January 25, 2017

DKWSS – Chapter 20 : The Second Star

 

The Second Star

Part 1

19 April. Sebelum matahari terbenam.

Cahaya dari matahari yang terbenam, yang bersinar di atas kamelia, tiba-tiba menjadi redup dan suram. Kamelia yang beberapa saat lalu tampak cerah dan berwarna, tiba-tiba terlihat pucat dan pudar.

Ini karena dia tidak memancarkan cahayanya sendiri. Beberapa saat yang lalu, dia tampak sangat indah hanya karena cahaya matahari yang menyinari kelopaknya.

Manusia juga sama.

Beberapa orang bersinar cemerlang untuk sementara, tapi kemudian pada titik tertentu menjadi tua dan rapuh, dan meskipun hidup, sebenarnya hanya menunggu untuk mati.

***

Untungnya, beberapa orang di dunia tidak seperti itu.

Ini karena mereka secara bawaan telah bercahaya, kuat, tanpa perlu bergantung pada orang lain. Saat hidup, tidak seorangpun berani memandang rendah mereka. Bahkan setelah mereka mati tetap sama.

Gao Tianjue adalah orang seperti itu. Terlepas dari keadaan, tidak ada yang bersedia meragukan kekuatannya.

Jika dia mengatakan bahwa pasangan “Thunder dan Lightning” dan Tang Lanfang tidak akan pernah melihat Ingot lagi, maka dengan sedih, mereka hanya bisa menunggu hingga kematian untuk  melakukannya.

“Kau adalah seorang wanita, seperti aku,” kata Grand Miss Lei, menatap Gao Tianjue. “Apa yang dikatakan seorang wanita umumnya tidak terlalu bisa dipercaya. Tapi, aku mempercayaimu.”

“Oh?”

“Jika kau berani berkata begitu, maka aku percaya bahwa tidak hanya kau telah membunuh Ingot, kau juga bersiap untuk menyerang kami. Sekarang karena kami telah melihat wajahmu, kau tidak akan membiarkan kami tetap hidup.” Dia mendesah. “Jika aku jadi kau, aku mungkin akan melakukan hal yang sama.”

“Kau tidak ingin bertanya apa aku yakin bisa mengalahkan kalian bertiga sekaligus?”

“Aku tidak perlu bertanya.”

“Mengapa tidak?”

“Karena jika kau membunuh Ingot, maka kami tidak bisa membiarkanmu terus hidup.” Suara Grand Miss Lei tiba-tiba berubah sangat tenang. “Kami akan melakukannya meskipun mungkin kami mati. Jadi tidak perlu membuang napas untuk pertanyaan apapun.”

“Benar.” Kata Gao Tianjue. “Tidak perlu pertanyaan lebih lanjut.”

“Aku bisa melihat baru saja bahwa titik akupunturmu telah tersegel. Dan sekarang, aku bisa melihat bahwa darah dan Qi milikmu sudah mengalir dengan baik lagi.”

“Benar.”

“Bahkan suamiku dan aku tidak bisa melakukan itu,” kata Grand Miss Lei. “Kung fumu benar-benar jauh lebih tinggi dari kami.” Dia mendesah lagi. “Dalam beberapa tahun terakhir, kami belum memperhatikan semua hal sepele di Jianghu. Namun kami memiliki lebih dan lebih banyak hal sepele untuk dihadapi. Sepanjang tahun, setiap hari, sepanjang hari, hal yang kami lakukan tidak penting. Kami tidak melakukan hal yang penting sama sekali.”

“Oh?”

“Yang kami lakukan seharian adalah menanam bunga dan mencabut rumput, bermain catur dan mengobrol, cemburu dan berdebat, mengunjungi tempat-tempat indah, menangkap kelinci dan pergi memancing. Di mana ada ruang untuk hal yang berhubungan dengan kung fu penting?” Dia mendesah. “Meskipun hal-hal ini jauh lebih menarik daripada hal yang penting, itu berarti kung fu kami belum mengalami kemajuan sama sekali dalam beberapa tahun terakhir. Jadi, tentu saja kami tidak sepadan denganmu.”

Kebalikan dari semua desahannya, ekspresinya penuh sukacita, dan tidak mengandung nada penyesalan.

Meskipun Gao Tianjue tidak mendesah, matanya terlihat penuh penyesalan dan rasa sakit.

“Saat ini, bahkan jika kami menyerangmu tiga lawan satu, Nona Tang tidak akan benar-benar dihitung sebagai satu orang. Dia tidak akan berguna dalam sebuah serangan, jadi kau benar-benar hanya akan berurusan dengan kami berdua.”

Lelaki tua itu memotong: “Sebenarnya, kami tidak benar-benar terhitung sebagai dua orang.”

“Mengapa tidak?”

