Itulah yang kupikirkan.” Kata Frogboy. “Itulah yang semua orang pikirkan.”

“Mengingat bahwa mereka membunuh diri mereka sendiri, dan sepertinya tidak ada penyerang lain, mengapa bawahan Sun Jicheng menyelidiki orang-orang asing yang ada di Jinan untuk pertama kalinya? Bahkan mayat? Mungkinkah itu karena ada beberapa rahasia lain yang diungkap?”

***

Pertanyaan itu menusuk pada inti persoalan, mengenai bagian yang tepat. **

Translator / Creator: Jade77