“Karena kami berdua adalah satu orang,” katanya. “Saat menyerangnya, kau akan melindungiku dengan nyawmu, dan aku akan melindungimu dengan nyawaku. Jika aku terluka, kau akan panik, dan jika kau terluka, aku akan panik. Dan itulah saat dia akan punya kesempatannya.” Dia mendesah. “Jadi seperti kataku, kita berdua tidak akan pernah sepadan dengannya.” Meskipun dia mendesah, ekspresinya satu kebahagiaan, tanpa tanda penyesalan.

“Jadi,” tanya Grand Miss Lei, “Maksudmu kita telah kalah dalam pertarungan ini?”

“Kurang lebih.”

“Dan kita pada dasarnya sudah mati.”

“Tidak ada yang bisa menghindari kematian, jadi tidak ada yang sangat menakjubkan tentang itu. Dalam hal apapun, kita telah menjalani hidup kita dengan cukup bahagia. Meskipun, ada sesuatu yang perlu kukatakan padamu sebelum aku mati.”

“Apa itu?”

“Apakah kau ingat tahun saat kita pergi ke Gunung Zhongnan untuk membuat pil keabadian? Adik seperguruanmu datang untuk berkunjung dan tinggal selama sebulan?”

“Aku ingat.”

“Ada satu kesempatan saat kau pergi ke sisi lain dari gunung untuk memetik tanaman obat, dan kau pergi selama beberapa hari. Nah, saat kau pergi, adik seperguruanmu dan aku melakukan hal yang salah. Kami menyesalinya, tapi saat itu, kami telah melakukannya, dan itu sudah terlambat.”

Grand Miss Lei menatapnya, dan kemudian wajah keriputnya yang kaku berubah dengan sebuah senyuman, sebuah senyum yang seindah bunga lily.

“Kau kira aku tidak tahu tentang itu?” katanya. “Kau pikir kau bisa mengelabuiku?”

“Kau tahu?” tanya lelaki tua itu, terperanjat. “Kapan kau mengetahuinya?”

“Aku sudah tahu selama ini.”

“Lalu mengapa kau tidak mengatakan apapun? Mengapa kau tidak marah? Mengapa kau tidak mengamuk padaku?”

“Karena kita menikah,” katanya dengan lembut. “Menikah itu berbeda dengan menjadi saudara, teman atau kekasih. Jika aku mengamuk padamu karena kesalahan yang kau buat, maka orang yang salah bukan kau, tapi aku.”

***

Gao Tianjue telah mendengarkan dalam diam, namun sekarang dia menyela: “Aku juga punya seorang suami. Marganya Guo. Guo Mie. Dia adalah orang yang sangat pintar dan berbakat. Aku belum pernah bertemu dengan lelaki lain seumur hidupku yang bisa dibandingkan bahkan dengan salah satu jarinya. Saat kami muda, kami juga menikah dengan bahagia.”

“Kami semua sudah tahu itu.”

“Dia sudah mati sekarang,” kata Gao Tianjue. “Apakah kau tahu bagaimana dia mati?”

“Tidak,” kata Grand Miss Lei. “Tapi kami selalu ingin tahu.”

“Kalau begitu akan kuberi tahu. Aku membunuhnya. Aku memakai cara sekejam mungkin untuk membunuhnya.” Suaranya lagi-lagi sangat tenang, tenang yang menakutkan. Sangat tenang hingga hampir mustahil dianggap. “Apakah  kau tahu kenapa aku membunuhnya? Tentu saja kau tidak tahu.”

“Kenapa?”

“Karena seorang anak.”

“Seorang anak?” sembur Grand Miss Lei. “Kau membunuh suamimu sendiri karena seorang anak?”

“Ya.”

“Anak siapa itu?”

“Anak dari suamiku dan kakak perempuanku. Kakak kandungku.”

***

Ruangan itu tiba-tiba senyap. Bahkan suara napas pun seperti terhenti.

Setiap orang tahu bahwa dia pasti memiliki kebencian yang dalam di hatinya hingga menjadi seperti ini. Tapi siapa yang bisa membayangkan bahwa orang yang dibencinya adalah saudara kandung dan suaminya.

Gao Tianjue tiba-tiba bertanya pada Grand Miss Lei: “Jika kau jadi aku, akankah kau menjadi seperti ini?”

Grand  Miss Lei kehilangan kata-kata. Setelah beberapa lama, dia dengan pelan berkata, “Aku tidak tahu. Aku sungguh-sungguh tidak tahu.”

Gao Tianjue mendesah. “Dalam hal apapun, kita berdua berbeda. Kalian telah menua bersama dengan bahagia sebagai pasangan, karena kau punya kesabaran. Aku adalah wanita yang jahat dan cemburu, dan karena itu aku menjadi seperti ini.” Dia tertawa. “Jadi semua yang baru saja kau katakan tidak berguna.”

“Apa yang  kami katakan? Apa maksudmu tidak berguna?”

“Kau mengatakan semua itu dengan sengaja. Kau ingin mempengaruhiku, membuatku merasakan sakit, menciptakan sebuah cela untuk membunuhku.”

Ini adalah sebuah taktik; jangan menyerang orangnya, seranglah hatinya. Saat seorang ahli bertarung, jika hatinya yang diserang, itu bisa menyebabkan kekalahan.

“Sayangnya, jenis taktik ini tidak mempan padaku,” kata Gao Tianjue dingin. “Karena hatiku sudah mati. Aku telah selalu bersiap untuk mati, dan harinya adalah hari ini.”

Grand Miss Lei terlihat terkejut. “Kau bersiap mati hari ini?”

“Tidak saja aku bersiap untuk mati, aku bertekad untuk mati. Jadi apapun yang kau katakan sia-sia. Namun, kau tidak berharap untuk mati, karenanya, kau akan mati.” Dia mendesah dan melanjutkan, “Ada banyak hal di dunia seperti ini. Orang yang tidak ingin mati seringkali mati lebih cepat daripada yang ingin.”

Tang Lanfang tiba-tiba mendesah. “Orang yang paling tidak berharap untuk mati adalah aku. Namun aku tahu bahwa aku akan jadi yang pertama.”

“Ya,” kata Gao Tianjue dingin. “Kau harus jadi yang pertama untuk mati.”

Part 2

Ingot melepaskan ikat kepala hitamnya dan menyingkirkan topeng perak itu, tertawa sambil menatap Xiao Jun.

“Chamber Lord Xiao, lama tak bertemu! Halo!”

“Kau!” Xiao Jun berkata, tampak terkejut. “Bagaimana bisa kau?”

“Bagaimana bisa bukan aku?” tawa Ingot. “Sejak hari aku lahir hingga sekarang, aku selalu aku, bukan orang asing tak dikenal. Dan aku bukan si bopeng Wang’er.” Dia tertawa senang. “Tapi jika seseorang ingin salah menganggapku sebagai Gao Tianjue, yah, aku tidak bisa melakukan apapun tentang itu.”

Xiao Jun menatapnya dengan takjub. Melihat pakaiannya, dia berkata, “Milik siapa barang-barang ini?”

“Milik Gao Tianjue, tentu,” katanya, meletakkan topeng itu di atas kepalanya. “Selain dia, siapa lagi yang punya harta seperti ini?”

“kenapa dia mau memberikannya padamu?”

“Siapa bilang dia memberikannya padaku?” kata Ingot. “Ini semua adalah hartanya. Dia tidak akan menyerahkannya bahkan jika kau membunuhnya.”

“Tapi harta itu ada di tanganmu.”

“Aku hanya meminjamnya.”

“Dia setuju membiarkanmu meminjamnya?”

“Dia tidak setuju.”

“Jika dia tidak setuju, lalu bagaimana kau bisa meminjamnya?”

Ingot mendesah. “Sejujurnya, aku tidak meminjamnya.”

Xiao Jun biasanya bukan tipe orang yang ingin memeriksa masalah hingga sangat detail. Tapi dia tidak bisa menahan untuk mengajukan lebih banyak pertanyaan.

“Kau tidak meminjamnya?”

“Tidak.”

“Lalu darimana mereka berasal?”

“Aku mengambilnya,” kata Ingot. “Karena dia tidak setuju untuk meminjamkannya padaku, aku harus mengambilnya.”

“Bagaimana kau melakukannya?”

“Aku hanya punya dua tangan, jadi tentu saja aku memakai dua tangan. Pertama aku mengambil ikat kepala dan topengnya, dan kemudian pakaian dan sepatunya.”

“Darimana kau mengambilnya?”

Ingot menatapnya seolah dia orang tolol. “Apa kau benar-benar harus menanyaiku pertanyaan sejelas itu?”

“Aku sudah melakukannya.”

Ingot menggelengkan kepalanya dan mendesah. “Yah, kalau begitu, kukira aku harus mengatakannya padamu.” Dia mengucapkannya seperti sebuah daftar: “Ikat kepalanya, kulepaskan dari kepalanya. Topengnya, kulepaskan dari wajahnya. Jubahnya, kulepaskan dari tubuhnya.” Dia berhenti sesaat sebelum melanjutkan dengan pelan: “Sepatunya yang sedikit lebih sulit, karena mereka sesak. Aku membutuhkan banyak usaha, tapi akhirnya aku melepaskannya, dari kakinya.”

Xiao Jun menatapnya dengan terkejut. Setelah beberapa lama, dia berkata, “Kau melepaskan semua benda ini dari tubuhnya?”

“Setiap dari mereka.”

“Dan bagaimana dengan dia?”  tanya Xiao Jun. “Di mana dia?”

Ingot terlihat seperti ingin melompat. “Apakah kau benar-benar baru saja mengatakannya? Apa kau sungguh mengajukan pertanyaan tidak masuk akal itu? Dia ada di sana. Kepalanya di dalam ikat kepalanya, wajahnya di balik topengnya, tubuhnya di dalam jubahnya, dan kakinya dalam sepatunya. Hal sesederhana itu, jangan bilang kau tak bisa mengetahuinya.”

“Apakah dia mati?”

“Tidak,” jawab Ingot. “Bagaimana orang seperti dia bisa mati?”

“Jika dia hidup, tapi kau memiliki barang-barangnya, apakah itu berarti dia menyuruhmu mengambilnya?”

“Bahkan jika dia menolak, aku akan masih akan mengambilnya.”

“Mengapa?”

“Karena aku adalah Ingot,” katanya, menunjuk hidungnya. “Aku adalah ingot raksasa yang besar, bulat, mengkilap, bersemangat, menawan dan tampan.”

***

Xiao Jun tidak mengatakan apapun. Tidak ada yang bisa diucapkannya.

Dia tidak mempercayainya, tidak sedikitpun. Jika bajingan kecil ini tidak gila, maka dia sepuluh kali berkulit badak seperti sebelumnya untuk berani membual dan berkata bohong seperti itu.

Cara terbaik untuk berurusan dengan orang seperti ini adalah mengabaikannya.

Namun di dunia ada beberapa orang yang mustahil untuk disingkirkan, dan mengabaikan mereka tidak memberi hasil.

“Kau telah memberiku semua pertanyaan ini untuk waktu yang lama,” kata Ingot, “Kurasa sekarang giliranku untuk menanyakan padamu beberapa pertanyaan. Apakah kau memiliki ekspresi seperti itu di wajahmu karena kau baru membunuh seseorang?”

Xiao Jun mengabaikannya.

“Membunuh itu tidak baik. Jika aku membunuh seseorang, aku akan merasa menyesal, dan kemudian bersedih. Tapi kau berbeda. Orang yang kau bunuh itu adalah orang yang setiap orang bilang ingin kau bunuh. Mengapa kau sedih?”

Xiao Jun tidak bisa terus mengabaikannya.

“Bagaimana kau tahu aku telah membunuh seseorang,” tanyanya. “Apakah kau tahu siapa yang aku bunuh?”

“Tentu saja aku tahu.”

Tatapan membunuh muncul di wajah putih pucat Xiao Jun, sebuah ekspresi yang membuatnya terlihat seperti dia bisa membunuh seseorang kapan pun.

Ingot sepertinya tidak menyadarinya, dan kenyataannya tampak senang. Dia berkata, “Kau telah membunuh Three Frightening Laughs General Li. Dia adalah seseorang yang setiap orang ingin bunuh. Tidak masalah siapa yang membunuhnya, itu akan menimbulkan sensasi besar. Belakangan ini ada lebih banyak orang di sekitar sini yang berusaha membunuhnya dibandingkan tikus yang bisa kau temukan di lumbung padi. Hanya kau yang berhasil. Kau seharusnya senang sampai mati, namun kau terlihat begitu sedih seolah kau ingin mati”

Ingot menggelengkan kepalanya: “Aku sungguh tidak mengerti apa yang terjadi padamu.”

Xiao Jun menatapnya. Setelah cukup lama waktu berlalu, dia berkata, satu per satu kata: “Kau sungguh-sungguh tidak tahu?”

“Awalnya tidak. Bahkan jika kau memukul kepalaku hingga terbuka aku tidak akan bisa memahaminya.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang?” Ingot memutar matanya, “Saat ini, langit semakin gelap dan hampir tiba waktunya makan malam. Jika kau memasak sepanci jamur, ham dan kaki babi, mungkin dengan sedikit ayam, lalu menambahkan ketan harum dan merebusnya beberapa lama, kupikir aku bisa menghabiskan semuanya tanpa bantuanmu.”

Xiao Jun menatapnya dengan tajam.

“Dan sekarang?” dia bertanya lagi, wajahnya terlihat setegang tali busur. “Apakah kau mengerti sekarang?”

“Ya,” Ingot mengaku sambil mendesah. “Bahkan meski aku ingin tidak tahu, aku akan tetap tahu.”

Xiao Jun tiba-tiba berdiri, mengumpulkan Qinya dan menyiapkan sebuah jurus. Lima jari di tangan kanannya membentuk kait. Itu tampak seolah dia hendak menangkap ular berbisa.

Ini adalah teknik unik dari murid Beggar Sect. Baik ular berbisa maupun manusia tidak akan bisa dengan mudah lolos dari cengkeramannya.

Itu bisa menusuk titik vital ular berbisa dan manusia dengan cara yang serupa.

***

Tapi tidak ada ular berbisa di kabin, hanya seseorang.

Di mata Xiao jun, Ingot, sangat lincah dan menawan, telah menjadi sama keji dan menakutkan seperti ular berbisa.

Ingot bahkan tidak berkedip.

“Mangapa kau tidak bertanya apa yang kuketahui? Dan bagaimana aku mengetahuinya?”

Tampaknya kata-katanya efektif. Xiao Jun yang awalnya hendak menyerang, tiba-tiba tidak melakukannya.

Itu karena dia benar-benar ingin tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaaan itu.

Ingot tersenyum. “Begitu lebih baik. Jika kau ingin membunuhku untuk membungkamku, kau harus sedikitnya membiarkanku menjelaskan semua sebelum kau menyerang.”

Ternyata Xiao Jun bersedia bertanya, “Apa yang sebenarnya kau ketahui?”

“Jujur saja, aku kebetulan tahu sedikit.” Terdengar benar-benar tenang, dia berkata, “Semua yang kau tak ingin orang lain ketahui, aku tahu.”

“Seperti apa?”

“Gao Tianjue membuat sebuah rencana bagimu untuk membunuh seseorang. Setelah kau melakukannya, dia memberitahumu bahwa kau seharusnya tidak membunuhnya. Bahkan jika setiap orang di bawah langit ingin membunuhnya, kau tidak bisa. Karena kau adalah anaknya.”

Tinju Xiao Jun mengepal. Mereka mengepal, tidak pada tenggorokan seseorang, atau pada titik vital seekor ular berbisa.

Mereka mengepal pada diri mereka sendiri, pada hidup, darah dan jiwanya sendiri.

“Selain Gao Tianjue, siapa yang akan mengira bahwa kau adalah anak dari Three Fearsome Laughs General Li? Bahkan kau tidak bisa menebak. Itu karena kau selalu percaya bahwa dia membunuh ibumu.” Ingot mendesah. “Gao Tianjue memberitahumu bahwa bahkan jika dia memang membunuh ibumu, kau tidak bisa menyangkal bahwa kau anaknya. Gao Tianjue membencinya, sehingga dia menyusun rencana ini, menyuruhmu membunuhnya. Dengan begitu, dia akan mati dalam kesusahan, dan kau akan meyesalinya seumur hidupmu.”

Xiao Jun tidak menunjukkan reaksi. Dia sudah mati rasa pada titik hampir jatuh.

“Bahkan dalam mimpi terliarmu kau tak pernah membayangkan bahwa ada seseorang di dunia ini yang akan menggunakan cara sekeji itu untuk membunuh orang. Jika Gao Tianjue tidak memberitahumu sendiri, kau tidak akan mempercayainya.”

“Apakah dia sendiri yang mengatakannya padamu?” Xiao Jun tampak seperti orang yang baru terbangun dari mimpi setelah ditusuk sebuah jarum. “Mengapa dia mengatakan hal-hal ini padamu?”

“Mungkin karena dia merasa bangga pada dirinya sendiri, dan tidak bisa menahan untuk memberitahu seseorang. Mungkin karena dia berharap aku akan menyebarkan cerita ini, bahwa dia telah membalaskan dendamnya dengan cara ini. Maka tak seorang pun di Jianghu akan pernah melupakannya.”

Kedua dugaan itu terlihat sangat masuk akal.

Ingot mendesah lagi. “Meskipun, mungkin hanya surga yang tahu mengapa dia memberitahuku.”

Xiao Jun menatapnya, ekspresinya kosong, mati rasa, lelah. Tapi niat membunuh masih bersinar di matanya.

“Kau seharusnya tidak tahu hal ini.” Dia mendesah. “Dan aku berharap kau tidak.”

“Aku tahu apa maksudmu.”

“Kau tahu?”

“Aku sangat menawan, kau sungguh tak bisa menahan untuk menyukaiku. Tapi sekarang karena aku tahu semua hal ini, kau tidak punya pilihan kecuali membunuhku untuk membungkamku.” Dia melanjutkan. “Meskipun kau tidak ingin terus hidup, kau harus membunuhku dulu supaya aku tidak mengungkap rahasiamu. Mereka adalah hal-hal yang tidak kau ijinkan orang lain tahu.”

Xiao Jun tidak menyangkalnya.

Dia dalam kendalinya sendiri, semangat dan energinya. Semua energi dan konsentrasinya, semua Qi yang dikumpulkannya, difokuskan pada sesuatu.

Dan sesuatu itu adalah bagaimana memberikan pukulan yang membunuh.

Ingot sepertinya tidak menyadarinya.

Ada beberapa hal yang orang tidak dapat lihat tapi melihatnya dari awal. Namun ada beberapa hal yang orang lihat segera, namun dia tidak melihat apapun.

Siapapun bisa melihat niat Xiao Jun untuk membunuh, bahwa dia berencana menghancurkan Ingot seperti ular berbisa. Namun Ingot terlihat senang. Dengan tertawa, dia berkata, “Sebenarnya, aku harus tahu hal-hal ini. Bahkan jika aku tidak ingin mengetahuinya, aku harus. Dan untungnya, ada hal lain yang kuketahui.”

“Hal apa?”

“Beberapa hal yang harus kuketahui. Beberapa hal yang semestinya membuatmu sangat bahagia, kau dan orang lain juga. Siapapun yang tahu hal seperti ini pasti bisa hidup panjang, bahagia dan damai.” Dia tersenyum, sangat ceria. “Dan hanya seseorang yang cerdas dan berbakat sepertiku yang bisa tahu hal-hal seperti ini.”

***

Beberapa orang tampaknya tidak bisa menahan diri untuk memuji diri sendiri, membual, membicarakan diri sendiri. Orang yang memandang rendah mereka akan berakhir diabaikan.

Xiao Jun tahu bahwa Ingot bukan orang seperti itu.

Dia hanya suka bicara seperti ini karena dia ingin orang lain bahagia, dan berharap yang lain bisa sepertinya, mengikuti arus yang mengalir.

Depresi, kegelisahan, kesedihan dan kemarahan tidak hanya sia-sia, mereka juga bisa membuat orang melakukan kesalahan yang tak termaafkan.

Seseorang harus menjaga bingkai pikiran yang terang dan terbuka untuk membuat keputusan paling tepat dan membuat penilaian terbaik.Jadi seperti sekarang, Xiao Jun tidak lagi menganggap Ingot anak sombong dan nakal. Dia bertanya padanya, “Hal apa yang kau bicarakan?”

“Yah misalnya, beberapa orang yakin bahwa mereka telah membunuh seseorang, dan yakin bahwa mereka tidak seharusnya membunuh orang itu. Karenanya, mereka sedih sampai mati. Itu karena mereka tidak tahu bahwa orang itu sama sekali tidak mati. Tapi, “ kata Ingot, “Aku sungguh tahu.”

“Kau sungguh tahu?” tanya Xiao Jun terkejut. “Siapa yang kau bilang tidak mati?”

“General Li, tentu saja.”

“Kau benar-benar tahu ini?”

Ingot mendesah dan menggelengkan kepalanya. “Kau pikir orang seperti apa kau ini? Chu Liuxiang? Li Tanhua kecil?”

“Tidak.”

“Tentu saja kau tidak. Kau bahkan tidak memenuhi syarat untuk membandingkan dirimu dengan mereka.”

Xiao Jun harus mengakui bahwa ini benar.

Meskipun dia adalah orang yang sangat bangga, dia mengagumi dua pahlawan hebat dari generasi lebih tua itu seperti yang lainnya.

“Karena kau sudah mengakui bahwa kau tidak sebanding dengan mereka, lalu mengapa kau tidak berpikir sebentar. Bagaimana bisa Three Fearsome Laughs General Li, yang menjelajah tanpa hambatan di seluruh bumi, mungkin mati di tanganmu?”

Xiao Jun terdiam.

Dia tahu bahwa secara mendasar dia tidak sepadan dengan General Li, dan berharap bahwa yang telah terjadi tidak terjadi.

Tapi di bawah bulan pucat itu, dia telah melihat jelas tusukan pedangnya ke jantung General Li.

Dia tidak akan pernah melupakan pandangan di wajah General Li saat pedangnya menusuk ke dalam darah dagingnya.

“Mengapa kau tidak mengatakan sesuatu?” tanya Ingot. “Jangan bilang kau masih berpikir bahwa kau membunuhnya?”

Xiao Jun diam untuk  waktu yang  lama. Perlahan, dia berkata, “Alasan aku masih di sini adalah aku berharap dia tidak mati. Aku berharap aku akan melihatnya lagi.” Ekpresinya menyedihkan dan gelap, dia berkata: “Dan jika dia mati, aku berharap aku bisa melihat mayatnya.”

“Tapi mereka belum menarik mayatnya, bahkan setelah berganti shift beberapa kali selama proses pengerukan. Mereka bahkan belum melihat bayangannya.”

“Benar.”

“Apakah kau tahu mengapa mereka belum menemukan mayat General Li?” tanya Ingot. “Kau mungkin tahu.”

“Tapi aku tidak tahu.”

“Kau sungguh tidak tahu?” tanya Ingot, terlihat terkejut. “Hal sesederhana itu, dan kau masih tidak memahaminya?”

Dia menggelengkan kepalanya lagi dan mendesah. “Mereka tidak bisa menemukan mayatnya, karena dia tidak mati!” Ingot bersikap seolah dia sedang menegur seorang anak. “Jika seseorang tidak mati, tidak akan ada mayat. Jika kau tidak bisa mengerti hal sesederhana itu, maka kau benar-benar seorang yang sangat bodoh.”

“Bahkan jika dia tidak mati awalnya, dia akan tenggelam saat ini.”

“Kenapa?”

“Karena tepi danaunya dijaga terus menerus, dan semua penjaganya adalah ahli bela diri berpengalaman. Gao Tianjue menghabiskan sepuluh tahun melatih kelompok orang ini.”

“Aku percaya itu.”

“Mungkin Kungfu mereka tidak terhitung dalam top rate, tanpa pembanding. Namun penglihatan, pendengaran, ketahanan mereka dan tentu saja kemampuan pengamatan dan penilaian mereka, semuanya adalah tingkat pertama.”

 “Aku percaya itu.”

“Jelas tidak mungkin bagi General Li untuk menyelinap melewati tepi danau. “Bahkan jika mereka tidak bisa menghentikannya, mereka setidaknya akan melihatnya.”

“Siapa yang bilang General Li berhasil ke tepi? Jika dia pergi ke tepi, tentu dia akan menemukan bahwa itu mustahil untuk menghindar dari mata dan telinga orang-orang itu.”

“Yah, kalau begitu dia pasti tenggelam di dalam danau,” kata Xiao Jun dengan sedih. “Ini sudah sehari semalam sejak dia masuk air. Tidak ada cara baginya bisa tinggal di bawah air selama ini. Lebih jauh lagi, bahkan jika dia tidak mati, dia terluka parah.”

Ingot menatapnya beberapa saat, sebelum dengan dingin bertanya padanya: “Apakah kau sungguh berpikir dia mati?”

Xiao Jun tidak menjawab, karena bahkan dia pun tidak yakin apa yang dipercayainya dalam hatinya.

Dia bukan tipe orang yang banyak bicara. Bahkan pada saat dia harus bicara, dia tidak akan bicara banyak.

Saat ini, dia seharusnya tetap diam karena kesedihan, namun sebenarnya telah bicara sedikit.

Itu karena dalam hatinya, dia masih punya harapan.

Ingot sebenarnya bisa membantah semua yang telah dikatakannya.

–Jika kau melihat seseorang melakukan sesuatu yang sangat tidak normal, dan kemudian menjadi penuh kesedihan yang dalam dan penderitaan, namun bisa cukup mengerti untuk memaafkannya, maka kau akan menjadi orang yang sungguh murah hati. Seorang pria sejati.

***

Ingot menatap Xiao Jun lama sebelum tiba-tiba berkata, “Aku tahu bahwa kau tidak berani bertaruh denganku. Tentu saja tidak.”

“Apa yang ingin kau pertaruhkan?”

“Aku ingin bertaruh bahwa dia tidak mati. Kau berani bertaruh?” Dia menatap curiga pada Xiao Jun dan melakukan sesuatu yang dilakukan penipu berpengalaman untuk menarik penjudi: “Aku sarankan kau tidak bertaruh, karena kali ini aku pasti tidak akan kalah.”

Wajah putih pucat Xiao Jun tiba-tiba memerah, warna dari darah yang mengalir.

Dia tahu bahwa Ingot tidak benar-benar ingin bertaruh dengannya, atau dia sendiri tidak benar-benar ingin memenangkan taruhan itu.

Dia ingin kalah.

Mungkin Ingot menggunakan cara ini untuk menghiburnya, untuk meningkatkan semangatnya, menghentikannya dari depresi, menghilangkan pikirannya tentang keinginan untuk mati.

Untuk alasan apapun Ingot melakukannya, dia merasa bersyukur dalam hatinya.

“Aku akan bertaruh denganmu,” katanya. “Apapun taruhannya, aku akan mengambilnya.”

Ingot tertawa, seperti seorang penipu yang telah melihat domba yang masuk dalam perangkap.

“Kau tidak akan menyesal?”

“Tidak akan.”

“Jika aku bisa menemukan General Li, membiarkanmu melihatnya dengan matamu sendiri, hidup, lalu apa?”

“Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan.”

***

Ini bukanlah sesuatu yang biasanya diucapkan Xiao Jun. Mengingat identitas dan posisinya, dia tidak akan akan mengatakan sesuatu seperti ini dalam situasi apapun.

Tapi jika dia kalah oleh Ingot, dia akan melakukan seperti yang dikatakannya. Ia akan bersedia melakukan apapun yang dikatakan Ingot.

Dan dia sungguh berharap bahwa yang kalah adalah dirinya.

Tapi dia sungguh tidak melihat bagaimana Ingot bisa menang. Bagaimana mungkin Ingot bisa menemukan General Li?

General Li pasti mati. Bahkan jika dalam kesempatan satu banding sepuluh ribu benar dan dia tidak mati, bagaimana mungkin Ingot bisa tahu di mana dia berada?

Ingot pasti tidak punya cara mengetahuinya.

Merah pada wajah Xiao Jun menghilang, karena dalam hatinya, meski dia berharap dia kalah taruhan, dia masih percaya Ingot akan kalah.

Tampaknya Ingot bisa melihat apa yang sedang dipikirkannya. “Kenapa kau tidak bertanya padaku apa yang akan terjadi jika aku kalah?”

“Mengapa kau tidak beritahu aku?”

Ingot sengaja mengerutkan kening dan berpikir sesaat. Lalu dia bertanya, “Apakah kau tahu mengapa Gao Tianjue tiba-tiba menjadi begitu menyenangkan? Mengapa dia akan patuh  menyerahkan hartanya padaku?”

Masalah itu tidak ada hubungannya dengan taruhan, tapi Xiao jun belum bisa memikirkannya. Dia ingin mengetahuinya sejak tadi, jadi dia berkata, “Mengapa?”

“Karena dia telah berada di bawah kendaliku.” kata Ingot. “Aku mengunci tujuh atau delapan titik akupunturnya dalam hitungan detik.”

“Oh?”

“Kau tidak mempercayainya. Aku tahu kau tak akan.” Ingot tertawa senang, bangga pada dirinya sendiri. “Bagaimana bisa orang sepertiku mengunci titik akupuntur seseorang seahli Gao Tianjue?” Dia tertawa. “Kau berpikir sendiri, anak ini gila; dia punya kulit lebih tebal dari yang lain untuk bisa membual seperti ini, berbohong seperti ini.”

Xiao Jun tidak menyangkalnya, karena itu memang yang sedang dipikirkannya saat itu.

“Tapi pikirkanlah sebentar. Seandainya aku tidak mengunci titik akupunturnya, bagaimana bisa barang-barangnya berakhir di tanganku?”

Tidak ada yang bisa menyangkal kebenaran dari yang dikatakannya. Jadi Xiao Jun bertanya, “Bagaimana kau mengunci titik akupunturnya?”

“Oh, itu bukan apa-apa,” katanya, sengaja bersikap santai. “Aku hanya menunjukkannya sesuatu.”

“Kau hanya menunjukkannya sesuatu? Saat kau bergerak untuk mengunci titik akupunturnya, tidakkah dia mengelak atau melawan?” Xiao Jun terkejut dan curiga. “Apa yang kau tunjukkan padanya?”

“Tentu saja itu sesuatu yang istimewa. Sesuatu yang sangat istimewa.”

***

Duapuluh tahun yang lalu, Gao Tianjue sudah tak bisa dihentikan di bawah langit, kuat dan tak terkalahkan.

Dalam duapuluh tahun itu, dia tidak tahu berapa banyak hal yang menakjubkan dan mengerikan yang telah dilakukannya. Tapi dia tahu bahwa dia telah menumpahkan banyak air mata sendirian di malam hari.

Setelah duapuluh tahun dari kemunduran dan pelajaran yang menyakitkan, dia telah menjadi semakin eksentrik, dingin, bangga dan kejam. Dan seni bela dirinya menjadi semakin kuat.

Jika ada sesuatu di dunia yang bisa membuatnya kehilangan akalnya untuk takut dan membiarkan seorang remaja mengunci titik akupunturnya, maka hal itu pasti sangat istimewa.

Siapapun bisa mencapai kesimpulan ini.

Banyak orang di Jianghu akan menukar hidup mereka untuk barang seperti ini.

Ingot berkata dingin, “Jika aku kalah, aku akan memberikannya padamu.”

Pada titik tertentu, dia telah menarik benda itu keluar dan memegangnya dalam tangannya. Meskipun dia bukan orang yang sangat besar, tangannya tidak kecil, dan saat dia menutupnya menjadi kepalan, tidak ada yang bisa melihat apa yang ada di dalamnya.

Xiao Jun tidak ingin menang, dan menerima benda ini. Tapi siapapun menjadi penasaran

Dia tidak bisa menahan untuk bertanya, “Benda apa ini?”

“Bukan apa-apa, sebenarnya.” kata Ingot dengan pernyataan yang disengaja. “Itu hanya sebuah bintang, itu saja.”

“Sebuah bintang?” tanya Xiao Jun. “Bintang seperti apa?”

“Sebuah bintang kecil,” katanya, terdengar menyesal. Dia mendesah. “Sebuah bintang yang sangat, sangat, sangat kecil.” Dan kemudian, Ingot membuka bintangnya yang kedua.

**

Translator / Creator: Jade77